
“Namanya Solikan, dia berasal dari kota M, dia kontrak dan tinggal di rumah kontrakan saya ini sudah sekitar empat tahun lebih” kata pak Mat Sobirin pemilik kos kosan dan kontrakan di daerah ini”
“Kerjaan dia sebagai takmir masjid yang ada di luar sana itu, dia rajin dan disukai oleh penduduk disini, tetapi beberapa minggu lalu dia menghilang setelah kedatangan tamu orang yang mengaku saudaranya” kata pak Mat
“Bagaimana rupa dari saudara pak Solikan ini pak?” tanya pak Diran
“Wah saya tidak tau pak, karena saya belum bertemu, yang ketemu hanya ibu-ibu yang ada di depan itu, dan saudara Solikan itu pun datangnya malam hari” jelas pak Mat Sobirin
“Tetapi kata ibu-ibu itu sekilas wajahnya mirip dengan Solikan, hanya bedanya tidak ada brewok dan tidak ada kumisnya saja” lanjut pak Mat
“Apakah saudara Solikan itu sering ke sini pak?” tanya pak Diran
“Kalau menurut ibu-ibu itu, orang yang mengaku saudara dari Solikan itu beberapa kali datang ke sini dan bahkan katanya pernah menginap di sini juga” jawab pak Mat
Kami ada di dalam rumah pak Mat Sobirin, yang tidak jauh dari kontrakan Solikan, penjelasan pak Mat Sobirin sudah cukup menjelaskan siapa Solikan dan siapa Solikin.
Aku yakin mereka saudara kembar, dan ketika Solikin sedang dicari polisi dia lari ke kontrakan ini dan sembunyi disini, dan entah bagaimana caranya dia bertukar diri dengan solikan yang berkumis dan brewok.
Tetapi aku belum tau apa tujuan dari Solikin yang menyamar sebagai Solikan dan mengaku tinggal disini… itu masih misteri buat aku. Dan itu juga hanya merupakan analisa yang belum ada pembuktianya sama sekali.
“Eh pak Mat Sobirin… sebenarnya kami dari desa pak Solikan, saya ini tetangga dari pak Solikan”
“Di desa, Solikan punya saudara yang bernama Solikin, dia sekarang sudah meninggal” aku mulai berargumen ngawur agar kami diperbolehkan masuk ke kontrakan Solikan
“Ini pak Hendrik… bos dari Solikin di desa sana, dan kami kesini hendak memberi kabar kepada Solikan bahwa saudaranya meninggal karena tenggelam di sungai sebelah desa”
“Kalau pak Diran yang ini adalah sekuriti tempat pak Solikin bekerja. Nah tujuan kami kesini adalah mengabari Solikan yang merupakan saudara pak Solikin”
“Dan setelah kami sampai sini, ternyata saudara Solikin juga menghilang”
“Eh pak Mat apakah tidak curiga dan berusaha masuk ke dalam kontrakan itu?” aku mencoba untuk membujuk pemilik Kontrakan untuk membukakan pintu kepada kami
“Sebenarnya saya curiga, tetapi saya menunggu apabila ada keluarga atau siapapun yang datang kesini untuk bersama saya memeriksa keadaan dalam kontrakan itu” kata pak Mat Sobirin
__ADS_1
“Kalau begitu ayo kita periksa saja pak.. Siapa tau ada tanda kemana hilangnya Solikan, agar bapak bisa menjual kontrakan ini kepada yang lainnya”
Pagi menjelang siang hari ini kami menuju ke kontrakan Solikan yang menurut ibu-ibu disini wajahnya hampir mirip dengan Solikin.
Aku yakin sekali yang ada di penjara itu adalah Solikan, tetapi aku masih bingung bagaimana pihak Kepolisian bisa seceroboh itu salah tangkap kepada seseorang.
Ibu-ibu yang tadi nongkrong kemudian berdiri ketika kami datang, mereka kayaknya penasaran dengan keadaan kontrakan Solikan yang katanya sudah hilang beberapa minggu ini.
Kunci serep kontrakan sudah dimasukan pak Mat ke lubang kunci…. Ketika pintu itu dibuka, bau pengab keluar dari dalam kamar kontrakan.
Bau pengab ruangan yang sudah lama tidak dihuni.
“Sebentar, saya nyalakan lampu kontrakan ini dulu, disini memang kurang terkena cahaya matahari hehehe” kata pak Mat Sobirin
Lampu kontrakan sudah nyala, keadaan rumah petak kontrakan dari Solikan itu terlihat sangat jelas… sangat rapi! Khas rumah orang yang menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian.
