RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
96. MEREKA MEMANG BAHAYA


__ADS_3

“Ini pasti tempat mereka menjual hasil colonganya mas”


“Warung penjual solar kayak gini ini biasanya menjual Solar yang dioplos juga mbak, di jalur luar kota banyak juga yang jual seperti ini”


“Tapi saya yakin mbak , warung-warung macam gini ini adalah langganan mereka”


“Gimana, kita ikuti mereka atau kita ke tetap ke rumah pak Solikin mbak?”


“Ikuti mereka dulu saja mas… Tina  pingin tau juga apakah mereka juga akan mendatangi tempat  penggergajian yang lainya juga”


“Ok mbak… kita masih bisa ikuti mereka kok, itu lampu motor mereka masih kelihatan dari kejauhan”


Kujalankan motor Tina setelah sejenak kami ada di depan warung tempat mereka tadi berhenti.


Nampak di kajauhan lampu belakang motor yang bersuara berisik, namun hingga kini aku belum bisa melihat siapa yang ada di atas motor itu.


Menurut perkiraanku sih itu hanya pak Wito dan Yetno saja, tapi siapa tau bukan Wito atau Yetno, mungkin bisa saja orang lain yang menggunakan motor yang sama.


Aku harus  fokus pada jalan, karena jalan disini sekarang semakin banyak lubang, apalagi motor yang kami aiki ini sengaja mematikan lampu.


“Mas… jalan disini makin kerinting kayak djembooth  dan banyak lobangnya. hati-hati ya mas”


“Iya mbak, tolong mbak Tina fokus pada motor yang di depan, saya fokus pada jalan ini”


“Mas, setelah ini nanti kita lewat hutan sengon lagi, nah di sebelah kanan  jalan itu juga ada penggergajian kayu, hanya saja letaknya tidak masuk hutan seperti yang mas tinggali itu”


“Iya mbak, saya yakin mereka nanti pasti ke sana juga”


Beberapa menit kemudian memang benar, lampu belakang motor yang agak jauh di depan kami itu menyeberang jalan, menuju ke arah kanan jalan.


“Mas… gimana ini, kita ikut ke sana atau tetap jalan lurus?”


“Sebaiknya berhenti dulu saja mbak, tapi berhentinya jangan terlalu jauh dari posisi mereka”


“Tina takut mas, jangan dekat-dekat mereka… Mereka itu macam sindikat pengepul solar mas”


“Benar mbak Tina, saya juga merasa seperti itu, mereka itu kemungkinan besar adalah perantara atau pengepul solar curian, dan menjualnya ke warung pinggir jalan”


“Hanya saja sampai detik ini kita kan belum tau siapa mereka itu mbak, kita tau mereka itu Yetno dan pak Wito dari pembicaraan mereka saja”


“Iya mas….”


“Gini saja mbak, saya rasa untuk saat ini kita cukupi saja…lebih baik kita ke rumah pak Solikin saja mbak”


“Besok siang saya mau kesana mbak, saya kepingin lihat siapa pengurus dan pemilik rumah penggergajian itu”


Setelah aku rasa cukup karena tidak ada lagi yang perlu dilihat dan aku rasa unsur bahayanya semakin meningkat, maka kusudahi saja dan balik menuju ke rumah pak Solikin.


Motor kupacu agak kencang dengan nyala lampu normal, sehingga jalan yang berlubang bisa terlihat dengan jelas.


Jalur alternatif pedesaan ini memang sangat sepi dan selalu membuat merinding.

__ADS_1


Bagaimana tidak, dari tadi kita  sudah melewati dua buah kuburan yang besar Dan yang ada di pinggir jalan.


Konon di sekitar kuburan itu sering muncul penampakan makhluk mengerikan berkain putih yang selalu menyapa pengguna jalan di malam  hari.


Tapi untungnya aku dan Tina sama sekali tidak melihat kehadiran mereka sama sekali…


Kami sekarang sudah belok ke kanan melewati jembatan angker yang konon pada zaman penjajahan digunakan oleh para penjajah untuk mhenggorok leher pribumi sebelum mayat mereka dibuang ke sungai.


Setelah melewati jembatan besi yang juga katanya angker ini kami melewati persawahan yang tidak kalah sepi dengan jalan yang tadi kami lewati.


“Mas… kalau kita sudah sampai di persawahan gini rasanya lega sekali…”


“Dari tadi itu Tina ketakutan mas, ketika kita lewat dua kuburan dan juga jembatan besi itu”


“Hehehe iya mbak, saya juga merasakan hal yang sama, tetapi mau bagaimana lagi, kita terpaksa melewati jalur itu kan, karena jalur itu satu-satunya jalan menuju tempat yang kita tuju”


Setelah persawahan yang gelap gulita, kemudian kami mulai masuk ke sebuah yang agak terpelosok, korea pada jaman ini listrik belum masuk ke desa itu.


Letak desa itu setelah kita melewati hutan kayu keras yang ada di sisi kiri dan kanan kami.


