RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
306. APA GAK BISA DILAWAN SAJA!


__ADS_3

Pak Jay barusan siuman dari pingsannya, tetapi dia masih merasa ada sesuatu di lehernya yang mengakibatkan dia merasa kesulitan dalam bernafas. Sehingga dari tadi dia hanya memegang lehernya saja.


Saat ini sudah pagi hari, sudah lewat subuh, seharusnya pak Diran pulang ke rumahnya karena nanti dia harus jaga malam untuk hari ini.


Tetapi berhubung disini ada dua bos, sedangkan bos yang satu sedang kesakitan, maka pak Diran tetap ada di rumahku.


Pagi ini istriku ke pasar yang letaknya di desa, kebiasaan dia memang selalu belanja di pasar desa kalau pagi, sementara itu aku yang bertugas menjaga Gustin.


“Bagaimana keadaannya pak Jay?”


“Penjaga Gusta sudah melepas rasa sakit, tetapi dia masih menancapkan kukunya di leher pak Jay” jawab pak Diran


“Selama pak Agus tetap ada disini, maka penjaga Gusta tidak akan melepas kuku itu, dan akan menambah rasa sakit seperti orang yang tercekik selama pak Agus belum bisa menyatukan kedua anak pak Agus”


“Jadi seperti saya ini ya pak Diran, saya sampai sekarang masih pusing, dan pusing itu kadang sampai luar biasa sakitnya, untung ada obat dari dokter Joko yang bisa mengurangi rasa sakit”


“Ya seperti itu pak Agus, hanya saja yang dialami pak Jay berbeda, penjaga Gusta menancapkan kukunya di leher pak Jay, dan sewaktu-waktu kuku itu bisa membunuh pak Jay”


“Pak Diran..apakah tidak ada yang bisa dilakukan untuk pak Jay?” tanya pak Hendrik


“Tidak ada yang bisa dilakukan pak. Kekuatan besar itu tidak bisa dilawan, pun bisa dilawan nanti akan ada korban, baik itu dari pak Agus atau dari pak Jay”


“Satu-satunya jalan adalah menemukan kedua anak kembar pak Agus. dan tentu saja itu akan berdampak di daerah ini termasuk di resort sampean pak” jawab pak Diran


Tiba-tiba pak Jay yang sudah siuman turun dari sofa dan mendekati kami bertiga… wajah dia masih nampak kesakitan, dan beberapa kali memegang lehernya.


“Tidak bisa…..semua harus sesuai rencana, tidak boleh ada sesuatu hal yang menghalangi proyek!”


“Proyek tetap harus jalan, dan kita harus lawan, nanti akan saya datangkan paranormal dari tiongkok, dia terkenal disana!”


“Saya akan disembuhkan, dan kamu Agus juga akan sembuh, saya sudah habis uang banyak untuk proyek ini… pokoknya harus sesuai dengan rencana” kata pak Jay sambil memegang lehernya yang sakit


Kami bertiga kaget dengan yang dikatakan oleh pak Jay, tentu saja dia menantang penjaga Gusta, dan ini tentu saja berbahaya bagiku dan keluargaku.

__ADS_1


Pak Diran dan pak Hendrik hanya diam saja… mereka berdua belum tau harus berbuat apa dengan pak Jay yang tiba-tiba menjadi keras itu.


Ketika aku sedang memikirkan akan menjawab apa, tiba-tiba Gustin menangis.


Suara tangisan Gustin yang keras itu membuat kami yang ada di ruang tamu kaget.


Kami kaget karena suara tangisan Gustin yang tiba-tiba dan keras itu agak aneh… kayak ada yang sengaja menyakiti Gustin agar dia menangis.


“Pak Agus, cepat lihat keadaan Gustin” kata pak Diran


Bersamaan dengan pak Diran menyuruhku untuk menuju ke kamar Gustin, tiba-tiba pak Jay berteriak kesakitan.


