
“INGGRID!… TAMPAKAN WUJUDMU KALAU KAMU BERANI!”
Tapi tidak ada jawaban dari Inggrid, dasar setan pengecut!
Aku sudah bisa menguasai diriku, aku sudah mulai bisa menganalisa apa yang sedang berdiri di seberang ku itu.
Dua patung putih yang kiri tinggi besar, dan yang kanan jauh lebih pendek dari pada yang kiri, kedua benda… ya…aku bisa bilang yang ada di depanku itu benda, karena bukan mahluk hidup.
Kedua benda itu masih berdiri tegak di seberangku, kedua benda itu tidak bergerak sama sekali ketika terkena cahaya sinar lampu yang kadang nyala., kadang mati itu.
Ketika cahaya lampu itu nyala, mataku berusaha mencari jalan keluar yang bisa aku lalui untuk lari dari sini.
Satu pintu ada di seberangku, tepat dibelakang dua benda yang masih berdiri, kemudian satunya lagi ada di sebelah kiri, dan di tengah ruangan banyak sampah yang aku tidak jelas sampah apa itu.
“Apa aku harus ambil yang kiri saja ya?...” instingku mengatakan aku harus ambil yang kiri… oklah, aku tunggu hingga cahaya lampu itu nyala, aku akan segera pergi ke arah kiri.
Ketika lampu itu nyala..tepat bersamaan aku akan lari ke arah kiri…
“Aaaahhhh asyuuuuu!!!!.....” aku berhenti .. diam di tempatku berada, jantungku berdebar…aliran darah yang menuju ke otak bergerak cepat!
Dua benda itu sekarang berdiri dengan tegak di pintu kiri yang akan aku lewati…..
Kedua benda itu menghalangi pintu terbuka yang akan aku lewati!
Kenapa kedua benda itu bisa jalan.. Bukanya mereka itu benda mati seperti patung yang tidak bisa bergerak sana sekali.
Tapi keduanya itu tidak jalan, keduanya itu hilang dan berpindah tempat ketika lampu rusak itu mati!
Aku diam dan berusaha keras menguasai diriku…aku tidak akan bergerak sebelum aku tenang dan bisa berpikir logis
*****
AGUS POV
“MBAK TINAAAAA!.....BANGUN MBAAAK!!!!”
Percuma juga aku membangunkan berkali kali… mbak Tina tetap saja memejamkan matanya setelah dia teriak dan memegang lehernya tadi.
Beberapa kali tubuh mbak Tina kugoyang goyangkan… tetapi tidak ada reaksi sama sekali, apa yang harus aku lakukan dengan keadaan ini…apakah dia mati?..dibunuh Inggrid ketika sedang tidur?
Aku merasa bersalah ketika tadi aku tidak memperhatikan dia tidur….
Tadi ketika beberapa menit setelah mbak Tina tertidur, aku sedang fokus pada sesuatu yang ada di luar sana…Di luar sana di hutan aku lihat ada seperti anak kecil di antara pepohonan yang sedang melihat ke arah rumah ini.
Ketika aku sedang berpikir dan mencoba untuk melihat dengan jelas apa yang ada di luar itu, tiba-tiba mbak Tina teriak teriak sambil memegang lehernya.. Seperti ada yang sedang mencekik lehernya.
Kini apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus lari ke hutan untuk meminta pertolongan leluhurnya mbak Tina…tapi jelas tidak mungkin, karena aku tidak bisa memanggil leluhur mbak Tina.
Tetapi seharusnya leluhur mbak Tina membantunya kan…jelas tidak mungkin leluhur mbak Tina itu membiarkan mbak Tina dalam keadaan yang berbahaya…
Ya.. aku harus bisa berpikir positif…
“Hmmm tubuh mbak Tina masih hangat…berarti dia belum mati”
Menurut pendapatku, saat ini mbak Tina sedang ada di sebuah alam, dan dia sedang melakukan sesuatu disana, dan mungkin juga dia sedang bersama leluhurnya juga..
