
AGUS POV
“Tenang saja, saya akan berusaha semampu saya untuk bicara dengan mereka, saya hanya sebagai negosiator saja” kata pak Watuadem
“Waduh pak… kalau sebagai negosiator mbak Tina juga bisa pak… kami butuh seseorang yang bisa melawan sesuatu yang akan mengganggu hotel ini”
“Sssttt jangan rame-rame mas… jangan sampai mengganggu tidurnya tamu disini”
Juangkreeek uassyuuuu… ternyata cuma sebatas negosiasi ae….. aku , mbak Tina, pak Cheng dan Jiang pasti bisa lakukan semua itu!
Aku butuh seseorang yang hebat dan yang bisa melakukan sesuatu terhadap suruhan Fong, bukanya ngobrol sama suruhanya Fong.. bisa-bisa Watuadem ini jadi anak buahnya Fong sisan!.
Ya sudahlah.. Apa boleh buat, kami nunggu nasib baik saja disini… untung mbak Tina sudah tidur, jadi dia tidak dengar pengakuan dari Watuadem..
Hehehe sepengetahuanku.. Yang namanya Watuadem itu adalah kawasan lampu merah yang ada di tretes… kok bisa ya nama orang itu Watuadem… apa dulu orang tuanya tinggal disana heheheh.
Tapi cocok juga dengan nama Watudem.. Wajah orang ini lama-lama bikin jengkel.. Apalagi dengan pengakuannya tadi itu.
“Gimana pak Watu.. apa ada energi jahat yang datang ke sini? Ini kan sudah lewat tengah malam pak?”
“Sepertinya gak ada mas…saya sama sekali tidak bisa mendeteksi adanya energi jahat yang akan datang ke sini…saat ini..malam ini disini begitu adem ayem.. Sesuai dengan namanya Singgasana Adem Ayem”
“Ya sudah pak.. Saya akan istirahat di dalam.. Sampean duduk disini saja kan?”
“Iya mas.. Biarkan saya ada disini saja, saya masih penasaran dengan yang ada disana itu… nanti kalau ada apa-apa, mas Agus akan saya bangunan eh bangunkan”
Dengan langkah gontai aku menuju ke ruang tamu yang ada di depan meja resepsionis…
Lampu ruang tamu ini sebagian sudah dimatikan, hanya meninggalkan lampu kecil di pojokan saja yang masih hidup.
Ternyata di sofa ruang tamu ada pak Cheng yang masih terjaga, tetapi si Jiang sudah tertidur lelap di sebelah pak Cheng.
Petugas keamanan alias satpam berjalan jalan di sekitar lahan parkir depan ruang utama ini… kasihan dia kerja sendirian, eh lebih baik aku temani dia saja.
“Gimana Gus… apa yang kamu dapat dari Watu?”
“Duh pak…..gak sesuai dengan harapan saya…. Saya pikir dengan adanya Watu disini keadaan akan aman aman saja, ternyata tidak pak….”
“Dia ternyata tidak punya kemampuan untuk melawan yang ada di belakang hotel ini…. Dia hanya mampu melihat dan berkomunikasi saja dengan mahluk ghaib“.
“Ya sudahlah Gus…. biarkan saja.selama disini masih aman-aman saja, saya kira kita tidak perlu melakukan apa-apa dulu”
“Ya sudah pak…. Saya mau ke luar dulu… kasihan penjaga malamnya… saya temani dia dulu pak”
__ADS_1
Aku menuju ke luar… ketika kulihat penjaga hotel sedang ada di depan…Dia hanya sendirian dan santai sebatang rokok terselip di mulutnya. Kelihatannya dia sedang menikmati malam hari disini
Ketika aku keluar, dia tersenyum dan menghampiri aku
“Pak Agus belum tidur?”
“Saya gak bisa tidur pak Diran”
Nama penjaga hotel ini adalah Sudiran, dia tidak muda, mungkin selisih satu dua tahun lebih tua dari umurku. Dia dari sebuah perusahaan outsourcing penyedia tenaga satpam yang dipesan oleh pak Jay.
“Selamat malam pak….Pak Diran gimana… apa gak kesepian jaga malam disini?”
“Selamat malam pak Agus….”
“Tenang saja pak Agus…selama masih ada rokok dan kopi, saya tidak pernah merasa kesepian, apalagi disini ramai sekali lho pak….”
“Saya tidak pernah jaga malam di suatu tempat dengan kondisi ramai seperti ini heheheh”
“Iya pak.. Baru hari pertama disini tapi sudah penuh dengan tamu yang menginap pak”
“Bukan gitu pak Agus… maksud saya yang ramai itu yang ada disana itu pak….di tengah hutan sana itu…. “
“Maksudnya apa pak Diran!” aku pura-pura terkejut mendengar apa yang dia omongkan
“Kebetulan saya bisa pak… dan kebetulan di tengah hutan ini suasananya sedang ramai sekali”
“Eh maksudnya ramai itu ramai apa pak… apakah ramai ada kunti atau pocong atau genderuo atau sejenisnya gitu pak?” aku mulai tertarik dengan apa yang dia bicarakan…
“Bukan pak Agus… kalau sebangsa mahluk kayak gitu sih saya sudah biasa lihat dimana mana pak…. Tapi yang ini lain. Yang ini tingkatnya lebih tinggi dari pada yang tadi bapak sebutkan itu”
“Di tengah hutan ini lebih mirip sebagai sebuah perkampungan, dan pada malam hari ini sedang ada kegiatan disana. Sepertinya disana itu sedang ada persiapan untuk sesuatu”
“Maksudnya disana itu sedang ada pasar gitu ta pak, seperti yang ada di gunung yang terkenal dengan sebutan pasar setan?
