
“Saya sudah ingat apa yang pernah diigaukan bapak mbak”
“Tapi saya terlalu takut untuk menceritakan ke mbak Tina….”
“Memangnya semengerikan apa yang diigaukan pak Solikin?”
“Pada suatu malam ketika ibu saya sedang pulang, bapak mengigau lagi…”
“Tetapi igauan ini berbeda dengan yang biasanya…”
“Dia berkata….’ banyak mayat yang dibelah!’...”
“Ketika saya masih berusaha mencerna perkataan bapak… tiba-tiba dia berkata…’jangan bunuh keluarga saya’....”
“Setelah itu disambung lagi…’saya tidak akan mencampuri bisnis mayatmu…. jangan bunuh keluarga saya!’...”
“Maksudnya apa itu mbak Santi… kenapa kok tiba-tiba berurusan dengan masalah mayat?”
“Iya itu mbak TIna… saya tidak paham dengan apa yang dikatakan bapak…, saya hanya diam dan berusaha berpikir apa yang sudah dilakukan bapak saya, dan kenapa ada yang ingin membunuh keluarga kami”
“Saya cerita kepada suami saya… suami saya bingung dan hanya berkata lebih baik ibu dan bapak tinggal di kota saja dulu untuk sementara”
“Kemudian tentang kejadian bapak dipukul oleh seseorang ketika ada di rumah… itu juga menjadi tanda tanya besar, karena saya dan suami tidak diberitahu kenapa sampai bapak saya dipukul orang”
Waduuuh… ternyata Ibu Solikin tidak cerita kepada anaknya akan apa yang terjadi.
Apakah aku harus terus terang bercerita tentang ketika aku dan mas Agus ada di rumah pak Solikin?
Atau kubiarkan saja masalah ini bergulir seperti air yang mengalir?
“Mbak Tina ini pasti tau sesuatu kan mbak?” selidik Santi
“Eh.. mbak Santi… eh bu Solikin cerita apa tentang keadaan pak Solikin itu?”
“Ibu hanya cerita tentang bapak yang tiba-tiba dipukul orang, dan kemudian orang yang diduga maling itu lari dan tidak tertangkap sama sekali… hanya itu saja mbak”
“Eh Tina akan cerita ke mbak Santi apa yang terjadi sebenarnya, karena mimpi pak Solikin sudah mengerikan seperti itu”
“Tapi dengan syarat… mbak Santi harus menyikapi cerita yang saya ceritakan ini dengan dewasa dan lebih baik kita memikirkan jalan keluarnya”
Ku ceritakan secara garis besar apa yang terjadi di rumah penggergajian…
Hanya secara garis besar saja…karena aku takut akan reaksi yang akan muncul dari Santi ini.
Dan ternyata benar… reaksi yang timbul dari wajah Santi benar-benar mengejutkan… tiba-tiba wajah dia pucat dan berkeringat.. dia akan menangis tapi masih ditahan.
Dia akan beranjak masuk ke dalam, tapi kutahan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di dalam kamar.’
“Mbak Santi.. tolong jangan gegabah… kita harus pikirkan langkah selanjutnya”
“T..Tidak bisa mbak Tina… saya harus menyelamatkan bapak dan ibu!” Santi berdiri dari duduknya
“Ingat apa yang saya katakan mbak Santi… jangan gegabah.. lebih baik kita pikirkan bagaimana jalan keluar yang terbaik.. ayo jangan panik dulu mbak”
Santi duduk kembali setelah kupegang lengannya.
Nafas dia memburu dengan keringat yang membasahi dahinya.
Wajahnya tetap saja pucat dengan bibir yang agak gemetar.
“Tenang dulu mbak Santi, semua kejadian ini keliatanya sudah lama terjadi, tetapi karena mas Agus mulai melakukan penyelidikan sehingga mengakibatkan beberapa orang mulai kepanasan”
Santi masih terdiam dengan wajah memandang jauh ke depan.. dia mungkin agak kaget juga dengan apa yang kuceritakan..
Karena bisa saja yang kuceritakan itu berhubungan dengan igauan pak Solikin.
“Mbak Santi sudah Sholat?”
“S..sudah tadi waktu adzan isya selesai mbak”
“Ya sudah… Tina sholat dulu ya mbak, daripada kemalaman”
“I..iya mbak Tina.. eeh nanti setelah sholat mbak Tina kesini lagi?”
