
AGUS POV
Di dalam ruangan kantor pak Paijo…..
Pak Paijo sedang mencoba merangkai kejadian demi kejadian sebelum kejadian utama yang ada di hutan dan rumah penggergajian.
Aku, Tina, pak Paijo sendiri, dan keempat anak buah pak Paijo yang telah mengalami kejadian di hutan dan di jalan yang menuju ke arah kota.
Dari tadi pak Paijo menumpahkan kekesalannya kepada dua anak buahnya yang sedemikian mudah melepaskan dua orang yang bisa saja menjadi tersangka setelah penyidikan.
Aku dan Tina hanya bisa diam setelah semua yang terjadi kepadaku sudah kuceritakan kepada pak Paijo.
Tapi aku tidak akan cerita tentang Wito dan Yetno yang telah melepaskan aku, karena aku sudah berjanji akan melindungi mereka berdua.
Hanya ada yang aneh… kata Inggrid Wito ini anak buah dari Wandi.. tapi kenapa semalam dia bersama Yetno menyelamatkan aku bersama Yetno?
Dan seharusnya Wito juga ikut rapat di ruang tengah…. apakah Wito itu yang berkhianat?
Sehingga Wandi mengadakan rapat untuk membahas orang yang berkhianat?
“Saya ulangi lagi mulai dari pak Agus yang berjalan menuju ke kamar mayat bersama dokter Joko yang merupakan sahabat saya”
“Jadi pada saat itu Kunyuk dinyatakan meninggal dan kemudian mayat kunyuk dipindah menuju ke kamar mayat”
“Pada waktu itu bu Tina sedang ada di ruangan petugas keamanan untuk menanyakan saya yang belum datang… juga dan melaporkan dua orang yang bernama Wandi dan Mamad yang berkeliaran disana”
“Ketika mbak Tina ada di ruangan petugas keamanan, dokter Joko mengajak pak Agus untuk ke kamar mayat. dan dokter joko juga sempat berkata…ayo ikut saya agar kamu selamat…”
“Apa benar seperti itu pak Agus?”
“Ya benar pak Paijo, karena sebelumnya Wandi dan Mamad sempat memeriksa bagian UGD itu pak, tapi untungnya saya pakai jilbab dan jaket parasit, jadi mereka tidak bisa menemukan saya”
“Kemudian pak Agus masuk ke dalam UGD dan menemui dokter Joko?”
“Iya pak Paijo.. karena saya panik.. di dalam pikiran saya hanya bagaimana caranya sembunyi dari dua orang itu”
“Ok pak… kemudian pak Agus diajak dokter joko ke kamar mayat, karena kemungkinan disana adalah tempat paling aman kalau kata dokter Joko”
“Sementara itu mbak Tina bersama pak majid sedang bingung mencari pak Agus, dan akhirnya pak Majid dan mbak Tina memutuskan untuk ke kamar mayat… tetapi lewat jalur yang biasa dilewati dokter”
“Sesampai di kamar mayat keadaanya kosong, tidak ada dokter Joko dan tidak ada pak Agus”
“Di kamar mayat mbak Tina dan pak Majid mendapat kabar kalau dokter Joko dan Pak Agus tadi dari sana juga”
“Kemudian mbak Tina dan pak Majid mmutuskan kembali ke ruang UGD karena merasa bahwa pak Agus dan dokter Joko saat itu sudah kembali ke UGD tetapi mbak Tina dan pak Majid lewat jalur memutar?”
“Betul pak.. saya dan pak majid memutuskan lewat jalur yang memutar”
“Ok.. Kita lanjut ya….”
“Ketika mbak Tina dan pak Majid akan menuju ke UGD dan lewat jalur umum yaitu jalur yang memutar….pada saat itu pak Agus dan dokter Joko sudah ada di samping rumah sakit yang keadaanya sepi?”
“Betul tidak waktu itu di samping keadaanya sepi pak Agus?”
“Iya.. keadaanya sepi, karena orang jarang lewat situ kalau tidak ke kamar mayat… tapi…..”
