
“Lalu apa kata mbah Karyo waktu sampean cerita itu mas?”
“Mbah Karyo tidak bilang apa-apa pak, dia hanya tersenyum saja”
“Jadi setelah ada mobil truk datang yang membawa palet itu, saya tahu kalau orang itu adalah Burhan, dan Burhan waktu malam hari itu bersama Mamad.
“Jadi cerita tentang Mamad yang sakit keras itu bohong pak!”
Yetno kelihatan setengah emosi ketika berkata Mamad berbohong dengan sakitnya.
“Saya sampai sekarang belum tau apa tujuan Mamad berbohong bahwa dia sakit dan akhirnya saya yang diajak mbah Karyo untuk menggantikan Mamad”
“Saya juga tidak tau ada masalah apa diantara mereka sehingga kelihatan sekali kalau pak Wandi itu tidak suka dengan pak Solikin dan mbah Karyo.
“Nah hari terakhir saya disana adalah hari ketiga, dimana di hari itu saya benar-benar harus meninggalkan tempat itu pak”
“Jadi pagi hingga siang hari seperti sebelumnya, saya tidak mempunyai pekerjaan apapun, sampai-sampai nimba air untuk bak mandi saja yang kerjakan pak Wandi sendiri”
“Akhirnya pak Solikin memanggil saya dan mengajak saya kerja di bagian merakit palet”
“Selama saya merakit palet bersama pak Solikin, pak Wandi selalu memperhatikan saya”
“Saya ini bingung sebenarnya saya ini punya salah apa dengan pak Wandi, kenapa dia begitu benci kepada saya”
“Tapi untungnya ada pak Solikin dan mbah Karyo selalu memberi semangat untuk agar saya tetap ada disana”
“Sore hari tiba, pekerja sudah pulang semua, begitu pula pak Wandi yang juga pergi tanpa pamit kepada saya”
“Saya sedang duduk di bangku panjang depan rumah, ketika itu saya sedang menikmati hawa hutan sambil merokok, tapi tiba-tiba langit berubah mendung pak”
“Tentu saja saya masuk ke dalam rumah, pintu depan saya kunci, belakang pun juga saya kunci , pokoknya tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam rumah ini tanpa sepengetahuan saya”
“Tidak lama kemudian turun hujan deras plus angin yang lumayan kencang pak…”
“Suara terpal dan seng yang ada di belakang rumah beradu keras, tetapi tetap saya tidak peduli, saya tidak mau ke belakang dan membuka pintu rumah”
“Setelah makan malam seadanya, saya gunakan waktu dengan bersantai di ruang tamu, Tapi ternyata saya ketiduran di kursi ruang tamu”
“Ndak tau jam berapa saya terbangun dengan suasana yang gelap gulita…”
“Saya tidak tau bagaimana lampu petromak itu bisa mati sendiri, dan saya juga bingung kenapa lampu kamar juga ikutan mati”
“Di luar hujan sudah berhenti , dan hanya menyisakan gerimis yang kadang rintik-rintik kadang deras lagi”
“Nah waktu saya sedang duduk sendiri dalam keadaan kebingungan karena keadaan yang tiba-tiba gelap, tiba-tiba ada orang atau setan atau apalah datang dari arah kamar saya…”
“Pokoknya dia datang menghampiri saya dan mencekik leher saya dengan keras”
__ADS_1
“Orang yang sampai sekarang saya belum tahu wajahnya atau suaranya itu mencekik leher saya hingga saya tidak bisa bernafas sama sekali”.”
“Ketika saya sudah dalam keadaan lemas dan hampir pingsan, tiba-tiba ndak tau gimana ceritanya, orang yang mencekik saya itu kesakitan, dan melepas tangannya dari leher saya”
“Saya yang saat itu sudah dalam keadaan lemas malah jatuh tertelungkup di lantai ruang tamu”
“Tiba-tiba orang yang tadi mencekik saya itu lari menuju ke kamar saya, dan kemudian suasana menjadi hening”
“Waktu itu saya sudah pasrah pak Agus, semua surat pendek qur’an saya lafalkan ketika orang itu mencekik saya”
“Berarti mas Yetno tidak tau rupa orang itu atau mungkin suara orang itu?”
“Tidak pak Agus, tetapi yang pasti bayangan orang itu tinggi dan besar, hanya itu yang bisa saya lihat pak”
“Tadi kata mas Agus orang tinggi besar itu masuk ke dalam kamar mas Agus, berarti orang itu masih ada di rumah itu mas?”
“Nah itu pak Agus.. waktu itu saya berusaha bernafas dahulu!”
