RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
185. KITA BERGERAK NANTI MALAM


__ADS_3

“Selamat siang.. Mbah Sastro, saya Bawono, sudah lupa sama saya ya mbah?”


Jangkrek pak Pangat ini… aku dan mas Agus jadi orang tua dia malah jadi juragan tanah, sialan!


Tapi wajah pak Pangat berubah, bukan sebagai pak Pangat yang biasanya, dia berubah menjadi lebih muda dan gagah hehehe.


Memang suaranya sama sekali gak berubah, tapi tubuh dan wajahnya berubah total, sama seperti aku dan mas Agus.


“Pak Santoso… terima kasih atas bantuanya, akhirnya saya bisa bertemu dengan mbah Sastro, salah satu dari sekian mbah saya yang sempat hilang kontak” kata pak Pangat


“Mbah Sastro ini salah satu sesepuh yang paling dihormati disini pak , dan selama ini tidak ada yang mengaku sebagai saudaranya, baru bapak ini yang mengaku sebagai mbahnya hehehe… saya pamit dulu pak Bawono” jawab pak Santoso


“Monggo-monggo pak Santoso… kapan-kapan kita bertemu lagi ya”


Penampilan pak Pangat yang sangat njuragani dengan nama Bawono memang membuat orang yang bernama pak Santoso itu bertekuk lutut.


Bahkan sebelum pak Santoso pergi, pak Pangat sempat memberikan sedikit uang yang dia ambil dari saku baju safarinya.


“Mbak Sastroooo .. ayo ajak saya masuk ke dalam rumah heheheh”


“Pak… sampeyan ini tega sama kita berdua pak, mosok kita jadi orang sepuh kayak gini, sedangkan sampean jadi juragan gitu pak”


“Heheheh ini bukan saya yang milih mas Agus… hal  seperti ini itu otomatis terjadi begitu saja”


“Bisa saja saya menjelma sebagai anjing atau kucing ”


“Tapi pak… waktu Tina dan mas Agus datang ke desa yang hilang, wujud kami berdua tetap dan tidak berubah pak”


“Gini mbah uti eh mbak Tina…. Kalau waktu itu kan mbak Tina hanya datang sebagai tamu, istilahnya sementara saja, paling hanya dalam hitungan menit”


“Tetapi yang kita lakukan ini, kita tinggal disini sebagai penduduk alam ini, kita berkegiatan disini, dan yang lebih penting kita bisa diterima sama penduduk disini…”


“Tapi jangan khawatir mbak Tina, meskipun tubuh kalian renta, tapi tenaga dan daya pikir masih seperti semula, kalian bisa bergerak dengan leluasa dan cepat, bisa melakukan aktifitas seperti biasanya”


“Hanya saja kalau masih ada tetangga yang mengenal kalian, ada baiknya berkelakuanlah sesuai umur fisik kalian berdua”


“Untung saya tadi gak paksa kucing belang telon itu untuk bicara pak” tunjuk mas Agus pada kucing yang sedang duduk di amben dalam rumah


“Kami kira kucing itu jelmaan dari pak Pangat… tapi disini kok ada kucing belang telon jantan ya pak?”


“Rata-rata kucing belang telon disini itu jantan semua, beda dengan di alam kita, kucing belang telonnya betina semua” jawab pak Pangat atau pak Bawono


“Oh iya…. Satu lagi yang harus kalian ketahui, jangan sekali kali memakan makanan pemberian orang lain disini… ingat lho ya pemberian orang lain…. Berbeda dengan makanan yang harus dibeli dan bukan gratisan” kata pak Pangat


“Iya pak… itu tadi ada yang kasih makanan, tapi tadi ketika ada di mulut, rasanya aneh, kayak ada wangi-wangi dan bau kemenyan”


“Nah itu.. Kalian sudah tau kan… jadi jangan dimakan… makanan itu bisa saja berasal dari dunia kita, berasal dari orang-orang yang memberikan sesaji dan membakar dupa atau kemenyan”


“Jadi kalau mau makan lebih baik beli atau masak sendiri” kata pak pangat


“Ok lah pak, kemudian kapan kita akan bergerak pak, dan sekarang ini kita ada dimana?”


“Yang pasti siang ini kalian pindah dulu ke rumah saya, posisi kita kalau dari sini cukup jauh juga kalau ke area rumah Inggrid dan koloninya, sekitar ada mungkin 20 km an….”


