
“Inggrid…asal kamu tau, satu-satunya jalan agar kami bisa selamat adalah dengan masuk ke dalam lubang itu!” kata mas Agus dengan nada emosi.
“Sekarang cepat katakan kepada kami, kutukan apa yang terjadi pada kami apabila kami masuk ke dalam lubang itu, dan bagaimana cara menetralisir kutukan itu agar kami tidak terkena apa-apa”
“Eh, Inggrid sendiri tidak tau apa yang akan terjadi apabila masuk ke sana, tapi lebih baik kalian masuk saja ke dalam sana, daripada keempat orang itu akan mendapatkan kalian” jawab Inggrid
Mas Agus membuka pintu terowongan yang berasal dari besi…
Udara pengap dan panas menyembur keluar, dan untuk sementara waktu mas Agus berdiam diri dulu sambil nunggu gas atau udara racun keluar dari lubang yang pastinya sudah kurang lebih tiga puluh tahun tertutup.
Setelah dirasa sudah cukup aman, mas Agus mengeluarkan senter yang disimpan di kantong celananya…..
Suara orang-orang yang mencari kami sudah semakin dekat, nyala cahaya senter dari balik semak dan dari pinggir sungai semakin jelas terlihat dari posisi kami yang ada di pinggir bongpay milik Inggrid.
“Hmm di dinding lorong vertikal ini ada semacam besi besi berbentuk U yang tertanam di dinding nya… besi itu bisa digunakan untuk pijakan kaki dan pegangan tangan” kata mas Agus
“Mbak Tina.. saya akan periksa duluan bagian dalam terowongan ini”
Mas Agus turun ke dalam tanpa rasa takut sama sekali, cahaya senter kecil miliknya menyapu bagian dalam dari ruangan bawah tanah itu.
Tidak lebih satu menit kemudian mas Agus muncul lagi ke atas….
“Ayo sekarang mbak Tina turun duluan, saya akan menutup pintu besi ini… cepat mbak!”
Gelap sekali tidak ada cahaya sama sekali ketika aku sudah ada di tengah tengah tangga besi menuju ke bawah.
Hanya beberapa pijakan lagi akhirnya aku sudah sampai di dasar, diikuti dengan mas Agus yang juga turun, dengan senter kecil ada di mulutnya… kayak sedang ngulum kuntila aja.
Ketika sampai di bawah, mas Agus mematikan cahaya senternya… keadaan menjadi gelap!.
Kedalaman lorong ini sebenarnya tidak terlalu dalam.. Mungkin hanya sekitar lima meter saja…
Bau pengap, panas, dan gelap sekarang mulai menyelimuti aku dan mas Agus.
“Sssttt diam… di atas kita rasanya ada orang yang sedang berjalan mbak”
“Iya mas… rasanya itu keempat orang yang sedang mencari kita, semoga mereka tidak menemukan pintu yang ada di belakang dinding makam ini mas”
Saat ini yang kami lakukan hanya diam dan menatap ke atas, meskipun tidak ada yang bisa kami lihat karena gelap, bahkan dinding atas pun tidak kelihatan sama sekali.
Hingga beberapa saat aku masih mendengar suara langkah kaki yang tepat ada di atas kami, suara langkah kaki orang yang sedang mondar mandir, kadang suara langkah kaki itu hilang, kadang muncul lagi.
Aku hanya berusaha merasakan langkah kaki yang masih berputar putar di sekitar makam, hingga beberapa belas menit kemudian suara langkah kaki itu menjauh dan semakin menjauh dari tempat kami berdiri dan memandang ke atas.
“Mereka sudah pergi dari sini…Sebenarnya mereka yang tadi di atas itu siapa mas, dan kenapa bisa tau bahwa kita ada disini?”
“Itu yang saya dari tadi pikirkan mbak, karena yang tau kita disini kan hanya pak Pangat… tapi gak mungkin lah mbak… mosok pak Pangat ternyata juga ada hubunganya dengan Paijo juga?”
“Entahlah mas…coba nyalakan senternya mas…Tina kepingin tau apa yang ada di dalam sini”
Cahaya senter milik mas Agus menerangi ruangan berbentuk kotak dan berukuran sekitar lima kali lima meter.
