RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
85. PENGINTAIAN DIMULAI


__ADS_3

“Mas Agus ini ada-ada saja hehehe”


“Oh iya mas Agus…beberapa hari lalu, waktu itu kalau tidak salah sekitar antara jam dua belas sampai jam satu   malam…”


“Waktu malem-malem itu saya kesini karena saya lagi cari dompet yang saya pikir ketinggalan di tumpukan tenda itu, saya lihat orang yang mirip dengan pak Wandi, dia datang naik mobil pickup warna putih”


“Mungkin pak Wandi sedang antar solar ya mas, tapi kok di bak belakangnya tidak ada drum solarnya”


“Saya sih gak nyapa dia, karena waktu itu saya sedang sibuk cari dompet saya yang hilang, dan juga takutnya saya salah orang, karena kan bisa saja itu bukan pak Wandi”


Samsol ini kelihatannya tau banyak soal beberapa orang yang masuk ke hutan untuk menuju ke rumah penggergajian.


Apa tidak sebaiknya dia kuberitahu saja apa yang sedang kualami….


Tapi nanti sajalah, biar aku diskusikan dengan TIna dulu saja.


“Tapi dompet mas Samsol akhirnya ketemu disini?”


“Hehehe tidak mas Agus.. dompet saya ternyata terselip di gerobak dorong ini hehehe”


“Tapi saya yakin mas Agus… yang saya lihat itu memang pak Wandi”


“Ah masak sih mas Samsol…mungkin mas Samsol salah lihat. Pak Wandi kan ada di desanya, dia mana berani kesini lagi semenjak kasus sama mbak Tina heheh”


Sambil kulirik Tina yang dari tadi hanya menyimak pembicaraanku dengan mas Samsol sambil makan.


Sengaja memang kupancing, agar Tina juga mengeluarkan pendapatnya.


“Ih mas Agus ini kenapa si kok bawa-bawa nama TIna”


“Lho kan memang bener mbak Tina, karena mbak Tina akhirnya pak Wandi sudah tidak pernah kesini kan hehehe”


“Tidak ah mas… Tina kan cuma mau menyelamatkan keluarga pak Wandi, kasihan kan mas anak dan istrinya pak Wandi hehehe”


Samsol yang sedang memasak mie untuk pembeli yang baru datang pun tertawa dengan jawaban Tina.


“Eh tapi ini benar lho mas Agus.. saya yakin yang datang naik mobil itu adalah pak Wandi”


“Tapi pak Wandi tidak sendirian mas, dia bersama supir yang saya tidak kenal”


“Setelah mobil itu masuk ke hutan, saya ya pulang saja mas hehehe”


“Sik ta mas Samsol… bukankah waktu itu ada saya disana mas?.. kok saya ndak  tau ada pak Wandi datang?


“Lha iki…hehehe mas Agus waktu itu mungkin sedang ketiduran hehehe”


Lebih baik ku akhiri saja pembicaraan dengan Samsol, daripada makin tidak karuan dan aku makin bingung, jadi ada baiknya biar aku dan Tina saja yang mencari jalan keluarnya.


Setelah kubayar sejumlah uang untuk pembayaran dua mangkok mie ayam berikut es teh manisnya, aku dan Tina Memulai perjalanan masuk ke dalam hutan.


Tepat pukul 21.15 kami berangkat ke arah rumah penggerajian, bertepatan dengan Samsol yang mulai berbenah untuk pulang.


“Eh mbak Tina tidak bawa lotion anti nyamuk?


“Ada mas di dalam bagasi motor, kenapa mas, udah digigit nyamuk?”


“Hehehe belum mbak Tina, hanya jaga-jaga saja kok, untung mbak TIna pakek Jaket jadi kan ndak kedinginan waktu nanti kita di hutan sana mbak”

__ADS_1


“Eh mas.. mas Agus tadi sempat mikir apa yang dikatakan Samsol tidak mas?”


“Yang soal apa mbak Tina”


Aku berusaha keras mengontrol kemudi motor Tina agar tidak terkena batu yang tajam yang bertebaran di sekitar jalan ini.


“Ya tadi dia bilang itu lho mas, yang tentang pak Wandi yang datang ke sana”


“Oh iya mbak, saya yakin itu memang pak Wandi yang sedang mengambil Solar, tetapi ada yang aneh mbak…”


“Kalau misalnya pak Wandi sedang ambil Solar, lalu bagaimana dengan Burhan, seharusnya Burhan tau dong karena ada suara berisik disana”


“Iya benar juga mas, kalau Burhan memang bener-benar ada disana harusnya dia akan terbangun karena dengar suara berisik…”


“Lalu waktu itu mas Agus ada dimana?”


