
Siang hingga sore hari aku dan ketiga temanku menghabiskan waktu di rumah penggergajian eh di Singgasana Adem Ayem…
Kami diberi pengarahan tentang cara penggunaan listrik tenaga surya ini… termasuk penggunaan air panas yang mungkin diperlukan oleh para tamu disini yang kedinginan…
Ternyata di tiap kamar … di atas atap atau genting tiap kamar ada juga solar cell nya, guna solar cell itu untuk menghasilkan air panas, yang bisa digunakan untuk mandi maupun membuat minuman.
Begitu pula untuk lampu penerangan jalan yang sudah terpasang berjajar di sepanjang jalan masuk ke Singgasana Adem Ayem.
Termasuk untuk menyalakan pompa air ….pokoknya semua peralatan yang menggunakan tenaga listrik, bersumber pada solar cell ini
Menjelang malam… suasana di Singgasana ini sudah lebih indah.. Lampu jalan di sepanjang jalan masuk sudah nyala… lampu di lahan parkir dan halaman depan juga sudah nyala.
Bagian ruangan utama juga sudah terang dengan lampu listrik… pompa air yang menyedot air dari sumur yang dialirkan ke tiga tandon air yang dibuat di atas tower itu juga sudah mengalir..
Satu lagi… disini sudah ada telepon satelit.. Aku tidak paham apa itu telepon satelit, karena yang ada di wartelku semuanya menggunakan kabel..lain dengan yang ini… sama sekali tidak ada kabel teleponnya.
Intinya malam ini tidak seperti malam sebelumnya yang gelap gelapan dan hanya ada lampu petromaks saja, malam ini kami seolah seperti pengurus dan pegawai dari Singgasana Adem Ayem ini.
Pak Jay yang katanya akan datang sebelum gelap pun hingga saat ini belum juga menampakan dirinya, padahal orang-orang yang tadi bertugas sebagai penginstal solar cell itu menunggu pembayaran dari pak jay.
“Gus.. mbak Tina… untuk malam ini sepertinya tidak ada apa-apa disini, karena hingga jam segini belum juga saya merasakan adanya energi yang mengalir ke area sini”
“Berarti percuma juga dong apabila nanti pak Jay membawa teman paranormalnya pak?”
“Nah bisa berguna bisa juga tidak.. Yah kita lihat saja nanti bagaimana dan apa yang akan dilakukan oleh teman pak Jay itu”
“Bisa saja nanti ada hal lain yang akan datang ke sini seperti yang kemarin itu, karena kita tidak tau apa yang sedang direncanakan Fong, lagi pula mayat teman kalian yang bernama pak Pangat itu kan masih ada di sekitar sini…”
“Saya yakin nanti malam dia akan datang lagi ke sini, dan nanti itu biar menjadi urusan dari paranormal teman dari pak Jay… urusan kita hanya di seputar masalah teknis di sini saja”
“Iya pak…. Nanti kan ada pak Jay juga yang akan menginap disini… biar dia bisa merasakan apa yang terjadi disini, kita fokus pada masalah teknis saja”
Ternyata tidak seberapa lama kemudian dari arah luar ada mobil yang mengarah ke sini… mobil milik pak Jay yang mungkin datang ke sini bersama temanya…
Lebih baik seperti ini, karena pak Jay akan tau apa saja yang sedang terjadi disini, sehingga dia bisa menunda kedatangan tamu yang akan menginap disini.
Tapi jelas tidak mungkin menunda tamu… karena dari biro perjalanan travel sudah berhasil menjual tempat ini kepada beberapa tamu yang menginginkan tinggal di suasana hutan.
Mobil pak Jay sudah berhenti di lahan parkir yang kini sudah terang karena lampu penerangan jalan yang ada di parkiran sudah nyala..
Tiga orang keluar dari dalam mobil termasuk pak Jay, mungkin yang dua orang itu adalah agen travel yang memasarkan penginapan ini, sedangkan yang satunya adalah paranormal yang juga teman pak Jay.
“Mas Agus, mbak Tina… pak Cheng dan Jiang… saya perkenalkan dua teman saya…. Yang ini Robert dari biro perjalanan yang berhasil menjual kamar dari Singgasana Adem Ayem ini”
“Sedangkan satunya… eh panggil saja pak Watuadem… pak Watuadem ini adalah teman saya yang bisa mendeteksi apa saja yang akan terjadi disini” kata pak Jay
“Eh bagaimana dengan masalah kelistrikannya mas Agus?”