Di tengah-tengah ruangan ada semacam peti yang berukuran cukup besar besar dan berbentuk aneh, aku yakin itu adalah SIUPAN
Yang aku tahu Siupan merupakan peti mati Tiongkok berbahan baku kayu jati. Siupan mempunyai kekhasan dibandingkan jenis peti-peti jenazah lain, karena bagian depan dan belakangnya berbentuk macam bunga yang mekar.
Dan biasanya harga sebuah siupan yang berbahan dasar kayu jati itu bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Tergantung dari dana yang disediakan dan juga status dan kedudukan orang yang meninggal itu.
Mas Agus tetap menyinari peti mati atau siupan yang ada di tengah ruangan… bentuknya besar dan panjang, ada ukiran naga juga.
Meskipun sudah berusia puluhan tahun, tetapi siupan itu belum terlalu rusak keadaanya, mamang sebagian sudah ada yang rusak, tetapi secara keseluruhan, keadaanya masih bagus.
“Eh mas.. Apa kita gak dekati peti mati itu?”
“Iya mbak.. Itu Inggrid sedang duduk di atas peti matinya mbak”
“Ayo ke sana mas… “
Posisiku dan mas Agus ini ada di ujung ruangan, dan posisi peti mati atau siupan itu ada di tengah-tengah ruangan, dimana Inggrid sedang duduk diatasnya.
Cahaya senter mas agus menyapu ke sekitar siupan itu, hingga ke lantai ruangan yang ternyata terbuat dari sejenis keramik yang indah.
Aku dan mas agus memberanikan diri untuk mendekati peti mati atau siupan milik Inggrid.
__ADS_1
“Jadi ini peti mati milikmu Inggrid?”
“Iya TIna.. jasad Inggrid ada di dalamnya dan sudah berupa tulang belulang saja, seharusnya sesuai adat jasad yang sudah berumur tiga puluh tahun atau lebih akan diambil dan kemudian dikremasi”
“Tapi disini Tidak ada yang mengambil Inggrid, Inggrid bingung juga, kemana semua keluarga Inggrid, dan kenapa mereka sama sekali tidak peduli dengan jasa Inggrid ini”
“Tenang saja Nggrid, kami akan bantu kok..”
“Coba kamu lihat ke luar Nggrid, mereka yang tadi mencari kami masih ada diluar tau sudah pergi?” kata mas Agus
Ada kemungkinan tempat ini memang ada kutukannya, tetapi setahuku tidak ada kutukannya.
Kalau yang aku baca dari buku atau surat kabar, memang ada makam-makam raja yang ada kutukannya, seperti makam raja raja mesir jaman dahulu.
Dan katanya kutukan itu fungsinya untuk menghindari orang-orang yang biasanya merampok makam itu, karena setahu saya, makam raja-raja diluar sana selalu disertai dengan harta-harta yang berlimpah.
Tapi makam Inggrid ini kan hanya seorang Inggrid, dan disini juga tidak aku lihat ada perhiasan atau semacamnya yang dikubur bersamaan dengan Inggrid.
Dan yang cukup aneh, kenapa ada semacam lubang untuk masuk ke sini, apa fungsi dari lubang itu, apakah lubang itu pada suatu saat akan digunakan untuk mengambil tulang belulang Inggrid dan kemudian dikremasi?
“Mereka sudah tidak ada di atas sana… kalian bisa keluar!” kata Inggrid yang datang secara tiba-tiba
“Nggrid… kamu tetap di atas sana saja dulu, dan lihat situasi disana, jangan sampai setelah kita ke atas, ternyata mereka kembali ke sini lagi”
“Oke mas… Inggrid jaga ke atas dulu”
Sebelum kami pergi ke atas, mas Agus menyempatkan menyinari dinding-dinding makam Inggrid ini…
Hingga kemudian cahaya senter mas Agus secara tidak sengaja menyinari sebuah cekungan di pojokan dinding, cahaya senter itu tetap menyinari cekungan itu.
“Mbak… itu kayaknya ada ruangan lagi di ujung sana itu mbak”
“Sudahlah mas, lebih baik kita keluar dari sini saja, jangan cari-cari masalah dengan makam ini, makam ini milik Inggrid dan kita sudah masuk dengan resiko terkena kutukan!”
