
“Mbak Tina.. lihat itu Burhan, keliatnya dia tau cara membuka pintu pagar rumah mbah Tina”
“Mas… orang bodoh pun pasti taulah caranya membuka pintu pagar rumah..”
“TIna tau mas Agus curiga dengan Tina kan”
“Dan mas Agus tidak percaya dengan omongan Tina bahwa Tina sama sekali belum pernah bertemu dengan Burhan”
Aku sama sekali tidak menanggapi omongan Tina, aku merasa bahwa Tina menipuku…
Tapi kenapa aku harus marah, bukanya aku bukan apa-apanya dia… dan aku tidak ada hubungan spesial sama dia.
Aku cemburu?... apakah ini yang dinamakan cemburu?...
Kenapa ketika bersama pacarku aku tidak pernah merasakan hal seperti ini…
Kenapa baru sekarang aku merasa bahwa aku seolah olah memiliki Tina?
Tapi aku kan belum berkata bahwa aku mencintai dia….
Akupun tidak bereaksi ketika TIna berusaha merangsyanku dengan berbagai cara dan alasan.
Tetapi kenapa sekarang aku cemburu… kenapa perasaanku berbeda.
“Mas.. jawab omongan Tina mas, jangan diamkan TIna seperti ini…”
“Apa sih mbak, saya kan sedang melihat Burhan yang tetap berusaha membuka pintu pagar rumah mbak Tina”
“Tidak mas Agus… Tina tau mas agus cemburu!...”
“Tetapi demi Tuhan Tina tidak pernah bertemu dengan Burhan, apalagi melakukan sesuatu dengan Burhan”
“Iya..iya mbak…. Saya kan lagi lihat Burhan mbak, sudahlah..lihat itu pagar rumah mbak Tina mau dipanjat Burhan”
“Biar saja dia memanjat dan masuk ke rumah Tina… Tina tidak peduli!”
“Jawab omongan Tina mas… “
“Saya harus jawab apa mbak, kan memang betul… itu Burhan keliatanya sudah terbiasa datang ke rumah mbak Tina kan”
Kulihat cara Burhan yang mulai akan memanjat pagar rumah TIna…
Tetapi kini perasaanku semakin tidak karuan, aku merasa Tina pernah ada hubungan dengan bajingan nekat itu.
Seharusnya aku tidak boleh seperti ini, aku seharusnya tidak cemburu dengan Tina…
Tapi….. ah sudahlah !
“Mas…!”
“Iya… apa mbak?”
“Tina minta mas Agus percaya dengan Tina!”
“Tina memang bukan perempuan baik-baik sebelumnya mas…”
“Tetapi setelah Tina bertemu dengan mas Agus… semua berubah..”
“Tina merasakan perubahan yang sangat berarti!”
“Tina merasa seperti perempuan yang dilahirkan kembali dan dibutuhkan….”
“Lalu saya harus berkata apa lagi mbak?”
“Nada bicara mas Agus itu…”
“Mas Agus itu kelihatan kalau tidak suka dengan Tina, mas Agus curiga apabila Tina pernah ada hubungan dengan Burhan”
“Ok mas… akan Tina buktikan..”
“Sebentar lagi jam 03.00, sebentar lagi akan ada penjaga malam yang lewat sini, dan penjaga malam itu akan memukul tiang listrik tiga kali di depan rumah Tina itu”
“Asal mas Agus tau, kenapa apabila mas Agus ada di rumah Tina tidak ada yang nggerebeg, tidak ada yang menyuruh pulang dan tidak ada yang sirik. nanti mas Agus lihat saja”
“Nanti akan mas Agus lihat sendiri”
Aku tetap diam dan tetap kekeh dengan perasaanku bahwa Tina ada main juga dengan Burhan…
Tetapi barusan dia kan berkata bahwa dia kayaknya akan membuktikan kepadaku bahwa apa yang kupikirkan sekarang ini salah.
Jam 03.00 sudah mulai…. Burhan masih berusaha naik ke pagar rumah Tina yang lumayan tinggi dengan ujung yang tajam.
Tetapi tiba-tiba dari arah desa muncul dua orang menggunakan sepeda. mereka membawa senter dan sebuah besi panjang..
