
Air mataku meleleh melihat keadaan istriku dan anakku, aku duduk di samping anakku yang masih saja memainkan ujung roknya tanpa ada ekspresi di wajahnya.
Aku duduk di sebelahnya sambil terus memeluknya meskipun semua tembus. Telingaku rasanya gatal ketika mendengar suara-suara dari dalam kamarmu… seharusnya aku yang ada di kamar itu, bukan pak Jay!
Aku tidak bisa berbuat apa-apa hingga aku mengantuk, dalam posisi tubuhku yang sedang duduk, aku mengantuk rasa kantuk yang luar biasa sehingga aku tidak pedulikan suara-suara aneh yang keluar dari dalam kamarku.
Hingga akhirnya aku tertidur di sebelah anak kecil yang mengalami gangguan jiwa……
*****
“Mas bangun.. Udah pagi ini, ayo subuhan dulu mas” samar-samar aku mendengar suara istriku yang membangunkan aku…”
Aku juga dengar suara tangisan bayi…. Suara itu seolah olah nyata..
Kubuka mataku.
“Alhamdulillah…. “ aku peluk istriku dan kuciumi dik Gustin kecil yang sedang memegang dot bertutup ping miliknya
“Alhamdulillah kenapa memangnya mas… ayo bangun dulu, sudah adzan subuh, ndang subuhan dulu sana mas”
“Iya yank… aku bersyukur karena tadi aku hanya mimpi, tapi bukan mimpi biasa, melainkan kayak sebuah peringatan kepada kita”
“Udah nantik ae ceritanya, sekarang mas Agus subuhan dulu aja” suruh istiku yang keliatan cantik sekali.
Aku tau tadi itu hanya sebuah mimpi, tapi mimpi itu rasanya nyata dan aku merasa seperti sedang diperingatkan di dalam mimpi itu.
Setelah aku laksanakan sholat subuh, aku kembali lagi ke ruang tamu, disana istriku sedang menggendong Tina yang sudah selesai dengan ngedotnya.
“Duduk sini yank, aku mau ceritakan apa yang tadi aku impikan, rasanya mimpiku itu nyata, eh semacam mimpi gambaran apa yang terjadi dengan keluarga kita”
Aku duduk bersama istriku berdampingan, kemudian aku ceritakan apa yang semalam aku impikan disini, istriku mendengarkan dengan seksama dan kemudian tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum gitu yank?”
“Tina tersenyum karena kita akan pergi dari sini, dan hidup seperti mimpinya mas Agus yang pertama tadi, kita tidak akan meninggalkan Gusta, yang kita tinggalkan adalah masa lalu kita dan semuanya yang kita alami disini”
“Dari mimpi mas Agus itu mungkin bisa kelihatan apa yang akan terjadi dengan kita apabila kita tetap ada disini dan apabila kita pergi dari sini mas”
__ADS_1
“Jadi Tina merasa bahwa apa yang kita putuskan adalah tepat”
“Tapi kita perlu modal disana yank, dan katamu hari ini kamu akan mengambil uang dp penjualan rumahmu?”
“Iya mas, Tina juga sedang nunggu telepon dari orang yang beli rumah itu. Oh iya katanya pagi ini juga pak Jay akan datang ke sini, apa dia nanti bersama pak Hendrik juga?”
“Harusnya dia bersama pak Hendrik, karena kan permodalan resort ini adalah dari mereka berdua yank”
Pagi ini aku lagi-lagi tidak ke proyek, rasanya malas sekali kalau harus ke proyek, lagian aku hanya kepingin di sebelah anakku dan istriku saja.
Kalau gak salah pak Diran saat ini jaga malam, jadi kemungkinan besar jam delapan nanti dia akan pulang dari proyek, aku kepingin cerita kepada pak Diran tentang mimpiku yang semalam itu.
Jam delapan lebih sepuluh aku ada di depan rumah, semoga pak Diran mau mampir ke rumahku barang sebentar saja.
Ternyata yang aku tunggu lewat juga, tepat jam delapan lewat lima belas menit motor pak Diran terdengar sampai di depan rumah, aku buru-buru keluar rumah
“Pak Diran… mampir sebentar pak” teriaku sambil kupanggil pak Diran yang lewat depan rumah dengan perlahan
“Wah pak Agus, saya kira pak Agus sedang sakit, karena pagi ini tidak ke proyek” kata pak Diran yang memberhentikan motornya
“Iya pak, badan saya gak enak setelah semalam saya mimpi yang sangat aneh pak”
“Ada apa pak Agus, coba ceritakan kepada saya pak” kata pak Diran sambil masuk ke dalam rumahku
Aku ceritakan dua versi mimpi semalam yang aneh, pak Diran mengernyitkan wajahnya ketika mendengar ceritaku yang versi kedua. Sepertinya ada yang aneh dengan ceritaku yang kedua itu.
