
“Mas…lihat… kita ada dimana ini?”
Begitu pintu depan dibuka oleh mas Agus.. yang pertama aku lihat adalah sebuah halaman depan rumah yang tidak terlalu besar, namun bersih.
Tidak ada pagar sama sekali, yang membatasi halaman dengan jalan depannya hanya jajaran tanaman beluntas yang hijau dan terpotong rapi.
Di seberang jalan juga ada rumah yang berhadapan dengan rumah ini.
“Mas, kayaknya kita ada di sebuah perkampungan, dan kita sekarang adalah sepasang lansia yang membutuhkan pertolongan untuk bisa menjalani hidup hihihi”
“Iya mbak… saya heran juga, kenapa pak Pangat mengubah kita menjadi lansia yang kurang berguna seperti ini, tapi pasti ada alasanya mbak, gak mungkin pak Pangat begitu saja merubah kita menjadi tua seperti ini”
Kami berdua jalan menuju ke halaman dan ke jalan yang ada di depan rumah.
Memang cara berjalan kami berdua ini masih tertatih tatih, meskipun sendi-sendi ku sudah tidak kaku lagi, tetapi tidak tau kenapa cara jalan kami masih seperti ini.
Apakah ini adalah ciri khasnya orang yang sudah tua, sehingga untuk jalan saja kami agak kesusahan.
Mas Agus menggandeng tanganku, dan sekarang kami sudah ada di depan rumah.
“Waaah, ada mbah Sastro…. Sehat mbah?” sapa seorang perempuan yang sedang jalan di depan kami
“Hehehe sehaat” jawab mas Agus
“Nggih monggo mbah Sastro , saya mau ke pasar dulu mbah”
Perempuan itu melanjutkan jalannya…..
Yang penting saat ini aku dan mas Agus tau siapa nama kami
“Mbah Sastro mas hehehe, nama kita mbah Sastro hihihi”
“Iya mbak… untuk permulaan kita sudah tau siapa kita ini mbak”
Keadaan disini tidak jauh beda dengan ketika kami datang ke desa leluhurku, matahari yang tidak terlalu panas, tanah yang rasanya kayak agak gimana gitu kalau diinjak.
Tapi yang aku heran, kenapa kami ada di dalam tubuh kakek nenek yang dipanggil mbah Sastro.
Dan sampai detik ini tidak ada seseorang yang muncul dan mengaku sebagai pak Pangat!.
“Mbak untuk hari ini, kita gerak gerakan badan dan berjemur saja, agar badan kita tidak kaku dan kita bisa lanjutkan jalan mencari Inggrid”
“Kita mau cari kemana mas, harusnya kan pak Pangat ada disini, dia kan yang akan memberitahu apa yang akan kita lakukan mas, tapi kalau dia gak ada apa yang akan kita lakukan mas”
“Selamat pagi mbah Sastrooo, sampun sarapan, saya kirim makanan dari rumah ya mbah” kata suara seseorang dari pinggir jalan
Aku kaget juga, tiba-tiba ada dua orang yang menyapa aku dan mas Agus, ternyata aku dan mas Agus yang dipanggil mbah Sastro ini adalah orang yang cukup dikenal sama penduduk disini.
Seorang perempuan setengah baya yang sekarang ada di depan rumah, dia melihat aku dan mas Agus dengan tersenyum,
Lalu apa yang harus aku lakukan apabila keadaan seperti ini, apakah aku harus membalas sapaan mereka dan mengiyakan tawaran sarapan yang mereka tawarkan kepada kami berdua?
“Inggih….. Terima kasih nduk” jawab mas Agus… terus teranag aku tidak jawab apa yang tadi dia tawarkan, bukanya aku gak mau, tapi lebih baik mas Agus saja yang jawab
“Lho mbah Putri Sastro lagi sakit ya? Kok dari tadi hanya diam saja mbah” tanya perempuan setengah baya itu lagi
Aku hanya mengangguk saja ketika perempuan itu menanyakan tentang keadaanku yang dari tadi hanya diam saja. Terus terang aku gak berani banyak bicara karena aku belum tau bagaimana karakter mbak kakung dan mbak PutrI yang bernama Sastro ini.
“Waduh mbah.. Nanti akan saya bawakan sarapan untuk mbah putri, tunggu sebentar mbah” kata perempuan setengah baya itu meninggalkan aku dan mas Agus
Waduh ini bahaya…..
“Mbak Tina… gimana ini mbak, takutnya nanti perempuan itu akan membawa orang lain kesini, untuk mengecek keadaan kita”
“Lha ya itu mas, TIna juga merasa itu yang nanti akan terjadi dengan kita mas, tapi masalahnya kita disini belum ketemu dengan pak Pangat, dia belum menampakan batang hidungnya mas”
“Tenang dulu daja mbak… kita ikuti alurnya dulu, sembari kita tunggu pak Pangat datang kesini”
Benar mas Agus, lebih baik kita ikuti alur apa yang sedang aku dan mas Agus jalani, sambil menunggu pak Pangat datang sebentar lagi.
