RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
33. MENGINAP DI POS PENJAGA MALAM


__ADS_3

“Wah saya ndak nyangka lho mbak, kok bisa pak Wandi seperti itu, padahal ibadahnya juga kenceng mbak hehehe”


“Ya sudahlah mas, biarlah itu kesalahan Tina juga yang mudah percaya dengan orang yang datang ke sini”


“Mbak Tina, ini kan sudah malam, saya akan pulang dulu mbak” aku pura-pura untuk pamit pulang dan menunggu bagaimana reaksinya


“Oh gitu mas, mas Agus pingin celaka dengan pulang jam segini? apa mas Agus udah ndak sayang sama Tina lagi?”


“Memangnya ada apa mbak kalau jam segini saya pulang?”


“Ini sudah pukul 22.10 mas, tidak ada orang yang berani masuk ke hutan itu pada jam segini, apa mas Agus pingin mengulangi lagi kejadian yang mas Agus dilihatkan makam ghaib tengah hutan itu?”


“Lebih baik mas Agus tinggal dirumah Tina dulu aja mas, besok pagi mas bisa balik ke hutan sana”


Untuk saat ini Tina berbicara serius dengan ku, tidak ada kegiatan memegang tangan atau mencium leherku lagi.


Kelihatanya dia serius dengan omongannya, sehingga aku benar-benar tidak dibolehkan untuk pulang ke rumah pada jam segini.


Tapi memang aku tidak ingin pulang kesana lah, siapa yang berani dan nekat melintasi hutan pada jam segini.


“Kalau mas Agus pingin selamat, lebih baik mas Agus jangan pulang dulu mas, tinggal disini saja dulu, atau mas agus bisa pulang lewat jalan memutar dan tembusnya ke desa seberang sungai itu”


“Lewatnya mana itu mbak Tina?”


“Ikuti saja jalan yang menuju ke arah kota, kemudian ambil ke kiri setelah bertemu pertigaan, nanti setelahnya bertemu dengan sebuah jembatan besi yang mengerikan”


“lurus saja lewat sawah nanti masuk ke desa sebelah sungai itu”


“Apa mungkin aku kesana dan tinggal di rumah pak Solilikin ya mbak Tina?”


“Solikin? dia yang bekerja di rumah penggergajian itu?”


“Iya mbak Mbak Tau orang itu?”


“Tina ndak kenal mas, pak Wandi sering bicara tentang orang itu”


“kata pak Wandi orang itu licik, dia berusaha mencuri sisa solar untuk dia campur dengan oli bekas dan dijual di pinggir jalan arah luar kota”


“Ah masak sih mbak Tina, mungkin pak Wandi mengarang cerita agar ada yang bisa diceritakan kalau sedang bersama dengan mbak Tina.”


“Ah mbuh lah mas, pokoknya yang dia ceritakan ke Tina ya itu mas, dan Tina masa bodoh dengan yang diceritakan pak Wandi itu”


Cerita Tina sambil melepas rambutnya yang digelung ke atas, akibatnya apa yang selama ini membuat imanku goyah semakin goyah karena melihat rambut dan  kemolekan tubuh mbak Tina.


“Kenapa mas heheh, nafsyu ya liat Tina. Asal mas Agus tau, Tina udah pasrah kalau mas Agus mau apa-apakan Tina, Tina merasa bahagia kalau bisa melayani mas Agus seperti suami Tina sendiri”


Jangkreeek bosss. moso kucing dikasih iwak asin gak doyan sih, jelas doyan lah! Tapi aku masak sebangsa kucing yang doyan apa saja hehehe.


Iki tawaran yang menggiurkan dan sayang kalau dilepas, tapi apa iya sih aku ini bisa nahan nafsu kalau dengar mbak Tina bilang pasrah.


“Kok diam mas, lagi mikir apa? Mas Agus bingung ya sama tawaran Tina,  tinggal bilang iya atau ndak kan mudah mas”


Tina mulai membakar kelaki-lakianku, tapi ndak lah, aku bukan laki-laki sembarangan.


“Bukanya saya lagi mikir tawaran mbak Tina, terus terang saja mbak laki-laki mana yang bisa menolak tawaran mbak tina yang seperti itu, tidak ada yang bisa menolak mbak”


“Tapi kita kan tadi sudah sholat isya kan mbak, apa ndak sayang hasil sholat yang tidak seberapa itu kita gunakan untuk mengumbar nafsyu yang hanya sesaat?”