“Aneh pak Agus, sepertinya ada yang berusaha menggambarkan apa yang akan terjadi dengan keluarga ini apabila pak Agus dan keluarga pergi dari sini atau apabila pak Agus dan keluarga tetap ada disini.
“Yang jadi pertanyaan, apakah mimpi itu bisa menjadi kenyataan pak?”
“Hmm bisa iya bisa juga hanya sebagai bunga tidur pak Agus, tetapi kalau disangkut pautkan dengan masalah yang ada disini ya sangat mungkin akan terjadi juga pak” jawab pak Diran
“Jadi menurut pak Diran, saya harus bagaimana dengan situasi ini pak?”
“Tetap tegas dengan apa yang dipilih pak Agus dan istri pak Agus, semua demi untuk keluarga ini…. Itu saja yang saya bisa katakan pak Agus”
“Berarti kami harus pergi dari sini pak?”
__ADS_1
“Kalau itu yang direncanakan ya harus pergi dari sini pak Agus, hanya saja persiapkan segala sesuatunya dengan matang, ingat kalian buka keluar kota, tetapi ke luar pulau”
Baru saja pak Diran selesai bicara, mobil milik pak Jay datang, Keliatanya pak Jay tidak sendirian, dia bersama dengan pak Hendrik yang duduk di sebelah pak Jay.
Kebetulan ada pak Diran, sehingga dia bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan keluargaku sekarang ini, karena dengan penjelasan dari pak Diran bisa menambah dan memperkuat alasanku untuk pergi dari sini.
*****
“Bagaimana kabarnya pak Agus” sapa pak Hendrik berbasa basi sambil menyalami tanganku
“Mas Agus dan bu Tina sehat-sehat saja bukan?” kata pak Jay juga
“Wah ada pak Diran juga disini….bagaimana kabarnya pak Diran?” kata pak Hendrik
“Alhamdulillah, saya baik-baik saja pak Hendrik” jawab pak Diran
“Yah pada intinya kami sehat, sebelum ada sesuatu yang menyebabkan kami akan tidak sehat” aku berusaha agar mereka berdua tertarik dengan apa yang akan aku bicarakan.
“Silahkan duduk dulu pak. Ada yang sangat penting yang harus saya ceritakan kepada bapak-bapak, dan kebetulan ada pak Diran yang bisa menekankan apa yang akan saya ceritakan
Aku tau sulit untuk memberikan keyakinan kepada mereka berdua tentang yang terjadi dengan keluargaku, apalagi tanpa ada bukti yang menguatkan apa yang aku bicarakan.
Tetapi disini untungnya ada pak Diran yang membantu aku, sehingga apa yang aku ceritakan kepada mereka berdua ada yang menguatkan.
Aku selesai cerita kepada pak Jay dan pak Hendrik, wajah mereka mencerminkan ketidak senangan.
“Apa seperti itu yang terjadi mas Agus, dan apakah jalan keluarnya adalah harus pergi dari sini?” kata pak Jay
“Ya seperti itu pak Jay, tidak ada jalan keluar lagi selain hanya itu”
“Ini adalah masalah pribadi mas Agus, dan masalah pribadi ini harusnya diselesaikan dengan keluarga mas Agus, bukanya menyangkut pautkan dengan proyek yang ada disini” kata pak Jay
“Kalian bisa menyelesaikan masalah yang pelik sebelumnya, masak hanya masalah dengan anak kalian, kalian menyerah begitu saja” kata pak Jay semakin gak enak omongannya.
“Hendrik, gimana menurut lu?” tanya pak Jay ke pak Hendrik
“Yang berhubungan dengan ghaib seperti ini tidak bisa diremehkan Jay, tapi diusahakno diselesaikan dengan baik ae, coba gua liak dulu gimana dan seberapa besar bahaya yang akan terdampak ke keluarga ini dan proyek kita ini”
__ADS_1
“Silahkan pak Hendrik, nanti malam pak Hendrik bisa ke sini dan mencoba melihat apa yang ada disini, syukur-syukur pak Hendrik bisa tau dan berinteraksi dengan yang ada disini”
“Ya, nanti malam saya akan ada disini, saya akan pelajari sejauh mana yang terjadi dengan kalian dan apa bahayanya terhadap proyek kami berdua” kata pak Hendrik