“Ayo siap-siap saja kita pindah ke rumah saya…”

__ADS_1


“Kita naik apa pak, rumah pak Pangat ada dimana?” tanya mas Agus


“Rumah saja cukup jauh, tapi lebih dekat dengan daerah milik keluarga Inggrid, kalau dari sini sekitar lima kiloan”


“Heheheheh tenang saja, mobil dan supir saya ada di depan gang rumah mbah Sastro, karena gang inin gak bisa dimasuki mobil, jadi supir dan mobil saya ada di depan sana”


“Wiiih.. Bener-bener jadi pejabat pak pangat ini”


“Tapi mobil yang akan kalian lihat ini jangan dibayangkan seperti mobil yang ada pada alam kita, disini lebih kuno….mungkin kayak tahun 80 an lah”


“Ayo sekarang saja kita pergi dari sini… nanti kita mampir untuk beli pakaian yang lebih baik…mosok mbak Tina pakaiannya kumal dan memakai pakaian khas mbah mbah.. Bawahan sewek dengan atasan macam mbah-mbah gitu”


“Mana bisa bergerak cepat kalau pakaian yang kalian gunakan masih seperti ini heheheh”


Keluar dari rumah ini dan menuju ke ujung gang merupakan siksaan bagi aku dan mas Agus…. Kami berdua harus berjalan layaknya  mbah-mbah yang bungkuk dan berjalan sangat pelan.


Perjalanan dari rumah ke ujung gang yang seharusnya bisa ditempuh tidak lebih dari lima menit ini akhirnya ditempuh dengan waktu yang cukup lama….


Karena tiap bertemu dengan penduduk disini, selalu ada pembicaraan yang gak penting dan memakan waktu yang tidak sebentar.


Untungnya tiap ada warga yang menyapa kami, pak Pangat selalu yang mengambil alih pembicaraan, jadi kami tidak perlu bersusah payah menjawab pertanyaan penduduk desa sini


Dan cara berjalan kami yang membungkuk juga merupakan siksaan buat pinggangku dan mas Agus, jelas saja untuk orang yang masih normal, akan merasakan pegal di daerah pinggang dan punggung karena dipaksa untuk berjalan membungkuk hingga beberapa belas menit lamanya.


“Haduuuh untung ada pak Pangat hehehe, jadi tiap ada penduduk yang ngajak ngobrol tidak perlu waktu lama untuk bicara…”


“Ya itu penduduk kampung disini, beda dengan kampung tempat kita tinggal, yang sudah tidak ada acara-acara tegur sapa dan ngobrol agak lama heheheh”


“Oh iya, nanti di dalam mobil, jangan ada pembicaraan tentang siapa kita dan apa yang akan kita lakukan, pokoknya kalian berdua diam saja, biar saya yang jawab pertanyaan supir saya apabila dia mengajak kalian bicara”


Tidak ada pembicaraan yang berarti ketika ada di dalam mobil, supir itu fokus ke jalan raya yang tidak begitu ramai dengan mobil-mobil  yang agak kuno dari pada di alam kita.


Benar pak Pangat, mobil mobil disini bernuansa tahun delapan puluhan, jadi agak aneh juga lihatnya.


Setelah kami dari toko pakaian, akhirnya mobil meluncur ke rumah pak Pangat,  cukup jauh juga setelah dari toko pakaian  menuju ke rumah pak Pangat.


Keadaan disini tidak ubahnya dengan kehidupan di dunia kami, ada mobil, truck, bus, motor, pertokoan, perkantoran dll, pokoknya tidak beda dengan yang ada di dunia kita….


Hanya saja disini itu kayak mundur belasan tahun dari tempat kita berada, disini keadaanya agak kuno gitu.


“Di rumah ini saya tinggal sendirian, tidak ada anak dan tidak ada istri, supir saya juga akan pulang nanti sore, jadi kalian bebas berjalan seperti sedia kala” kata pak Pangat setelah susah payah kami jalan dari garasi mobil menuju ke ruang tamu rumah pak Pangat


“Nanti malam kita akan ke sana, jadi persiapkan diri kalian berdua, kalian bisa istirahat dulu sebelum kita ke sana”


“Memangnya pak Pangat tau jalan menuju ke sana?”


“Tau dan tidak sulit, karena tadi sebelum menjemput kalian, saya sudah kesana bersama supir saya, dan ternyata keluarga Inggrid itu adalah keluarga terhormat di daerahnya sana”


“Nanti kalian akan tau bagaimana keadaan rumah atau yang bisa saya sebut sebagai istana, kenapa saya sebut istana, karena sangat luas dan megah”


“Apa yang akan kita lakukan di sana pak, masak kita langsung gedor pintunya dan mencari Inggrid untuk membunuhnya pak?”