__ADS_1


Hening, tidak ada jawaban dari bibir mbak Tina yang menggemaskan, kami saling melihat satu sama lain.


Ndak terasa di pelupuk mata mbak Tina mulai ada bayangan air mata yang sedikit demi sedikit mulai mengalir di antara hidungnya yang tidak terlalu mancung.


Dia kemudian pergi ke dalam kamarnya sebentar kemudian dia keluar lagi dengan beberapa lembar tisu yang digunakan untuk menghapus air mata.


“Mas Agus, Tina semakin cinta sama mas Agus, mas Agus adalah laki-laki yang ndak pernah Tina temui sebelumnya”


“Heheheh Tina hanya baru ketemu yang model saya, padahal masih banyak orang yang kayak saya gini mbak Tina”


“Ya udah mbak eh saya jalan dulu saja mbak, gak enak sama tetangga kalau ada laki-laki asing disini, meskipun mbak TIna bilang kalau saya disini ndak papa”


“Hal ini untuk kebaikan mbak Tina juga, meskipun umpamanya saya ndak ngapain-ngapain disini, paling tidak kalau saya tidak nginap disini masyarakat desa tidak akan mencemooh mbak Tina sebagai perempuan nakal”


Tina diam saja ketika ku katakan hal itu


“Iya mas, kalau memang itu baik untuk mas Agus dan Tina juga, akan Tina turuti apa yang dimaumi mas Agus”


“Nah gitu dong mbak Tina, mbak Tin itu cuantiiiik, tapi kecantikan mbak TIna akan luntur kalau mbak Tina masih seperti ini”


“Tapiii setelah malam ini, Tina merasa kembali seperti dulu waktu Tina masih punya suami. Tina bisa melayani mas Agus makam malam, pijetin, dan yang penting sholat berjamaah” Tina berkata dengan menundukan kepala


"Eh nanti mas Agus tidur di mana mas?”


“Saya coba ke rumah pak Solikin dulu saja mbak, mungkin dia belum tidur, kalau misalkan dia sudah tidur, saya akan ke masjid saja, tidur disana mbak”


“Atau gini saja mbak, saya ke masjid sajalah, saya teruskan tidur disana hingga subuh datang kemudian setelah sholat subuh saya akan pulang”


“Eh nanti setelah  subuhan eh mas Agus kesini lagi untuk sarapan ya mas”


“Inshaallah mbak Tina, ya sudah saya pamit dulu mbak”


“Kalau suami mau pergi, biasanya suaminya cium istrinya dulu kan mas?” kata Tina yang sudah memonyongkan bibirnya yang penuh dan mengghairahkan


Daripada makin lama, lebih baik ku kecup saja bibirnya yang ada polesan lipstik warna merah muda itu, aku berusaha menciumnya tanpa ada nafsyu sama sekali hihihi.


“Muuucchh… dah ya mbak Tina, saya pergi dulu, kalau seumpama saya tidak berani ke desa sebelah saya akan ada di masjid terdekat dan tidur hingga subuh disana saja”


“Insyaallah setelah subuh saya akan sarapan disini”


Yah menyenangkan orang dengan mengiyakan sarapan kan tidak ada salahnya kan, aku kenyang dia pun juga akan puas karena memasakkan makanan untukku.


“Em, mas Agus, gimana kalo gini aja mas, mas Agus tidur di masjid kemudian sebelum subuh mas kesini, kita subuhan bersama di rumah mas, setelah itu sarapan dan mas bisa pulang”


“Pokoknya mas Agus kan tidak nginap disini mas?”


Waduh… ajakan untuk sholat subuh, sebenarnya bisa kutolak, tetapi ajakan sholat subuh itu merupakan perubahan besar di diri Tina, dan aku ndak kuasa untuk menolaknya.


Kasihan juga sebenarnya dia..


“Ya sudah mbak Tina, sebelum subuh saya akan kesini, kita bisa sholat bersama sama lagi, tapi setelah itu ketika masih gelap saya harus balik”


“Karena pekerja pasti akan menunggu saya mbak”


“Iya mas, pokoknya setelah sarapan mas Agus bisa balik ke sana”


Setelah kucium lagi keningnya dengan menahan nafsyuku karena bau dari mbak Tina  yang begitu menggoda, akupun pergi dari sana.