“Hehehehe berbeda pak Agus…. Yang ada di hutan itu lebih tepat dikatakan sebagai sedang berjaga jaga…. Seperti puluhan orang berpakaian hitam-hitam sedang melakukan penjagaan di sana”
“Tapi saya tidak tau apa yang sedang mereka jaga… hanya saja puluhan dari mereka sudah siap siaga di sekeliling hutan dan kawasan hotel ini”
“Sampeyan cocok jaga disini pak…”
“Heheheh gak ada yang mau jaga di daerah yang aneh aneh pak Agus… kebetulan waktu teman-teman saya ditawari jaga disini gak ada yang mau, dan hanya dua orang yang mau.. Saya dan teman saya yang nanti jaga pagi nanti”
“Mereka lebih suka jaga di kota saja, dari pada di daerah tengah hutan seperti ini…. Sebenarnya enak seperti ini pak Agus… resiko kriminalnya lebih minim daripada di kota”
__ADS_1
“Tapi resiko dengan penghuni halus di sini itu yang akan kita hadapi hehehe”
“Lha pak Diran ini hanya bisa melihat atau bisa berkomunikasi, atau bahkan apakah bisa sekalian melawan mereka?”
“Hehehe gini pak Agus.. kadang kala sering orang itu salah kaprah… dipikir hal ghaib itu harus dilawan dan harus diusir.. Padahal tidak perlu seperti itupun bisa pak… mereka kan hidup di antara kita”
“Mereka tidak akan melakukan kejahatan kepada manusia apabila tidak dijahati dulu pak… tetapi ada juga yang memang jahat, dan memang harus dilawan… yah pokoknya kehidupan mereka sama saja dengan manusia di dunia ini pak.. Gak beda sama sekali”
“Kemudian tentang yang ada di dalam hutan itu pak… apakah mereka itu berbahaya pak Diran?”
“Tidak… mereka tidak berbahaya… mereka hanya tinggal di hutan dan sibuk dengan kehidupan mereka sendiri.. Tidak perlu adanya tindakan apapun pak” kata pak Sudiran sambil menatap hutan yang ada di depan kami
“Huufff disini dingin sekali. Kita bikin kopi di dalam dulu pak” aku alasan saja mengajak dia masuk ke dalam agar melihat apa yang ada di bagian belakang hotel ini
“Di pos saya kan juga ada dispenser mas.. Bisa digunakan untuk bikin air panas juga kok”
“Nggak papa pak.. Sekalian bapak patroli juga di bagian belakang hotel.. Bukanya bapak harus berkeliling pak”
“Tugas kami hanya bagian luar saja pak.. Tetapi apabila ada kasus tertentu kami baru turun tangan masuk ke dalam”
“Heheheh saya tau itu pak Diran… maksud saya tolong lihatkan di bagian dalam sana.. Apakah keadaanya sama seperti yang ada di tengah hutan itu?”
“Oh gitu .. ayo kalau begitu pak Agus…”
Aku kok lebih merasa pak Diran ini lebih bermanfaat daripada Watu ya.. Watu kayaknya tidak bisa melihat perkampungan yang ada di tengah hutan, beda dengan pak Diran yang bisa melihat kegiatan leluhur mbak Tina dan kegiatan mereka juga.
Aku ajak ke dalam siapa tau ada yang kelewatan dengan penglihatan si Watu. yah aku tau tiap orang mempunyai keterbatasan dalam melihat yang aneh aneh.
Tapi untuk saat ini pak Diran ini hebat karena dia bisa melihat kegiatan penduduk di desa ghaib…
Aku dan pak Diran masuk ke dalam ruangan utama.. Ternyata pak Cheng sudah tidur, begitu pula Jiang yang dari tadi sudah di alam mimpi.
Aku menuju ke belakang, ke bagian hotel yang berupa hunian pondokan yang sekarang sudah penuh terisi..di bagian belakang dari ruangan utama ini pak Watu sedang duduk sambil tiduran.. Tapi ternyata tidur beneran.
*****
Maaaf saya mungkin untuk beberapa hari ini tidak bisa update dulu,karena saat ini tempat tinggal saya sedang dilanda banjir… banjir hingga masuk ke rumah setengah badan.
Kebetulan kami saat ini tinggal di kota Semarang bawah
Kami sekeluarga sedang dalam pengungsian, dan semoga air banjir ini cepat surut, sehingga saya bisa update secepatnya lagi.
Salam mbak Bashi
__ADS_1