
“Begini pak Jay… tentang pagar yang ada di memisahkan antara lahan di dalam sini dan area luar, apa tidak kurang tinggi pak, karena bisa saja anak kecil melompati pagar itu dan masuk ke hutan atau ke daerah desa itu”
“Kemudian mengingat sungai ini bukan sungai yang selalu dangkal, ada beberapa spot yang dalam, seperti di tikungan sana itu pak, tikungan itu sangat dalam dan berbahaya, bagaimana caranya agar tidak ada yang berenang hingga ke sana pak?”
“Memang sih area sungai yang tepat ada di penginapan ini dangkal… tetapi yang namanya anak-anak, bisa saja mereka kebablasan berenang ke sana pak” kata mas Agus
“Tenang saja… semua tentang boleh dan tidaknya yang akan dilakukan akan diinfokan ketika tamu tamu datang ke sini, info itu nanti bisa melalui lisan dan tulisan pada selembar kertas yang isinya larangan. Hal itu sudah saya pikirkan sebelumnya” jawab pak Jay
“Kemudian satu lagi pak Jay… Tina rasa pak Jay harus tau tentang hal yang berbau supranatural pak… asal bapak tau yang namanya hutan itu kan tempat segala bentuk mahluk tak kasat mata pak, apakah bapak sudah memikirkan tentang itu pak?”
“Untuk hal itu saya sangat memikirkan mbak, dan saya besok akan memanggil paranormal yang paham soal itu, dia akan datang ke sini untuk melakukan sesuatu untuk penginapan ini”
“Jadi besok dia akan datang… sebaiknya mas Agus dan mbak Tina yang mungkin paham dengan daerah ini bisa memberitahukan orang yang akan saya sewa ini dimana saja tempat yang berbahaya”
“Oh begitu.. Baiklah pak Jay.. besok saya akan kesini lagi bersama mas Agus”
“Kemudian… eh bagaimana dengan orang yang akan bekerja disini… apakah saya bisa bertemu dengan mereka?” tanya pak Jay
“Mereka ada disini, dan ternyata mereka sedang bekerja mendirikan papan nama yang ada di depan sana itu pak….” jawab mas Agus
“Kalau begitu tolong panggilkan mereka, karena besok atau besok lusa saya harus melakukan rapat koordinasi dengan yang bekerja disini, karena minggu depan tempat ini sudah penuh”
“Biar kami panggilnya mereka pak… “ jawab mas Agus
Persiapan yang dilakukan pak Jay ini harusnya sudah matang…. Dan tanggung jawab atas tamu yang menginap disini akan menjadi tanggung jawab masing-masing setelah diberikan pengumuman atau sejenisnya,
Dan tentang hal yang berkaitan dengan hal ghaib… semoga paranormal yang disewa pak Jay ini bukan yang biasa-biasa saja, yah agar bisa membantu kami apabila ada serangan dari Fong.
Aku dan mas Agus berjalan menuju ke arah depan yang merupakan jalan pintu masuk ke penginapan… jalan ini sedang diaspal, sehingga aku dan mas Agus harus jalan di pinggirnya..
Pengaspalan sudah berlangsung separuh… cepat juga pengaspalan dengan cara ini, mungkin sore ini sudah selesai pengaspalan hingga ke depan rumah penggergajian.
Ternyata pak Cheng dan Jiang masih ada disana, dan mereka sudah selesai membuat pondasi yang nantinya akan digunakan untuk pemasangan cagak papan nama atau papan reklame yang sangat besar.
“Pak Cheng… bos pemilik rumah penginapan ini ingin bertemu dengan kalian berdua”
“Heheh tapi bagaimana ini Gus… tubuh yang kami pakai ini berbeda dengan yang kalian berdua lihat… kalian bisa lihat wajah dan tubuh kami seperti di dunia kami, karena kalian berdua pernah ada disana”
“Tetapi bagi bos pemilik hotel ini, wajah kami berbeda.. Kami berwajah pribumi penduduk disini”
“Oh jadi yang kami lihat dan yang orang lain lihat itu berbeda… begitu pak Cheng?”
