
Kelakuan kedua orang yang sekarang berjalan mengendap endap dengan satu buah senter di tangan itu makin mencurigakan.
Mereka berdua sudah ada di depan pagar rumah, tetapi tidak masuk ke dalam pagar rumah, melainkan mereka menuju ke arah samping rumah, atau samping kamarku dan kamar Burhan.
“Mereka berdua pasti akan masuk ke kamar Burhan lewat pintu rahasia itu mbak”
“Saya punya rencana untuk menyabotase motor orang itu”
“Gimana caranya mas?”
“Kabel businya akan saya tarik hingga lepas mbak!”
“Setelah itu baru kita ikuti kemana mereka berjalan mbak”
Aku dan Tina mendekati motor yang terparkir tidak jauh dari posisi kami sembunyi…
Motor itu mereka parkir di antara pohon-pohon begitu saja, sehingga sekilas tidak akan terlihat dari jalan setapak.
Kemudian aku cari kabel busi, setelah ketemu segera kutarik dengan keras hingga kabel busi itu lepas.
“Sudah mbak, untuk saat ini mereka akan berjalan kaki menuju ke kota hehehe”
“Ayo sekarang kita ke sana mbak, tapi hati-hati”
Kami berdua berjalan pelan hingga kami ada di depan pagar rumah.
Kemudian kami berjingkat jingkat menuju ke samping rumah…
“Tidak ada siapa-siapa di samping rumah ini mas”
“Sebentar mbak Tina, kalau memang mereka ada hubunganya dengan Burhan, harusnya mereka akan masuk ke kamar Burhan lewat pintu rahasia yang ada di samping itu”
“Tetapi itu kan hanya perkiraan saya saja mbak, bisa saja mereka ada di antar pohon-pohon samping rumah”
“Dan ada baiknya kita tidak ikut ke sana mbak, disana sangat bahaya karena kita tidak tau kemana dua orang itu tadi tujuannya”
“Lebih baik kita amati mereka dari posisi yang agak jauh saja”
“Ya sudah mas, kita lebih baik sembunyi di pohon pohon di sana saja”
Aku dan Tina berjalan menuju ke area pohon-pohon yang agak jauh posisinya dari depan rumah penggergajian…
Kenapa kami memilih posisi yang agak jauh?.. karena selain kami bisa melihat keadaan samping rumah, kami juga bisa memantau bagian depan rumah itu.
Dari posisi ini diharapkan dapat melihat orang yang berjalan di depan dan samping rumah.
Apalagi dengan bantuan sinar cahaya petromaks yang keluar dari jendela rumah, sehingga cukup membuat sekitar rumah itu bisa terlihat tidak terlalu gelap.
__ADS_1
“Kita sudah sepuluh menit disini mbak Tina, gimana diteruskan atau kita balik pulang saja?”
“jangan mas, tetap disini saja, karena firasat Tina sebentar lagi ada yang akan datang ke sini”
“Eh mas… jalan yang menuju ke rumah ini selain jalan yang tadi itu apakah ada jalan lain?”
“Tidak ada mbak, ya hanya itu saja jalannya….memangnya kenapa mbak Tina?”
“Tina merasa ada jalan lain selain yang itu mas”
“Nggak ada mbak Tina, satu-satunya jalan ya itu saja”
“Ya sudah mas, lebih baik kita tunggu saja disini, karena sebentar lagi Tina rasa ada yang akan datang juga mas”
Ternyata apa yang dikatakan Tina benar…
Kira-kira sepuluh menit kemudian ada yang datang,
Sebuah motor berjenis motor bebek dari arah desa menuju ke rumah penggergajian.
Motor dengan dua penumpang yang berhelm itu kemudian berhenti di depan pagar rumah.
Kemudian kedua orang itu turun dari motor tanpa melepas helm tiga perempatnya.
“Sialan… kita tidak bisa lihat wajah yang ada di dalam helm itu mbak”
Salah satu dari orang itu kemudian membuka pintu pagar yang ternyata lagi-lagi tidak digembok oleh Burhan.
