RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
64. PEKERJAAN BERES PAK AGUS


__ADS_3

“Oh jadi ada orang lain lagi yang pernah bekerja di sana bu?”


Aku pura-pura tidak tau di hadapan ibu Tugiyem, tapi  keterangan bu Tugiyem ini cukup membantuku  juga


“Ibu sering bicara dengan Yetno?”


“Sayangnya saya belum pernah bicara dengan dia, saya hanya diceritakan oleh mbah Karyo yang waktu itu dekat dengan Yetno”


“Apa ada info soal Yetno lagi bu?”


“Waduh saya lupa nak, tapi kalau tidak salah Yetno sempat  bilang ke mbah Karyo kalau pak Wandi itu sering pergi, dan itu hampir tiap malam perginya”


“Wah gitu ya pak Wandi ternyata, jadi Yetno itu dekat dengan almarhum mbah Karyo?”


“Almarhum mbah Karyo bilang apa lagi bu?”


“Ndak ada kayaknya nak, karena mbah Karyo itu pendiam dan jarang sekali bicara dengan saya”


“Oh gitu ya bu….., kalau dengan pak Solikin apa Yetno pernah ngobrol juga


”Saya tidak tau nak, karena saya ke sana hanya siang hari saja”


“Eh ngomong-ngomong lukanya  nak Agus bagaimana?”


“Sudah mulai kering bu, karena dirawat… eh … dirawat oleh dokter Joko”


Ups aku hampir saja bilang dirawat oleh Tina, duh  mak deg rasane hehehe


“Saya tau dokter Joko itu nak, dia ahli pengobatan yang diakibatkan oleh hal yang  berbau ghaib-ghaib.”


“Untung nak Agus bisa bertemu dengan dokter Joko dan juga bisa ketemu dengan pak Pangat”


“Ya sudah bu, saya mau pamit pulang dulu, saya tadi kesini mbelani lewat jalan utama agar tidak ketemu dengan Burhan dulu bu”


“Karena saya kepingin ngobrol dengan pak Solikin tanpa ada Burhan, selain saya juga tadi habis ketemu dengan pak Pangat”


“Oh gitu , saya tadi juga sempat heran, kok nak Agus bisa bawa motor, apa ndak jauh kalau lewat jalan utama”


“Oh jelas jauh sekali ternyata bu heheheh”


“Ya sudah nak Agus, hati-hati di jalan. Ini lho anik katanya kangen sama nak Agus”


“Eh ibu ini lhooo fitnah. yang kangen bukan anik, tapi ibuk sendiri kan” teriak Anik


“Hussh kamu ini ada-ada saja Anik” kata bu Tugiyem sambil mendelik


Perjalananku masih lama untuk sampai di rumah penggergajian, untungnya motor yang kugunakan ini masih mampu mengantarku hingga ke desa N kalau kata bu Tugiyem tadi.


Sekarang aku sudah masuk ke hutan yang menuju ke rumah penggergajian.


Siang hari ini lumayan panas, akibat dari panas itu dadaku jadi agak perih, mungkin karena terpapar sinar matahari.


Tapi untungnya setelah masuk ke hutan panas matahari sudah terhalang daun-daun yang rindang, sehingga suasana menjadi sejuk dengan angin semilir yang menghantam wajahku.


“Wah sudah jam 11.00 ini, aku sangat terlambat sampai di rumah”


“Berarti habis ini bu Tugiyem datang bersama anaknya”


Selang beberapa menit kemudian, dari kejauhan rumah penggergajian yang menyeramkan itu terlihat.


Suara mesin diesel yang menggerakan gergaji menandakan bahwa aktivitas disana sedang berjalan, berarti Burhan saat ini memegang peranan dalam mengawasi pekerjaan.

__ADS_1


Semakin dekat suara mesin yang  bersamaan dengan orang yang memukul paku pun semakin terdengar makin berisik.


Setelah memarkir motor di pinggir rumah, aku masuk melalui pintu depan yang kebetulan tidak terkunci.


Sebelum aku menuju ke arah belakang, terlebih dulu aku masuk ke dalam kamarku untuk mengecek apakah ada yang berubah dengan keadaan kamar.


Ternyata tidak ada yang berubah kecuali satu… disini bau…!


“Kenapa kok ada bau  seperti bau asap disini, eehhmm, bukan bau asap biasa , tetapi bau asap kemenyan!”


Bau bekas asap kemenyan yang menempel di setiap sudut kamar, termasuk di tasku pakaian ku juga.


Kulihat di lantai kamar dengan teliti, tiap pojok dan sisi kamar aku periksa apakah ada sesuatu yang mencurigakan.


Ternyata ketemu, di bawah tempat tidurku ada bekas sisa pembakaran kemenyan. tepatnya di kolong bagian kepalaku!


Berarti ada orang yang masuk ke kamar dan membakar kemenyan tepat di kolong di bagian aku menaruh kepala ketika tidur.


Hmm aneh, kalau Burhan ada disini semalam, harusnya dia tau ada orang yang masuk ke sini. Nanti akan kutanyakan kepadanya saja kenapa sampai ada orang yang masuk kesini.


Selain dengan adanya bekas pembakaran kemenyan itu tidak ada yang aneh lainnya disini.


Siapa yang berani masuk ke dalam kamar ketika aku sedang tidak ada di rumah, dan apakah Burhan tau tentang ini?


Coba kutanya ke Burhan, apakah tadi malam dia ada disini atau tidak.


Setelah selesai dengan keadaan kamar, aku menuju ke belakang rumah, kebetulan pintu belakang sedang terbuka.


