
“Mas… itu bukanya pak Pangat dan istrinya…”
“Hmm iya mbak…kenapa mereka juga ada di tahun ini mbak?” mas Agus menoleh ke Inggrid yang ada di sampingnya.
“Nggrid, jelaskan kenapa mereka ada juga disini, apa mereka juga sempat masuk ke makam kamu!” kata mas Agus dengan suara yang agak membentak
“Ya jelas nggak lah mas… kalian berdua ada di satu tahun kedepan karena masuk ke makam Inggrid, sedangkan pak Pangat dan istrinya melampaui tahun dengan normal, sama juga dengan pak Burhan tadi kan” jawab Inggrid tanpa melihat ke arah mas Agus
“Coba kamu ke sana, perhatikan apa yang sedang mereka bicarakan berdua, saya kok penasaran dengan pak Pangat dan Istrinya yang asik makan cendol di pinggir jalan” suruh mas Agus
“Mas Agus… Tina rasa mereka tinggal tidak jauh dari sini deh mas. Kalau lihat dari mereka duduk dengan santai di pinggir toko sambil makan cendol, kemungkinan besar mereka tinggal di sekitar sini”
“Apa kita turun disini saja mas?”
“Sebentar mbak Tina… saya panggil kondekturnya dulu…mungkin di depan pasar itu bus ekonomi ini akan berhenti mbak”
Inggrid sudah lebih dulu turun untuk mengamati apa yang dilakukan suami istri yang aku lihat mirip dengan pak Pangat dan istrinya.
Sedangkan mas Agus sedang menuju ke depan untuk mencari kondektur bus yang biasanya ada di sebelah supir, untungnya saat ini sedang terkena macet akibat lampu merah yang lumayan lama, sehingga aku dan mas Agus punya kesempatan untuk turun dari bus.
Posisi kami turun dari bus dengan pak Pangat bisa dikatakan lumayan jauh juga, karena tadi aku lihat pak pangat ketika bus sedang jalan pelan karena depan kami akan ada kemacetan
“Ayo mbak..sedikit lari mbak… semoga pak Pangat masih ada disana bersama dengan istrinya”
“Tapi apa mas Agus yakin yang ada disana itu pak Pangat?”
“Saya yakin sekali mbak, saya tidak pernah lupa wajahnya pak Pangat”
Pinggir jalan yang panas dan berdebu ini tidak menyurutkan niat kami untuk menghampiri pak Pangat dan istrinya yang tadi sedang minum dawet di depan sebuah toko.
Ketika kami berlari menghampiri posisi pak Pangat dan Istrinya, tiba-tiba Inggrid datang menghampiri kami.
“Benar itu pak Pangat dan istrinya… mereka berdua akan selesai minum dawetnya..” kata Inggrid
“Kenapa kamu gak temui mereka dan bilang kalau kami akan datang menemuinya Nggrd?”
“Eh kan kalian berdua sudah tidak jauh lagi dari pak Pangat” sebuah alasan yang dibuat-buat oleh Inggrid
Kupercepat langkahku yang sudah meninggalkan mas Agus yang sedang membawa ransel yang lumayan berat.
Aku nggak begitu tau daerah ini, tetapi yang jelas daerah ini masih di pinggiran kota, dan sudah tidak jauh lagi untuk mencapai kota P.
Aku semakin dekat dengan sepasang suami istri yang sedang menikmati segelas dawet.
“Pak Pangat…” sapaku sambil terengah engah
“Astaga… kamu mbak Tina…mana mas Agus!” teriak pak Pangat
“M..mas A..agus masi di belakang pak heh..heh..heh”
“Sudah satu tahun kalian berdua saya tunggu mbak….”
“Kita tunggu mas Agus saja dulu pak heh..heh..heh..heh”
Ternyata benar pak Pangat dan istrinya, mereka berdua sedang santai duduk di pinggir jalan sambil minum es dawet…
Mas Agus yang membawa ransel berjalan tertatih tatih menghampiri aku dan kedua suami istri yang sedari tadi tersenyum itu…
“Mbak Tina mau es dawet kan…ayo pesan dua gelas satu untuk mas Agus juga” kata pak Pangat
“Dan Itu Inggrid kenapa dia bersama dua orang yang memakai pakaian adat china mbak Tina?”
