
“Ya sudah lah mas Burhan, kita juga tidak tau apa yang dilakukan pak Solikin, pokoknya kalau mas Burhan masih bisa mengajak pak Solikin kerja ya bagus itu”
“Yah mungkin karena semalam dia mancing pak”
“Ah masak sih mancing malam hari gitu, lha mas Burhan dapat info dari mana kalau pak Solikin semalam mancing?”
“Eh, sa…saya...saya hanya menebak saja pak, karena kebiasaan penduduk desa itu kalau malam mereka suka mancing di kali itu pak”
Kenapa Burhan bisa bilang kalau pak Solikin semalam mancing…
Bagaimana dia bisa menebak seperti itu, Tapi kan memang kata istrinya… kalau malam pak Solikin kadang mancing….
Tapi bagaimana Burhan bisa tau.
“Ya sudah lah mas, siang ini saya tinggal tidak papa kan, nanti sore nanti setelah saya telepon bos saya langsung balik ke sini”
“Tidak papa pak, saya akan ada di rumah kalau pak Agus nanti malam pulang”
Kurasa keadaan disini semakin ganjil, tetapi hingga kini aku masih belum bisa menebak ada apa diantara Burhan dan pak Solikin.
Aku yakin diantara mereka berdua ada sesuatu yang dirahasiakan
Siang hari waktu lautan tiba….
Bu Tugiyem dan anaknya yang bernama Anik datang.
Suara teriakan salam bu Tugiyem yang khas sempat membuatku kaget ketika aku sedang memikirkan kaitan kaitan yang terjadi.
“Nak Agus….. kemarin sore saya tunggu kenapa tidak datang?”
“Nanti saja bicaranya bu, kita ngobrol di dalam saja”
Bu Tugiyem hanya melihatku dengan tatapan penuh kekhawatiran, kelihatannya dia mempunyai sesuatu yang hendak diceritakan kepadaku.
“Bu Tugiyem… kita ngobrol di dalam rumah yuk” Setelah kulihat bu Tugiyem selesai membagikan makanan kepada para pekerja
Anik dan Bu Tugiyem mengikuti aku masuk ke dalam rumah, sementara itu Buhan masih bersama pekerja di luar, sedangkan pak Solikin hanya duduk agak menjauh dari mereka.
“Nak Agus ini gimana, kenapa kemarin malam tidak ke rumah?”
“Ada Burhan bu , saya tidak mau kalau Burhan ikut saya…”
“Lha kalau jalan memutar ke desa dan lewat jembatan besi malah menakutkan kalau malam hari bu”
“Ya sudah tidak papa nak, memang kalau malam hari lewat jembatan besi sana menakutkan nak”
“Jadi gini nak Agus, saya baru ingat, kalau tidak salah Yetno itu pernah cerita bahwa dia melihat Mamad di sekitar sini ketika dia menggantikan Mamad yang tidak masuk kerja kerana sakit”
“Tetapi tidak hanya Mamad, Yetno juga lihat ada Burhan juga.”
“Yetno cerita sama Mbah Karyo yang waktu sedang minta pendapat mbah Karyo untuk mengundurkan diri ”
“Hanya saja apa yang dilakukan Burhan dan Mamad waktu itu dia tidak tau , karena dia hanya lihat Mamad dan Burhan dengan mengintip di kisi-kisi jendela kamar”
“Jadi Burhan dan Mamad itu ada di luar rumah… di samping kamar. atau samping rumah gitu bu?”
“Sepertinya iya nak, karena waktu itu tengah malam”
“Hanya itu saja yang diceritakan mbah Karyo kepada saya nak”
“Bu Tugiyem… apa selama ini tidak merasa aneh dengan pak Solikin, Mamad, Wandi, bahkan mungkin Burhan?”
“Hehehe saya tidak pernah memperhatikan mereka semua nak… “
“Ya sudan nak, tolong agak berhati-hati dengan Burhan, karena bisa saja dia kurang suka dengan nak Agus”
__ADS_1
*****
Aku sedang dalam perjalanan menuju ke desa tempat tinggal Tina…
Kepalaku semakin penuh, meskipun tadi ada informasi yang sedikit dari bu Tugiyem, paling tidak aku merasa agak bisa menebak siapa-siapa yang nganu…
Mamad dan Burhan sepertinya sudah lama kenal, mereka bisa saja teman lama juga kan…
Bahkan mungkin saja sampai sekarang Burhan masih berteman dengan Mamad, karena kata pak Pangat, Mamad masih hidup.
*****
“Assalamualaikum mbak Tina……”
“Waalaikumsalam suamiku… lama sekali sih datangnya mas”
“Iya mbak, nanti saja saya ceritakan mbak… karena semalam ada kejadian lagi”
Aku masuk ke rumah Tina, kemudian duduk di sofa yang biasa kududuki.
Tina duduk di seberangku, dia sekarang tampaknya mulai merubah tingkah lakunya terhadapku.
Kemudian kuceritakan apa yang menimpaku semalam, hingga pagi hari tadi dan info dari bu Tugiyem.
“Hmm siapa ya itu mas, masak sih pak Solikin, tapi dia bersama siapa?”
“Nah itu mbak, saya juga tidak yakin kalau itu pak Solikin”
“Kepala saya sampai pusing mbak, selama saya tinggal disana tidak pernah bisa tidur nyenyak, selalu ada saja yang berusaha membuat saya ketakutan”
“Ya sudah mas, yang penting ada kemajuan mas, dan lebih baik kita sekarang ke rumah Yu Gemi yang jual pecel itu mas”
“Tunggu Tina mau ganti baju dulu mas….”