Ya… karena desa itu mungkin dikelilingi hutan kayu keras dan kayu sengon, sehingga tiang listrik belum terpasang disini.


Saat ini sudah lewat pukul 21.00 sehingga desa itu sendiri nampak sunyi sepi.


“Kita langsung ke rumah pak Solikin saja ya mbak, tapi jam segini kan ndak papa untuk bertamu ke rumah orang kan mbak?”


“Hehehe ya bukan ndak papa mas, tapi ya terpaksa, karena biasanya penduduk desa pada jam segini itu sudah pada mapan turu mas”


Aku langsung saja ke rumah pak Solikin yang letaknya agak di belakang desa….


Letak rumah pak Solikin itu memang ada di belakang desa, lebih dekat dengan sungai yang ada di samping desa ini.


Setelah beberapa belokan, setelah melewati warung kelontong milik bu Tugiyem yang sudah tutup, akhirnya kami sampai di depan rumah pak Solikin.


Mesin motor kumatikan…. kini tidak ada lagi suara mesin selain suara beberapa jangkrik yang entah ada dimana sembunyinya.


“Assalamualaikum… pak Solikin…… Assalamualaikum pak…..”


“Mas, lebih baik kita masuk ke halaman rumahnya dan ketuk daun pintu rumah pak Solikin saja,  karena kalau mas Agus teriak dari luar sini, pasti tidak akan kedengaran dari dalam”


Benar juga apa yang dikatakan mbak Tina…


kubuka pintu pagar pendek yang tidak terkunci, kemudian aku dan Tina berjalan masuk ke dalam rumah pak Solikin yang bagian halamannya gelap


“Assalamualaikum… pak Solikin…… Assalamualaikum pak…..”


“Waalaikumsalam… siapa ya yang di luar” kata suara perempuan”


“Maaf… saya Agus bu, teman pak Solikin”


Setelah aku mengetuk pintu ruman pak Solikin dengan didahului salam…akhirnya seorang perempuan yang pernah kutemui sebelumnya membukakan pintu rumah..

__ADS_1


“Oh pak Agus, ada apa malam-malam begini ke rumah pak?”


“Saya ingin bertemu dengan pak Solikin bu…eh apa saya bisa ketemu dengan beliau?”


“Wah untung pak Agus kesini, karena bapak sedang bersiap siap untuk pergi memancing”


“Mari masuk dulu…. lho sama siapa ini pak Agus?”


“Ini Tina…teman saya bu”


“Oh perempuan  to, saya pikir laki laki pak hehehe, ayo masuk dulu, akan saya panggilkan bapak”


Istri pak Solikin masuk ke dalam bagian dalam rumah yang hanya dipisah dengan kelambu yang sudah entah berapa tahun tidak terkena air dan deterjen.


Aku dan Tina masuk.... kemudian istri pak Solikin menutup pintu rumah nya rapat.


Tapi sebelumnya dia menyuruh kami untuk memarkirkan motor kami di dalam halaman rumah.


Dengan alasan tidak enak kalau dilihat tetangga. karena malam-malam gini malah terima tamu.


Sebentar kemudian pak Solikin muncul dari arah dalam dengan mulut tersenyum, seakan akan dia tau bahwa aku datang kesini untuk sebuah masalah yang pak Solikin sudah tau jawabanya.


“Wah ada pak Agus… dan siapa ini.. saya belum kenal”


“Saya Tina pak, teman mas Agus hehehehe….”


“Oh Tina pemilik wartel tempat Wandi biasanya menelpon itu ya?”


“Betul pak Solikin, mbak Tina ini banyak membantu saya dalam hal….eehh.. dalam hal….”


“Dalam hal  diskusi tentang solar yang hilang itu kan pak Agus hehehe”


“Eh iya pak Solikin, saya dibantu dengan meminjam motor untuk riwa-riwi dan juga ke rumah sakit ketika dada saya sakit itu”


“Hehehe iya pak.. saya paham… Saya juga tau pak Agus ini tidak pulang kampung, tetapi sedang mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah penggergajian itu kan”


“Iya pak… eh saya memang penasaran dengan Burhan dan yang lainya pak”


“Ya sudah pak Agus, sekarang yang pak Agus sudah ketahui apa?”


Kuceritakan kepada pak Solikin tentang pengamatanku semalam, tentang pak Wandi yang datang dengan Mamad, pokoknya kuceritakan semua.


Termasuk yang barusan kami ikuti motor yang berjalan menuju ke penggergajian lain itu juga.


“Jadi pak Agus sudah sejauh ini ya..”


“Dan sudah berani menempuh bahaya dengan mendatangi orang-orang penjahat kambuhan yang pernah dipenjara dari kasus pembunuhan dan pencurian solar sebelumnya”


“Dan sayangnya yang mas Agus dengar dengan nama panggilan yang mereka sebutkan itu tidak semuanya benar”


“Maksudnya bagaimana dengan tidak semuanya benar itu pak?”

__ADS_1


__ADS_2