“HEI.. APA YANG KAMU LAKUKAN!.. MALING…!” teriak salah satu orang
Kedua orang itu bergegas menggeletakkan sepedanya dan memukul hingga jatuh Burhan yang sudah ada di bagian atas pagar rumah mbak Tina dengan menggunakan besi panjang.
Burhan terjatuh karena dia tidak mengira bahwa dia akan ketahuan penjaga malam…
Besi panjang yang dibawa salah satu penjaga malam itu kemudian dipukulkan lagi ke bagian kaki Burhan dengan keras..secara bergantian..
“Ampun paaak, saya teman Tinaaaaa aduuuuhh” Suara Burhan bener-benar menghiba
“Tidak ada teman mbak Tina seperti kamu”
Orang itu sekali lagi memukulkan besi panjangnya itu ke tulang kering Burhan hingga Burhan yang tadinya akan berdiri sekarang terjatuh lagi.
Kedua penjaga malam itu sepertinya profesional, dia memukul bagian kaki hingga Burhan tidak akan bisa bergerak dan berdiri.
__ADS_1
Ketika burhan akan berdiri, penjaga malam itu memukul besi panjang yang mirip linggis itu ke paha dan kaki Burhan, sehingga Burhan jatuh tersungkur lagi.
Penjaga malam itu tidak teriak maling-maling seperti yang biasanya orang-orang kampungku lakukan,
Mungkin mereka tidak ingin mengganggu penduduk sekitarnya dengan teriakan maling itu.
“Jaga maling ini pak Mul. saya mau ke rumah pak RT untuk memanggil polisi” kata salah satu orang itu kemudian berlari menuju ke rumah pak RT
Ketika temannya sedang lari ke rumah pak RT, Burhan yang sudah dalam keadaan tersungkur itu mencoba untuk berdiri.
Tetapi pukulan besi di bagian kaki phaha dan bagian bawah dengkul itu menghujam lagi.. akibatnya Burhan yang belum sempat berdiri itu tersungkur lagi di depan rumah Tina.
“Saya teman Tina paaaak, ada yang ketinggalan di dalam sana, dan karena saya tidak mau mengganggu Tina, makanya saya panjat saja pagar ini pak”
“Hehehe.. dasar ghoblok… Mbak Tina bukan perempuan tolol, dia akan menghubungi petugas keamanan apabila ada teman yang datang atau menginap disini”
“Dan kamu bukan ciri-ciri orang yang disebutkan mbak Tina selama ini”
Burhan mencoba untuk berdiri… tetapi sekali lagi pukulan besi panjang itu mengenai kakinya, sekali lagi dia tersungkur.
Tidak lama kemudian teman penjaga malam yang tadi menjemput pak RT datang.
Tapi mereka datang bersama beberapa pemuda yang siap untuk melakukan salam olahraga kepada Burhan.
“Ini pak RT…. dia mencoba naik ke pagar dan berusaha masuk ke rumah mbak Tina…” kata penjaga malam yang sedang bersama Burhan
“Hmm ya sudah..bawa ke balai desa, kita lanjutkan disana saja, tidak enak kalau kita lakukan disini”
“Motor itu biarkan saja disitu dulu… nanti salah satu dari kalian bawa motor itu ke balai desa setelah antar orang tak berguna ini ke sana” kata orang yang dipanggil pak RT itu
Mereka membawa Burhan dengan cara memapahnya..
Motor butut milik rumah penggergajian sementara ini ditinggalkan begitu saja di depan rumah Tina.
Aku yang masih ternganga melihat apa yang tadi terjadi dengan Burhan menjadi kagum dengan keamanan di desa ini, mereka kerja dengan tenang dan tanpa perlu teriak-teriak maling..
