RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
273. SERANGAN FONG


__ADS_3

Jiang… jiang saat ini yang kelihatannya paling tidak bisa menguasai keadaan dengan sahabatnya Cheng yang ternyata berpihak pada Fong.


Dada Jiang naik turun menandakan dia sedang memendam amarah kepada sahabatnya.


Tapi untuk saat ini aku tidak terlalu pedulikan pak Cheng…aku gak ngurus mau pak Cheng itu pengkhianat atau apalah.. Pokoknya aku gak ngurus sama sekali.


Yang aku perhatikan hanya proses mbak Tina yang sedang mengeluarkan sesuatu dari mulutnya!


Solikin, Fong. dan pasukanya sedang  memperhatikan apa yang dilakukan mbak Tina.


Keliatanya Fong dan Solikin sedang menunggu sesuatu yang sangat berharga keluar dari mulut mbak Tina, dan setelah  itu mereka akan mengambil benda itu.


 Makanya dia masih diam sambil menunggu di seberang tanah yang merekah itu…


“Katakan kepada temanmu untuk bersiap mengambil mbak Tina nak Agus” bisik mbah Sutinah dengan sangat pelan


“HAH!.... BISIK BISIKMU TERDENGAR SUTINAH HAHAHAH… TENANG SAJA, SAYA TIDAK AKAN MENYAKITI PEREMPUAN INI, SAYA HANYA MENGAMBIL YANG MENJADI HAK SAYA SAJA  HAHAHAH!” teriak Fong


Aku dan mbah Sutinah kaget… ternyata telinga Fong ajaib juga, dia bisa mendengar apa yang tadi mbah Sutinah bisikan kepadaku.


Mbak Tina dan mbah Sastro benar-benar hebat, meskipun di depan mereka sudah menanti beragam demit yang mengerikan, tetapi mereka masih konsentrasi pada proses memuntahkan sesuatu.


Perlahan lahan namun pasti..mbak Tina mengeluarkan apa yang ada di dalam mulutnya, dibantu oleh mbah Sastro yang tenang dan tidak terganggu sama sekali dengan yang ada di seberangnya.


Hingga pada beberapa detik kemudian… Fong tiba-tiba bergerak maju dengan perlahan lahan….


Dia menuju ke rekahan tanah dan sepertinya ingin menyeberang dan mengambil sesuatu dari yang dimuntahkan mbak Tina…


Kulirik mbah Sutinah, mulut mbah Sutinah sedang komat-kamit kayak lagu mbah dukun yang liriknya… ada mbah dukun, sedang ngobatin pasienya….


Mbah Sutinah dengan tajam melihat Fong yang bergerak maju dengan perlahan lahan… namun ketika dia ada di bibir tanah yang merekah mendadak dia mundur…


Dia kepanasan….


Fong tidak bisa maju dan melakukan sesuatu kepada mbak Tina…


Tetapi nggak tau gimana…. tiba-tiba dia menyuruh menyuruh anak buahnya yang berupa demit-demit yang mengerikan untuk melakukan sesuatu.


Keadaan sunyi..sepi dan senyap… aku nggak tau apa yang sedang Fong bicarakan kepada anak buahnya yang ada di belakangnya itu.


Tetapi yang pasti anak buah Fong kemudian maju serentak… tetapi tidak dengan Solikin dan pak Cheng, mereka berdua tetap di posisinya sambil terus melihat apa yang terjadi dengan mbak Tina.

__ADS_1


Fong menyeringai ketika anak buahnya yang berupa demit itu sudah ada di bibir rekahan tanah…


Mereka berdiri berjajar di depan mbak Tina dan mbah Sastro yang sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan di seberangnya.


Satu demit mencoba menyeberang di rekahan tanah yang sekarang makin melebar akibat dari cairan lava  yang keluar dari perut bumi.  Baru saja dia melangkahkah kakinya, tiba-tiba demit itu terbakar hangus.


Tetapi ternyata hal itu tidak menyurutkan demit yang lainya….tanpa bersuara sama sekali dan tanpa dikomando kemudian maju berbarengan.


Ratusan bahkan mungkin ribuan demit itu bertumpuk tumpuk di atas rekahan tanah dan lava, mereka membentuk sebuah jembatan..


Tentu saja demit yang paling bawah terbakar habis, begitu selanjutnya juga yang diatasnya, tapi mereka terus menumpuk diatasnya lagi dan lagi… pokoknya yang paling bawah akan terbakar.


Dan anehnya demit-demit itu terus ada, tidak ada habis habisnya…. Mereka antri menjadi jembatan bagi Fong yang akan menyeberang ke sisi kami. Mereka rela mengorbankan diri demi Fong yang akan mengambil sesuatu dari mulut mbak Tina.


Fong kemudian bersiap menyeberang untuk mengambil sesuatu yang sedang dimuntahkan mbak Tina…. Dia tertawa tanpa suara dan memamerkan giginya yang tiba-tiba mempunya taring.


Fong mulai menaiki demit yang bertumpuk tumpuk.. Ribuan demit yang secara suka rela menjadi jembatan bagi Fong.. demit yang pasti akan binasa terbakar habis ketika terkena lava yang ada di bawahnya.


