RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
106.INGGRID


__ADS_3

Sore hari aku sudah ada di rumah penggergajian yang sepi..


Tadi aku menggunakan ojek setelah diantar Tina ke pangkalan Ojek.


Sebenarnya aku bisa saja  mengajak Tina kesini, bukankah Burhan masih ada di tahanan kantor polisi atas ulahnya sendiri.


Tapi yang jelas setelah semua clue ini kuhubung-hubungkan aku semakin bingung dan semakin tidak bisa menerka terka apa yang sedang terjadi dan siapa disini sebagai otak kejahatanya.


Apalagi tadi aku dan Tina sempat mencuri dengar omongan dua orang yang menggunakan motor dengan knalpot berisik di warung.


Menurut perkiraanku dari cara mereka berdua bicara itu, mereka adalah polisi, kemungkinan besar mereka adalah polisi yang menyamar.


Atau bisa saja mereka  adalah intel dari polisi yang bertugas masuk ke wilayah para penjahat untuk mengamati mereka dan menangkap mereka pada waktu yang tepat.


Lampu petromak sudah kunyalakan, termasuk lampu minyak di di kamarku dan kamar Burhan juga, sekarang yang bisa kulakukan hanya duduk-duduk santai.


Untungnya tadi aku sempat beli makan untuk makan malam nanti, sehingga aku tidak perlu masak makan malam lagi.


*****


Hari makin gelap malam pun tiba, aku masih duduk di ruang tamu yang terang benderang oleh nyala lampu petromak.


Aku kembali ke alam yang sepi, di antara hutan yang lumayan ngerik


Ndak tau kenapa jantungku rasanya deg deg an, seolah olah aku sedang menunggu sesuatu yang akan datang.


Apakah aku menunggu dua orang yang tadi sempat aku curi dengar pembicaraan, atau aku sedang menunggu hal lain?


Ah lebih baik aku makan malam dan kemudian pergi tidur saja, karena  dari kemarin aku jelas jelas kurang tidur, akibat dari hal-hal mengerikan yang tak kuduga.


*****


Kubaringkan tubuhku dengan mata menatap plafon kamar…


AKu masih membayangkan apa yang tadi dikatakan Tina tentang bosku yang sepertinya tau tentang aku yang sedang tidak masuk.


Tapi aku tidak tau pasti apakah bosku taunya aku sedang pulang kampung atau ada keperluan lainnya, dan yang aneh itu apakah Burhan yang melaporkan keadaan ku kepada bosku?”


Dan satu lagi yang aneh adalah seolah olah bosku tau kalau Burhan juga sedang tidak ada di rumah penggergajian.


Semua ini aneh bagiku karena bosku tidak terkejut atau marah ketika kulaporkan tentang keadaan disini.


Ah semua pikiran ini membuatku capek sekali …


Suasana di dalam kamar ini  membuatku terasa nyaman dan akhirnya aku pelan-pelan menjadi ngantuk.


*****


“Mas…bangun…”

__ADS_1


“Ayo bangun mas…..”


Samar-samar aku mendengar suara perempuan yang menyuruhku untuk bangun, tapi suara itu bukan Tina..


Tapi aku masih sangat ngantuk, mataku terlalu sulit untuk dibuka.


“Ayo bangun mas…”


Sekali lagi suara perempuan itu membangunkanku…


Jangan-jangan ini suara Inggrid,  perempuan yang membangunkan aku ketika aku ada di bawah pohon beringin


Ok lah..kubuka mataku…perlahan lahan.


“Nah gitu dong mas.. ayo dibuka matanya…”


Kubuka mataku lebih lebar, dan ternyata di sebelah tempat tidurku ada seorang gadis bermata sipit dengan rambut hitam panjang melebihi bahu.


Dia tersenyum manis.. dia memakai pakaian kaos putih dan rok bermotif kotak kotak dan bersepatu hitam.


“Bangun mas… Inggrid kan pengen ngobrol sama mas Agus”


“I…iya mbak Inggrid”


“Panggil saja saya Inggrid mas… kan kemarin Inggrid sudah bilang, panggil saja saya Inggrid”


“Yuk kita keluar rumah dari kamar ini saja mas”


Inggrid menggandengku untuk segera keluar dari kamarku


Tangan dia bisa menyentuhku, dan bahkan tangan dia sama sekali tidak dingin sepert cerita mayat yang pernah kubaca di sebuah Novel.