Yah aku harus bisa berpikir positif, bahwa dia sekarang sedang melakukan sesuatu yang ada hubunganya dengan Inggrid…
Aku disini harus menjaga raga dia agar tidak terjadi sesuatu!
Akan aku jaga raga dia semampuku, karena pasti suatu saat ketika dia selesai dengan tugasnya di alam lain, dia akan kembali ke raganya.
*****
Aku duduk sendirian di sebelah raga mbak Tina yang sudah aku pindahkan ke kasur yang tadi aku ambil dari dalam kamarku…
Aku pindahkan di atas kasur dengan posisi tidur, setelah sebelumnya posisi mbak Tina dalam keadaan terduduk di ruang tamu.
Keadaan di sekitar rumah ini sunyi sekali, bahkan binatang malam pun tidak bersuara…
Aku tidak mendengar suara apapun selain suara nafas dan suara berdengung di telinga.
Telinga manusia, apabila berada di tempat yang sangat sepi tanpa ada suara apapun, pasti telinganya akan berdengung, aku tidak tau gejala itu disebut apa. ‘
Tapi yang pasti telingaku saat ini berdengung karena keadaan rumah yang sangat sepi….
“Tapi tidak…. Ini tidak sepi… aku merasa disini tidak sepi….diluar sana ramai, meskipun aku tidak mendengar suara apapun, tapi aku merasa di luar rumah ini sangat ramai”
Kuberanikan diri untuk melihat apa yang ada di luar sana… aku bangun dari dudukku di sebelah raga mbak Tina yang masih diam dengan mata terpejam.
Kabut tipis menyelimuti hutan bagian depan rumah…
__ADS_1
Rasa penasaran yang gak karuan ini membuatku untuk mendekati jendela rumah untuk melihat apa yang ada di luar sana…
Ya Tuhan, kenapa di luar sana ada beberapa makhluk aneh…
Itu bukan setan, itu bukan makhluk ghaib… yang aku lihat adalah beberapa makhluk hitam dengan bentuk yang aneh di antara kabut depan rumah. Dan mahluk yang ada di antara kabut itu, sedang berjalan pelan menuju ke arah rumah ini.
Aku merunduk.. Aku takut kalau mahluk-mahluk itu tau bahwa aku sedang mengintip melalui jendela rumah…
“Apa yang harus aku lakukan, aku jelas tidak bolah ada di rumah ini dengan keadaan yang mengerikan, aku harus menyelamatkan diri dari sini”
Tapi untuk lari dari sini jelas tidak mungkin, berarti aku akan meninggalkan raga mbak Tina yang sampai detik ini masih tidak sadarkan diri, meskipun tubuhnya masih terasa hangat.
Untuk lari ke hutan jelas tidak mungkin, itu namanya bunuh diri, jelas di luar sana keadaanya sangat mengerikan, kok malah aku nekat untuk melarikan diri dari sini.
Apakah gangguan semua ini adalah ulah Inggrid?
Apakah yang membuat mbak Tina seperti ini juga karena ulah dari Inggrid?
Ketika aku sedang memikirkan segala kemungkinan dan berusaha mengolah pikiranku… tiba-tiba di pintu belakang rumah ada suara ketukan.
*****
TINA POV
Apa yang harus aku lakukan… apakah memang aku diarahkan ke pintu yang ada di depanku itu, dimana di dalamnya kelihatanya gelap sekali.
Atau aku harus menerobos dua makhluk mengerikan yang sedang berdiri di pintu sebelah kiri ini?
Ayo berpikir secara logika Tinaaa…ayo gunakan otakmu untuk menganalisa pintu mana yang harus kamu lalui.
Bisa saja kedua makhluk itu memberi aku bantuan dengan menunjukan pintu mana yang harus aku lalui. Atau malah bisa saja keduanya menjebakku untuk masuk ke tempat yang berbahaya.