“Sudah selesai pak Jay… itu teknisinya dari tadi sedang menunggu kedatangan pak Jay” kata mas Agus menunjuk ke empat orang yang sedang duduk duduk di lahan parkir
Pak Jay menghampiri mereka, sedangkan pak Robert sedang mempelajari area parkiran dan bangunan Singgasana Adem Ayem, lain dengan yang dipanggil Watuadem…..
Watuadem dari tadi memperhatikan aku… mata dia tajam, meskipun ini malam hari, tapi aku bisa melihat pandangan mata Krewak yang tajam dan melihat ke arahku.
Ada yang aneh di dalam tubuh orang yang dipanggil Krewak itu, dan tentu saja pak Cheng pun pasti sedang merasakan apa yang aku rasakan juga… Krewak itu kayaknya bukan orang yang biasa.
“Pak Watuadem.. Nama saya Cheng….” kata pak Cheng memperkenalkan diri agar suasana tidak kaku
“Iya”... jawaban singkat yang keluar dari mulut Watuadem
Pandangan Watuadem dari tadi hanya melihat ke arah hutan saja…dia tidak seperti si Robert yang sedang menikmati dan memperhatikan fisik dari bangunan bekas rumah penggergajian.
Watuadem hanya melihat ke arah hutan terus menerus… kayaknya dia merasa apabila ada sesuatu di balik hutan ini. Dia dari datang tadi kayaknya sudah curiga dengan keadaan hutan…
Dia sama sekali tidak tertarik dengan bangunan hotel… berbeda dengan Robert yang masih saja memperhatikan bagian depan hotel ini.
“Eh … pak, di balik hutan itu ada apa?” tanya Watuadem tiba-tiba
“Saya rasa tidak ada apa-apa.. Hanya pohon dan hutan biasa saja… memangnya ada apa pak?” jawab pak Cheng
“Tidak… tidak ada apa-apa” jawab Watuadem
__ADS_1
kemudian Watu berjalan mendekati pak Jay yang masih bicara dengan empat orang teknisi solar cell, dia mendekati pak Jay yang sedang bicara dengan keempat orang teknisi.
Aku nggak bisa menebak apa yang tadi dilihat Watuadem itu….pun pak Cheng juga belum bisa menebak apa yang dimaksud dia tadi.
Setelah pak Jay selesai bicara dengan keempat orang teknisi… si Watu kemudian membisiki sesuatu kepada pak Jay.
Jelas aku nggak tau apa yang sedang mereka bicarakan, yang pasti mereka sedang berdiskusi tentang sesuatu yang sangat penting….. Atau mungkin Watuadem tau disana ada mayat pak Pangat?.
Pak Cheng menjajari mas Agus, dia memberi tanda ke arah pak Jay dan Watu.
“Saya tau pak…. Kelihatanya dia tadi melihat sesuatu di hutan sana pak” kata mas Agus
“Yang saya khawatirkan itu adalah mayat teman kalian yang masih ada dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu terhadap kalian” jawab pak Cheng
“Biar saja pak Cheng…biarkan saja dia menemukan sesuatu sendiri, kita untuk sementara ini tidak perlu ikut ikut apa yang dia lihat” bisik mas Agus.
Pak Jay terlihat memberikan sebuah amplop kepada keempat teknisi solar cell, kemungkinan besar amplop itu berisi uang pembayaran atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan disini.
Para teknisi itu kemudian pergi dengan menggunakan mobil pickup yang tadi mereka bawa kesini dengan membawa peralatan yang lumayan banyak.
Kembali Watuadem membisiki sesuatu kepada pak Jay dengan wajah Serius… aku tau pasti yang mereka bicarakan adalah hal ghaib yang ada di sekitar sini.
“Hoooii Jay…. !“ teriak Robert tiba-tiba
“Kapan kamu bolehkan saya masuk ke dalam?”
“Hehehehe lupa Bet… ayo kita ke dalam saja.. Kita ngobrol di ruang tunggu saja” ajak pak Jay
“Mas Agus… bagian dalam apakah sudah beres?” tanya pak Jay
“Sudah pak Jay.. sudah bersih dan semua sudah siap untuk kedatangan tamu yang menginap disini” jawab mas Agus
Semua masuk ke dalam hotel… kecuali Watuadem yang masih di halaman parkir.
Dia masih mencurigai sesuatu yang ada di sekitar sini.. Tapi aku yakin watu belum bisa melihat apa yang ada disini… dia hanya merasakan saja.