“Benar sekali Gus…. “
“Waduh padahal saya sudah bilang ke pak Jay bahwa kalian berdua ini ada keturunan china nya, dan dia mau kalau saya mengajak kalian berdua kerja disini”
“Pak Cheng… kita bisa rubah penglihatan bos ini kok…” kata Jiang
“Iya benar Jiang… tapi jangan sampai membohongi dia terus terusan Jiang…. Kita disini kan nentinya agak lama hingga Fong binasa atau sudah ada perubahan yang lebih baik di dunia kita kan Jiang” jawab pak Cheng
“Sudahlah pak Cheng… untuk sementara ini gunakan caramu agar pak Jay bisa melihat wajah china kalian, agar kalian bisa bekerja disini.. Untuk masalah lain, nanti saja kita bicarakan” kata mas Agus
Kami berempat jalan menuju ke hotel…
Sebenarnya aku sudah merasa sedikit aman setelah bertemu dengan pak Cheng dan Jiang, meskipun tanggung jawab kami akan bertambah setelah nantinya ada tamu yang menginap disini.
Pun nantinya disini akan ada paranormal yang tugasnya melindungi hotel ini, hanya saja kelas paranormal itu yang agak mengkhawatirkan, apakah kelas dia itu hanya bisa melihat bangsanya kunti dan pocong dan sejenisnya saja… atau dia bisa melihat lelembut sejenis si Fong
__ADS_1
“Pak Cheng.. Gimana soal Fong” tanya mas Agus membuka pembicaraan
“Sampai saat ini belum ada pencarian terhadap kita Gus… untuk sementara ini kita masih aman”
“Dan menurut saya dan Jiang.. Di sini, di rumah ini dan hutan itu adalah titik paling aman, tetapi disana di jalan setapak pinggir sungai itu sangat tidak aman… disana itu area terbuka dan area bebas” jawab pak Cheng
“Apalagi di seberang sungai yang merupakan area benteng dan istana yang mungkin sekarang sudah dikuasai Fong… jangan sampai ada tamu disini yang jalan-jalan ke sana heheheh” jawab Jiang
“Nanti kita bisa bicarakan dengan pak Jay.. yang penting kita ketemu dulu dengan pemiliknya, setelah itu besok akan ada koordinasi dan mungkin briefing sekedarnya saja, karena minggu depan sudah ada tamu yang menginap disini”
Rumah penggergajian ini sudah berbeda dengan sebelumnya, kalau dari depan rumah ini sangat indah dengan cat putih bersih..halaman depan dengan taman bunga kecilnya dan lahan parkir yang luas di depan rumah penggergajian.
Lahan parkir itu sempat menebang beberapa pohon yang ada di depan rumah….beberapa lampu penerangan jalan sudah dipasang di area sekitar lahan parkir yang beraspal halus.
Solar cell yang berfungsi sebagai penerima panas matahari yang diubah menjadi energi listrik sudah terpasang di atas rumah…selain itu ada juga solar cell yang terpasang di tiap lampu penerangan jalan.
Jadi atas rumah ini sudah bukan berupa genting lagi,melainkan lempengan lempengan mengkilat. Aku saja heran dengan teknologi yang digunakan disini, semuanya serba canggih.
“Ini orang yang saya ceritakan kepada pak Jay itu” kata mas Agus memperkenalkan Pak Cheng dan Jiang
Pak Cheng dan Jiang memperkenalkan diri dengan nama tionghoa mereka, aku gak jelas mendengar apa nama mereka berdua. Pokoknya nama mereka terdiri dari tiga suku kata. Dan pak Jiang tersenyum mendengar nama mereka berdua.