“Mas Burhan…”


“Wah.. Alhamdulillah pak Agus datang juga, saya tadi sempat khawatir karena pak Agus dari semalam belum juga datang”


“Tapi tenang saja pak Agus, semua pekerjaan beres pak”


“Gimana pak, apa sudah ketemu dengan orang yang paham dengan keadaan disini?”


“Belum mas, ketemunya malah dukun-dukun ngawur yang sok sok an mengusir semua mahluk disini dengan biaya puluhan juta”


“Saya butuh orang yang paham, bukan dukun jtabul yang sok sok an mas”


“Wah ya sulit pak, karena tempat ini kan terpencil”


“Eh mas Burhan semalam tidur di mana?”


“Sore hari setelah tau pak Agus tidak pulang, saya ke rumah pak Wito, saya tidur disana”


“Paginya saya mampir ke rumah pak Solikin untuk mengajak dia kerja”


Aku tidak perlu tanya dan berkata apa-apa tentang  adanya bau kemenyan yang ada di bawah tempat tidurku, karena dia pasti akan bilang ndak tau apa-apa.


Siang hari waktunya lautan atau istirahat bagi para pekerja…


Pak solikin ada di antara kayu palet yang sudah terpaku, dia sedang melihatku dengan tatapan mata yang aneh.


Biasanya kalau lautan seperti ini dia mendekati aku dan mengajak aku bicara, tapi kali ini tidak, dia hanya duduk-duduk sendirian saja.


Begitu pula waktu bu Tugiyem datang untuk memberikan makan siang kepada para pekerja, pak Solikun hanya duduk di amben sambil makan, tanpa mau ngobrol denganku sama sekali.


“Nak Agus… nanti sore saya tunggu di rumah karena ada yang mau saya bicarakan dengan nak Agus” bisik bu Tugiyem sebelum dia pulang


“Baik bu…”

__ADS_1


Apalagi yang akan dia ceritakan kepadaku, apakah dia baru ingat sesuatu yang sangat penting sehingga aku harus  ke rumahnya sore nanti?


Siang ini tidak ada kejadian apapun, pekerja bekerja sesuai dengan pekerjaanya, tidak ada yang sakit ataupun mengalami sesuatu.


Sore hari pun datang, aku harus mencari alasan untuk bisa ke rumah bu Tugiyem tanpa Burhan yang pastinya akan ikut denganku.


Dia pasti dia akan curiga karena tidak mungkin aku pergi sendiri tanpa dia kecuali aku alasan pergi ke  kota untuk ke rumah sakit.


“Mas Burhan, tadi pagi waktu sampeyan mbukak pintu rumah, ada sesuatu yang aneh ndak?”


“Eeemm ndak ada pak, keadaan rumah seperti biasa kok, saya datang bersama sama dengan pekerja pak, jadi saya tidak merasa takut”


“Ya sudah mas, saya kira keadaan rumah atau kamar ada yang berubah”


“Oh iya mas, habis ini saya mau ke kota dulu, karena saya mau rumah sakit untuk ganti perban”


“Mosok ganti perban harus ke rumah sakit terus pak?”


“Sakjane ndak juga mas, hanya saja luka ku ini kan beda, jadi dokter yang merawat harus tau kondisiku tiap ganti perban”


“Tapi pak Agus nanti malam pulang kan?”


“Jelas pulang mas….”


Aku tidak punya alasan lain selain ke desa untuk ke rumah sakit, takutnya Burhan minta ikut aku ke tempat bu Tugiyem kalau aku bilang mau ke desa sebelah sungai.


Tapi kalau ke desa sebelah sungai lewat jalan memutar jelas jauh dan lama, apalagi  malam hari.


Siang hari saja jalan kesana setelah lewat jembatan besi itu ngeri dan sepi, lha kalau malam hari apane gak tambah suepi.


Kayaknya untuk ke rumah bu Tugiyem sore ini lebih baik kutunda saja, lebih baik besok pagi saja sebelum ke rumah Tina, aku ke sana dulu.


“Kayaknya aku ndak jadi ke sana mas, luka ku udah lumayan sembuh, besok pagi saja saya ke dokternya”


“Ya sudah kau gitu pak, kalau gitu saya masak nasi untuk makan malam ini pak, nanti kita bisa bikin telor goreng dan mie instan saja”


“Ya ndak papa mas….”


Hari semakin sore, mumpung belum gelap lebih baik aku mandi dulu saja.


Ketika aku akan masuk kamar mandi..


“Pak Agus, airnya belum saya timba dari sumur, sebentar saya timbanya dulu pak, sekalian saya penuhi bak mandinya”


“Ya wis mas, agak cepat mas, karena sekarang sudah semakin sore”


Burhan tidak menjawab omongan aku, tapi dia menimba air dari bagian belakang rumah  berkali kali.


Lama juga untuk memenuhi air di bak mandi yang cukup lebar dan tetapi tidak dalam.


Aku masuk ke kamar mandi untuk melihat bak mandi rumah ini dalam keadaan masih ada sedikit air yang ditimba Burhan.


Aneh, bak mandi ini ternyata tidak sedalam yang kukira…


Tinggi bak mandi ini mungkin sekitar satu meter setengah kalau dilihat dari dinding bak bagian luar…


Lebar bak ini mungkin hanya enam puluh centimeter, dan panjang bak mandi ini ada sekitar dua meter lebih.


Tetapi ukuran bagian dalam bak ini mungkin hanya satu meter dalamnya….


Dan yang aneh lagi semen dasar bak mandi ini tidak terlalu berlumut, dan kelihatannya agak baru dari pada semen di dindingnya.

__ADS_1


Selama ini aku tidak pernah memperhatikan keadaan bak mandi ini, karena airnya yang selalu penuh. Tapi hari ini ketika bak ini kosong aku bisa lihat bak mandi ini.


__ADS_2