“Sebentar pak.. saya pikirnya dulu pak… kalau tidak salah waktu itu ada perempuan yang mengantar makanan.. dia membawa baki menuju ke arah belakang”
“Betul pak.. waktu saya sedang asik ngobrol dengan dokter Joko.. ada perempuan yang lewat dari arah luar yang membawa baki yang diatasnya berisi piring yang penuh dengan makanan”
“Nah waktu dia melewati kami .. dia sempat menyapa orang yang berjalan di belakang kami pak…”
“Sebentar pak…saya ingat sesuatu… dia sempat menyapa…tapi bukan menyapa… lebih tepatnya menegur pak”
Aku ingat.. ya aku ingat sesuatu..
Seorang perempuan. kayaknya dia adalah pegawai warung yang sedang membawa baki dengan piring yang penuh berisi makanan.
Ketika perempuan itu akan melewati aku.. kemudian dia menegur… bukan menyapa tapi menegur..
Sik.. aku lupa apa yang perempuan itu katakan….
“Oh iya pak.. saya ingat.. perempuan itu berkata…KALIAN NGAPAIN DISINI”
“Betul itu yang perempuan itu katakan pak.. saya ingat sekarang pak”
“Mas.. apakah perempuan itu memakai celana jeans dan kaos warna biru tua?
“Kayaknya iya mbak Tina.. saya hanya melihat sekilas saja, saya tertarik melihat dia karena dia menegur orang yang ada di belakang saya itu mbak”
“Tina tau perempuan itu mas… dia pegawai warung yang ada di depan rumah sakit.. namanya Tini….”
“Dia anak buah Bu Saritem..,yang sekarang sedang keluar kota”
__ADS_1
“Ok mbak Tina.. nanti kita ke rumah sakit lagi untuk urus masalah administrasi rumah sakit… sekalian cek keberadaan pak Solikin. dan setelah itu kita ke tempat TIni” kata pak Paijo dengan bersemangat
Ngapain ke rumah sakit lagi… aku trauma dengan kejadian semalam..
Aku dan Tini harus meminta perlindungan dari pak Paijo…kami benar-benar terancam dengan keadaan Wandi dan Mamad yang lolos semalam.
Sekarang Wandi dan Mamad pasti akan mencari aku dan Tina.. dan sekaran pasti mereka sedang ada di rumah sakit.
Tapi tidak mungkin mereka ada di rumah sakit. bukankah Mamad dalam keadaan luka, dan perlu perawatan rumah sakit.
“Eh pak Paijo.. saya mau tanya sesuatu tentang Mamad yang kemarin tertembak…menurut pak Paijo luka yang diderita Mamad itu hanya terserempet peluru atau tertembus peluru?”
“Tertembus pak… tapi bukan di daerah yang vital.. karena saya waktu itu membidik ke arah tangan dia yang akan memukul saya”
“Mungkin di sekitar lengan atau pangkal lengan yang terkena peluru saya pak”
“Apa mungkin peluru itu bersarang di lengannya? atau malah menembus pak?”
“Dengan jarak segitu dan tubuh dia yang besar, kemungkinan besar masih bersarang di lengan atau tangannya”
“Kalau begitu dia butuh dokter atau rumah sakit untuk mengobati dan menarik peluru itu dari lengannya pak?”
“Betul pak Agus… saya sudah perkirakan hal itu.. saya sudah kabarkan ke beberapa polres untuk memberitahu rumah sakit yang ada di wilayahnya”
“Apabila ada pasien dengan luka tembak segera melapor” jawab pak Paijo
“Luka tembak itu tidak bisa kalau hanya ditangani sendiri tanpa datang ke rumah sakit…yang ada di film-film itu bohong pak Agus hehehe”
“Karena logam peluru itu akan mengakibatkan infeksi dan sangat berbahaya apabila tidak ditangani dengan segera”
Untuk masalah Mamad kayaknya sudah aman.. dia pasti sedang kesakitan…
Sekarang Wandi dan kelompoknya itu yang berbahaya.. mereka pasti akan melakukan pencarian dimana saha, termasuk di rumah mbak Tina..