Dia memegang lehernya sambil berguling guling di lantai rumah. Mata pak Jay melotot, dan bersuara  seperti sedang dicekik oleh sesuatu.


“Sudah pak Agus, cepat sana lihat Gustin….. pak Jay biar kami yang urus” kata pak Diran


Aku masuk ke dalam kamar, kulihat Gustin yang sedang duduk di boxnya, dia menangis sekeras-kerasnya sambil menunjuk ke arah dinding kamar.


Kemudian aku gendong Gustin, aku ajak dia bicara untuk diam sambil aku elus punggung dan kepalanya, lima menit kemudian Gustin menjadi tenang, kemudian dia minta susu.


Setelah aku kasih susu dan aku tunggui sebentar, dia kemudian tertidur…


Aku keluar kamar, dan ternyata di ruang tamu hanya ada pak Diran saja, pak Jay dan pak Hendrik sudah tidak ada


“Lho bos kita kemana pak?”


“Saya suruh mereka berdua menjauhi rumah ini, tadi waktu pak Jay diserang lagi, saya sempat bicara dengan penjaga Gusta, dia bilang agar kedua orang itu menjauhi rumah ini” jawab pak Diran


“Tadi pak Hendrik bilang mau bicara dengan pak Agus melalui telepon sesampai dia di rumahnya” kata pak Diran


“Pak Hendrik mau ngobrol soal apa pak?”


“Wah saya tidak tau pak Agus, ya sudahlah, kalau keadaan sudah  aman, saya mau pulang dulu saja pak”

__ADS_1


“Iya pak Diran, saya dan Gustin sudah tidak apa-apa pak…. Terima kasih banyak pak Diran”


Pak Diran sudah pulang, sekarang tinggal aku dan Gustin sendirian di rumah, sementara itu TIna belum juga datang dari pasar.


Gustin sudah tidur setelah tadi menangis tanpa sebab.


*****


“Mas… bangun mas” kata istriku sambil menggoyang-goyang bahuku


“Mas Agus kok ketiduran di kursi sih, tamu-tamunya mana mas?”


“Mereka sudah pada pulang yank, tadi waktu kamu ke pasar, ada beberapa kejadian lagi”


Aku ceritakan kepada TIna apa yang terjadi dengan pak Jay, dan apa yang dikatakan pak Jay, dan tentang si Gustin yang tiba-tiba menangis keras.


“Aneh mas, Gustin selama ini kan nggak pernah nangis sampai keras gitu”


“Iya yank, menurutku ini karena ulah pak Jay yang nantang. Setelah dia siuman dia kan nantang untuk tetap melaksanakan proyek, dan akan mendatangkan paranormal dari tiongkok”


“Apa yang akan mas Agus lakukan sekarang, mengingat pak Jay akan memanggil paranormal dari tiongkok”


“Kita tetap pada rencana semula saja yank, kita pergi dari sini secepat mungkin…. Oh iya, pembayaran DP rumah gimana?”


“Alhamdulillah mas, tadi Tina sempat chek ke bank… pembayaran DP rumah sudah masuk. Nanti Tina akan telepon pembelinya, dia mau melunasi kapan”


“Oh iya yank, tadi kata pak DIran, pak Hendrik akan menelpon aku, kayanya penting yank, jadi kamu nanti aja ya kalau mau pakai teleponnya. Nunggu pak Hendrik telepon dulu.


Siang ini aku tidak kemana-mana, aku menunggu telepon dari pak Hendrik, mungkin ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakan dengan aku, semoga yang akan dibicarakan itu tentang aku dan keluargaku yang akan pergi dari sini.


Ketika aku sedang makan siang, tiba-tiba telepon rumah berbunyi, Segera aku angkat telepon yang letaknya ada di sebelahku.


“Selamat siang pak Agus, ini saya Hendrik. Saya mau tanya hal penting kepada pak Agus”

__ADS_1


__ADS_2