“Tapi gak mungkin mereka berdua membahayakan aku… “
Seandainya kalau mereka berdua berniat membahayakan aku, pasti dari tadi mereka sudah berusaha menyerangku, dan tidak membiarkan aku ada disini dalam jangka waktu yang lama untuk berpikir logis.
Lampu di ruangan ini tetap mati nyala mati nyala sehingga aku bisa lihat dengan jelas dua makhluk yang sedang berdiri di depan pintu sebelah kiri.
“Ok.. aku akan menuju ke pintu depan saja”
Perlahan lahan setelah kupelajari ruangan ini, ruangan kotor yang penuh sampah…
Tapi astaga…itu bukan sampah biasa.. Itu adalah bagian-bagian tubuh manusia yang tercabik cabik dan darah sudah lama mengering!
Pantesan disini baunya busuk sekali.. Lebih mirip bau bangkai yang sudah melewati proses pembusukan dan mulai mengering.
Aku harus segera keluar dari sini dari ada makin banyak bahaya yang mengikutiku….Aku berjalan diantara sampah tubuh manusia dan darah yang sudah mengering.
Sebelum aku masuk ke pintu berikutnya, aku harus melihat dulu apa yang ada di dalamnya itu…
“Gelap… ruangan ini sepertinya adalah sebuah ruangan lebar”
Kemungkinan besar ruangan ini mirip dengan aula atau apalah.. Karena aku tidak bisa melihat dinding kiri dan kanan.
Tapi ketika aku melihat ke depan, ketika lampu yang ada di ruangan yang aku lewati tadi itu nyala….
Aku lihat sesuatu yang berjajar jajar di depanku…
“Itu apa yang berjajar jajar di depan sana itu?”
Kutunggu lagi lampu yang ada di belakangku ini nyala, dan aku siap untuk memperhatikan dengan cepat apa yang ada di depanku itu…
Ketika lampu yang ada di ruangan belakangku ini nyala..
“Astaga… it..itu tempat tidur yang berjejer jejer!”
Dan di atas tempat tidur itu ada sesuatu yang tergolek…eh itu bukan tempat tidur, tetapi kasur.. Kasur yang berjejer jejer di sebuah ruangan yang besar.
Dan di atas kasur itu ada sesuatu yang sedang tidur atau… atau sudah lama mati!.
Tapi.. tapi sebenarnya tujuan Inggrid dengan mengajakku kesini apa, kenapa aku dipameri hal-hal aneh seperti ini?
Bahkan tidak ada yang berusaha untuk menyerangku disini, yang ada aku hanya dipameri makhluk dan sesuatu yang aneh disini… lalu apa gunanya aku ada disini?
“Ok.. aku akan jalan menuju ke ujung ruangan, akan aku cari pintu keluar dari rumah sakit ini… keadaan disini mulai membuatku muak!”
Aku berjalan pelan di antara kasur-kasur yang ada di lantai.. Untungnya cahaya lampu rusak itu masih bisa membuat keadaan disini tidak terlalu gelap gulita.
Ketika aku ada di tengah ruangan…
__ADS_1
Aku dengar suara sesuatu yang bergerak.. Hanya sekali saja.. Hanya sekali saya aku mendengar sesuatu yang bergeser dan kemudian diam.. sunyi sepi…
Aku diam dan berusaha mendengarkan suara apapun yang ada di sekitar sini.
Tetap sunyi, tidak ada suara apapun yang ada disekitar sini, bahkan suara angin pun tidak ada.
“Hmm tadi kayaknya aku yang salah dengar”
Mungkin tadi hanya suara langkah kaki ku yang menginjak sesuatu. Tapi tadi aku yakin sekali kalau aku dengar sesuatu yang bergerak.
Dan sesuatu yang bergerak itu tidak dekat dengan tempatku berdiri, mungkin beberapa meter dari tempatku berdiri…
Hening…. Dengan kasur-kasur putih yang di atasnya ada sesuatunya semakin membuat aku berpikir yang tidak tidak…
“Apakah mereka yang sedang tertidur dengan selimut itu akan bangun dan menyerangku?”
