RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
236. PAK HENDRIK DAN WATUADEM DATANG


__ADS_3

“Apa yang terjadi dengan orang ini pak Agus” tanya dokter Joko yang datang bersama timnya menggunakan ambulan rumah sakit


“Dahi dan sebagian kepala orang ini retak pak Agus” lanjut dokter Joko


“Jadi orang itu kesurupan hingga menyakiti dirinya sendiri dok, itu istrinya yang nanti ikut dengan mobil ambulan dok”


“Apakah ada hubunganya dengan Pangat pak Agus?” tanya dokter Joko


“Bisa iya  bisa tidak dok… tapi pak Pangat masih ada disekitar sini juga, dan dia mungkin akan mengganggu lagi Dok”


Dokter Joko dan ambulance pergi dari hotel beserta istri dari pak Cipto, tinggal kami berempat yang ada di hotel ini.


“Pak Agus, pagi ini tolong laporkan ke pak Jay tentang yang terjadi disini dan tanyakan juga apa yang harus kita perbuat dengan gangguan ghaib ini” kata pak Diran


“Juga minta tolong untuk menambah tenaga keamanan khususnya untuk malam hari pak, saya rasanya kewalahan kalau harus mendapat masalah seperti ini” kata pak Diran lagi


Sebelum subuh aku telepon pak Jay agar dia bisa berpikir dengan cepat akan apa yang kami alami disini.


Aku ceritakan semua apa yang terjadi disini dalam beberapa hari ini, dan kata pak Jay hari ini pagi ini akan datang kesini.


Tentang permintaan pak Diran untuk menambah tenaga keamanan pun masih dipikir pikir oleh pak Jay…


Tapi sayangnya dia tidak menstop tamu yang akan menginap disini, padahal aku sudah bilang ke pak Jay bahwa tadi malam banyak tamu hotel yang menjadi saksi mata atas seseorang yang kerasukan.


Dan tentu saja ini akan menjadi pembicaraan buruk bagi hotel ini di mata wisatawan, apabila mereka yang menyaksikan kejadian kesurupan itu menceritakan kejadian itu kepada khalayak ramai.


Tapi ya sudahlah, kami ini hanya pekerja yang digaji untuk bekerja di hotel ini, jadi keputusan semua hanya ada di tangan pak Jay sebagai pemilik hotel.


Tapi disini juga ada mbak Tina yang berkuasa atas tanah yang ada disini, berkuasa itu hanya dalam artian menguasai penuh atas ghaib yang ada disini, dan sayangnya itu tidak bisa dibuktikan.


“Pak Diran, bagaimana dengan keadaan pak Cipto tadi?”


“Ini yang saya takutkan pak Agus… karena keadaan pak Cipto yang tidak sadar itu bisa terjadi karena dua hal”


“Pertama karena luka di kepalanya, dan yang kedua karena ulah demit tadi yang memindahkan sebagian nyawa  ehh bukan nyawa tapi seperti energi  penghidupan yang ada di dalam diri pak Cipto”


“Nanti siang saya akan ke tempat guru saya untuk menanyakan hal ini, karena saya juga bertanggung jawab atas tamu yang ada disini pak Agus”


****


Pagi hari seperti biasa pak Yogi menggantikan pak Diran, dan seperti biasa kami siapkan sarapan, dan mbak Tina menyiapkan keperluan administrasi untuk tamu-tamu yang checkout.


Mobil pak Cipto masih ada di parkiran hotel, karena memang dititipkan disini, tetapi tas dan yang lainya tadi dibawa oleh istri pak Cipto


Setelah semua selesai aku kembali ke ruangan utama untuk membantu mbak Tina yang sedang menunggu tamu yang akan keluar dari sini


“Pagi ini apa pak Jay akan ke sini mas?”


“Katanya sih gitu mbak, dia akan bicara dengan kita, dan akan membahas tentang masalah yang terjadi disini”


Dari jam sepuluh hingga jam dua belas seluruh penghuni kamar melakukan checkout. Sebagian besar dari mereka menanyakan apa yang terjadi semalam, aku sampai capek untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan tamu yang bernama pak Cipto itu.


Sebagian besar tamu menyarankan untuk diadakan pemanggilan orang pintar untuk mengusir hantu-hantu yang ada di sini, dan sebagian lagi memberikan usul untuk membersihkan hotel ini dulu sebelum menerima tamu baru.


Seluruh masukan itu tentu saja kami tampung dan akan kami sampaikan kepada pimpinan hotel ini.