Tapi aku bingung juga, kenapa harus jadi orang tua, kenapa gak jadi orang yang lincah dan energik, kenapa harus orang tua yang untuk jalan saja susah.
__ADS_1
Padahal kami kan harus pergi kemana mana ini tidak harus jalan di hutan, harus mencari Inggrid yang entah pada masa ini dia ada dimana, pokoknya kami harus bisa bergerak cepat.
Tapi dengan tubuh tua seperti ini, untuk berjalan saja susah apalagi harus bergerak cepat mengejar Inggrid.
“Mbak TIna… mbak Tina merasa ada yang aneh nggak?”
“Aneh gimana mas?
“Ini… saya sekarang merasa lebih sehat, jempol kaki saya yang tadinya sulit untuk digerakan sekarang kakai saya malah kayak mau bergerak untuk lari”
“Kaki saya rasanya menyuruh saya untuk bergerak sendiri mbak”
“Ayo kita masuk ke dalam rumah, dan jalan pelan-pelan saja seperti sedia kala mbak…. Saya rasa kita memang tua, tetapi onderdil kita muda mbak”
Mas Agus menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam rumah, tapi ternyata benar mas Agus, kakiku rasanya ringan sekali, rasanya kepingin jalan jauh, atau minimal lari-lari sejenak.
Bahkan untuk berjalan ke dalam rumah pun rasanya pingin lari saja.
Pintu rumah yang dari kayupun dibuka dengan mudah oleh mas Agus…. Aku rasa sekarang kami berdua sudah berubah!
Casing boleh tua, tapi daleman masih joss….
“Lihat ini mbak….” kata mas Agus sambil m pushup di depanku
“Saya rasa kita memang seperti biasanya mbak, hanya saja tubuh bagian luar kita ini tubuh orang tua, dan kita harus berkelakuan sebagai kakek nenek ketika kita bertemu dengan penduduk disini”
“Iya mas, Tina rasa tubuh Tina juga sudah berubah, berubah seperti sedia kala mas”
“Berarti kita sekarang tinggal nunggu pak Pangat datang mas”
“Disini jangan sampai membuat penduduk disini curiga mbak, kita tetap harus berkelakuan seperti tadi, susah untuk melakukan kegiatan apapun”
Aku dan mas Agus keluar rumah lagi, kami berjemur dibawah sinar matahari pagi yang memang tidak terlalu terang cahayanya.
Beberapa orang yang lewat selalu menyapa dan menanyakan kesehatan kami berdua yang menjelma sebagai mbah Sasto.
Termasuk wanita muda yang tadi menjanjikan kami sarapan, ternyata dia datang lagi dengan membawa makanan yang dibungkus menggunakan daun jati….Nasi putih dengan lauk pauknya…
Aku dan mas Agus tetap berada di di luar hingga beberapa belas menit, untuk menunggu kedatangan pak Pangat yang sampai detik ini belum juga muncul.
“Mas… apa mungkin pak Pangat tidak berwujud manusia, tetapi apa mungkin dia berwujud hewan atau makhluk ciptaan Tuhan lainya?”
“Iya mbak, coba kita perhatikan sekeliling kita saja mbak, kalau ada yang mendekati kita, bisa saja itu pak Pangat yang sudah datang kesini dan berubah menjadi sesuatu”
Tiba-tiba ada seekor kucing yang datang dan mengeong di depan kami yang sedang duduk di kursi bambu depan rumah.
Kucing dengan corak belang telon itu tiba-tiba datang dan menggeser-geserkan tubuhnya ke kakinya mas Agus.
“Mas… itu ada kucing, apa mungkin dia itu pak Pangat mas?”
“Waduh… mosok dia jadi kucing mbak”
“Kucing ini kelakuanya aneh mas… coba lihat saja dia duduk di depan kita dan menatap wajah kita mas”
“Ya biasa mbak… namanya kucing lapar itu ya gini ini kelakuan nya… eh tapi ini bukan sembarang belang telon mbak, belang telon ini berkelamin jantan lho!”
“Setahu saya, tidak ada belang telon yang berkelamin jantan mbak, seumur hidup saya, baru kali ini saya lihat ada belang telon jantan”
“Jangan-jangan ini pak Pangat mbak hihihihi”
“Ayo bawa masuk saja mas, sekalian kita tanya-tanya dan sarapan juga”
Aku, mas Agus , dan kucing belang telon yang berkelamin jantan makan di dalam rumah, kami kasih kucing itu makanan selagi kami berdua sarapan juga.
“Mas, makanan masakan perempuan tadi itu rasanya aneh ya, kayak ada bau wangi atau apa gitu mas”
“Iya mbak… jangan dimakan dulu mbak… saya kok curiga dengan makanan ini” kata mas Agus sambil mengunyah makanan pemberian perempuan muda tadi.