“Itu yang tadi sedang saya pikir mbak, beberapa hari lalu itu kapan, kalau waktu saya ada di rumah, pada jam jam segitu saya sedang mimpi buruk atau sedang ditakut-takuti sesuatu yang mengerikan”


“Jangan-jangan itu cuma pengalihan saja, agar mas Agus tidak fokus pada suara yang ada di luar sana mas, bisa saja mereka berbagi peran juga mas…”


“Ada bagian yang mindahin drum dari belakang ke atas mobil, dan ada juga yang menggunakan ilmu hitam untuk mengalihkan konsentrasi mas Agus”


“Iya benar juga mbak Tina, bisa saja mereka berbagi peran, sehingga saya tidak sadar dengan apa yang terjadi diluar rumah”


“Eh mbak Tina…. “


“Sebentar lagi kita akan sampai di tengah hutan, disana itu yang saya ceritakan kepada mbak Tina itu”


“Kita lebih baik diam dulu saja mbak, kita coba dengarkan apabila ada suara mesin selain suara mesin motor ini”


“Mas… lampu motor Tina ini terlalu terang, apa tidak lebih baik dimatikan saja mas”


“Iya mbak, saya matikan saja lampu besar motor ini, yang akan saya gunakan adalah lampu senjanya saja mbak”


Motor kujalankan sangat pelan karena hanya menggunakan lampu senja yang tidak terang, untungnya untuk jarak sekitar tiga meter masih bisa terlihat dengan menggunakan lampu senja ini.


Tina dan aku hanya diam selama sisa perjalanan, ndak tau kenapa aku kok malas untuk bicara saat ini, Mungkin juga Tina Pun merasakan hal yang sama.


Kulihat jam tangan, ternyata sekarang sudah hampir pukul setengh sebelas malam…..


“Mas… mas Agus mencium bau wangi tidak mas?” bisik Tina


“Iya mbak, tapi bau wangi itu tidak papa kok mbak”


Aku berusaha bersikap tenang, agar Tina tidak merasa ketakutan, tapi sebenarnya aku juga sudah cukup deg deg an dan merinding dengan keadaan bau wangi ini.


Pelukan lengan Tina di pinggangku semakin erat… aku bisa merasakan bahwa Tina sedang dalam keadaan ketakutan juga.


Bau wangi bunga ini semakin tajam, persis dengan kejadian kemarin malam itu.


“Tenang mbak Tina, tidak akan terjadi apa-apa kok, disini memang selalu bau wangi bunga mbak”


“Iya mas, Tina tidak masalah dengan bau bunga itu, tetapi telinga Tina mendengar suara lain mas…”


“MATIKAN LAMPU MOTOR CEPAT MAS!” bisik Tina dengan agak keras


Kumatikan lampu motor dan begitu juga dengan mesin motor, agar aku dan Tina bisa lebih jelas mendengarkan suara yang barusan dikatakan Tina.

__ADS_1


Setelah keadaan hening… ternyata suara itu adalah suara motor, suara motor yang kemarin sempat lewat sini.


Tetapi suara motor ini kedengarannya lebih keras… atau seseorang yang ada di atas motor itu sedang memacu motornya agar berjalan lebih kencang.


Aduuuh gawat….apa mungkin karena lampu belakang motor Tina ini sempat terlihat oleh orang yang mengendarai motor yang bersuara keras itu?


“Ayo cepat kita sembunyi mbak Tina, itu suara motor yang kemarin”


“Kita sembunyi dimana mas, Tina takut ketahuan…..!”


“Ssstttt tidak akan ketahuan mbak…”


“Tenang saja mbak Tina, pokoknya diam dan tidak bergerak.. saya yakin kita akan selamat!”


Saat ini di kiri kanan tidak ada semak belukar sama sekali, yang ada hanya pohon pohon mahoni yang tumbuh dengan jarak yang cukup renggang…


Sehingga tidak ada tempat bagi kami dan motor ini untuk sembunyi dari suara motor yang makin keras dan makin dekat.


“Mas.. ayo cepat, kita cari tempat sembunyi, lihat itu cahaya lampu motor itu sudah terlihat dari sini mas”


Tina semakin panik dengan keadaan ini….


Motor kutuntun dengan berjalan lebih cepat…


Hingga akhirnya di depan kami akhirnya ada semak belukar yang lumayan lebat.


“Disana saja kita sembunyi mbak..!”


Kuarahkan motor ini ke belakang semak, sementara itu gerakan sinar cahaya motor semakin dekat dengan posisi kami berdua.


Aku dan Tina sudah meringkuk di balik semak yang lebat ini..


Suara motor dengan knalpot sangar itu semakin dekat dan tiba-tiba berhenti di beberapa meter sebelum semak tempat kami berdua sembunyi.


Motor itu berhenti  dengan mesin yang masih menyala…


Aku berusaha untuk menenangkan Tina dengan cara merangkul bahunya.


Pelan-pelan aku bisa mendengar suara seseorang turun dari motor dan berjalan di sekitar motornya…


“Mana.. tadi kamu bilang kamu lihat ada lampu motor di sekitar sini”


“Tadi saya lihat pak… ya sekitar sini ini tadi ada cahaya lampu belakang motor!... saya tidak bohong pak!”


“Coba kita cari lagi mas, di sana di semak-semak sana…”


“Mungkin yang tadi kamu lihat  itu sepasang orang yang sedang cari tempat sepi buat indehoy mas”


“Ah tidak mungkin pak, mosok di hutan angker gini ada yang lagi indehoian pak!”


Waduh… ternyata di motor ada dua orang yang naik motor …


Dan mereka akan menuju ke semak-semak tempat aku dan Tina sembunyi.


Apa yang harus aku lakukan kalau mereka berdua mendatangi semak belukar ini?


Aku harus bisa tenang dan harus bisa menenangkan Tina.. harus bisa!

__ADS_1


“Pak… sampean apa tidak nyium bau busuk pak….” tanya salah satu orang yang ada di motor


“Iya.. saya mencium bau busuk…. uughhh… kayaknya disini ada bangkai binatang mas”


__ADS_2