Apabila dia sudah bisa melihat sesuatu itu, pasti dia akan memperingatkan kami atau pak jay, dan pasti dia akan masuk ke dalam hotel bersama kami .
“Nanti saja Jay…. kalian saja dulu yang masuk… nanti saya akan menyusul kalian” teriak Watuadem dari luar
“Ya sudah biarkan saja teman saya ada diluar untuk sementara waktu… eh gimana menurutmu Bet?”
“Aku kan belum lihat kamar-kamarnya Jay… kan baru juga lihat bagian luar hotel ini”
“Eh mas Agus… lampu petromak sudah dinyalakan di bagian belakang?”
“Sudah pak, kecuali di tiap kamar… kami hanya menyalakan lampu minyak saja.. Agar tidak terang benderang seperti pasar malam pak” jawab mas Agus
“Ya sudah… kalau begitu kita ke bagian belakang saja Bet… ayo mas Agus, dan mbak Tina, temani kami ke bagian pondok hotel belakang”
“Pak Cheng dan Jiang biar ada disini dulu, sambil menunggu teman saya Watuadem selesai dengan urusannya”
*****
“Hmmm eksotik sekali bagian belakang ini Jay… saya akan ambil gambar dulu Jay…luar biasa.. Rasanya aku ada di sebuah desa yang terpencil… tidak ada listrik… dan hanya bunyi binatang malam saja yang ada”
“Nilai jual yang tinggi bagi turis asing Jay… saya aka promokan hotel ini ke travel agent teman saya yang ada di luar negeri”
“Hehehe ya kan konsepnya kembali ke alam Bet, yang namanya kembali ke alam itu ya gak ada listrik heheheh”
“Tapi yang kembali ke alam hanya suasana dan penerangan dan tanpa listrik saja Bet… untuk Bed dan yang lainya aku masih gunakan fasilitas bintang tiga lah heheheh”
“Ada water heater untuk mandi… dan ada pula teko listrik untuk membuat kopi atau teh… dan semua itu ditenagai oleh solar cell yang ada di tiap-tiap atap kamar… cuman itu aja yang berupa listrik… yang lainya hanya ketenangan ala hutan saja hehehe”
“Bagus konsepnya Jay..saya suka sekali” kata Robert sambil mengambil gambar suasana malam hari si bagian belakang hotel
“Yang sana itu apa Jay…?” tunjuk Robert pada bagian gelap gulita di belakang
“Itu sungai… seperti yang aku bilang ke kamu.. Disana ada sungai… tapi aku belum sempat bikin pagar pembatas antara sungai dengan hunian ini…. Besok mungkin pembuat pagarnya akan datang Bet”
“Waduh… cepat selesaikan Jay.. dalam beberapa hari ini tamu akan berdatangan… kamu harus sudah siap semua disini, dn jangan sampai tamu merasa bahaya dan ketakutan ketika menginap disini”
__ADS_1
“Tenang aja Bet… besok semua sudah selesai.. Dan besok juga akan ada beberapa orang trainer yang akan mengajari orang-orang saya yang ada disini bagaimana bertindak ketika sudah ada tamu yang menginap disini” jawab pak Jay
Ketika kami sedang melihat pak Jay dan Robert sedang berdiskusi tentang segala kemungkinan untuk menambah dan merubah sesuatu yang ada disini… tiba-tiba Watuadem bersama pak Cheng dan Jiang masuk ke bagian belakang hotel.
“Jay… keadaan di depan untuk saat ini sih aman.. Gak ada gangguan yang berarti” kata Watuadem
“Ya sudah Tu..sekarang kamu periksa bagian belakang ini, termasuk tiap kamar yang ada disini…” kata pak Jay.
“Bet… kita ke ruangan utama saja.. Biar gak ngganggu Watu….” ajak pak Jay
“Kami disini saja ya pak Jay.. kalau pak Jay butuh sesuatu bisa panggil saya saja” kata mas Agus
“Iya mas.. Saya dan Robert juga mau ngobrol tentang keadaan hotel ini” jawab pak jay
Aku sengaja menyuruh mas Agus untuk mengatakan kepada pak Jay, bahwa kami ada di disini untuk sementara waktu. Terus terang aku penasaran dengan Watuadem ini…
Aku penasaran apakah watu adem ini benar-benar bisa melihat ghaib. Atau dia hanya bisa bisaan saja. Karena yang ada disini itu kan bukan sembarangan, tapi kita lihat saja setelah ini.