Telapak tangan Inggrid yang menyentuh tanganku rasanya hangat dan halus.


Saat ini pun aku bisa mencium aroma minyak wanginya…


Duuuh, aroma minyak wangi bunga… aroma bunga yang pernah kucium di sekitar sini…


Bukan aroma bunga kamboja, tapi aroma wangi bunga yang aku tidak jelas jenis bunga apa ini.


Berarti yang waktu aku bersama Tina itu adalah aroma minyak wangi Inggrid!.


*****


Inggrid membuka pintu kamarku...


Tapi yang diluar kamar ku ini bukan ruang tamu rumah penggergajian!


Tetapi sebuah ruang tamu yang terang bercat putih bersih dengan perabotan indah, serta satu set meja kursi yang masih terlihat baru.

__ADS_1


Aku bingung dengan apa yang kulihat ini..


Aku menoleh ke kiri, dan di bagian kiri ada satu kamar yang biasanya ditempati Burhan, kemudian di depan kamar Burhan ada satu set meja makan dengan empat buah kursi.


Di bagian kiri juga ada kamar mandi yang saat ini cat dan keadaanya sangat bersih


Ini pasti mimpi, tapi lebih baik aku tidak tanya dulu, lebih baik ku ikuti saja apa yang mau ditunjukkan INggrid kepadaku.


“Ini vila milik orang tua Inggrid mas,..


“Yuk kita keluar saja mas, kita duduk duduk di pinggir sungai saja, disana pemandangannya lebih indah”


Inggrid menggandengku menuju ke pintu belakang, kami tidak berjalan ke pintu depan karena pasti agak jauh memutar


Aku berjalan di lantai yang ternyata terbuat dari kayu keras yang di pernis sehingga tampak Indah.


Dan ketika kuperhatikan, dinding rumah ini ternyata bukan terbuat dari semen, tetapi dari susunan kayu yang disusun dengan sangat indah dan dicat putih.


Ketika aku melewati kamar mandi… kuintip sebentar kamar mandi itu, ternyata tempat bak mandi kamar mandi itu sama dengan yang ada di rumah penggergajian.


*****


Inggrid membuka pintu belakang rumah yang katanya adalah vila milik keluarganya.


Anehnya sekarang ini adalah siang hari, padahal tadi kan aku mapan turu malam hari…


Ternyata di belakang rumah adalah taman.. sebuah taman yang begitu Indah.. taman bunga yang subur dan terawat.


Taman bunga dengan rumput jenis rumput golf yang terpangkas dengan rapi di bagian belakang halaman menambah kesan indah dan  rapi.


Di bagian tengah taman bunga ada pohon mangga yang besar, dan ada beberapa buah mangganya yang mulai terlihat matang.


Di taman belakang ini ada jalan setapak yang menuju ke ujung pagar belakang yang dekat dengan pohon beringin.


Berarti besarnya taman bunga ini sama dengan luasnya tempat  produksi kayu di rumah penggergajian.


di sebelah kananku tetap ada sumur ... tetapi sumur itu saat ini terlihat indah dengan dinding sumur bercat putih Dan dengan sebuah katrol untuk mempermudah mengambil air sumur.


Aku yang sedang digandeng Inggrid berjalan di jalan setapak yang membelah taman.


Jalan setapak yang terbuat dari susunan batu Kali yang dipapras hingga menyerupai motif yang indah.


Jalan setapak ini mulai dari pintu bagian belakang hingga ke pagar taman belakang.


Inggrid membuka slot pintu pagar halaman belakang yang terbuat dari kayu keras yang dipotong rapi dan diserut..


“Kita duduk-duduk di belakang sini saja mas, enak dan segar rasanya”


Inggrid menggandengku menuju ke tempat kemarin aku duduk dan bertemu Inggrid untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Kami duduk bersebelahan, dan seperti kemarin Inggrid selalu melepas pandangannya ke sungai dan seberang sungai.


“Disini tempat favorit Inggrid mas, disini tiap hari Inggid bisa menghabiskan waktu lama untuk memandang sungai yang indah itu”


__ADS_2