RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
53. SOLIKIN SAKIT


__ADS_3

Sementara Burhan sedang mandi aku bisa cek keadaan halaman belakang, khususnya tempat yang ada makam keramatnya itu.


Aneh juga, tanah di sekitar sini tidak ada yang menyirami, tetapi kenapa tanah kuburan itu basah, malah mirip dengan kuburan baru.


Semua ini semakin aneh dan makin gak karuan, aku harus ke desa sebelah untuk mencari Solikin.


Aku yakin dibalik semua ini ada sangkut pautnya dengan Solikin dan Burhan, mereka berdua tidak saling senang, tapi kayaknya Solikin juga tidak senang dengan ku.


Setelah puas dengan pengamatanku, aku balik ke dalam rumah lagi, dan kebetulan Burhan sudah selesai mandi, wajah dia sudah tidak pucat lagi.


“Pak Agus, ayo sekarang saja kita ke desa sebelah pak, sekalian cari warung untuk sarapan”


“Iya mas, tolong dikunci dulu rumahnya, kita pokoknya harus usahakan meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci”


Setelah semua selesai, kami berdua jalan menyusuri sungai yang pagi ini airnya nampak tenang…


Tidak ada pembicaraan antara aku dan Burhan, karena aku masih memikirkan apa saja yang janggal di rumah itu, sementara Agus entah sedang memikirkan apa.


Hingga kami menyeberangi sungai pun tidak ada pembicaraan sama sekali. Tapi akan kucoba untuk berbicara dengan Burhan, kasihan juga dia dengan keadaan yang seperti ini.


“Mas Burhan, terus terang nanti sore saya harus ke Rumah sakit lagi untuk mengganti perban”


“Tapi saya tidak bisa meninggalkan mas Burhan seperti ini, bagaimana menurut mas Burhan?”


“Pak Agus kira-kira akan balik jam berapa pak, kalau tidak terlalu malam akan saya tunggu pak, tetapi kalau bapak balik pagi saya minta temenin bapak-bapak yang bekerja disana”


“Tidak sampai malam kok mas, kemarin itu karena ada sesuatu pada luka saya, dan malam hari itu juga saya langsung menuju ke UGD”


Kuceritakan kepada Burhan apa yang terjadi pada lukaku, dan pengobatan apa saja yang diberikan oleh dokter disana.


Tetapi jelas aku tidak akan cerita bahwa aku tidur di rumah Tina.


Yang jelas kuceritakan semua tentang lukaku yang membusuk itu.


“Wah mengerikan juga pak, kok bisa jadi seperti itu ya lukanya pak?”


“Makanya itu mas, nanti sore itu dokter Hendra praktek, jadi dia yang akan melepas perban sekalian memberi obatnya”


Tidak lama kemudian desa sebelah sungai sudah terlihat. aku dan Burhan mempercepat langkah kaki agar sesegera sampai di desa itu.


Sebuah desa yang sepi karena sebagian besar penduduknya bertani


“Kita langsung ke rumah pak Solikin saja ya mas, karena dia kan yang mengatur pekerja yang ada di rumah”


*****


“Assalamualaikum… Assalamualaikum…….”


Tidak ada respon atas salam yang aku ucapkan, apakah rumah ini dalam keadaan kosong atau bagaimana, atau mungkin hari masih terlalu pagi untuk bertamu di rumah pak Solikin.


“Permisiiii… Assalamualaikum…..”


“Sepertinya rumah ini kosong pak, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah , eh mungkin bapak tau rumah pekerja yang lainya?”

__ADS_1


“Saya ndak tau mas.. karena yang saya tahu hanya rumah pak Solikin dan satu lagi rumah pekerja yang sudah meninggal yang bernama pak Karyo”


“Atau kita ke rumah ibu Tugiyem saja mas, kita tanya ke beliau saja”


“Coba dipanggil saja lagi pak, siapa tau yang ada di dalam rumah ini ada di belakang dan tidak dengar ucapan salam pak Agus”


“Ya wis ita coba lagi mas”


“Permisiiii… Assalamualaikum…..”


Aku heran ada apa dengan Solikin, biasanya dia paling giat kerja, tetapi semenjak ada Burhan dia tiba-tiba bertingkah sangat tidak suka dengan Burhan.


Malah hari ini tidak ada yang masuk kerja, dan bahkan rumahnya juga kelihatannya sedang kosong.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…..” Teriak suara perempuan dari dalam rumah


“Itu pak, ada yang jawab, mungkin itu istrinya pak?”


Aku tidak merespon kata-kata Burhan, wong sudah jelas ada yang jawab kok malah dia mempertegas dengan pertanyaannya


Pintu depan rumah pak Solikin yang sedari tadi tertutup sekarang sudah terbuka sedikit.


“Siapa ya… bapak-bapak ini cari siapa?” tanya wanita tua yang sedang mengintip di balik pintu rumahnya


“Saya Agus bu, saya yang mengurusi rumah penggergajian tempat pak Solikin kerja”


“Bapak ada bu?”