Aku yakin Wandi akan mengobrak abrik rumah mbak Tina…
“Pak Paijo… saya dan mbak Tina apakah tidak mendapat program perlindungan saksi?”
“Terus terang dengan lolosnya Wandi saya sangat takut pak.. mereka bukan penjahat kemarin sore pak”
“Akan saya usahakan pak Agus dan mbak Tina mendapat perlindungan dari kami”
“Ayo sekarang kita menuju ke rumah sakit saja”
AGUS POV END
TINA POV
Waduh…jangan-jangan Tini kena masalah juga, karena dia kan yang tau Wandi dan Mamad, ketika mereka diusir oleh bu Saritem waktu ada di warunya..
Selain aku dan mas Agus harusnya Tini dan bu Saritem juga dalam bahaya….
Tapi nanti saja ketika kita sudah sampai di rumah sakit.. aku akan ke warung mereka.
“Pak Paijo… apa tidak bisa lebih cepat lagi pak… saya merasa penjaga warung itu juga dalam bahaya pak”
“Karena mereka kan tau wajah Wandi dan Mamad juga.. takutnya mereka berdua juga dihabisi pak”
“Tenang mbak Tina… saya usahakan tercepat yang saya bisa ini….”
“Tugas kita di rumah sakit itu tidak sedikit mbak Tina, karena kasus ini sudah menyerempet orang lain selain dua kelompok dari mereka yang berselisih
Selama perjalanan ini aku banyak berpikir yang aneh… kenapa e kenapa.. kok semudah itu mas Agus dibebaskan.
Kenapa tiba-tiba disana ada Pak Wito dan Yetno….
Kenapa kok mereka tiba-tiba tau dimana mas Agus disekap, dan mereka juga sudah menyiapkan petasan…
Seolah olah mereka berdua ada disana itu sesuai dengan sebuah rancangan rencana.
Apakah hanya pikiranku saja yang berpikir kalau ada sesuatu yang janggal disini, ataukah aku hanya berandai andai saja?
Tentang Wandi yang diselamatkan oleh tiga orang yang memakai helm teropong ( atau helm fullface)... saku kok ragu kalau mereka itu teman Wandi…
Karena apabila mereka itu teman Wandi pasti mereka tidak akan menggunakan helm Fullface.. .. di tempat itu kan gelap, pasti polisinya tidak akan dengan mudah melihat orang yang menyerang.
Tidak terasa mobil sudah sampai di depan rumah sakit.. tetapi kemana di Kunyuk.. kenapa dia tidak muncul sama sekali.
Ah sudah lah.. aku ikuti dulu alurnya.. yang penting cari tempat perlindungan yang aman saja.
“Kita sudah sampai… “ kata pak Paijo
“Mas Agus… apa kita tidak ke warung depan rumah sakit dulu?”
__ADS_1
“Terserah pak Paijo saja mbak Tina…”
“Bukan apa-apa mas… Tina merasa bahwa mereka dalam bahaya juga, karena mereka kan juga saksi mata”
“Nanti saja mbak Tina… kita ke tempat Solikin dulu saja, saya rasa untuk pegawai warung itu nanti saja kita urus” kata pak Paijo.
Wah… polisi satu ini apa tidak punya perasaan sama sekali, apa dia tidak tau mana yang lebih penting!
Tapi sudahlah… mungkin aku yang terlalu ketakutan sendiri.
Sebenarnya bukan ketakutan, tapi khawatir.
“Eh .. maaf Tina mau ke warung depan dulu, mas Agus dan pak Paijo urusin yang ada disini saja, Tina nanti minta bantuan pak Majid untuk mengantar ke warung depan”
“Jangan nekat mbak Tina” kata pak Paijo
“Tina tidak nekat pak, kan sudah dibilang…Tina minta bantuan ke pak Majid untuk mengantar ke depan sana”
Kutinggal mas Agus dan pak Paijo seorang polisi yang entah kenapa menurutku pola pikirnya agak aneh.
Apa mungkin karena memang SOPnya seperti itu atau aku saja yang mempunyai perasaan yang lebih peka dari pada pak Jo itu.