“Hmm kalian berdua berasal dari mana?” sebuah pertanyaan yang sulit dijawab bru saja dilontarkan pak Jay setelah perkenalan selesai
“Kami dari kota S pak… kami kerja pada perusahaan pembuatan papan reklame” jawab pak Cheng
“Hmm begitu ya… ada tanda pengenal kalian?”pertanyaan yang lebih sulit dari pada tadi dilontarkan pak Jay kepada pak Cheng dan JIang
“Haiyaaa.. Koh jay… sampai saat ini kami masih dipersulit untuk pembuatan identitas diri..Koh Jay tau lah kan hehe” jawab pak Cheng
“Hehehe iya iya saya tau.. Ya sudah yang penting kalian sudah kenal baik dengan Agus dan mbak Tina”
“Tentu saja bisa Koh Jay.. itu mudah saja bagi kami untuk bekerja disini”
“Jadi begini kalian berempat nanti akan saya kasih jobdesk sendiri sendiri, ada yang bertugas sebagai administrasi, hingga ke room boy untuk membersihkan kamar… tetapi saya tentu saja tidak bisa melepas kalian begitu saja, karena semua ini butuh pembelajaran”
“Saya akan datangkan beberapa orang tenaga ahli yang akan mentraining kalian selama seminggu disini… jadi kalian belajar dan praktek juga selama ada tamu disini”
“Nanti apabila kalian kewalahan, saya akan tambah pekerja disini, tetapi untuk sementara personil inti adalah kalian berempat saja”
“Nah di rumah utama yang sudah saya renovasi ini adalah kantor, dapur, tempat laundry sederhana, dan mess kalian.. Didalam ada tiga kamar yang bisa kalian gunakan”
“Saya juga akan sediakan dua telepon satelit. Satu untuk disebarluaskan….untuk orang-orang yang akan bertanya tentang harga atau akan booking, dan satu telepon lagi untuk menghubungi saya”
“Konsep disini adalah kembali ke alam.. Jadi seminimal mungkin penggunaan lampu dan listrik… lampu hanya ada di rumah utama dan parkiran hotel… Sedangkan yang ada di taman belakang dan sepuluh pondok itu menggunakan lampu petromaks dan lampu tempel”
“Tentu saja lampu api itu sangat berbahaya apabila penggunaannya tidak tepat..maka dari itu sebelum pemasangan, kalian harus cek dengan teliti, dan kalian harus cepat menambah pasokan minyak gas atau mengganti apabila lampu itu mulai meredup, khususnya yang ada di taman..”
“Setiap pondok hanya ada satu lampu petromak dan satu lampu teplok yang akan disediakan.”
“Nanti tiap tamu yang akan menginap disini harus di briefing cara penggunaan dan lampu tersebut, dan kalian harus membantu apabila mereka kesulitan mematikan atau menyalakan lampu petromaks dan lampu teplok”
“Dinding di sepuluh pondok itu sebagian terbuat dari papan kayu, sebagian dari tembok… untuk lampu minyak nanti akan saya tempatkan di dinding tembok agar aman”
“Perkiraan saya dua hari lagi semua sudah selesai, dan kalian harus sudah siap untuk kerja disini”
“Besok saya akan datangkan paranormal yang akan melihat dan melakukan sesuatu disini, dan saya harap kalian berempat ada disini besok malam”
__ADS_1
“Dua hari lagi setelah semua selesai, saya akan coba menginap disini semalam, saya ingin memastikan semua berjalan dengan baik sebelum tamu-tamu berdatangan”
“Satu hari sebelum pembukaan, saya akan datangkan tenaga ahli ke sini, dan ada satu hari waktu kalian untuk beradaptasi dengan tugas yang akan diberikan oleh tenaga ahli perhotelan”
Setelah melakukan briefing sederhana pak Jay ternyata tidak bisa pulang cepat, karena aspal yang baru akan padat tiga puluh menit kemudian.
Untungnya disini ada beberapa tukang yang tidak pulang.. Mereka menginap disini dan kerja lembur karena beberapa hari lagi tamu-tamu akan berdatangan.
Hari sudah menjelang sore, keadaan disini sudah agak sejuk karena sinar matahari sudah terhalang pepohonan hutan.
“Kayaknya aspal sudah bisa dilewati mobil.. Saya harus pulang dulu” kata pak Jay
“Iya pak.. Saya juga akan pulang.. Besok kami akan kesini lagi pak” jawab mas Agus
Kami memang harus segera pulan sebelum gelap, karena motor kami ada di bagian belakang, dan harus melewati jembatan untuk kembali ke losmen tempat kami menginap.