“Ya sudah kalau begitu mbak… ayo kita keluar dari sini saja mbak”
Mas agus menapak anak tangga yang terbuat dari besi berbentuk U yang ditanam di dinding makam Inggrid, setelah mas agus membuka tutup lubang dan dirasa aman, akupun menyusul naik ke atas juga.
Suasana di atas makam Inggrid sudah gelap……
Salah satu dari mereka berusaha masuk ke dalam tubuhku, tetapi tiba-tiba mahluk itu menjauh sepertinya dia kesakitan ketika masuk ke dalam tubuh aku.
Ketika makhluk itu tidak bisa masuk ke tubuh aku, kemudian yang jadi sasaran adalah tubuh mas Agus…
Dan ternyata kebalikan dengan ku… mahluk itu berhasil masuk ke dalam tubuh mas Agus….
Tapi sebelum masuk ke dalam tubuh mas Agus secara keseluruhan, aku gandeng tangan mas Agus… dan berhasil!
Makhluk itu sekarang keluar dari tubuh mas Agus!
Berarti mereka takut dengan aku!
“Mas.. tolong jangan jauh-jauh dari TIna mas.. Atau tolong gandeng tangan Tina saja mas….”
“Ada apa mbak?”
“Jangan banyak tanya, pokoknya mas Agus gandeng tangan Tina, dan ayo kita pergi dari sini secepatnya”
Inggrid yang tadinya pergi entah kemana untuk melihat apa yang terjadi di atas sana, kemudian datang lagi menghampiri kami berdua.
Tapi ketika Inggrid ada di antara kami, dia tiba-tiba kaget dan sedikit menjauh.
“Kenapa Nggrid, apa yang kamu lihat…kok kamu menjauh dari aku dan mas Agus?”
“Ada lima mahluk tinggi besar dengan pakaian adat china….. Mereka sedang mengelilingi kalian berdua” jawab Inggrid
“Iya itu yang tadi Tina lihat Nggrid, tapi Tina hanya bisa lihat mahluk hitam saja, Tina tidak bisa melihat wajah atau sosok itu dengan jelas”
“Eh.. Inggrid rasa mereka ini yang menjaga makam Inggrid, mereka ini yang akan melakukan sesuatu pada orang-orang yang berusaha masuk ke dalam makam Inggrid” kata Inggrid
“Mungkin yang disebut dengan kutukan itu ini ya Nggrid, akan ada yang menghantui orang yang masuk ke sana hingga manusia itu akan gila dan akhirnya mati ya?”
“Sepertinya begitu Tina…”
__ADS_1
“Kamu kenal dengan mereka ini Nggrid?”
“Nggak… Inggrid gak kenal mereka” jawab Inggrid
“Gini saja Nggrid, bilang pada mereka, Tina dan mas Agus ini bukan orang jahat, kami berdua ini temanmu”
“Oke… akan Inggrid coba dulu saja”
“Ada apa memangnya mbak Tina?” tanya mas Agus
“Ini mas.. Ada lima makhluk ghaib yang berusaha masuk ke tubuh kita, dan kemungkinan besar mereka ini adalah penjaga makam Inggrid…”
“Saya kok bak bisa melihat mereka ya mbak Tina?”
“Iya mas, tidak papa tidak bisa lihat mereka, yang penting sekarang tenang dulu, biar Inggrid bicara dengan mereka dulu”
Salah satu dari lima makhluk hitam itu berbicara dengan Inggrid… anehnya aku sama sekali tidak bisa melihat kehadiran mereka, yang bisa aku lihat hanya sebuah bayangan tinggi besar dan hitam saja.
Aku tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan, karena Inggrid menggunakan bahasa mandarin yang tentu saja aku sama sekali tidak paham artinya.
Kayaknya ada perdebatan diantara mereka berdua, karena nada bicara Inggrid yang tiba-tiba meninggi seperti orang yang sedang marah.
Sayangnya aku hanya bisa mendengar suara Inggrid saja, aku tidak bisa mendengar suara lawan bicara Inggrid, entah karena energiku dan energi mereka yang tidak selaras atau kah mungkin energiku yang masih lemah.
Tapi tadi untungnya mereka tidak bisa masuk ke dalam tubuhku dan tubuh mas Agus.
