RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
105.AKU MAKIN BINGUNG


__ADS_3

“Eh bu Solikin.. bagaimana apa nanti anak ibu ada di rumah sakit?, dan bagaimana cara ibu tadi menghubungi anak ibu yang ada di kota?”


“Tenang saja pak Agus, tadi pagi sebelum pak Agus datang ke rumah, saya sudah minta tolong anak mbah Karyo untuk ke wartel yang ada di desa sebelah, untuk menghubungi anak saya”


“Kebetulan anak mbah Karyo dan anak saya  itu berteman sejak kecil”


“Jadi kemungkinan besar beberapa jam lagi anak saya akan ada disana… di rumah sakit”


Mobil angkot carteran ini terus meluncur menuju ke arah kota yang ada di sebelah desa Tina.


Nanti sesampai di rumah sakit dan setelah selesai dengan urusan pak Solikin, aku akan menghubungi TIna.


Tapi yang aku tidak mengerti itu adalah kenapa sampai hati Burhan memukul kepala pak Solikin hingga gegar otak dan amnesia.


*****


Mobil angkot sudah sampai di rumah sakit, aku suruh mobil itu menuju ke arah belakang atau ke IGD rumah sakit.


Semoga nanti ada dokter Hendra dan dokter Joko disana, sehingga aku bisa ajak mereka ngobrol dan menyampaikan salam dari pak Supangat kepada dokter Joko.


Di depan IGD angkot itu berhenti, kemudian pak Solikin dipapah menuju ke dalam bersama bu Solikin.


Kebetulan di dalam ada dokter jaga sehingga pak Solikin langsung diperiksa, tetapi sayangnya dokter jaga itu bukan dokter Hendra atau dokter Joko.


“Eh maaf dokter…dokter Hendra atau dokter Joko apa tidak praktek pagi”


“Oh mereka berdua nanti malam pak, mereka biasanya jaga malam hari” jawab dokter yang sedang memeriksa pak Solikin


Ketika pak Solikin sedang diperiksa aku minta ijin untuk mencari wartel untuk menelepon Tina.


Tapi ketika aku sedang berjalan  menuju ke luar rumah sakit, tiba-tiba Tina yang menggunakan motornya  masuk ke parkiran rumah sakit.


Kuhampiri Tina yang kesulitan memarkir sepeda motornya, karena pagi ini rumah sakit sedang rame-ramenya.


“Mbak Tinaaaa..”


“Sini biar saya saja yang memarkir motornya…”


“Bagaimana mbak Tina bisa kesini?”


“Tadi pagi kan ada mbak-mbak naik motor yang ternyata anaknya pak Karyo yang kerumah mas”


“Waktu tadi itu Tina kan belum buka wartel…”


“Mbak-mbak itu mengetuk pintu pagar rumah Tina, dia bilang kalau mau pakai telepon karena ada hal penting”


“Kemudian dia cerita kalau pak Solikin semalam dipukul hingga gegar otak”


“Lha kok mbak Tina tiba-tiba ada disini?”


“Karena mbak anak pak Karyo itu bilang kalau bu Solikin menyuruh pak Wito untuk mencari mas Agus”


“Selanjutnya Tina bisa ngira pasti nanti akan  ke rumah sakit ini”


Aku ajak Tina ke belakang rumah sakit, bagian IGD.


Wajah Tina kelihatanya khawatir dengan keadaan yang menimpa pak Solikin, karena mungkin karena akibat dari aku dan TIna maka pak Solikin mengalami nasib yang tragis.


“Selamat siang bu Solikin” sapa Tina kepada istri pak Solikin yang sedang menjaga suaminya di ruangan IGD


“Wah… ada mbak Tina, mari masuk sini mbak, siapa tau bapak Ingat dengan mbak Tina” kata istri pak Solikin


Aku dan Tina menghampiri tempat tidur dimana pak Solikin sedang terbaring.


Sayangnya saat ini pak Solikin sedang tidur, keliatanya dia sedang istirahat sambil menunggu pemeriksaan yang selanjutnya.


Lebih baik aku dan Tina pergi dari sini dan memikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya, kerana masalah ini sekarang sudah memakan korban pak Solikin.


Kenekatan Burhan tidak hanya sampai dengan pak Solikin saja, dia bahkan dengan terang terangan berusaha masuk ke dalam rumah TIna.


“Bu Solikin… karena bapak sedang tidur, eh apa bisa kami tinggal saja bu….”


“Bukanya nanti anak bu Solikin akan datang kesini”


“Iya pak Agus tidak papa kami ditinggal saja, semoga nanti pak Solikin bisa cepat sadar dari amnesianya”


Aku dan Tina pamit kepada bu Solikin dan menuju ke tempat parkir dimana motor Tina diparkir.


“Eh mbak Tina… apakah ada laporan dari pak RT tentang orang yang berusaha masuk ke dalam rumah mbak Tina?”