“Saya terbatuk batuk ketika berusaha bernafas dengan normal”
“Setelah saya merasa diri saya bisa bernafas dengan normal, saya menuju dapur untuk mencari golok yang memang sudah saya persiapkan tadi sore”
“Dalam keadaan gelap gulita saya hanya bisa meraba-raba dimana saya letakan golok saya itu pak”
“Setelah ketemu, kemudian dengan menggunakan penerangan korek api yang selalu ada di saku celana, saya masuk ke dalam kamar”
“Pak Agus kan tau kamar saya itu kecil kan pak, dan perabotnya hanya ada dipan, meja kecil, dan lemari usang”
“Saya nyalakan lampu minyak yang ada di kamar, kemudian dengan lampu minyak itu saya ke ruang tamu dan menyalakan lampu petromak yang ternyata juga dengan sengaja dimatikan”
“Mulai dari sini timbul keberanian saya untuk memeriksa bagian dalam kamar saya pak”
“Ternyata di lantai kamar saya ada jejak-jejak kaki basah dan kotor!”
“Dan jejak kaki itu mengarah ke dinding papan yang ada di kamar tidur saya pak”
“Dinding papan yang mengarah keluar ya mas Yetno?”
“Benar pak, tetapi saat itu saya tidak mau gegabah memeriksanya, saya tidak mau menjadi percobaan pembunuhan untuk kedua kalinya”
“Nah dinding kayu yang ada jejak kaki basahnya itu saya tutupi dengan lemari usang yang ada di kamar saya”
“Jadi saya anggap orang itu masuk melalui dinding kamar itu”
Sampai sini Yetno meminta minum kepada kakaknya, kemudian dia menyalakan sebatang rokok lagi…
Tina yang dari tadi mendengarkan cerita Yetno hanya bisa memegang tanganku saja, dia tidak berkata apapun.
__ADS_1
Aku heran juga dengan penuturan Yetno, kalau seumpama Pak Wandi tiap malam keluar, apakah dia ke rumah Tina? apakah dia tiap hari menginap di rumah Tina?
Kalau memang tiap hari pak Wandi ke rumah Tina, berarti Tina berbohong..
Tina kan pernah bilang kalau pak Wandi jarang nginap di rumahnya, tapi ya sudahlah nanti saja aku tanyakan ke Tina waktu kita balik ke rumahnya.
Yetno minum air putih yang diambilkan kakaknya….
“Saya lanjutkan lagi cerita ini pak….”
“Saat itu keadaan di luar masih gerimis dan kadang hujan deras juga… bunyi tetesan air hujan yang mengenai seng di belakang dan seng teras rumah memang sangat bising pak, tapi….”
“Tapi ada suara lain yang tiba-tiba saya dengar tidak lama kemudian”
“Suara itu suara perempuan yang sedang menangis pak”
“Saya yang awalnya sudah berani karena saya yakin yang mengganggu saya adalah manusia biasa, setelah mendengar suara perempuan yang sedang menangis… saya jadi takut lagi”
“Suara perempuan yang sedang menangis itu sangat pelan dan lemah”
“Saya pikir itu suara air hujan yang mengenai sesuatu di luar sana, tetapi tidak!”
“Telinga saya masih normal untuk bisa membedakan antara suara tangisan dan suara air hujan pak”
“Waktu itu mas Yetno ada di mana?”
“Saya ada di dalam kamar saya pak, setelah menggeser lemari usang ke dinding papan yang di lantainya ada jejak kaki basahnya itu pak”
“Suara perempuan itu hanya menangis saja atau gimana mas Yet?”
“Waktu itu hanya menangis saja pak, kemudian saya tutup pintu kamar, suara itu gak tak reken blas dan gak tak cari juga pak, pokoknya saya acuhkan suara itu!”
“Lama-lama suara itu hilang dengan sendirinya. Saya pun membaringkan tubuh saya pak, saya mencoba untuk bisa tidur meskipun rasa takut apabila dicekik itu muncul lagi”
“Saya tidak tau sudah berapa lama saya tidur, yang pasti waktu itu saya mimpi buruk pak”
“Saya mimpi kalau saya didatangi oleh perempuan cantik berwajah tionghoa…”
“Di dalam mimpi saya.. saya sedang berada di sebuah taman yang indah, tiba-tiba perempuan tionghoa dengan rambut sepinggang datang menghampiri saya”
“Dia cuman bilang… nyawamu sudah saya selamatkan, sekarang sempurnakan jasad saya, atau kamu saya datangi”
“Dia berkata begitu sambil tersenyum manis kepada saya pak”
“Saya jelas kaget dan tiba-tiba saya terbangun….”
“Nah waktu saya bangun itu di atas plafon rumah ada perempuan yang tadi datang di mimpi saya, perempuan itu menempel di plafon rumah!”
__ADS_1
“Wajah dia pucat dan di lehernya ada sesuatu yang hitam kelihatannya bekas jeratan tali”
“Saya jelas teriak, tapi tidak lama kemudian saya pingsan pak”