“Oh pak Agus….. nganu pak, suami saya sakit, dari tadi malam tidak bisa bangun dari tidurnya”


“Saya kurang tau pak, karena dia hanya mengeluh dadanya sakit kalau dibuat bangun dari tidurnya”


“Apa tidak dibawa ke balai pengobatan saja bu? ayo saya antarnya bu, mumpung saya ada disini”


“Belum pak, kata suami saya dia tidak mau diperiksa dokter, suami saya bilang kalau sakitnya akan sembuh dengan sendirinya”


“Katanya hanya butuh istirahat sejenak saja pak”


“Oh makanya kok tidak ada yang berangkat bekerja bu. Eh biasanya kan kalau ada kejadian sakit atau apapun, ada yang beritahu kami”


“Tadi pagi mas Wito yang kesana pak, tetapi rumah penggergajian dalam keadaan tutupan, berkali kali mas WIto memanggil pak Agus maupun Burhan, tetapi tidak ada sahutan sama sekali”


“Oh maaf bu, mungkin kami ketiduran, karena semalam kami tidur larut malam”


“Apa pak Solikin sudah ditawari untuk berobat bu?”


“Sudah pak, tapi tetap saja tidak mau, besok dia sudah sembuh kok pak”


“Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu bu”


Kenapa tiba-tiba Solikin sakit? dan kenapa kejadiannya tadi malam?


Tadi malam waktu lukaku dijilat demit yang ada di hutan atau tadi malam waktu aku sedang mimpi aneh?

__ADS_1


Ada yang aneh dengan pak Solikin ini, tapi apakah aku harus menyangkut pautkan antara sakitku dengan mimpiku tadi malam? apa semudah itu aku menuduh pak Solikin ada di balik semua ini?


Tidak… sebelum semua jelas aku tidak boleh berburuk sangka kepada orang dulu. Yang pasti aku akan cari orang yang paham dengan dunia macam ini.


“Pak Agus…. apa pak Agus sedang berpikir yang sama dengan saya?”


“Mikir apa mas, saya tidak sidang berpikir apa-apa kok”


“Ah… apa pak Agus merasa bahwa pak Solikin itu…..”


“Itu apa….. dia yang berbuat aneh-aneh gitu, itu maksud dari yang kamu pikir tadi?”


“I..iya pak….”


“Tidak… saya tidak pernah berpikir seperti itu mas Burhan, itu namanya berburuk sangka. Sebelum semua jelas pantang kita berpikir yang tidak tidak”


Aku mulai ada rasa tidak suka dengan Burhan, dia mulai menyangkut pautkan ketidak sukaan Solikin kepadanya dengan mimpinya dan dengan luka yang aku derita.


Aku tau Solikin itu tidak suka dengan Burhan, tetapi tidak serta merta Burhan harus menuduh yang tidak- tidak kepada pak Solikin.


“Ayo kita cari makan saja dulu Pak, sarapan dulu agar otak kita bisa berpikir”


“Jangan, lebih baik kita ke rumah bu Tugiyem dulu saja untuk kasih tau bahwa hari ini tidak ada yang kerja di tempat penggergajian”


“Oh iya mas, nanti kalau ketemu bu Tugiyem jangan cerita kalau saya dari rumah sakit atau saya nginap di rumah sakit, karena dia itu orangnya selalu ingin tau sesuatu”


“Iya pak, saya ndak akan cerita kok” jawabnya dengan nada yang kurang enak ,tidak seperti biasanya


Aku tidak peduli dengan omongan Burhan,  dia mungkin sedang kelaparan, tetapi yang kupikirkan adalah jangan sampai bu Tugiyem membuat masakan untuk makan siang pekerja.


Sore nanti aku juga harus lapor ke pak Wandi dan Bos besar, aku akan korek informasi dari pak Wandi dulu, karena kayaknya dia tau sesuatu dan masih disembunyikan sampai sekarang.


Setelah berjalan tidak seberapa jauh , akhirnya toko kelontong yang merupakan milik bu Tugiyem sudah ada di depan mata.


Aku tau kalau Burhan akan tanya yang mana rumah bu Tugiyem atau pertanyaan lain, tetapi terus terang dengan dia sok mengemukakan pendapatnya tentang siapa yang berbuat hal ini sudah membuatku kurang suka.


“Assalamualaikum bu Tugiyem”


Secara kebetulan bu Tugiyem ada di depan warungnya , dia sedang membersihkan beberapa barang dagangan


“Waalaikumsalam nak Agus….wah ada berita apa ini  kok pagi-pagi sudah ada disini”


“Saya cuma mau kasih kabar tentang pak Solikin yang sedang sakit bu, jadi hari ini tidak ada yang kerja di tempat penggergajian”


“Iya nak Agus, tadi pagi Wito sudah kesini, dia kasih kabar juga kalau Solikin sedang sakit”


“Sekarang dadanya nak Agus gimana? apakah sudah baik atau tidak?”


“Sudah baikan bu, tapi saya sempat ke dokter untuk mengobati, karena lukanya berdarah, tetapi sekarang sudah baikan”


Kutunjukan perban yang ada di dadaku, perban yang masih ada bercak darahnya sedikit, yah agar dia tidak tanya macam-macam. Lagi pula agar Burhan juga tidak bicara duluan tentang aku dan Tina.


“Hmmm parah itu nak, itu harus diganti perbannya, karena sudah ada darahnya”

__ADS_1


“Nanti sore saya ke rumah sakit lagi bu, karena sudah ada dokter yang menanganinya


__ADS_2