“Sekarang mas Agus bisa lihat yang barusan terjadi tadi kan”
“Jadi asal mas Agus tau, Tina selalu bekerja sama dengan petugas keamanan disini“
“Tina memberi mereka uang agar tidak mengganggu mas Agus waktu di rumah Tina, dan tidak ada orang yang berusaha menggerebek rumah Tina ketika ada mas Agus disini”
“Jadi apabila ada tamu yang ciri-ciri nya tidak sesuai dengan yang Tina sebutkan, maka mereka akan mengusirnya”
“Burhan belum pernah kesini selama ini, ciri-ciri tubuh Burhan belum pernah Tina sebutkan kepada para penjaga desa, sehingga mereka akan mengusir Burhan apabila dia nekat datang ke rumah Tina”
“Iya mbak….”
“Maaf tadi saya sempat berpikiran buruk kepada mbak Tina..”
“Mas Agus…Tina mau tanya sesuatu mas…”
“Mas Agus… terus terang saja, mas Agus tadi cemburu kan mas?”
“Eh … dikit… tapiiii… memang iya sih mbak”
“Iya apa…”
“Iya saya cemburu…. tidak tau perasaan saya terhadap mbak Tina sekarang sudah berbeda”
“Berbeda bagaimana mas….”
“Saya… saya…saya merasa saya.. tidak bisa meninggalkan mbak Tina barang sedetik pun”
“Berarti mas Agus cinta sama Tina?”
“Eh bukan gitu … saya hanya tidak bisa meninggalkan mbak Tina barang sedetik pun saja”
“Hehehe mas Agus cinta sama Tina..?”
“Ah syudahlah mbak… saya pokoknya ya seperti itu mbak”
Aku agak lega setelah kejadian yang mengagetkan tadi, kejadian dimana Burhan ditangkap karena dia berusaha masuk ke dalam rumah TIna.
Aku merasa lebih lega ternyata Tina memang memberitahu kepada petugas keamanan apabila aku datang ke rumah dia, sehingga aku aman ada di rumahnya.
“Mas Agus kok malah diam saja gini sih mas, ayo kita keluar dari sini mas”
“Saya sedang tidak diam mbak, tetapi otak saya berusaha berpikir apa yang akan terjadi dengan Burhan, dan apa yang akan terjadi dengan mbak Tina apabila Burhan sudah bebas nanti”
“Iya mas… tapi soal itu, nanti Tina akan minta bantuan kepada yang jaga disini untuk lebih sering lihat rumah Tina mas”
“Pagi ini mas Agus lebih baik pulang ke rumah penggergajian saja, karena Burhan pasti tidak akan datang dalam satu dua hari ini mas”
“Iya mbak, saya akan pulang, tapi saya naik apa mbak?”
“Gini saja mas, sekarang Tina akan antar mas Agus ke terminal, dari sana mas Agus bisa naik ojek sampai ke rumah penggergajian”
“Jangan ke terminal mbak, lebih baik ke pangkalan ojek pagi saja, kan ada di dekat pintu masuk desa ini”
“Oh iya disana saja mas, Pokoknya pagi ini mas Agus harus ada di rumah penggergajian”
“Iya mbak…”
“Tapi kan rumah dalam keadaan terkunci mbak”
“Begini mas… bukanya Burhan jarang mengunci pintu, dia kan selalu membiarkan semua pintu dalam keadaan tidak terkunci”
“Kalaupun pintu dalam keadaan terkunci, mas Agus kan bisa nunggu pak Solikin datang, siapa tau dia punya kunci untuk masuk ke dalam rumah”
__ADS_1
Keluar dari rumah kosong depan rumah wartel milik Tina, aku dan TIna menuju sisi desa bagian luar yang ke arah kota.
Aku tau persis disana ada pangkalan ojek yang biasanya kalau pagi digunakan penduduk desa untuk ke kota untuk belanja sesuatu.
*****
Pagi… sebelum para pekerja datang dan setelah ojek yang aku tumpangi balik ke arah kota.
Di depan pagar rumah aku kok agak ragu untuk masuk rumah, setelah segala kejadian yang menimpa aku dan Tina disini malam kemarin.
Tapi di rumah ini akulah yang bertanggung jawab, jadi paling tidak aku harus masuk dan memeriksa keadaan rumah.
Aku mamandang rumah penggergajian dengan perasaan berbeda, belum lagi di belakangku adalah hutan yang lumayan lebat…
Seolah olah aku ada diantara dua suasana yang saling memberiku keadaan yang berbahaya, keadaan dimana aku tidak bisa bersembunyi di antara keduanya.