__ADS_1


Kuarahkan motorku ke masjid tempat aku tunaikan shalat maghrib sebelumnya, dan semoga masjid itu pagarnya masih terbuka.


Saat ini pukul 22.30 kujalankan motor perlahan lahan menuju ke arah masjid yang agak jauh dari sini.


Suasana desa yang sangat sepi karena jelas semua penduduk yang ada disini udah pada tidur lah, mungkin yang ronda saja yang masih berkeliaran.


Motor tua ini ku jalankan dengan perlahan lahan, sebenarnya gak bener juga aku berkeliaran di desa orang pada jam segini.


Tapi lebih baik begini daripada aku ada di rumah  perempuan, dan beresiko digerebek orang desa, lebih baik aku ada diluar saja.


Di depanku sudah terlihat masjid, ketika kudekati  sayangnya pagar masjid itu digembok, sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya.


Ya sudah ku jalankan motor menuju ke arah tadi aku jalan…


Eh itu di kejauhan ada pos ronda ya. Mungkin aku bisa kesana saja kalau pos ronda itu kosong, kalau seumpama aku tidur di sana kan tidak apa apa


Kuarahkan motor tua ini menuju ke arah pos ronda yang ada di depanku, dan secara kebetulan jalan yang kulewati ini sangat gelap, tapi untungnya pos ronda itu kosong


Semakin dekat aku dengan pos ronda yang gelap tanpa penerangan sama sekali . bahkan penerangan jalan pun tidak ada di sekitar sini.


Kini aku ada di sebelah pos ronda yang kosong, mungkin petugas yang jaga sedang pergi keliling sehingga pos ini dibiarkan kosong tanpa penjaga sama sekali.


Sebuah pos ronda yang mungkin hanya berukuran sekitar  tiga kali tiga meter saja, dengan sebuah tempat  untuk duduk atau bisa juga untuk tiduran yang berbentuk panjang dan terbuat dari semacam logam yang dingin dan licin.


Benda yang mirip dengan meja untuk tempat berjualan itu ada di sisi dinding pos penjagaan ini.


“Ah lumayan bisa tak gunakan untuk tiduran”


Motor diparkir tepat di depan pos ini, kemudian aku mengambil posisi tiduran di tempat yang begitu gelap.


Apa aku ndak takut? ketakutan itu sudah kalah dengan rasa kantuk yang luar biasa, sehingga setelah kusandarkan tubuhku, akupun tertidur.


Ketika sudah kupejamkan mata,  ndak tau sudah berapa lama aku tidur, tiba-tiba kakiku menyenggol sesuatu.


Aku seketika terbangun, ternyata di dekat kakiku sudah ada orang yang sedang duduk dengan tegak. orang itu memakai pakaian lusuh dengan sarung yang  disampirkan di bahunya.


“Eh maaf pak, saya boleh numpang tidur disini pak?” tidak ada jawaban dari orang itu, tetapi sedetik kemudian dia menjawab pertanyaanku


“Silahkan nak….” tanpa menoleh ke arahku sama sekali


Kemudian suasana menjadi hening tidak ada pertanyaan macam-macam dari orang yang ada di dekat kakiku. dia hanya melihat ke arah luar saja.


Lebih baik lanjut tidur saja lah, karena subuh nanti kan aku akan ke rumah mbak Tina lagi untuk sholat subuh bersama dia lagi.


Kupejamkan mata, dan tak kupedulikan penjaga malam yang ada di dekat kakiku. dia juga tidak mengajakku bicara sama sekali, yang penting sudah izin untuk menginap disini.


*****


Sayup-sayup kudengar suara adzan subuh, sayup sayup kudengar suara beberapa laki-laki yang sedang membangunkanku. tetapi mataku terlalu berat untuk kubuka.


“Mas…bangun mas…. ayo bangun mas….”


“Mas..bangun cepat…!” suara beberapa orang yang menggoyang goyangkan tubuhku dengan tangan mereka”


“Iya…iya pak, saya bangun, sudah subuh ya pak” aku berkata dengan masih menutup mataku karena memang aku masih ngantuk sekali


“Alhamdulillah dia masih hidup pak..” kudengar ada yang berkata  begitu di sebelahku

__ADS_1


“Alhamdulillah…  pemuda ini masih diberi keselamatan” kata orang yang lain


__ADS_2