Di sini ada aku, Mas Agus, pak Cheng dan Jiang…. Kami sedang memperhatikan Watuadem yang sedang berdiri di tengah taman sambil mulutnya seperti orang yang sedang meniup sesuatu….kadang dia juga seperti orang yang sedang menyemburkan sesuatu.
Tapi tidak lama kemudian orang itu diam…dia berdiri terdiam sambil melihat ke arah sungai yang gelap gulita.
“Disana itu ada apa ya?” tanya Watuadem
“Itu sungai pak, memangnya disana ada apa pak?” jawab pak Cheng
“Disana… disana keadaanya jauh mengerikan dari pada yang ada di depan hotel tadi” jawab Watuadem
“Yang mengerikan apanya pak, memang sungai disana itu lumayan dalam pak” kata Jiang
“Apa disana tidak ada pagar pembatasnya?”
“Tidak ada pak Watuadem.. Tapi besok kata pak Jay akan ada orang datang ke sini untuk memasang pagar” jawab mas Agus
“Sekarang gini saja pak Watuadem… sebenarnya apa saja yang sampeyan lihat di sekitar hotel ini pak… mungkin kita bisa diskusikan bersama dan kita pikirkan juga pemecahanya” kata mas Agus
“Hhmppp sebenarnya saya sangat bingung disini pak Agus… di lain pihak, hutan dan bagian belakang hotel ini apalagi yang ada di sungai itu sangat mengerikan….”
“Tetapi di dalam hotel ini berbeda.. Jauh lebih aman, seakan akan ada pagar ghaib disini.. Eh apakah kalian tau apa yang sebenarnya terjadi disini?” tanya pak Watuadem
“Nanti akan kami jelaskan pak.. Eh besok saja akan kami jelaskan setelah kita lewati malam disini..yang penting nanti pak Watuadem bicara dengan pak Jay saja dulu tentang apa yang ada disini, dan jangan bicara kepada Robert…”
“Iya sih pak… saya akan diskusikan dulu dengan Jay, karena sebenarnya hotel ini sudah terkepung dengan hal yang sangar dan mengerikan… terus terang saya tidak mampu kalau harus melindungi hotel ini”
Watuadem duduk di kursi taman dengan raut wajah putus asa…aku tau tugas yang diberikan pak Jay itu sangat berat, sehingga dia tidak mampu mengembanya.
Pak Cheng kemudian menemani duduk sambil berusaha bersikap bijaksana…
“Di depan hotel.. Apa yang tadi kamu lihat disana pak Watuadem?” tanya pak Cheng
“Banyak pocong dan kunti.. Ada juga genderuwo… tapi itu biasa saja, mereka tidak akan mengganggu kalau manusia tidak melakukan hal buruk kepada mereka, tetapi…..”
“Tetapi disana ada kekuatan hitam… di satu titik, kekuatan hitam yang awalnya sederhana kemudian lama-lama makin mengerikan….. Disana juga ada kekuatan besar yang netral dan tidak mengganggu….”
“Tapi yang mengerikan ada di belakang sini.. Di sungai itu” tunjuk Watuadem pada area gelap di belakang hotel
“Disana ada sesuatu yang mengerikan dan haus darah.. Sesuatu yang sudah lama ada disini tetapi kemudian entah bagaimana selalu haus darah dan nyawa.. Dan saya rasa tidak ada yang bisa mengalahkanya”
“Ada yang aneh lagi… hotel ini… hotel ini berada di tanah yang suci.. Tanah yang dilindungi oleh sesuatu yang saya tidak tau apa itu”
“Sesutu yang kasat mata itu sepertinya sedang melindungi sesuatu disini.. Dan ini yang saya masih belum bisa memahaminya”
“Hotel ini aman… wisatawan yang menginap disini aman… tetapi apabila keluar wilayah hotel.. Maka pasti akan terjadi sesuatu…”
“Satu lagi… yang ada di belakang hotel itu… yang ada di sungai.. Terus menerus berusaha masuk ke sini, tetapi tidak pernah berhasil, dan takutnya mereka akan menggunakan jasad manusia untuk bisa masuk ke sini”
“Mereka bisa numpang di dalam tubuh manusia untuk bisa masuk ke sini”
Apa yang dikatakan watuadem itu memang benar adanya, memang di sini aman, karena dilindungi oleh leluhurku.. Dan yang ada di hutan depan hotel itu adalah mayat pak Pangat.. Hampir semua yang dikatakan pak Watuadem ini benar.
Tapi aku bingung apabila nanti disini ada tamu.. Dan bisa saja tamu itu dijadikan sandera agar aku mau dibawa Fong ke alamnya…
__ADS_1