“IYa mas… tadi sebelum Tina kesini… pak RT dan keamanan kampung datang”


“Ternyata menurut pengakuan Burhan, alasan dia nekat masuk ke rumah saya itu adalah untuk memastikan saya ada dirumah dalam keadaan sehat”

__ADS_1


“Sebuah alasan yang tidak masuk akal sama sekali kata pak RT”


“Kemudian Burhan sekarang sudah diserahkan ke polisi, dan nanti tergantung dari polisi apa yang akan dilakukan  terhadap Burhan”


“Sekaran gini mbak, saya butuh masukan mbak Tina… apa yang harus saya lakukan dengan keadaan Burhan ini?”


“Apakah saya cuek aja dan gak ngurus, saya anggap Burhan pergi tanpa pamit…”


“Atau saya ke kantor polisi untuk melihat keadaan Burhan?”


“Mas Agus kan tidak tau dimana Burhan berada…”


“Kecuali kemudian ada pihak yang berwajib datang ke rumah penggergajian dan  memberi info tentang keadaan  Burhan yang sekarang sedang ada di tangan pihak yang berwajib”


Aku masih berpikir apa yang akan aku lakukan ketika… ketika nanti tiba-tiba Burhan sudah dilepaskan dari kantor polisi.


Yang pasti dia akan datang ke rumah penggergajian, dan tentu saja akan bertemu dengan aku…


Lalu apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus pura-pura tidak tau dengan keadaan Burhan atau gimana.


“Tina tau apa yang sekarang sedang dipikirkan mas Agus… ayo kita cari sarapan dulu saja mas, agar kita bisa berpikir dengan jernih”


“Ayo mbak, kepala saya sudah pusing karena belum kena nasi putih ini mbak”


Di dekat rumah sakit ini ada sebuah warung makan yang menjual aneka makanan yang sudah siap sedia.


Modelnya kayak warteg gitu, mungkin ada sekitar 20 macam lauk dan sayuran.


Tidak salah banyak orang yang sedang sarapan disini, termasuk aku dan Tina.


Selain itu karena letak warung ini di jalan raya, yang mengakibatkan siapa saja bisa mempir ke warug makan ini.


Aku dan TIna sudah memesan makanan, kami ambil tempat duduk di pojokan yang menghadap tembok, karena aku ndak suka makan berhadap hadapan dengan orang lain.


Tidak ada yang menarik dari keadaan warung ini hingga tidak lama kemudian aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku.


Suara motor dengan knalpot variasi yang keras, dan motor itu berhenti juga di warung makan ini.


Aku berhenti makan, begitu juga dengan Tina, keliatanya Tina juga tau apa yang datang ini.


Terus terang rasanya aku kepingin sekali untuk menoleh dan melihat siapa yang datang menggunakan motor berknalpot bising itu, tetapi segera kuurungkan keinginan itu.


“Mas…..”


“Iya mbak, tetap makan dan usahakan untuk mendengarkan suara-suara yang baru datang ini mbak”


Aku tidak tau berapa orang yang barusan datang yang pasti aku dengar adalah ada dua orang yang sedang memesan makanan.


Dan kok ya kebetulan, aku bisa mendengar dua orang yang baru datang itu duduk di belakang kami berdua.


Tapi aku belum bisa melihat wajah orang yang datang itu, karena terus terang aku tidak berani.


Aku bisa mendengar suara sendok garpu yang menyentuh piring dengan jelas dari belakang kami, yang artinya aku seharusnya  bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, apabila nanti mereka ngobrol.


Hingga beberapa menit aku sama sekali belum mendengar mereka berbicara, yang terdengar hanya suara sendok garpu yang mengenai piring saja.


“Jo…Gimana menurutmu dengan Burhan yang sekarang ditahan?”


“Yo gak ngaruh sih jeh.. wong dia kan memang sudah lama jadi target operasi kita”


“Iya bener Jo, tapi takutnya dengan tertangkapnya Burhan, target operasi kita yang lainya malah pada tiarap semua”


“Bener jeh, tapi kan kasus Burhan ini bukan kasus yang kita sedang selidiki…dia kan masuk ke rumah orang.. istilahnya dia mau garong rumah orang”


“Tapi untungnya aku cepat-cepat bilang ke anggota lainya agar tidak menginterogasi Burhan tentang kasus utamanya”


“Pokoknya masukan sel maksimal tiga hari karena bobol rumah orang… setelah itu lepaskan…”


“Karena kita sudah semakin dekat dengan target utama kita!”


Pembicaraan orang yang dibelakang ku ini kenapa tidak seperti yang kuharapkan.


Kenapa mereka menyebut nyebut tentang target operasi… seakan akan mereka ini adalah penegak hukum yang menyamar.


Aku semakin bingung dengan kasus ini lama-lama.


Tapi aku semakin yakin tentang apa dan siapa yang kuhadapi ini, aku semakin yakin yang kuhadapi ini bukan penjahat biasa.


“Jo.. gimana dengan orang yang menjaga rumah penggergajian?”