Tidak ada perabotan, hanya ada karpet bersih yang ada di tengah ruang tamu dan sebuah lemari yang pintunya terbuka, ada juga lemari kaca model etalase kecil yang berisi berbagai buku pengetahuan tentang agama Islam dan tentu juga Al Quran.
Di atas lemari etalase kaca ada sajadah dan sarung yang terlipat rapi, menandakan pemiliknya bukan orang yang sembrono dan jorok.
Di pojok ruangan ada sebuah tas ransel yang tertutup berwarna hitam, dan kayaknya tas itu berisi penuh karena nampak menggelembung. Di sebelah ransel itu ada kipas angin yang kabelnya tidak tercolok ke stopkontak.
Di dekat pintu keluar ada tempat sampah yang terbuat dari plastik, dan di dalamnya ada sobekan kertas kertas, nanti akan aku lihat itu sobekan kertas apa.
Di luar ibu-ibu yang kepo berusaha melongok dan berusaha masuk kedalam rumah kontrakan Solikan. Tapi dihalangi pak Sobirin.
“Kita ke kamar dulu saja bapak bapak, periksa bagian kamar dulu saja, mungkin disana ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagi kalian” kata pak Sobirin kemudian mempersilahkan kami masuk ke dalam
Pak Sobirin menunggu di ruang tamu setelah membuka pintu kamar dan mempersilahkan kami untuk masuk ke kamar Solikan.
Kamar ini sempit, mungkin hanya sekitar dua meter kali tiga meter saja, di dalam kamar hanya ada satu buah kasur busa dan sebuah kipas angin kecil saja.
Kamar yang rapi dengan sebuah bantal, dan sprei yang terpasang rapi juga…. tidak ada yang istimewa di kamar ini.
__ADS_1
“Kita periksa yang ada di ruang tamu saja pak Agus, saya kok merasa tas yang ada di pojokan itu agak aneh… karena ada sedikit energi yang bisa saya rasakan” bisik pak Diran
Aku tadi juga curiga dengan tas ransel hitam yang tergeletak di pojok ruangan, tas ransel yang isinya kelihatannya penuh, dan tidak dibawa pergi oleh Solikan.
Aku rasa tas itu pasti milik Solikin yang sengaja ditinggal disini, dan akan diambil ke sini ketika dia kesini lagi.
“Eh pak Sobirin, bolehkan kami memeriksa tas yang ada di pojokan itu, tas itu kok keliatanya mencurigakan” kata pak Diran
“Silahkan pak, saya tadi juga ada keinginan membuka tas itu, siapa tau di dalam tas itu ada petunjuk kemana Solikan perginya” kata pak Sobirin
Pak Diran mengambil tas yang ada di pojokan dan menaruh di tengah ruangan, sebelumnya pak Diran menyalakan kipas angin dulu, karena ruang kontrakan ini pengab dan panas..
Tas ransel hitam itu kemudian dibuka pak Diran… ternyata isinya pakaian yang asal dimasukan begitu saja, tidak diatur dan tidak dilipat.
Pakaian yang asal dimasukan ke dalam tas, seolah-olah pemilik tas ini pergi terburu-buru sehingga belum sempat melipat pakaian yang ada di dalam tas itu.
“Saya yakin tas ini bukan milik Solikan pak” kata pak Diran
“Solikan orang yang rapi, tetapi pemilik tas ini orang yang sembrono, dia memasukan pakaian dengan asal-asalan” kata pak Diran
“Boleh kita bongkar isi tas ini pak Sobirin?” tanya pak Diran
“Silahkan pak, saya juga penasaran dengan isi tas itu….” kata pak Sobirin
Pak Diran mengeluarkan seluruh pakaian yang uwel uwelan. Dia menaruh pakaian yang kusut itu di pinggir tas,, hingga ada beberapa kaos dan pakaian yang dia keluarkan.
Setelah beberapa pakaian, kemudian pak Diran berhenti mengeluarkan apa yang ada di dalam tas itu, dia terdiam.
“Ada apa pak Diran, apa isinya sudah habis?” tanya pak Hendrik
“Tidak pak, di dalam ada sebuah kain berwarna hitam yang di dalamnya ada sebuah benda yang keras, kayaknya ada kotak di dalam kain hitam itu, dan yang saya rasanya aneh sekali pak” kata pak Diran
“Ada apa pak,, dikeluarkan semua dulu saja pak” kata pak Sobirin dengan tidak sabar”
__ADS_1
“Iya pak Sobirin, tapi yang ada didalam ini kelihatanya mencurigakan pak… karena terbungkus oleh kain hitam” jawab pak Diran