Aku tidak peduli dengan urusan mereka berdua, yang penting aku tau keadaan mbak TIni pegawai warung depan rumah sakit.
Aku jalan menuju ke ruangan keamanan rumah sakit, dan untungnya disana ada pak Majid.
“Selamat pagi pak… “
“Selamat pagi bu Agus.. bagaimana kasusnya bu? dan apakah pak Agus bisa ditemukan?”
“Nanti saja ceritanya pak…. sekarang tolong saya ke depan sana, ke warung bu Saritem”
“Bu Agus mau cari sarapan?”
“Tidak pak… saya penasaran dengan mbak TIni dn bu Saritem”
Sambil jalan menuju warung, kuceritakan secara singkat apa yang terjadi setelah kasus pemukulan terhadap dokter Joko, termasuk apa yang terjadi setelah nya di hutan dan di rumah penggergajian.
“Sekarang tentang mbak Tini itu pak, karena mbak Tini sempat melihat siapa yang memukul dokter Joko dan menculik suami saya maka saya takut apabila mbak Tini akan menjadi korban juga”
“Nah itu dia Tini dan bu Saritem warung mereka masih buka, dan mereka baik baik saja mbak” tunjuk pak Majid ke seberang jalan
“Ayo kita menyeberang pak.. saya sudah penasaran dengan yang dilihat oleh mbak Tini pak”
Aku dan pak Majid akan menyeberang jalan menuju ke warung yang letaknya persis di depan rumah sakit.
Dan ternyata pagi ini warung itu ramai dengan pembeli yang ingin sarapan.
Dari seberang aku lihat biak itu bu Saritem maupun mbak Tini sedang sibuk melayani pembeli yang rata-rata biasanya adalah penunggu pasien rumah sakit.
“Mereka berdua ada disana mbak… dan mereka berdua baik baik saja”
“Iya pak Majid… tapi suatu saat mereka bisa jadi target juga, karena mbak Tini itu sebagai saksi mata ketika dokter Joko dipukul dan suami saya diculik”
“Ya sudah begini saja pak… saya akan kembali untuk mengurusi administrasi suami saya.. dan tolong perhatikan warung itu pak.. saya takut ada apa-apa dengan mereka berdua”
“Akan saya perhatikan mereka berdua bu… sekarang bu Agus lebih baik kembali ke rumah sakit saja untuk mengurusi urusan dengan bagian administrasi rumah sakit”
Dengan sedikit berlari aku menuju ke rumah sakit.
Sementara itu pak Majid kembali ke ruangan satpam, dia menugaskan anak buahnya untuk memperhatikan warung bu Saritem.
ketika aku sudah sampai di selasar rawat inap… ternyata mas Agus dan pak Paijo ada di depan kamar nomor tiga.
Kamar tempat pak Solikin rawat inap….
Mereka berdua tampaknya sedang berbicara dengan dua orang petugas rumah sakit, karena pakaian mereka putih-putih.
Selain dengan petugas rumah sakit, ada juga anak perempuan pak Solikin yang bernama Santi..
Kudekati mereka yang kelihatannya sedang berbicara serius…
“Mbak Tinaaaaa” sapa Santi dari depan pintu kamar nomor tiga
“Iya mbak Santi.. gimana kabar bapak?”
“Hiiiksss.. bapak hilang mbak…hiksss”
“Bagaimana kejadianya.. dan kapan hilangnya…”
Santi menggandengku untuk duduk di kursi depan rumah sakit, sementara itu pak Paijo, mas Agus dan dua petugas rumah sakit sedang berbicara dengan serius.
Aku sebenarnya ingin ikut bicara dengan keempat orang itu, hanya saja Santi mengajakku menjauh dari keempat orang itu… mungkin ada yang akan dibicarakan denganku.
__ADS_1
Tapi…tapi .. tapi ketika aku melihat sekeliling rumah sakit… kenapa banyak orang-orang dengan kondisi yang mengerikan hilir mudik ndak karuan.
Bahkan ada juga orang dengan pakaian jaman penjajahan yang berjalan… t..tapi kepala orang itu tidak ada!