“Nanti saja ceritanya pak, saya minum dulu, rasanya haus sekali pak”
Mas Agus datang, setelah menyapa pak Pangat, tanpa ba bi bu langsung menghabiskan satu gelas es dawet.
__ADS_1
Pak Pangat dan istrinya menunggu hingga kami selesai minum, dan menunggu kami hingga kami tidak capek lagi.
“Gimana, sudah selesai dengan capeknya kan, ayo sekarang kita ke rumah saya saja” ajak pak Pangat
“Lho bapak ini pindah rumah?” tanya mas Agus
“Nanti saja ceritanya, ayo agak cepat, rumah saya tidak jauh dari sini kok, ada yang harus kita bicarakan di rumah saya nanti”
Kami berempat bersama dengan Inggrid dan dua hantu yang siap menghabisi aku dan mas Agus apabila kami berdua masuk ke lubang makam menuju ke rumah pak Pangat.
Kami berjalan cepat menuju ke rumah pak Pangat yang katanya tidak jauh dari tempat beli es dawet tadi. Setelah masuk beberapa gang, akhirnya kami sampai di sebuah rumah mungil dan sederhana…
Rumah yang letaknya ada di sebuah gang tidak terlalu padat dan sepi siang hari ini.
“Ayo masuk…kita ngobrol di dalam saja” ajak pak Pangat
Di ruang tamu rumah yang tidak bisa dibilang lebar dan hanya ada karpet berwarna hijau tua saja yang terhampar di ruang tamu, kami duduk hampir berdempetan. Ruang tamu ini bisa dibilang sempit untuk kami berempat.
“Silahkan duduk, maaf rumah ini kecil dibanding yang rumah saya yang ada disana”
“Jadi gini mas Agus dan mbak Tina… kalian sudah satu tahun ini saya tunggu, saya dan istri saya secara berkala datang ke rumah penggergajian untuk mengecek motor yang kalian sembunyikan di belakang pohon”
“Tadi pagi kami ke sana lagi, dan mendapati motor itu sudah tidak ada disana, akhirnya kami berkesimpulan bahwa kalian sudah pergi dari sana”
“Dan saya yakin kalian pasti akan menuju ke kota S untuk mencari pak Burhan, karena kalian pasti ke rumah saya dan mendapati rumah saya sudah kosong”
“Iya betul apa yang bapak katakan itu” jawab mas Agus
“Jangan memotong perkataan saya mas!…saya mau ceritakan dulu selama setahun ini apa saja yang terjadi disini, dan di rumah saya” kata pak Pangat dengan nada agak keras
“Kita mulai dari waktu kalian pamit ke rumah penggergajian bersama Inggrid, kemudian kalian hilang tanpa ada jejak sama sekali, bahkan pak Burhan berusaha menghubungi HT yang kamu bawa, tetapi tidak berhasil”
“Tetapi…perhatikan yang saya omongkan ini mas Agus dan mbak Tina….”
“Saya yakin kalian saat itu sedang sembunyi dari sesuatu yang mengejar kalian…..dan kalian pasti sedang sembunyi di sebuah makam china!”
“Jangan potong omongan saya!” bentak pak Pangat
“Biarkan saya cerita dulu apa yang terjadi dengan kalian, jangan sekali-kali potong omongan saya dulu mas Agus!”
“Kalian berdua tau siapa saya dan profesi saya sebagai apa, saya tau apa yang selalu dipikirkan oleh manusia dan mahluk halus yang bernama Inggrid yang selalu bersama kalian itu!”