“Mbak Tina… menurutku dalam beberapa hari kedepan hotel ini akan jadi pembicaraan masyarakat, dan saya takut apabila kasus matinya pak Owo itu muncul lagi mbak”


“Karena matinya pak Owo itu hingga kini belum ada wartawan yang meliputnya, takutku nanti ada pihak keluarga dari pak owo yang buka suara tentang keadaan ini”


“Iya mas.. Kalau sampai kematian pak owo dan keluarganya diliput, maka hotel ini akan sepi mas”


“Gak cuma sepi mbak, jelas akan tutup juga. Dan untungnya pak Cipto waktu memukulkan kepalanya ke pagar bisa kita pergoki mbak, coba kalau tidak, dia bisa mati juga seperti pak Owo”


Siang harinya ketika tamu pertama datang, pak Jay yang mengendarai mobil hitam datang juga. Aku hafal mobil itu dan sekarang sedang diparkirkan pak Yogi.


Ketika pintu mobil dibuka..aku kaget, karena pak Jay datang bersama Watuadem.


Dia ternyata bersama temannya yang bernama Watuadem, teman pak Jay yang kata pak Jay dia mempunyai kelebihan bisa berkomunikasi, mengusir, atau menaklukan makhluk ghaib.


Orang yang tidak membersihkan darah yang ada di kamar sepuluh ketika disuruh pak Jay untuk memberihkan kamar sepuluh ketika kami sedang ada di kantor polisi.

__ADS_1


Orang yang lari dan menaruh sesuatu di kamar nomor sepuluh.


Orang yang merupakan musuh kami, dan entah bagaimana atau disuruh siapa orang itu hingga manaruh benda yang sudah dibuang pak Diran.


Saat ini Watuadem membawa sebuah tas besar, tas  yang aku nggak tau apa isinya itu.


“Mas Agus.. mbak Tina dan Jiang… ini saya bawa teman saya si Watuadem yang akan membantu kalian yang bermasalah dengan setan dan hantu yang ada disini”


“Dia beberapa hari ini akan tinggal disini bersama kalian, tolong kerjasama dari kalian bertiga agar masalah ghaib disini bisa diselesaikan dengan cepat” kata pak Jay.


“Kemudian untuk masalah penambahan tenaga keamanan nanti pak Diran bisa berkolaborasi dengan Watuadem saja” kata pak Jay


“Karena menurut saya….pak Diran dan Watuadem bisa saling menjaga hotel ini, dan saya harap tidak akan ada lagi gangguan ghaib disini” sambung pak Jay.


Aku dan mbak Tina hanya bisa bilang iya saja… soalnya aku nggak tau harus bilang apa mengenai Watuadem kepada pak Jay, karena begitu percayanya pak jay kepada Watuadem sehingga dia masih dipakai untuk mengerjakan masalah ghaib disini.


Pak jay hanya sebentar di hotel ini, setelah dia melihat daftar tamu yang di email dari kantor pak Robert kemudian dia pamit.


 Sore ini aku dan mbak Tina tidak bisa bicara dengan bebas, karena Watuadem ada di ruang utama terus menerus, setelah dia menaruh barang di  kamar belakang.


Tentu saja dengan menginapnya Watuadem disini, aku harus lebih sering ada di ruangan utama, aku nggak mau ada apa-apa dengan mbak Tina, karena wajah si Watuadem itu menurutku wajah mezum yang harus dihindari perempuan macam mbak Tina


“Pak Agus apa tidak keliling hotel?” tanya Watuadem yang baru keluar dari kamarnya.


“Nanti saja pak, karena saya jaga disini apabila ada tamu yang memerlukan bantuan”


“Sore gini ini bukanya tamu banyak di halaman belakang pak Agus, lebih baik pak Agus ke belakang saja, biar saya yang jaga disini” kata Watuadem yang wajahnya mulai tidak senang dengan adanya aku disini


“Kenapa tidak bapak sendiri saja yang kebelakang, bapak kan punya tugas untuk menjaga wilayah ini, sedangkan saya hanya seorang roomboy yang kadang berjaga di belakang”


Aku mulai jengkel juga dengan orang yang bernama watuadem ini, tapi biarlah kita lihat saja apa yang bisa dia lakukan disini.


Ketika aku sedang ngobrol dengan watuadem, mbak Tina mengecek email. Mungkin mbak Tina agar telihat sibuk di mata Watuadem…


“Ya sudah pak Agus… saya mau jalan ke belakang, semoga tidak ada apa-apa di belakang sana” kata Watuadem


Aku tidak menjawab atas apa yang watudem katakan, yang aku rasakan dengan adanya watuadem pekerjaan disini makin rumit, karena aku juga harus melihat apa yang akan dan sedang Watuadem lakukan.


“Mas… ini ada satu tamu yang cancel… eh apa kita telpon pak Hendrik agar dia kesini mas… soalnya Watuadem kayaknya bahaya mas” kata mbak Tina setelah selesai membaca email


Mbak Tina sedang bicara dengan pak Hendrik melalui telepon selular satelite.