“Iya mbak Santi, Tina akan ke sini, kita coba untuk ngobrol apa yang harus kita lakukan mbak”
__ADS_1
Waktu Adzan Isya sudah hampir satu jam lalu berkumandang…
Berarti saat ini keadaan mushola rumah sakit dalam keadaan sepi, karena pastinya sudah tidak ada lagi yang sholat di sana pada jam seperti ini.
Aku berjalan di selasar rumah sakit dengan perasaan was was… karena keadaan selasar yang menuju ke mushola saat ini sepi.
Aku hanya bisa lihat seorang suster yang ada di ruangan administrasi atau ruang apalah aku kurang paham.
Ah .. aman juga, ternyata masih ada seorang suster yang ada di sini…
Kupercepat langkahku menuju ke arah mushola yang letaknya tidak jauh lagi dari tempatku berjalan.
Ketika aku sampai di mushola yang lampunya tidak begitu terang, ternyata di pojokan depan masih ada seorang bapak-bapak yang sedang duduk bersimpuh menghadap ke kiblat.
“Untungnya masih ada seorang bapak-bapak yang sedang melaksanakan ibadah”
Kuambil air Wudhu yang letaknya ada di sebelah kiri mushola, setelah itu aku masuk ke dalam mushola.
Ternyata bapak bapak berkaos biru dengan gambar iklan baterai dan bersarung itu masih ada disana, dia duduk diam di pojokan mushola.
Aku merasa tenang karena ada orang lain disini.
Segera kulaksanakan sholat Isya…
Selesai rakaat pertama dari sudut mataku dengan tubuh mengarah ke kiblat itu masih bisa melihat orang berkaos biru bergambar baterai itu masih disana.
Hingga rakaat kedua orang itu masih ada disana.
Pada selesai sujud rakaat ketiga ketika aku berdiri… melalui sudut mataku… tidak ada orang di pojokan mushola.
Konsentrasiku mulai terganggu, tetapi dengan cepat aku kembali konsentrasi hingga selesai.
ku toleh ke segala arah.. tapi tidak ada bekas seorangpun yang ada di sekitar sini.
Mushola ini sepi.. hanya aku seorang diri yang ada disini.
Lampu yang tidak begitu terang pun menambah kesan suram…
Bulu kuduk ku mulai meremang… aku mulai berpikir yang tidak tak hingga kemudian aku mendengar suara langkah kaki di luar mushola.
Cepat-cepat kususul suster yang sudah agak jauh dari ruangan yang digunakan sebagai mushola.
Ternyata suster itu belok ke kanan, ke arah kamar-kamar inap…
“Oh suster itu ternyata ke arah kamar-kamar…”
Aku sudah mulai sedikit lega setelah aku sudah ada di depan kamar pak Solikin…
Ternyata Santi tidak ada di depan kamar, mungkin dia ada di dalam.
lebih baik ku panggil saja dia… karena aku butuh bicara dengan dia.
Kubuka pelan-palan kamar yang ditempati pak Solikin dan tiga pasien lainya.
Ternyata benar. Santi sedang duduk seorang diri di kursi sebelah tempat tidur pak Solikin, dan ternyata bu Solikin sudah tidak ada di sebelah Santi.
“Mbak Santi…” panggilku dengan Berbisik
Santi menoleh ke arah pintu, dan dengan berjalan pelan dia menuju ke pintu tempat aku berada.
Dia sempat menoleh sebentar ke pak Solikin yang kelihatannya sedang tidur.
“Ih mbak Tina kok lama sih Sholatnya…”
“Ya gak lama lah mbak Santi, namanya juga orang beribadah, ya kita harus konsentrasi dan beribadah dengan sungguh sungguh”
“Eh ngomong-ngomong.. ibunya mbak Santi mana?”
“Tadi pulang sama suami saya mbak, tapi tadi saya sempat bicara dengan suami saya agar berhati hati di jalan, dan temani ibu di rumah”
“Tadi Tina juga sempat berpikir, bagaimana caranya bu Solikin pulang, tapi kan yang diperlukan oleh orang-orang jahat saat ini kan bukan keluarga dari pak Solikin, tetapi mas Agus…”
“Jadi menurut Tina sih…keluarga pak Solikin tetap aman saja, dan tidak akan diganggu oleh mereka”
“Jadi mbak Santi tenang saja, selama pak Solikin tidak berbuat yang mereka tidak suka, pasti keluarga mbak Santi akan aman saja kok”
__ADS_1
“Semoga seperti itu mbak Tina, saya tetap khawatir dengan keadaan ibu”
“Ya sudah mbak Santi… sekarang mbak Santi masuk kamar saja, temani pak Solikin, saya akan kembali ke kamar mas Agus”
“Iya mbak Tina… ini udah sekitar jam sembilan malam mbak”
Setelah membesarkan hati Santi agar tidak kepikiran terus dengan keadaan ibunya, aku memberanikan diri berjalan kembali ke kamar mas Agus.