“Semenjak pertama kali saya bertemu dengan Inggrid, ketika dia melihat saya yang berjalan dari ujung gang menuju ke rumah, saya sudah bisa baca apa yang ada di pikirannya”
“Inggrid…sini kamu!....jangan menjauh dari kami!” bentak pak Pangat
“Lebih baik kamu jelaskan kepada mbak Tina dan Mas Agus, apa tujuanmu sebenarnya dengan mereka berdua!” perintah pak Pangat kepada Inggrid
“Dan untuk kalian berdua.. Jangan coba-coba melakukan sesuatu, atau akan saya musnahkan kalian berdua” tunjuk pak Pangat kepada dua penjaga makam
Aku gak bisa berpikir, kenapa dan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kami dan Inggrid, dan apa yang sedang akan Inggrid jelaskan dengan perintah dari pak Pangat ini.
Kuperhatikan Inggrid yang sedang berbisik kepada kedua penjaga makam, kuperhatikan wajah Inggrid sekarang nampak tidak seperti biasanya.
Ada perbedaan sedikit dari raut wajah Inggrid, yang sedang berbisik kepada kedua penjaga makamnya.
“Kalian tunggu dulu disini, tunggu hingga Inggrid berkata sesuatu”
“Bu, tolong jupukno pecutku ( Bu, tolong ambilkan cambuku)” kata pak Pangat kepada istrinya
Ketika pak Pangat lengah dengan berbicara kepada Istrinya, tiba-tiba Inggrid yang tadinya sedang berbisik kepada kedua penjaga makam itu pergi dan menghilang!
“Pak!... dia hilang!” kata mas Agus
“Ah…terlambat!, sudah biarkan saja di pergi mas, sekarang kalian punya masalah baru yang lebih mengerikan daripada dengan mafia narkoba”
__ADS_1
“Satu masalah kalian sudah selesai, meskipun belum selesai sepenuhnya, paling tidak sahabat saya Paijo sudah tertangkap, dan sekarang kalian mendapat masalah baru dengan setan itu”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Inggrid pak?”
“Dia itu jahat mbak Tina….sejak pertama kali saya bertemu dengan dia , ketika dia sedang ada di ujung gang, ketika saya datang dari masjid… saya sudah bisa baca pikiran dia”
“Dari sini saya mencari informasi ke teman-teman ghaib saya”
“Setan Inggrid itu mempunyai kekuatan yang besar, karena sekian lama dia berhasil membunuh puluhan orang yang singgah di rumah penggergajian dan bisa dia perdaya untuk masuk ke lubang yang ada di makan nya, dan dari membunuh itu dia memiliki kekuatan yang luar biasa”
“Di seberang sungai, di padang ilalang itu adalah kerajaan kecil dia. Tetapi dia tidak bisa menguasai tanah di tengah hutan, karena disana ada leluhur mbak Tina”
“Leluhur mbak Tina jauh lebih tua dari pada Inggrid, sehingga Inggrid tidak bisa berkuasa disana”
“Meskipun Inggrid itu memiliki kekuatan yang besar, tetapi itu dia tetap tidak bisa menaklukan leluhur mbak Tina”
“Dan merupakan sebuah keberuntungan bahwa dia bisa mengenal kamu mbak Tina, rencana dia adalah menyekap kamu yang merupakan turunan murni terakhir dari penduduk yang ada di tengah hutan”
“Tetapi sayangnya saat ini kalian bertemu dengan saya, sehingga rencana Inggrid pun bubar”
“Sebentar pak Pangat, sebenarnya yang terjadi ini bagaimana, dan kenapa disana ada motor yang dalam keadaan siap, kemudian ada sepasang mayat yang dikubur oleh pak Pangat, dan kenapa pak Pangat pergi dari rumah?” tanya mas Agus
Aku tidak menyangka bahwa Inggrid itu jahat, aku mengira dia selalu membantu aku dan mas Agus. Tapi apa benar seorang Inggrid itu seperti yang pak Pangat ceritakan.
Dan apakah alasan dia untuk mencari keluarganya yang hilang itu hanya tipu daya setan saja?