Mbak Tina jelaskan ke pak Hendrik bahwa ada orang suruhan pak Jay yang pernah kami ceritakan sebelumnya kepada pak Hendrik, yang sekarang ada disini dan menginap beberapa hari disini.


Dari nada bicara mbak Tina, sepertinya pak Hendrik setuju untuk datang dan menginap disini.


Terus terang dengan adanya Watuadem disini jelas bahaya, karena dia yang membuka pagar ghaib disini, hanya saja aku belum tau apa tujuan dia dengan memasukan demit-demit disini, apakah dia ada hubunganya dengan Fong atau gimana.


“Pak Hendrik akan isi kamar yang kosong mas, Tina sudah bikin email apabila kamar nomor tujuh akan diisi tamu yang booking lewat sini langsung”


“Ya sudah mbak, kita tunggu saja pak Hendrik dan pak Diran datang, sementara itu saya tetap ada disini saja dulu mbak, saya nggak mau tau apa yang sedang dilakukan Watuadem di belakang sana”


Sore hari pergantian shift jaga, pak Yogi digantikan pak Diran, sementara itu Watudem sekarang sedang bersama Jiang di belakang. Tadi aku sempat suruh Jiang untuk mendampingi eh mengawasi watuadem.


Apapun yang dilakukan Watuadem jangan sampai lepas dari pandangan Jiang.


Tapi nanti ketika ada catering datang, aku suruh pak Diran saja untuk mengawasi Watuadem.


“Jadi pak Jay mengirim penyakit kesini?” tanya pak Diran dengan wajah gak suka


“Iya pak.. Kita gak bisa apa-apa pak, karena saya dan mbak Tina kan tidak bisa membuktikan bahwa Watuadem itu bahaya”


“Benar pak Agus, kita hanya pekerja disini….” kata pak Diran


“Eh tapi tadi TIna suruh pak Hendrik ke sini pak Diran” kata mbak Tina


“Yah bagus itu kalau pak Hendrik mau ke sini…. Huufff dengan adanya Watuadem disini masalah disini tidak akan selesai, malah akan makin berantakan” gumam pak Diran.


“Sebenarnya saya penasaran dengan yang dilakukan Watuadem disini pak Agus… dia membuka pagar ghaib itu tujuannya apa, atau atas suruhan siapa… masak sih dia itu ada hubunganya dengan Fong?” tanya pak Diran


“Bisa jadi pak, karena dia pernah bilang kepada kami bahwa dia tidak bisa mengusir atau melawan mereka, dia hanya bisa berkomunikasi dengan mereka saja pak, jadi menurut saya ada kemungkinan dia ada perjanjian dengan Fong”

__ADS_1


Sore hari menjelang senja mobil catering datang. Ini waktunya aku dan Jiang sibuk.. Jadi untuk sementara waktu pak Diran yang akan mengawasi Watuadem sambil menunggu pak Hendrik datang.


“Bu Tina, nanti kalau pak Hendrik datang tolong beritahu dia agar pura-pura tidak kenal dengan kita, saya ingin agar pak Hendrik dekat dengan Watuadem untuk mencari informasi apa yang sedang dia lakukan disini” kata pak Diran


“Nanti ketika pak Hendrik datang, Watuadem akan saya ajak berkeliling agar bu Tina bisa bicara dengan pak Hendrik”


Aku setuju dengan apa yang dikatakan pak Diran, ketika pak Diran selesai dengan pembicaraan dengan kami, Jiang memanggil aku, karena makan malam sudah siap untuk dibagikan.


Dan kebetulan si Watuadem saat ini ada di taman belakang. Pak Diran kemudian mendatangi Watuadem yang sedang mengawasi aku dan Jiang yang sedang membagikan makan malam.


Ketika aku lewat ruangan utama untuk mengambil nampan berikutnya yang berisi makan malam untuk kamar yang belum mendapat makan malam.. Di ruang utama ternyata sudah ada pak Hendrik yang sedang bicara dengan mbak Tina.


*****


Aku masih ada di ruang utama sambil menunggu makan malam selesai dan mengambil piring kotor di tiap kamar ketika Watuadem datang ke ruangan utama.


“Makan malam kita apa juga sama dengan yang diberikan kepada tamu disini?” tanya Watuadem


“Sama pak, tapi ada pengurangan untuk kita, misalnya kita tidak mendapat buah untuk pencuci mulutnya, dan minumnya hanya air mineral saja, kalau pak Watuadem sudah siap untuk makan malam, monggo itu di meja makan sudah disediakan pak” kata mbak Tina


“Ya sudah mbak… saya akan makan dulu, eh lalu yang lainnya bagaimana?”