Aku harus coba masuk ke rumah sesuai dengan yang TIna katakan kepadaku…
Pintu pagar kudorong ke dalam…..
“Ternyata pagar ini tidak terkunci…”
Udara hutan pagi hari yang sejuk ini sempat membuatku limbung, karena dari semalam aku tidak tidur sama sekali.
Aku berjalan menuju ke pintu depan rumah…
Tetapi aku berhenti sejenak di tengah halaman rumah…
Aku ragu untuk melangkah maju ke pintu rumah. Tidak tau apa yang menyebabkan aku ragu untuk melangkah ke pintu rumah.
Suara daun-daun pohon yang terkena angin pagi hari sempat membuatku kaget, ndak tau kenapa kok rasanya percaya diriku semakin berkurang.
Aku pun semakin tidak bisa konsentrasi lagi…
Yang aku pikirkan adalah sesuatu yang ada di dalam rumah ini, antara takut dan khawatir menjadi satu.
“Jangkrek.. ini kan pagi hari, kenapa aku takut sekali!”
Dari pada aku bingung, lebih baik aku tunggu pak Solikin datang saja…
Terus terang aku sangat-sangat ragu apabila harus masuk ke dalam rumah, ketika dua malam aku mendapat pengalaman yang mengerikan.
Aku mundur beberapa langkah sebelum kubalikkan tubuhku dan berjalan menuju ke arah samping rumah untuk menunggu pekerja datang.
Ndak tau kenapa aku kok saat ini mudah sekali terkaget kaget.
Barusan suara gemerisik daun pohon akibat terkena angin yang agak kencang saja bisa membuatku kaget.
Sudahlah… lebih baik aku harus ke samping rumah saja…
Nekat tanpa banyak berpikir aku berjalan menuju ke samping rumah yang mengarah ke sungai belakang rumah sambil menunggu pak Solikin dan pekerja lain datang.
Berjalan disamping rumah dalam keadaan seperti ini merupakan siksaan bagiku, padahal biasanya aku juga tidak masalah.
Tetapi tidak tau kenapa untuk pagi ini rasanya hanya takut dan perasaan khawatir saja yang ada di kepalaku.
Tidak seperti biasanya aku tetap tenang saja di sekitar rumah ini..
“Ah gak ngurus…”
Aku berjalan terus menyusuri pagar bagian belakang rumah penggergajian.
Ketika sudah ada di dekat pohon beringin yang sangat rindang…rasanya ada sesuatu yang menyuruhku untuk duduk disana sambil menunggu pak Solikin dan yang lainnya datang.
Aku berhenti sejenak melihat pemandangan pagi hari di seberang sungai yang berupa semak belukar yang jarang terdapat pepohonannya.
Kemudian aku bandingkan dengan yang ada di sekelilingku yang rindang dan adem karena pohon beringin yang ada diatasku.
Sejenak aku memandang ke arah jembatan…
Ternyata belum nampak pak Solikin dan pekerja lainnya.
“Ya sudahlah.. kutunggu disini saja sambil duduk dan istirahat sebentar….”
Aku duduk dengan bersandar pada pagar belakang rumah penggergajian…
Tidak terasa aku lama kelamaan merasa nyaman dengan angin semilir… dan akhirnya aku tertidur…
*****
“Mas… bangun mas….”
“Ayo bangun mas…..”
“Iya mbak Tina… bentar, saya masih ngantuk sekali mbak”
“Ayo bangun mas… saya bukan Tina mas”
Pelan-pelan kubuka mataku…
Sebenarnya sangat sulit untuk membuka mata yang dalam keadaan sangat ngantuk, tapi tetap kupaksa untuk bangun, karena ada seseorang yang sedang membangunkan ku.
Ketika kupaksa mataku untuk terbuka….
“Lho… aku ada dimana?”
Disebelahku ada seorang gadis berkulit putih bersih, berambut panjang hitam dengan wajah oval sedang tersenyum manis.
Tapi yang bikin aku tertarik untuk menatapnya adalah mata dia yang sipit.
__ADS_1