“Tina… mereka tidak bisa melepas kamu dan mas Agus.. karena mereka mendapat perintah yang tidak boleh dilanggar”
“Mereka ini semacam tentara bayaran, dan mereka mempunyai atasan, atasan mereka ini yang mendapat perintah dari keluarga Inggrid untuk menjaga makam Inggrid”
“Tapi tadi Inggrid sudah berusaha meyakinkan bahwa kalian ini adalah teman Inggrid yang berusaha untuk mencari keluarga Inggrid yang hilang”
“Mereka tidak begitu saja percaya, tetapi paling tidak mereka hanya akan ada di sisi kalian berdua, mereka tidak akan masuk ke tubuh kalian dan melukai kalian… mereka hanya akan memantau kalian berdua dulu saja”
“Dan satu lagi… dia tanya tentang kamu Tina… dia heran, kenapa dia merasa panas dan kesakitan ketika berusaha masuk ke tubuhmu Tina”
“Ya sudah lah Nggrid, yang penting mereka tidak berusaha menyerang kami berdua. Dan tentang siapa Tina… Tina juga tidak tau, pokoknya untuk kali ini aku dan mas Agus bisa selamat”
“Selamat dari empat orang yang tadi mencari kami, dan selamat dari kutukan makam kamu Nggrid. Dan sekarang kami harus kembali ke pak Pangat”
“Nggrid, apakah mereka ini juga ikut kami ke rumah pak Pangat?”
“Nggak semua Tina, mungkin hanya dua orang yang akan mengikuti kamu dan mas Agus… yang tiga akan tetap menjaga makam ini”
Kenapa makam Inggrid itu dijaga oleh makhluk seperti itu, padahal di dalam makam itu hanya ada peti mati Inggrid saja…
Tapi gak tau juga di dalam ruangan yang ada di dalam sana, mungkin disana ada sesuatu yang sangat berharga, sehingga harus dijaga agar tidak dirampok orang.
Nanti sajalah kalau keadaan sudah tenang.. Aku akan tanya tentang ruangan yang ada di sebelah itu dan aku juga pingin tau apa yang sedang dijaga oleh makhluk ghaib itu.
Malam ini agak aneh juga, karena ada dua makhluk tinggi besar yang melayang mengikuti kami , seolah olah kedua makhluk itu adalah pengawal kami hehehe.
Kami sudah ada di sekitar pohon beringin, mas Agus sudah mengeluarkan motor yang kami sembunyikan di balik pohon yang lumayan besar dengan sulur-sulur yang menyentuh tanah.
“Sebelum saya nyalakan mesin motor… ada baik nya kamu cek keadaan di luar sana Nggrid. Siapa tau orang-orang mengejar kami tadi masih ada di sekitar sini”
“Mas… kalau menurut Tina, ada baiknya kita pergi dari sini lewat desa sana itu saja.. Kita angkat motor in pelan pelan menyeberangi sungai itu mas”
“Iya benar juga ya mbak, kita lewat sisi desa saja kalau begitu”
“Dan jangan nyalakan mesin motor ini mas, kita tuntun sampai di desa sebelah baru kemudian kita nyalakan dari sana saja mas”
“Nggrid, ayo kita lewat desa saja” ajak mas Agus kepada Inggrid
Perjalanan dari rumah penggergajian menuju ke desa berlangsung dengan aman, tidak ada sesuatu yang mengganggu sama sekali, kecuali dua mahluk besar yang terus ada di samping kami berdua.
Awalnya risih juga karena setiap menoleh ke kiri atau ke kanan, selalu ada mahluk tinggi besar seolah sedang mengawal kami, tapi lama -kelamaan aku terbiasa juga dengan kehadiran mereka berdua.
Setelah menyeberang sungai mesin motor akhirnya dinyalakan mas Agus…
Motor yang kami tumpangi memasuki desa…. Melewati rumah Solikin yang masih gelap gulita, kemudian melewati rumah Wito yang juga dalam keadaan gelap…
Kemudian berbelok ke kanan hingga keluar dari desa setelah melewati gapura desa.
__ADS_1
“Nggrid.. Tolong kamu cek keadaan sepanjang jalan ini, siapa tau ada sesuatu yang menghadang kami”
“Iya mas… sebentar Inggrid mau bicara dengan dua orang china ini dulu, karena mereka juga harus tau apa yang akan Inggrid lakukan”