“Kami makan bergantian pak, agar ada yang standby disini” jawab mbak Tina lagi


Tanpa menunggu pekerjaan aku dan Jiang selesai, Watuadem tanpa sungkan makan malam duluan, dia duduk di meja makan sementara aku dan Jiang masih berdiri di dekat pintu kaca untuk melihat apakah sudah ada kamar yang selesai dengan makan malam mereka.


Ya sudahlah, buat apa juga mempermasalahkan soal makan malam, yang penting malam ini sudah ada pak Hendrik dan pak Diran.


Tadi aku sempat bicara kepada pak Diran agar tidak menceritakan kepada pak Hendrik tentang tamu leluhur mbak Tina yang datang ke sini, karena untuk masalah leluhur cukup kita saja yang tau.


Pada khirnya pekerjaan ku selesai, jam sembilan malam pihak catering meninggalkan hotel ini, sekarang waktunya untuk jaga malam seperti biasanya.


Kulihat Watuadem duduk di taman  belakang, sementara itu pak Diran masih ada di parkiran mobil untuk mengecek satu persatu keadaan mobill yang diparkir sebelum menutup pintu gerbang hotel.


Jiang seperti biasanya dia duduk di kursi kayu depan pintu kaca untuk menunggu instruksi dari kami atau bisa saja ada tamu yang memerlukan bantuan roomboy.


Pak Hendrik yang ada di kamar nomor tujuh pun belum menampakan batang hidungnya, mungkin dia akan keluar dari kamar sebentar lagi.


*****


“Pak Hendrik belum nampak pak?” tanya pak Diran


“Kalau dari sini sih saya tidak keliatan pak Diran, tapi biasanya dia kan akan menuju ke ruang utama kalau keluar dari kamarnya”


“Iya pak Agus… itu kan biasanya, lha ini kan tidak biasanya, bisa saja dia keluar dari kamar untuk jalan-jalan di sekitar halaman belakang, kalau gitu saya akan ada di belakang dulu pak Agus, akan saya ajak bicara si Watuadem itu”


“Iya pak… tolong ajak dia ngobrol pak, karena sesuai dengan yang dikatakan pak Jay… pak Diran harus bekerja sama dengan Watuadem pak hihihihi”


“Hehehe pokoknya kalau ada apa-apa, biar dia yang bergerak dulu pak Agus… kita cuma suport dia aja, saya kepingin tau apa yang akan dia lakukan apabila ada apa-apa disini”


Ketika pak Diran sudah menuju ke halaman belakang, pintu kaca terbuka, dan pak Hendrik masuk ke ruangan utama, wajah dia tersenyum ketika melihat aku dan mbak Tina yang masih di ruang utama.


“Hehehe mas Agus kok gak ikut ngobrol sama pak Diran” tanya pak Hendrik


“Nggak pak, saya nunggu info dari pak Diran saja kalau pak Diran butuh bantuan dari saya pak, oh iya pak Hendrik… kemarin malam disini ada yang kerasukan hampir saja mau bunuh diri pak”


“Lho kok mas Agus gak telepon saya?” tanya pak Hendrik


“Wah gak kepikiran pak Hendrik… keadaan kacau balau, tamu pada keluar kamar untuk lihat apa yang terjadi, beberapa tamu laki-laki ikut membantu memegangi laki-laki yang kerasukan itu”


Aku ceritakan kepada pak Hendrik kejadian kemarin malam hingga  alasan kedatangan si Watuadem disini, pak Hendrik menyimak dengan serius apa yang aku katakan.


“Waduh bahaya mas… bisa-bisa tamu yang kesini akan beritakan kejadian disini, dan akibatnya hotel ini akan sepi” kata pak Hendrik


“Nah itu pak Hendrik…itu yang saya takutkan, takutnya berita tentang kematian pak Owo akan muncul lagi di media masa pak”


“Ya sudah pak Agus, begini pak, saya akan pura-pura jalan-jalan ke taman belakang dan ikut ngobrol dengan pak Diran dan Watuadem, pak Agus jaga disini saja bersama mbak Tina..”


“Mas Agus… saya merasa di sekitar sini ada kekuatan yang sebelumnya tidak ada…” kata pak Hendrik sambil matanya melihat ke sana kemari..


“Hmm yang saya deteksi di sekitar sini, ada benda dengan energi hitam yang eh … ehmm benda itu ada di kamar itu kayaknya mas” tunjuk pak Hendrik pada kamar belakang yang ditempati Watuadem

__ADS_1


“Begini mas Agus…tolong mas Agus tetap disini dan perhatikan apabila Watuadem masuk ke kamar dan keluar dari kamar lagi….”


“Sekarang saya akan menemui dia di halaman belakang, dan nanti saya akan beri kode kepada pak Diran untuk mendeteksi benda apa itu yang ada di dalam kamar itu”


__ADS_2