Tentu saja tidak mungkin… aku tidak akan bisa dibunuh dengan hanya dari mayat-mayat kering yang sudah berusia puluhan tahun itu.
Kuteruskan langkahku menuju ke ujung ruangan, semakin keujung ruangan semakin gelap.
Semakin gelap karena cahaya lampu rusak yang ada di ruangan sebelumnya itu tidak mampu menjangkau ke ujung ruangan aneh yang penuh mayat kering berselimut putih diatas kasur ini.
Ketika aku mulai beberapa langkah berjalan…..’
Aku merasa ada sesuatu yang sedang mengikuti langkahku…
Kutoleh ke belakang.. Tidak ada siapapun selain kasur kasur putih yang berjajar rapi di lantai.
Kulanjutkan berjalan pelan..pelan, aku usahakan langkahku tidak terdengar sama sekali…
Satu dua tiga langkah aman… tidak ada suara aneh di belakangku lagi.
Ketika aku rasa memang aku salah mendengarkan sesuatu… aku kembali jalan dan fokus dengan apa yang ada di depanku…
Satu dua tiga empa langkah kaki….
“Kok ada langkah kaki selain langkah kakiku!”
Ada suara langkah kaki yang mengikuti langkah kakiku lagi…dan letaknya tidak jauh dari posisiku berjalan…
Bulu kudukku mulai berdiri … lenganku merinding ketika aku mendengar suara nafas dari arah belakangku.
Suara nafas berat yang terhalang sesuatu, mungkin terhalang semacam masker atau sesuatu, sehingga suara nafas itu agak keras dibanding dengan kalau kita bernafas tanpa menggunakan masker atau apapun.
Aku berdiri terpaku lagi… kakiku rasanya berat untuk melangkah.. Aku tidak berani menoleh ke belakang, karena suara nafas itu masih ada di belakangku.
Sekarang apa yang harus aku lakukan…
Apakah sesuatu itu akan menyerangku?
Tapi aku tidak bisa menggerakan tubuhku untuk lari atau mempertahankan diri dari suara nafas yang mengerikan.
Seperti patung… aku tidak bisa menggerakan kepala untuk menoleh suara apa yang ada di belakangku….
Suara nafas yang berat itu semakin dekat di belakangku, suara langkah kaki pelan yang melangkan itu semakin mendekati tubuh yang sedang terpaku.
Semakin dekat…semakin dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafas panas dan bau busuk melalui sisi pinggir kapalaku…
Jantungku semakin berdetak kencang manakala bagian belakang lenganku tersentuh kain……ya kain milik sesuatu yang ada di belakangku.
Semakin dekat…..semakin dekat, hingga suara nafas itu keras sekali di belakang telingaku…
Hembusan panas dan bau busuk dari suara nafas yang berat itu beberapa kali mengenai telingaku….
Hingga beberapa saat kemudian perlahan lahan aku merasa yang sedang ada di belakangku ini mundur….
Terus mundur…mundur, hingga aku bisa mendengar suara nafas yang berat itu agak jauh dari posisiku berdiri dan terpaku.
Tetapi aku masih gemetar ketakutan, meskipun aku merasa perlahan lahan aku mulai bisa menggerakkan tubuhku… perlahan lahan seluruh tubuhku lemas, setelah tadi kaku seperti patung.
Kedua kakiku gemetar…seolah olah kakiku tidak bisa menopang berat tubuhku.
Perlahan-lahan tubuh bagian atasku semakin lemas…kedua kakiku yang tadi bergetar hebat pun semakin lemas..
Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga.. Kedua kakiku lemas karena tidak mampu menopang tubuhku, dan akupun jatuh terduduk di antara kasur-kasur putih dengan mayat kering yang berselimut.
Beberapa detik aku terduduk, aku pasrah dengan apa yang terjadi, dengan pasrahku ini kemudian aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Aku penasaran dengan apa yang tadi ada di belakangku dengan nafas bau yang berat karena sepertinya sedang memakai masker..
“YA TUHAAAN…..”
__ADS_1