Tetapi nanti malam kami harus ke rumah sakit, karena kasus hilangnya mayat pak Pangat ini sangat mengerikan.,
Untungnya perjalanan pulang kami tidak ada hambatan sama sekali… hingga kami sampai di losmen tempat kami menginap tepat ketika ada kumandang adzan maghrib.
“Mas nanti kita jam berapa ke tempat dokter Joko?”
“Nanti saja mbak… sekarang gunakan waktu untuk istirahat semaksimal mungkin mbak”
“Karena saya merasa nanti kita akan begadang”
“Iya sih mas…eh mas. Itu pak Cheng dan Jiang apakah menginap di rumah penggergajian bersama tukang yang lainya?”
“Waduh saya tadi kok gak tanya ya mbak, seharusnya mereka berdua ada disana mbak, takutnya ada apa-apa disana”
Tepat pukul sembilan malam, setelah istirahat sekitar tiga jam, aku dan mas Agus menuju ke rumah sakit.
Kali ini aku merasa bingung dengan apa yang akan kami hadapi, karena kasus hilangnya mayat ini pasti ada hubunganya dengan dunia ghaib dan Fong.
Tapi apapun yang terjadi tetap akan kami jalani, karena keadaan ini semakin parah akibat dari pak Pangat membunuh anak cacat dari pemilik wilayah itu.
Antara losmen dan rumah sakit tidak memerlukan waktu lama, karena jaraknya tidak terlalu jauh.
“Dok… sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuh pak Pangat yang sudah membusuk itu”
“Saya tidak tau mbak Tina, waktu itu saya ada di ruang dokter yang ada di depan, sedangkan di kamar mayat harusnya ada Jaino.. Tetapi ketika itu Jaino sedang membeli kopi, sehingga tidak ada yang menjaga kamar mayat”
“Ketika Jaino kembali. Pintu kamar mayat masih tertutup dan terkunci, ketika dia masuk… ternyata pintu lemari pendingin terbuka, dan tubuh Pangat yang sudah bau itu hilang”
“Tidak ada yang tau.. Bahkan penjaga malam pun tidak tau.. Karena waktu itu tidak ada seorangpun yang datang ke rumah sakit dan tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah sakit…, jadi hilang begitu saja mbak”
“Sebenarnya apa yang terjadi di alam ghaib, tiga minggu lebih kalian menghilang”
“Sebenarnya kami disana hanya tiga hari saja kok ……eh mas Agus. tolong ceritakan ke dokter Joko, Tina gak sanggup cerita mas”
Mas Agus bercerita dengan detail apa saja yang terjadi ketika kami ada di dunia ghaib… dokter Joko mendengar dengan wajah tegang.. Dokter Joko tidak menyela sama sekali apa yang sedang diceritakan oleh mas Agus.
Mas Agus juga bercerita tentang rumah penggergajian yang sekarang sudah berubah bentuk menjadi tempat peristirahatan atau hotel… dia juga bercerita tentang pak Cheng dan jiang yang sudah berhasil bertemu dengan kami.
“Waduuuh…apa yang dilakukan Pangat itu sama saja dengan menantang mereka untuk menghabisi kalian dan bahkan bisa-bisa siapa saja yang ada hubungannya dengan kalian” kata dokter Joko setelah mas Agus selesai dengan ceritanya
“Saya tidak mengira Pangat diperalat dan diperbudak oleh Fong untuk membunuh anak dari penguasa daerah itu… ini sangat berbahaya, karena kalian berdua dianggap sebagai kaki tangan Pangat”
__ADS_1
“Saya kemarin sempat punya pikiran apabila hilangnya tubuh Pangat pasti karena dia berbuat sesuatu disana, dia pasti berbuat sesuatu yang mengakibatkan kemarahan”
“Dan ternyata setelah mendengar cerita dari mas Agus, apa yang saya pikirkan ini benar!”