“Tenang mbak Tina, yang kamu pikirkan itu akan saya jelaskan hingga kalian paham siapa dia dan apa yang selalu dia kerjakan disana”
“Dan kenapa leluhur mbak Tina tidak menceritakan apa sebenarnya yang sedang bersama mbak Tina dan mas Agus itu” kata pak Pangat
“Saya tidak akan ceritakan sejarah yang saya dengar dari teman ghaib saya, karena saya takut apa yang dia ceritakan itu salah”
“Saya hanya akan jelaskan apa yang saya alami selama setahun ini setelah mendengar cerita teman ghaib saya, dan kenapa motor saya yang kalian sembunyikan itu masih ada disana dan dalam kondisi yang siap”
“Pertama saya ulangi lagi, Inggrid itu setan yang sangat jahat!. Dia membunuh orang untuk menyekap arwah orang itu untuk dijadikan pasukan dan pembantunya”
“Kedua ketika kalian merasa ada yang mengejar… itu bukan manusia, dan bukan suruhan dari Solikin atau Paijo, itu hanya halusinasi kalian berdua, karena otak kalian sudah dipengaruhi oleh Inggrid”
“Tujuannya agar kalian masuk ke lubang yang dia sudah sediakan itu”
“Banyak orang akan mati ketika masuk ke lubang, tetapi bagi yang kuat akan hidup dan keluar dari lubang itu di satu tahun kedepan”
“Sekarang pikirkan, kenapa mbak Tina dan mas Agus tidak mati di lubang itu?”
“Karena kalian berdua sudah pernah datang dan bertamu ke rumah leluhur mbak Tina yang ada di tengah hutan, leluhur mbak Tina sudah wellcome dengan mas Agus, dan secara ghaib juga memberikan kekuatan kepada mas Agus dan mbak Tina untuk menjaga diri”
“Dan akhirnya kalian berhasil keluar dari lubang itu dan masuk ke satu tahun kedepan. Hingga akhirnya kalian naiki motor saya dan menuju ke rumah saya kan”
“Ketiga…saya dan istri saya secara berkala tiap dua minggu sekali selalu datang ke belakang rumah penggergajian, asal kalian tau selama setahun ini rumah penggergajian itu tidak ada yang menempati , dan sudah menjadi rumah hantu”
“Saya datang ke belakang rumah penggergajian ini selain untuk mencari kalian atau mayat kalian, saya juga berusaha merawat motor saya, agar bisa kalian gunakan suatu saat ketika kalian sudah keluar dari sana”
“Karena menurut teman saya, apabila kalian tidak bisa dihabisi di dalam makam Inggrid, maka kalian akan dihabisi dengan cara ditenggelamkan di bagian sungai yang dalam”
“Tetapi ternyata kalian masih selamat dan berhasil mengendarai motor yang saya siapkan untuk kalian berdua”
“Jadi selama satu tahun itu kalian ada di dalam makam, hanya saja kalian tidak merasakannya, ini juga karena kepintaran Inggrid dalam memanipulasi otak kalian”
“Harap diingat, memanipulasi bukan berarti bisa membaca pikiran, memanipulasi otak kalian dan menguasai pikiran kalian sehingga kalian tidak merasakan apa-apa. Yang kalian rasakan hanya beberapa menit disana saja”
“Saya tidak tau apa yang terjadi di dalam makam itu, apa yang kalian makan, apa yang kalian minum…pokoknya saya tidak tau apa yang terjadi selama kalain disekap di dalam sana”
“Kenapa kok hanya satu tahun saja kalian ada di dalam sana, kenapa kok gak dua tahun atau bahkan kurang dari satu tahun?”
“Menurut teman ghaib saya, itu batas waktu maksimal untuk membunuh kalian berdua, apabila lebih dari satu tahun, maka yang terjadi malah sebaliknya, istana kecil Inggrid itu akan runtuh!”
__ADS_1
“Maka dari itu Inggrid melepaskan kalian, tetapi dia tetap akan membunuh kalian dengan menunggu waktu lengahnya kalian berdua”
“Keempat….kenapa saya pergi dari rumah dan ada sepasang mayat yang saya kuburkan….”