Fong belum berjalan menuju kemari…dia hanya berdiri di sisi seberang kami, dia hanya berdiri diam di atas demit yang sedang berusaha menjadi jembatan bagi Fong…


Tetapi ada yang aneh ketika Fong sedang menaiki demit… tiba-tiba tanpa disangka pak Cheng yang tadi diam di sebelah Solikin kemudian diam-diam bergerak  mendekati Fong….


Sedangkan Solikin sendiri hanya diam dan terus menerus memperhatikan Fong yang masih berdiri di atas demit dengan sekali nyengir memperlihatkan giginya yang mengerikan.


“Perhatikan baik-baik nak Agus… sebentar lagi….” bisik mbah Sutinah tanpa bicara sama sekali


Ternyata mbah Sutinah bicara dengan ku melalui mata batinku, dia tau bahwa Fong akan mendengar setiap bisikan yang dia ucapkan ke aku…


“Perhatikan baik baik nak Agus… sebentar lagi  genduk Tina akan mengembalikan pusaka itu ke dalam perut bumi setelah dia telan beberapa saat di perutnya sebagai tanda bahwa genduk Tina akan menjadi penjaga tempat ini berikutnya”


“Perhatikan Fong, pada waktu pusaka itu sedang keluar dari dalam mulut nduk Tina…bersamaan dengan itu Fong pasti akan menyerang dan mengambil, maka tarik dan bawa pergi nduk Tina”


“Pada waktu itu, pusaka itu akan masuk kembali ke dalam tubuh nduk Tina”


“Fong akan berusaha mengambil pusaka itu, tetapi apabila tidak berhasil maka dia akan mengejar nduk Tina… disinilah kalian harus mempertahankan nduk Tina”


“Jangan sampai nduk Tina tertangkap Fong dalam keadaan sebagai Nyai Kembang Melati… bawa dia pergi hingga dia berubah menjadi nduk Tina lagi”


“Nanti kita lihat apakah nak Agus harus mengawal nduk Tina atau tidak, kita lihat kondisi disini dulu saja nak Agus”


Aku tidak menjawab kata-kata mbah Sutinah, aku hanya mengangguk dengan yakin tanda bahwa aku paham dengan apa yang dikatakan mbah Sutinah.

__ADS_1


Mbak Tina dan mbah Sastro masih konsentrasi dengan prosesnya, sementara itu Fong sudah bersiap untuk menyerang dan mengambil sesuatu yang sedang mbak Tina keluarkan dari mulutnya.


Tiba-tiba mbah Sastro menoleh kepada mbah Sutinah, aku nggak tau apa atau akan ada apa dengan menolehnya mbah Sastro ke arah mbah Sutinah


Mbah Sutinah hanya mengangguk pelan, dan kemudian mbah Sastro kembali menuntun mbak Tina untuk terus mengeluarkan sesuatu dari perutnya..


“Nak Agus majulah, dekati genduk Tina… jalanlah perlahan lahan saja” kata mbah Sutinah yang komunikasi melalui mata batin.


Aku bergerak maju mendekati mbak Tina dan mbah Sastro.. Sekarang aku bisa lihat apa yang sedang dimuntahkan mbak Tina… perlahan lahan aku  mengintip dari sisi belakang mbak Tina.


Dengan dibantu oleh cahaya lava aku bisa melihat apa yang sedang dikeluarkan mbak Tina


JUANGKREK!... nggilani c*k.. Ternyata saat ini yang keluar dari mulut mbak Tina adalah berbagai macam hewan melata!...hewan melata yang berlendir!


Pantas saja memerlukan waktu lama untuk proses menelan dan mengeluarkannya!


Aku mundur satu langkah dari belakang mbak Tina…..


Kulirik di seberang tanah yang merekah ini….


Pak Cheng sudah ada di belakang Fong, aku nggak tau kenapa pak Cheng ada di belakang Fong, apa mungkin dia akan membantu Fong untuk menyerang kami.


Dasar penghianat…..!


Kayaknya ini sudah saatnya, karena aku lihat wajah Fong sudah berubah menjadi lebih serius, dia tidak cengar-cengir seperti tadi.. Dia kini berdiri diam dia atas tubuh demit yang tengkurap.


Kulihat mbah Sastro.. Tangan mbah sastro yang memegang pundak mbak Tina terlihat gemetar, meskipun wajah mbah Sastro masih terlihat tenang….


Tidak ada suara apapun, baik yang keluar dari suara dari mulut mbak Tina atau dari siapapun, tetapi ada yang berbeda dengan lava yang ada di rekahan tanah….keliatan lebih bergejolak dari pada sebelumnya.


Kulihat Fong mulai jalan dengan tenang ke arah mbah Tina yang masih menundukan kepala tanda dia masih proses mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya


Lava yang ada di depanku semakin bergejolak, dan getaran tanah yang ada di sekitar sini pun agak lebih keras dibanding sebelumnya.


Tubuh mbak Tina bergetar keras, sementara itu tangan mbah Sastro  memegang pundak mbak Tina dengan kencang


Tubuh mbak Tina semakin bergoncang.. Kedua tangan mbah Sastro berusaha menahan goncangan tubuh mbak Tina….


Kulihat Fong… dia mulai bergerak…..


…..HAAAAAAARRRGHHHHH…!. Fong melompat ke ara mbak Tina!

__ADS_1


Tetapi dengan mengejutkan dan tanpa suara pak Cheng yang ada di belakang Fong melompat dan mendorong Fong dari belakang dengan keras!


__ADS_2