RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
28.CERITA PAK SOLIKIN


__ADS_3

“Gimana pak Agus, katanya ada yang mau dibicarakan dengan saya”


“Ah iya pak, ayo masuk ke dalam saja pak, kita bicara di dalam saja pak”


Kami duduk di ruang tamu, aku menghadap ke dapur, sementar pak Solikin menghadap ke halaman rumah.


“Begini pak Solikin saya mau cerita dulu pengalaman saya selama beberapa hari disini, eh bapak dengarkan dulu aja pak apa yang akan saya ceritakan”


Aku menceritakan semua kejadian mulai aku datang kesini hingga tadi malam, kejadian mengerikan yang pernah aku  alami selama hidup.


Pak solikin hanya manggut-manggut ketika aku bercerita, dia tampaknya paham dengan yang kuceritakan itu. dari raut wajahnya dia tampaknya tidak kaget, hanya saja mungkin dia ingin merahasiakan apa yang dia ketahui dari aku.


“Hmm jadi apa yang pak Agus alami itu pasti juga dialami oleh pak Wandi dan Mamad, hanya saja mungkin mereka tidak akan menceritakan kepada pak Agus”


“Sebelum ada rumah ini, daerah ini dulunya adalah padang ilalang yang agak tinggi, pada jaman dulu tanah disini berupa pasir bercampur tanah yang indah.


“Menurut cerita penduduk desa kami, di belakang sana dekat dengan sungai itu adalah sebuah area dangkal yang berair, jadi semacam apa ya.. eehm kayak kumbangan yang mendapat aliran dari sungai”


“Pokoknya kumbangan bersih dan jernih, namun dangkal, sehingga banyak apa saja yang tersangkut disini apabila tidak sengaja masuk ke kumbangan ketika terjadi banjir”


“Jadi semacam kayak pantai gitu mungkin ya pak, di bagian rumah ini agak tinggi dan di belakang itu area  kumbangan yang sangat dangkal, sedangkan bagian yang dalam itu yang ada di tengah sungai itu”


“Banyak anak-anak desa yang suka bermain dicekungan semacam kumbangan itu , karena selain airnya jernih pasirnya tidak lengket di kaki dan tidak dalam”


“Tetapi ketika pada zaman penjajahan, banyak mayat yang dibunuh di daerah atas sana, di jembatan atas lebih tepatnya”


“Dan mayat-mayat itu selalu tersangkut di daerah dangkal ini, karena dalamnya mungkin tidak ada tiga puluh centimeter”


“Akhirnya daerah ini pun tidak ada lagi yang mengunjungi, mereka jelas takut karena kadang ada saja yang tersangkut di cekungan itu”


“Pak agus lihat makam yang ada di belakang sana itu, katanya… katanya kakek nenek saya, itu makam itu adalah sisa sisa mayat yang sudah hancur, semacam potongan tangan, atau kepala atau bagian tubuh lainnya”


“Semua dikumpulkan dan dikubur di bawah pohon beringin itu. Sedangkan mayat yang masih utuh dikuburkan di makam  desa”


“Tapi saya tidak mempercayainya begitu saja, karena ada yang bilang rumah ini dulunya adalah rumah peristirahatan punya orang kaya raya. Masak dia mau tinggal disini sementara ada kuburan disana”


“Iya sih pak Solikin, jelas tidak mungkin ada yang tinggal disini sementara ada kuburan anehnya, lalu bagaimana kelanjutan pak?”


“Pemilik rumah peristirahatan ini adalah keluarga kecil dengan dua anak. Eh tapi salah satu anak mereka tenggelam ketika sedang berenang di sungai dekat jembatan sana”

__ADS_1


“Pada zaman itu mungkin belum ada jembatan, dan bisa saja pada waktu itu sungai itu lebih lebar daripada jaman sekarang”


“Nah menurut saya kuburan yang ada di belakang itu kemungkinan adalah kuburan anak yang tenggelam itu. Jadi disini ada dua versi cerita tentang kuburan itu pak Agus”


“Hahahaha ada-ada saja ya masyarakat disini kalau membuat cerita, bisa ada dua versi yang berbeda hehehe. lalu pak Solikin percaya yang cerita mana?”


“Kalau saya lebih percaya kalau jaman dulu rumah ini adalah tempat peristirahatan, karena semakin ke atas tidak ada jembatan untuk membuang mayat yang mati karena penjajahan”


“Jelas tidak mungkin dan tidak masuk akal lah kalau ada orang yang mau bikin rumah ketika ada makam aneh di sekitarnya kan pak Agus hehehe, jadi saya lebih percaya cerita yang kedua”


“Iya pak, kemungkinan besar ini adalah rumah peristirahatan dan kuburan itu mungkin kuburan anak yang mati tenggelam”


Kami terdiam setelah pak Solikin memberikan informasi yang belum tentu benar, hanya saja aku sedikit lega setelah mengetahui sejarah rumah ini dari pak Solikin


“Tapi ndak papa kok pak, karena semua itu kan ada di dunianya masing-masing, hanya saja apabila mereka terus menerus mengganggu pak Agus, ada kemungkinan pak Agus ada sesuatu juga”


Aku hanya diam tidak menjawab apa yang sedang dibicarakan, aku tau mungkin aku sudah berbuat yang seharusnya  tidak boleh aku lakukan, tapi apakah semua itu tidak bisa dihindarkan?


