
Keadaan disini menegangkan, cahaya yang berkilat kilat yang ada di dekat sungai itu tidak pernah jeda, dan dari dalam rekahan tanah itu juga tidak pernah berhenti mengeluarkan sosok bayangan hitam yang merangkak.
Mbah Sutinah, mbah Sastro dan mbah lainnya yang aku nggak kenal ada di barisan depan kami. Pak Senja dan anak buahnya hanya bisa melongo saja, mereka tentu saja tidak tau harus berbuat apa.
Ketika keadaan semakin gencar yang ditandai dengan cahaya kilat yang makin banyak dan makin cepat frekuensinya, aku melihat sesuatu yang berbeda…
Yang aku lihat di seberang sungai seperti dua sosok bayangan.. Bukan bayangan sih, tapi dua sosok samar berbentuk manusia yang pernah aku tau sebelumnya.
“Mereka berdua akan ke sini….” kata mbah Sutinah
“Mbah Sastro….apa wis waktunya lawange (pintunya) dibuka?” tanya mbah Sutinah
“Engko wae Nah (nanti saja Nah)… bocah kui urung mateng ( anak itu belum matang)” tunjuk mbah Sastro ke arah mbak Tina
“Nek wis mateng tenan, baru lawange bisa kita buka” lanjut mbah Sastro
Aku nggak tau apa maksudnya dengan pintu yang dibuka dan mbak Tina yang belum matang …mosok koyok buah buahan nunggu masak pohon baru bisa dimakan, tapi entahlah.. Aku belum tau apa yang mereka akan rencanakan dan lakukan.
“Solikin dan Fong… mereka akan kesini, siap-siap ya” kata bu Tugiyem
Fong dan Solikin… bentuk mereka sudah hampir sempurna, bukan lagi semacam bayangan saja… dengan bergandengan tangan mereka berjalan menuju kesini.
Mereka berdua berjalan di atas air, mereka berjalan dengan tenang di atas air tanpa ada kecipak air sungai…
Semakin dekat aku semakin deg deg an….jelas deg deg an karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan….
Perlahan-lahan mereka semakin dekat dengan kami….mereka dengan santai berjalan melewati peperangan dan mereka juga melewati rekahan ghaib tanah yang ada di pinggir sungai.
__ADS_1
Sekarang Fong dan Solikin sudah ada di tanah hotel, dan dengan santainya mereka jalan mendekati kami, tetapi ketika mereka sudah ada di dekat kamar nomor sepuluh, mendadak mereka seperti terbentur sesuatu.
Hihiih Solikin memegang dan mengelus elus jidatnya…
Kayaknya jidat solikin sakit karena membentur sesuatu yang mereka tidak lihat.
Mereka berhenti karena kayaknya ada semacam dinding penghalang di sini.
Fong dan Solikin yang tadinya tenang kemudian mulai bingung…. Mereka berdua sepertinya sedang meraba raba sesuatu yang mereka tidak bisa lihat…
Kayaknya ada semacam pagar ghaib yang tingkatannya lebih tinggi daripada ilmu Fong dan Solikin.
“Kalian sudah kalan Fong… kamu dan suamimu harus pergi dari sini atau terperangkap dan terbakar” kata mbah Sutinah
Tidak ada jawaban dari Fong maupun Solikin, mereka berdua masih berusaha meraba raba apa yang menyebabkan mereka berdua tertahan menuju ke sini.
“Sedelok engkas Nah (sebentar Nah)….. sedelok engkas wis mateng” kata mbah Sastro sambil melihat mbak Tina
Aku nggak tau pagar yang mereka gunakan untuk menahan Fong dan Solikin itu terbuat dari apa, karena kata mbah Sutinah, pagar ghaib itu tidak bisa bertahan lama…
Ketika aku lihat apa yang terjadi dengan Fong dan Solikin, ternyata mereka berdua sekarang kayaknya sudah mulai bisa memasukan kakinya.
Terlihat dari sini salah satu kaki solikin melangkah agak ke depan dan berusaha menendang nendang kiri kanannya.
“Mbah, nuwun sewu ( permisi) apa yang bisa kami lakukan untuk membantu panjenengan (kalian)” tanya bu Tugiyem dengan sopan
“Ora ono nduk… iki wis urusane bangsa lelembut, ilmu manusia belum bisa mengatasi hal ini…..tetapi seperti yang saya katakan, kalau keadaan mendesak, segera bawa pergi putuku Tina sampai dia siuman” kata mbah Sutinah
__ADS_1
Pandanganku terus memperhatikan Fong dan Solikin yang terus berusaha menjebol pagar pertahanan, dan kelihatannya dia sedang dibantu oleh pasukannya, karena aku lihat wajah solikin seperti sedang menyuruh pasukannya untuk terus mendorong dan membongkar pagar ghaib yang menghalangi mereka.
Ternyata benar dugaanku dengan bantuan pasukannya yang mungkin ratusan atau ribuan pagar ghaib itu mungkin runtuh… aku bisa lihat wajah Fong dan Solikin yang tertawa dan mulai berjalan menuju ke arah kami..
“Saiki Nah.. bukaen lawange… cicitku wis mateng tenan! (sekarang Nah, buka pintunya, cicitku sudah matang sekali!)” kata mbah Sastro dengan suara tegas
“Nak Agus… siap siap untuk membawa pergi nak Tina…..” kata mbah Sutinah
Mbah Sutinah duduk bersila diikuti oleh mbah mbah yang lainya, hanya mbah Sastro yang tetap berdiri…
Mbah Sutinah dan pengikutnya kemudian menyanyikan sebuah gending jawa yang aku sama sekali gak paham, karena bahasanya sangat halus dan berbeda dengan bahasa jawa yang aku tau.
Mbah-mbah itu melagukan gending jawa dengan suara merdu dan berbarengan.. Suara mbah mbah itu seakan akan terdengar dari berbagai arah , bukan hanya di depan ku saja… tapi dari kiri kanan belakang dan atas juga..suara itu sangat merdu dan aneh!
Aku mendekati dokter Joko.. aku ada ide untuk mengambil tandu yang ada di dalam mobil ambulan, tetapi tentu saja sebelumnya mayat yang ada di dalam mobil ambulan dikeluarkan dulu.
“Dok, bisa nggak kita pakai tandu untuk mengangkat mbak Tina, jadi apabila keadaan emergency, kita pakai mobil ambulan untuk membawa mbak Tina kemanapun sampai dia sadar”
“Bisa pak Agus.. ayo kita ambil tandu dulu… eh saya sama Jiang saja yang ambil tandu, pak Agus tetap disini dulu untuk menjaga mbak Tina” kata dokter Joko
Dokter Joko pergi bersama Jiang menuju ke mobil ambulance, disana juga ada pak Parlan supir ambulance yang akan membantu juga.
Kulirik sebentar keadaan mbak Tina… sekarang yang aku lihat ada yang sedikit berbeda lagi dari pada sebelumnya… secara samar aku bisa lihat mbak Tina memakai semacam penutup kepala atau eh semacam mahkota gitu…
Dan secara sama aku juga lihat di sekujur tubuhnya ada semacam pakaian pakaian kebesaran adat Jawa….dan memakai jarik juga…. Dan secara samar yang dipakai itu berwarna kuning keemasan…
Apakah ini yang dimaksud sudah matang oleh mbah Sastro?
__ADS_1
Berarti mbak Tina ini secara tak kasat mata adalah putri dari sebuah kerajaan.. Apakah seperti itu? Entahlah… pokoknya perubahan yang ada di tubuh mbak Tina secara samar-samar aku bisa tahu.