Selasar rumah sakit ini benar-benar sepi, bahkan ketika aku melewati ruangan jaga yang biasanya ditempati beberapa suster jaga pun saat ini nampak kosong.
Sejauh mata memandang ke arah kamar paling ujung tidak ada seorangpun yang ada di luar.
“Lha tadi suster yang bawa file itu jalan ke mana ya?”
Tapi yang pasti dia sekarang sedang ada di salah satu kamar rawat inap.
Tapi aneh juga lho… biasanya suster kalau bawa file itu biasanya untuk pasien yang akan keluar dari rumah sakit, atau bisa juga pasien yang meninggal.
Dan file itu mungkin berisi riwayat pasien yang akan keluar dari rumah sakit atau pasien yang meninggal.
Di Kejauhan… di depan ruangan terakhir , di kursi luar kamar ada seseorang yang sedang duduk.
Ah… untungnya ada orang yang ada di depan kamar, jadi aku tidak begitu ketakutan
aku terus jalan hingga mendekati kamar paling ujung…
Sosok orang yang sedang duduk di kursi panjang depan kamar itu pun semakin jelas dengan penerangan yang tidak terlalu terang.
“Lho itu kan bapak-bapak yang tadi waktu sedang ada di mushola”
Bapak-bapak dengan kaos biru bergambar baterai itu duduk termenung di depan kamar, wajah orang tua itu menghadap ke taman kecil depan kamar.
Semakin dekat aku dengan orang itu semakin jelas…. wajah tua dan nampak lelah itu hanya memandang ke depannya tanpa menoleh ke arahku sama sekali.
“Lebih baik aku masuk ke dalam kamar sajalah…”
Pintu kamar mas Agus tidak tertutup dengan benar, agak terbuka sedikit, menandakan di dalam kamar ada seseorang yang bertamu.
Ketika pintu itu kudorong… ternyata benar.. ada seorang suster yang membawa beberapa berkas sedang berbicara dengan ibu-ibu yang sedang merapikan sejumlah pakaian.
satu buah celana pendek, satu buah kaos warna biru dan satu buah sarung sudah terlipat dengan rapi di tempat tidur dan siap dimasukan di tas kain yang terbuka.
Suster itu hanya diam dan sesekali membantu memasukan pakaian yang ada di atas tempat tidur.
Aku tau wanita tua itu sedang bersedih karena mungkin suaminya barusan meninggal, karena waktu tadi kan aku sempat melihat dia sedang menangis ketika aku akan membeli makanan.
Aku lebih baik tidak ikut campur dengan urusan mereka….
Kulirik sekali lagi wanita tua itu sedang memasukan celana pendek, kaos biru yang sekilas kulihat ada gambar baterainya dan sebuah sarung ke dalam tas kain.
Apa……! kaos biru bergambar baterai!?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekali lagi saya mohon maaf…
Saya belum bisa maksimal menulis, karena kesibukan saya selama ada di bali untuk mempersiapkan ngaben ibu saya hingga selesai semua proses upacara adat.
Dan alhamdulillah acara ngaben ibu saya sudah selesai hari selasa kemarin, setelah serangkaian acara adat yang menyita waktu saya dari pagi hingga malam hari.
Tetapi tentu saja setelah selesai dengan ngaben masih ada serangkaian kegiatan adat lainya yang tentu saja masih menyita waktu saya.
Untuk diketahui… saya terlahir dari keluarga hindu bali dengan awalan nama saya Dewa, saya berasal dari kota ubud desa peliatan.
Saya Mualaf ketika saya menikah dengan suami saya yang muslim…
Dengan kematian ibu saya, saya tetap mengikuti langkah demi langkah proses adat hingga semua acara adat tuntas.
Dan proses adat itu yang benar-benar melelahkan dari mulai ibu saya meninggal hingga proses pembakaran, pembuangan abu di pantai matahari terbit sanur, hingga di acara rumah adat ubud desa peliatan.
jadi saya mohon maaf apabila belum bisa update selama saya masih ada di Bali.
Mungkin saya akan update normal ketika saya sudah kembali ke tempat tinggal kami yang ada di jawa tengah.
Salam hormat
__ADS_1
Mbak Bashi / Dewa Ayu Yudhari