“Lihat mbak, pagar itu tidak digembok oleh Burhan, padahal saya sudah berulang kali bilang kepada dia agar menggembok pagar ketika saya pergi” bisikku kepada Tina
“Yah karena Burhan sedang menerima tamu mas, jadi ya ndak dikunci lah pagarnya”
“Kalau tidak ada orang yang akan datang, pastinya pagar itu akan dikunci mas, mengingat disini kan cukup bahaya juga”
Kedua orang dengan helm masih terpasang itu sekarang masuk ke dalam halaman rumah.
Tidak lama kemudian Pintu rumah terbuka… dan ternyata Burhan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.
“Ternyata mereka itu teman Burhan ya mbak….”
“Kalau itu teman Burhan…Lalu dua orang yang tadi ada di samping rumah itu siapa lagi mbak?”
“Tina malah fokus yang barusan datang itu mas, karena kelihatannya mereka berdua itu kenal baik dengan Burhan”
“Buktinya Burhan membuka pintu tanpa bertanya siapa yang datang terlebih dahulu”
“Berarti mereka itu sudah saling mengenal, dan sudah janjian sebelumnya ya mbak Tina”
__ADS_1
“Sudah pasti itu mas, hanya saja bagaimana mereka bisa janjian ya mas, disini kan susah sinyal Ponsel, lagipula wartel paling dekat ya hanya milik Tina saja mas”
Aku heran… bagaimana Burhan bisa memasukan orang ketika aku tidak ada di rumah.
Selain itu yang paling aneh, bagaimana bisa kok bisa pas ketika aku pergi, kemudian ada orang yang datang ke sini.
“Mas, bisa saja waktu setelah Burhan nganter mas Agus, kemudian dia mampir ke rumah orang yang sekarang ada di dalam itu, dan mengajak mereka kesini malam harinya”
“Oh iya ya mbak, saya kok nggak kepikiran ya hehehe”
“Eh gimana kalau kita mendekat kesana mas, Tina kok penasaran dengan yang mereka bicarakan mas”
“Jangan mbak, mbak Tina lupa ya kalau ada dua orang lagi yang tadi ada di samping rumah…”
“Bisa saja mereka sekarang ada di mana saja, karena kita tadi kan kehilangan jejaknya mbak”
“Oh iya ya mas, kita kan belum tau posisi dua orang yang tadi ada di sana itu”
Aku dan Tina tetap menunggu di balik pohon sesuai dengan niat kami untuk melakukan pengamatan disini.
Malam ini aku dan Tina melihat dua kelompok orang dengan tujuan yang berbeda…
Kelompok pertama tadi menuju ke samping rumah, dan hingga sekarang mereka berdua belum kelihatan, entah mereka berdua ada dimana sekarang.
Kelompok kedua adalah orang yang tadi masuk ke dalam rumah, dan menurut pengamatanku dan Tina, kedua orang itu mengenal baik Burhan.
Akupun tadi sempat menyabotase motor kelompok orang pertama….
“Mas… mas…lihat itu mas…”
“Dua orang yang tadi di samping rumah, sekarang berjalan pelan menuju ke depan rumah mas”
“Tapi kenapa mereka berdua kok merunduk gitu jalanya ya mas, seolah mereka berdua takut apabila ketahuan orang yang ada di dalam rumah itu”
“Jangan-jangan mereka berdua orang jahat yang ingin mencelakai Burhan, tetapi karena tiba-tiba ada tamu, akibatnya mereka berdua batal melakukanya mbak”
“Iya mas, bisa juga apa yang mas Agus katakan itu betul…”
“Jangan-jangan mereka berdua itu memang punya niat jahat dengan Burhan mbak”
Kedua orang itu setelah berjalan merunduk runduk di depan pagar kemudian sedikit berlari menuju ke motor mereka yang terparkir di sisi sisi pohon yang jaraknya sekitar beberapa belas meter dari rumah penggergajian.
“Sialan mbak, sampai sekarang saya kok belum bisa melihat wajah kedua orang yang sekarang setengah berlari menuju ke motornya”
“Sama mas… Tina juga belum bisa melihat wajah kedua orang itu”
Kami berdua memang salah mencari tempat bersembunyi, karena tempat kami sembunyi ini terlalu ke kiri dari posisi motor kedua orang itu.
__ADS_1