“Jangan mas… malam  ini kita cuma observasi dulu saja, agar kalian tau keadaan disana dan apa yang akan kita lakukan dengan keadaan ini”


“Apa perewangan pak Pangat tidak bisa membantu kita disini?”

__ADS_1


“Heheheh kita ini ada di alam mereka mbak… mbak Ayu yang biasanya bersama saya sekarang ya sudah menjadi berwujud manusia seperti kita ini”


“Jadi percuma juga kan kalau harus minta bantuan kepada dia”


“Disini kita jalan sendiri, tidak ada yang bisa membantu kita mbak, dan harus kita lakukan dengan cepat juga, karena tubuh kita kan masih ada di rumah sakit sana”


Rumah pak Pangat ini cukup luas, ruang tamu yang elegan dengan  hiasan hiasan bernuansa tahun delapan puluhan, seperti guci keramik yang bergambar naga, ada juta patung-patung yang sedang uptodate pada jaman itu, ada juga lukisan pemandangan yang besar juga.


“Saya tidak tau saya ini sebagai apa mas… tetapi kayak saya ini orang yang agak penting di wilayah sini”


“Hehehe kami pikir pak Pangat ini pegawai kelurahan kok hihihihi”


“Nah itulah mas…. Tadi sih supir saya tanya… bapak ini langsung ke kantor atau tidak, ya saya jawab tidak, saya ingin jalan-jalan dulu, kemudian saya tanya ke supir saya tentang orang keturunan tionghoa yang terkenal disini”


“Awalnya supir saya kaget, dia berkata bukanya bapak sudah pernah bermasalah dengan keluarga Ong itu”


“Kemudian saya ingat kalau kata kalian berdua Inggrid itu berasal dari keluarga Ong”


“Saya tidak membahas permasalahan saya sebagai pak Bawono dengan keluarga Ong, saya hanya minta diantar melewati rumah dia saja, dengan alasan untuk melihat keadaan disana”


“Nanti kalian akan tau sendiri keadaan di sana, keadaan rumah keluarga Ong yang Indah, sebuah istana kecil yang letaknya di pinggir sungai yang lebar”


“Kira-kira Inggrid akan tau kalau kita ini musuhnya nggak pak, secara kita sekarang kan sudah berwujud kakek dan nenek”


“Saya pastikan dia tidak akan mengenal kalian, kita ini sudah berubah total, tidak ada yang bisa mengenali kita disana nanti”


*****


Malam hari, kami bertiga ada di dalam mobil pak Pangat menuju ke arah agak  keluar kota.


Jalan yang kami susuri ini ada di pinggir sungai yang cukup lebar, aku yakin sungai ini adalah sungai yang ada di pinggir rumah penggergajian.


Jalan malam hari disini juga cukup ramai dengan aneka macam kendaraan seperti yang ada di alam kita, sesunggungnya tidak jauh berbedalah.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tidak lama kemudian di sebelah kiri, atau di seberang sungai ada tembok yang cukup tinggi, semacam tembok pembatas yang didalamnya adalah hunian yang luas


Pak Pangat memperlambat mobilnya, mobil ini sekarang berjalan pelan….


“Itu rumah keluarga besar Ong, dan di dalam sana itu terdiri dari banyak keluarga, dengan rumah kecil-kecil”


“Sedangkan pimpinan disana adalah orang tua Inggrid”


“Coba kalian lihat seberapa luasnya tembok yang mengelilingi koloni itu, setahu saya, mereka itu hidup dengan cara berdagang, di sekitar kota”


“Kalau pagi penduduk yang ada disana itu keluar dari semacam perkampungan itu, dan menyebar di kota ini maupun di luar kota untuk berdagang”


“Dan saya bisa bayangkan di dalam sana itu kayak perkampungan kecil dengan raja dan ratu sebagai pimpinannya”


“Pak… apakah kita tidak bisa masuk ke dalam sana?”


“Hmm nanti kalian akan lihat pintu gerbang dari perkampungan itu”


Pak Pangat menjalankan mobilnya agak cepat…


Gila bener koloni keluarga Inggrid ini, jadi mereka itu hidup di dalam area luas yang dikelilingi tembok seperti benteng.

__ADS_1


Dan aku masih belum tau caranya untuk bisa masuk ke sana dan mencari Inggrid.


__ADS_2