“Begini saja pak Agus, ada baiknya pak Agus hadapi saja yang ada disini, hadapi dengan kuat, karena saya yakin pak Wandi dan almarhum Mamad juga seperti itu”


“Penggergajian ini sebetulnya sudah lama ada atau bagaimana pak Solikin?”


“Dulu waktu dengan pemilik pertama yang hanya berjalan sekitar tiga bulan, banyak sekali peristiwa disini”


“Ketika itu banyak gangguan bencana disini mas, dari yang sakit, kesurupan, hingga ada yang mati juga, karena tubuhnya kejatuhan kayu gelondongan dari atas Truk”


“Kemudian tiba-tiba orang-orang pekerja itu hilang ndak tau pergi atau bagaimana, pokoknya mereka tidak kembali lagi kesini, termasuk pemiliknya juga”


“Kemudian dibeli bos sampeyan, tetapi waktu itu bukan jaman pak Wandi, kalau ndak salah orang china”


“Dia juga tidak disukai penduduk desa seberang sungai. Kadang mereka ke sana untuk membeli sembako di toko milik mbok Yem”


“Nah pekerja yang dulu itu siapa pak, apakah juga pak Solikin dan teman-temanya juga?”


“Bukan dari  kami pak, tapi orang-orang bawaan bos sampean juga. Jadi semua orang bawaanya bos sampean pak”


“Mereka tidak bertahan lama, kemudian diganti oleh pak Wandi dan Mamad”


“Tentang hal yang mengganggu saya, apakah tidak bisa dihindari pak?, apakah tidak ada cara lain pak Solikin?”

__ADS_1


“Saya tidak tau pak Agus, karena saya sendiri tidak pernah menghadapi apa yang pak Agus hadapi”


“Oh iya pak, saya pengen tau tentang yang disebut ‘beliau’, ‘beliau’ itu siapa pak, kenapa istri almarhum pak Karyo dan sampean, kemudian pak Wandi kok bicara tentang ‘beliau’?”


Tiba-tiba wajah pak Solikin berubah, dia tidak seramah sebelumnya, ada kegusaran di wajahnya.


“Eh maaf pak Agus, mungkin lain kali saja jelaskannya, kami harus bekerja lagi pak, karena sudah selesai waktu lautannya”


Pak Solikin menuju ke area belakang rumah lagi untuk meneruskan pekerjaannya.


Ada lagi yang ditutup tutupi oleh pak Solikin sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dari ku, tapi sebenarnya apa yang sedang dia sembunyikan dari aku?


Aku hanya duduk di ruang tamu tanpa harus tau apa yang akan aku lakukan, aku merasa bahwa aku terjebak disini, rasanya aku mendapat warisan yang mengerikan dari pak Wandi.


Apa yang terjadi apabila aku pergi dari sini secara tiba-tiba, istilahnya minggat gitu. Paling juga ya pak Wandi yang kena marah bos.


Tapi apa yang akan terjadi denganku apabila aku pergi diam-diam dari sini, apakah aku akan selamat? aku juga tidak tau bagaimana kabar orang yang sudah pergi secara diam-diam dari sini.


*****


Suara mesin diesel yang ada di halaman belakang kembali bergemuruh, suara khas kayu yang dibelah terdengar bersahutan dengan suara palu yang ada di area sebelah kiri.


Para pekerja itu giat sekali bekerja. Sebenarnya mereka tidak terpengaruh dengan berita-berita aneh yang ada disini, hanya saja mungkin akibat dari cerita masyarakat disini itu yang menyebabkan mereka agak takut.


Nanti sore aku punya rencana ke desa untuk makan mie ayam, sekaligus tanya-tanya tentang apa yang terjadi disini, ehm apa sekalian telepon pak Wandi juga ya?


Duduk di ruang tamu sendirian rasanya aneh, tidak ada yang aku ajak bicara sama sekali, tidak ada yang bisa aku ajak tukar pikiran, semuanya sunyi.


Tidak ada apapun yang terjadi hingga sore hari para pekerja mulai membersihkan diri untuk pulang.


Mesin diesel sudah mereka matikan, tidak ada lagi suara orang yang sedang memalu, tidak ada lagi bau khas kayu yang dibelah.


Semua sudah stop yang ada hanya suara orang yang bersenda gurau di belakang dan suara air yang ditimba dari dalam sumur saja.


Aku menuju ke belakang untuk melihat kegiatan mereka sebelum mereka pulang ke desanya.


Para pekerja sudah membersihkan tubuhnya dari debu serutan kayu dan mereka juga sudah berganti pakaian untuk pulang ke desanya.


“Pak Agus, apabila nanti pak Agus takut, bapak bisa menginap di rumah saya saja pak. Tapi ya seadanya pak, karena rumah saya tidak besar hehehe” kata pak Solikin yang tiba-tiba mendekati aku

__ADS_1


“Oh inggih pak Solikin, saya akan kesana kalau memang saya tidak berani pak”


__ADS_2