*****
“Yang mana belokannya mbak?”
“Lurus aja mas, nanti ada gang kecil, motornya harus dituntun masuknya”
“Hmm nah itu …. disana yang ada anak kecil masuk.. itu gang nya mas”
Kuhentikan motor di mulut gang…
Gang ini memang kecil, tetapi untungnya kalau untuk berpapasan motor masih bisa, gang kecil dengan jalan yang berupa paving yang sudah tidak karuan.
Gang kecil yang siang ini ramai dengan anak-anak kecil yang bermain dan berlarian.
“Wah…ketoke di gang ini ibu-ibunya hamil dan ngelahirinnya berbarengan ya mbak hehehe”
“Iya mas, Tina juga heran kok, kenapa banyak anak kecil yang sebaya ya. Tapi kan enak mas, jadi rame suasananya”
“Nek gini ya enak mbak, Coba kalau pada nangis berbarengan hehehe”
“Eh yang mana rumahnya mbak?”
“Itu mas di ujung sana, tidak jauh lagi kok”
Akhirnya kami sampai juga di rumah Yu Gemi…
Bukan rumah yang nyaman untuk ditinggali, karena agak kumuh.
Dan letak rumahnya yang berada di ujung gang buntu yang sempit dan agak padat penduduknya.
Tina memanggil Yu Gemi beberapa kali…
__ADS_1
“Oh mbak Tina dan masnya….”
“Saya kira kalian tidak jadi kesini” kata Yu Gemi yang sedang menggendong anak kecil yang mungkin berusia lima tahun
“Yo jadi lah Yuuuu, tadi Tina kan nunggu mas Agus datang dulu…”
“Iya mbak Tina, tadi saya tungguin waktu saya jualan dekat rumah mbak Tina, kok mbak Tina dan masnya tidak muncul-muncul hehehe”
“Yo wis Yuuuu, eh nganu… mas Yetnonya ada Yuuu?”
“Ada… tapi lagi mandi, tunggu sebentar ya mbak Tina”
Kami duduk di dalam ruang tamu yang sempit tidak ada perabotan meja kursi, kami duduk lesehan di karpet yang sudah usang.
Yu Gemi masuk ke bagian belakang rumah, kelihatannya dia memberitahu adiknya bahwa kami datang.
Tidak lama kemudian dia keluar dari bagian dalam rumah bersama seorang pemuda berkulit hitam, kurus dan berambut agak gondrong.
“Ini adik saya yang bernama Yetno….”
“Mas Yetno saya Agus dan ini Tina”
“Inggih pak Agus.. apa ada yang bisa saya bantu kok sampai ke rumah sini?”
Yetno orang yang cukup sopan untuk seseorang yang biasanya bekerja sebagai kernet Bis.
“Nganu mas Yetno, pertama saya mau kabari beberapa hari lalu mbah Karyo meninggal, karena tenggelam di kali belakang rumah”
“Innalillahi wainnailaihi rojiun….. kasihan mbah Karyo.. dia orang baik” kata Yetno tertunduk
“Iya mas Yetno,... eh saya ini yang menggantikan pak Wandi disana… eh Saya disana belum ada seminggu”
“Hmm gitu..lalu si Mamad apa masih ada pak?”
“Mamad kabarnya kecelakan ditabrak bus dekat rumahnya sana sehari setelah mbah Karyo meninggal”
“Hehehe berarti yang disana sekarang Burhan ya pak Agus?” tanyanya dengan senyum sinis
“I..iya mas Yetno, saya bersama Burhan….”
Kemudian Yetno diam saja, kelihatannya dia sedang berpikir atau sedang mengingat ngingat sesuatu..
Kubiarkan saja suasana canggung karena aku juga tidak tau apa yang harus aku katakan lagi.
“Lalu pak Agus dan mbak ini kesini mau ngapain, apa sedang ada masalah dengan yang tinggal disana, atau masalah dengan orang-orang yang disana?” tanya Yetno
“Waduh mas Yetno, saya bingung mas, memang saya disana itu tiap malam selalu ditakut-takuti, saya bingung sebenarnya ada apa di rumah itu”
“Pak Agus sudah ketemu dengan yang gantung diri di kamar mandi?”
“Sudah mas Yetno..”
“Nah itu pak Agus, dia akan terus menerus menampakan dirinya hingga pak Agus membantu menemukan jasadnya dan menguburkan dengan layak”
“Terus terang pak, tiga hari saya disana tiap sore menjelang malam hingga pagi hari selalu melihat perempuan china yang gantung diri itu”
“Saya bisa gila lama-lama pak”
“Belum lagi ulah pak Wandi yang suka keluar malam pulang pagi, belum lagi hal aneh yang dikirim karena orang yang tidak suka dengan saya”
“Eh maaf mas Yetno…sebenarnya mas Yetno ini menggantikan siapa disana?”
“Jadi begini pak Agus…. saya ini menggantikan Mamad yang katanya sakit keras dan tidak akan balik ke rumah penggergajian lagi”
“Jadi awal cerita saya ada disana itu begini…”
__ADS_1
“Saya ini adalah teman mancing mbah Karyo, mbah Karyo selalu ke desa ini untuk beli pancing dan peralatan lainya, dan dia selalu mengajak saya untuk mancing di kali.