“Yang mana Jeh, yang di jalan besar atau yang di dalam hutan”


“Yang di dalam hutan lah, untuk yang di pinggir jalan besar itu bisa kita kesampingkan, karena informasi dan apa yang sudah kita lihat itu sudah A1”

__ADS_1


“Menurut ku yang kita masih harus bisa bertemu dengan penjaga rumah itu dulu baru kita bisa berkesimpulan”


“Kita kan sama sekali belum pernah bertemu dengan dia, hanya berdasarkan info dari Yetno saja yang kita pegang kan”


“Iya Jeh… kita sekali kali ke sana, atau kita temui dia di suatu tempat secara tidak sengaja saja”


Tina melirik dengan tajam, dia tau kalau aku dalam bahaya….


Tapi apa yang harus aku lakukan… apakah saat ini aku harus mengaku kepada dua orang itu bahwa aku adalah penjaga rumah itu?


Atau aku harus tau dulu sebenarnya mereka ini siapa, sehingga aku bisa melaporkan apa yang sedang terjadi di rumah penggergajian itu.


Akhirnya mereka selesai makan dan pergi dari warung makan setelah beberapa menit mereka  merokok.


“Mas Agus….Tina kok semakin ngeri ya mas…”


“Tiga hari lagi Burhan akan dilepas mas, dan dia akan kembali lagi ke rumah penggergajian”


“Iya mbak TIna….”


“Tapi saya tetap biasa saja mbak, seolah saya tidak tau ada kasus seperti ini… saya tetap akan ada di rumah penggergajian itu saja”


“Apa mas Agus tidak lapor ke pak Wandi?”


“Hehehe memangnya Tina yakin pak Wandi tidak terlibat dengan mereka-mereka ini?”


“Hari ini penggergajian tidak ada kegiatan, nanti saya akan telepon bos mbak”


“Saya cuma akan bilang bahwa pak Solikin masuk rumah sakit dan Burhan sedang pulang kampung”


“Gimana menurut mbak TIna?”


“Bisa jadi begitu saja mas, agar bos tau untuk saat ini dan besok kemungkinan tidak ada yang kerja”


“Oh iya mas, sebentar lagi kan akhir bulan mas,... katanya kalau akhir bulan bos besar akan sidak ke rumah penggergajian mas?”


“Benar juga mbak Tina…”


“Ya sudah mbak,...eeeehh saya habis ini akan melaporkan dulu keadaan disini, agar bos besar tidak jadi datang”


Aku dan Tina pergi menuju ke rumah Tina, karena aku harus telepon bos besar untuk melaporkan apa yang terjadi di rumah penggergajian.


Nanti setelah itu aku akan naik ojek untuk pulang ke rumah tengah hutan.


Malam ini aku harus ada di rumah penggergajian karena rumah ini dalam keadaan kosong, dan untuk sementara ini Tina mungkin masih aman karena Burhan masih ada di dalam tahanan.


“Mbak Tina… saya nanti sore pulang ke rumah saja, karena keadaan rumah kosong mbak”


“Mau Tina temenin mas?”


“Eh sebenarnya mau mbak, tapi takutnya nanti ada sesuatu yang terjadi menimpa mbak Tina, jadi lebih baik janganlah mbak”


“Atau gini saja… saya telepon bos besar dulu saja mbak, agar saya tau dulu apa yang dimaui bos besar dengan keadaan pak Solikin yang sakit dan Burhan yang tidak ada di tempat”


“Pokoknya mas Agus jangan bilang kalau Burhan pulang kampung,  bilang saja Burhan pergi entah kemana untuk beberapa hari”


“Iya mbak…”


Seperti sebelum sebelumnya aku masuk ke KBU tiga di wartel milik Tina, kemudian kutekan nomor telepon bos besar.


Biasanya aku telepon bos besar pada malam hari, tetapi saat ini pagi menjelang siang hari, dia pasti akan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di rumah.


Tina mendengarkan pembicaraanku dengan bos besar menggunakan pesawat telepon yang yang ada di meja kasir.


Hanya lima menit aku bicara dengan pak Jay….


“Mbak Tina..gimana menurut mbak Tina?”


“Mas… ada yang Tina rasa aneh mas”


“Tadi kalau tidak salah bosnya mas Agus kan ngomong tentang…’kapan kamu datang Gus’…”


“Berarti bosnya mas Agus kan tau kalau mas Agus tidak masuk dalam beberapa hari”


“Kemudian ada lagi kata-kata yang menurut Tina aneh ketika mas Agus bilang bahwa Burhan pergi dan tidak pamit”


“Kemudian jawaban bos mas Agus cuma …’Iya’... saja kan mas, seolah dia tau bahwa Burhan memang pergi saat ini”


“Bos mas Agus tidak kaget sama sekali kan…”


“Menurut Tina ada yang aneh mas, seolah Burhan itu pelapor…dia melaporkan mas Agus, dan dia juga pamit kalau dia juga pergi untuk beberapa hari juga”


“Gini saja mas… lebih baik memang mas Agus ada di rumah penggergajian dulu untuk malam ini, dan jangan keluar rumah sama sekali”

__ADS_1


“Karena menurut Tina, dua orang yang tadi di warung itu nanti malam akan ke sana mas”


“Apa yang tadi mbak Tina katakan itu  sama seperti yang sedang saya pikirkan mbak”


__ADS_2