“Tapi kucing itu sudah makan mas”
“Biarkan saja mbak, dia kan tidak merasa aneh dengan makanan disini, jadi ya biarkan saja mbak. Kalau seandainya dia merasa aneh dan tidak mau makan, baru kita hentikan”
__ADS_1
Makanan pemberian orang tadi itu kayak ada bau wanginya, tapi bukan wangi gurih khas makanan, bau wangi ini lebih ke wangi semacam wewangian atau bau harum…
Aku kayaknya pernah mencium bau wangi semacam ini, di alam kami tentunya, dan bau wangi ini jarang sekali aku mencium baunya.
Sebentar… aku rasa bau ini mirip dengan…
“Mas… ini kan bau wangi khas baunya kemenyan dan dupa mas!”
“astaga … iya mbak, pantesan saya pernah mencium bau wangi ini mbak… untung kita hanya makan sedikit”
“Hehehe Tina belum sampai ketelen mas, udah Tina lepeh hehehe”
“Sudahlah mbak, sekarang bantu saya komunikasi dengan kucing ini mbak, mungkin kita butuh waktu untuk bicara dengan kucing yang kemungkinan besar dia adalah pak Pangat mbak”
Dari tadi mas Agus koyok wong edan, kucing belang telon yang ada dia ajak bicara, tapi tidak ada respon sama sekali. Kucing itu hanya mengeong dan kemudian tidur di lantai tanah.
Mungkin karena sudah jengkel, kucing itu kemudian mas Agus gendong, dan dalam gendongan itu mas Agus ajak bicara lagi kucing itu….]
Tapi bukan jawaban… yang ada hanya cakaran di pipi mas Agus eh mbah kung Sastro.
“Jangkrek!... saya malah dicakar mbak…!”
“Kayaknya kucing ini bukan pak pangat deh mbak”
“Dicoba lagi aja kek… siapa tau pak Pangat belum sepenuhnya menguasai tubuh kucing itu kek hihihihii”
“Kek kak kek kak kek… koyok aku iki wis tuek ae mbak…..”
“Mau diajak bicara gimana lagi mbak, kucing ini tetap saja gak bisa diajak bicara”
Mas Agus tidak berhenti mencoba berkomunikasi dengan kucing belang tiga itu, tetapi hasilnya masih nol.. Tidak ada tanda-tanda bahwa di dalam diri kucing itu adalah pak Pangat.
“Permisiiiii.. Mbah Sastrooooo….” teriak orang yang ada di luar
“Permisi mbah…. Mbah Sastrooo, saya Santoso mbah.. “ teriak orang yang ada di luar lagi
“Mas… ada yang cari mbah Sastro…apa kita tidak sebaiknya keluar mas?”
“Iya mbak, tapi ingat.. Kita ini orang tua, kita harus jalan seperti orang tua”
“Biar saya yang keluar dulu mbak, mbak Tina ikuti saya dari belakang saja hihihihi”
“Mbah Sastrooo, saya Santoso… ini ada orang yang sedang mencari mbah Sastroooo” teriak orang yang ada di luar
Mas Agus mengatur langkahnya untuk jalan menuju pintu rumah yang tadi dia tutup..
Cara berjalan yang sangat pelan dan dengan tubuh sedikit membungkuk.
Aku ada di belakang mas Agus, sengaja memang aku ada di belakang, karena mbah Sastro itu artinya mbak kakung Sastro yang dicari, bukan mbah Putri Sastro hihihihi.
Ketika mas Agus membuka pintu rumah…. Dan ketika aku juga sedang melihat keadaan di depan rumah.
“Permisi mbah, saya nganter tamu.. Katanya tamu ini dari jauh dan sedang mencari mbah kung dan mbah Uti Sastro” kata orang yang bernama Santoso itu
Di sebelah orang yang mengaku bernama Santoso itu ada seorang laki-laki yang berpakaian ala pegawai pemerintahan.
Baju safari lengan pendek dengan dua saku di bagian dada dan dua saku di bagian pinggul, baju safari ala pejabat pemerintahan sekelas pedesaan.
Orang itu sedang membelakangi kami karena dia kelihatannya sedang memperhatikan keadaan rumah yang ada di depan kami
“pak.. ini mbah Sastronya.. Monggo” kata orang yang keliatannya penjilat itu kepada orang yang berpakaian formal ala pejabat daerah jaman dulu
“Iya….. Hmm ngomong-ngomong rumah di depan itu apa tidak dijual pak?” tanya orang itu kepada Santoso tanpa menoleh ke arah aku dan mas Agus sama sekali
“Waduh… nanti saya tanyakan kepada pak Dikin dulu pak… eh pak, mbah Sastronya sudah ada disini” kata Santoso itu lagi
Aku kenal dengan suara itu….
Mas Agus pun melihat ke arahku, mas Agus memberi kode kepadaku bahwa dia mungkin juga mengenal suara orang yang tadi bicara dengan Santoso.
Ya.. aku sangat mengenal suara itu…. Itu suara pak Pangat!
__ADS_1
“Iya pak Santoso.. Nanti tolong katakan kepada pemilik rumah itu, saya tertarik untuk membeli rumah itu secepatnya” kata orang berpakaian safari itu kepada Santoso.