RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
120.NASEHAT PAK SOLIKIN


__ADS_3

“Mas… nanti malam mungkin dokter Hendra dan dokter Joko mau kesini, mereka kelihatannya penasaran dengan keadaan mas Agus”


“Tapi setelah Isya, Tina mau ke tempat pak Solikin dulu, karena anaknya pak solikin yang bernama Santi mau bicara dengan Tina”


“Memangnya mau ngobrol apa mbak?”


“Ada sesuatu yang mungkin Santi akan ingat mas… tentang apa yang diigaukan pak Solikin”


“Sekalian Tina mau beli makan malam…”


“Yang penting mas Agus tenang dulu  saja…”


“Ayo sekarang mas Agus Tina suapin makan dulu aja.. nanti setelah minum obat, Tina tinggal cari makan dan ke tempat pak Solikin.”


Keadaan mas Agus saat ini sudah semakin membaik, sakit kepalanya juga sudah makin jarang, hanya saja  jarum infus itu masih tertancap di tangannya.


Setelah selesai menyuapi mas Agus, aku pergi menuju ke depan rumah sakit… atau ke warung yang tadi siang aku sempat makan.


Siapa tau ada informasi baru dari ibu-ibu pemilik warung tentang orang yang makan disana.


*****


Aku berjalan santai di selasar rumah sakit. tidak ada siapapun yang berjalan di sini pada jam segini, mungkin mereka sedang ada di kamar untuk menyuapi pasien rawat inap yang mereka tunggu .


Suarab sol sepatu karetku yang menyentuh lantai rumah sakit terdengar bergema… memang agak Creepy juga sih sebenarnya.


Tapi ini kan belum terlalu malam, belum juga terdengar adzan isya juga. harusnya nggak boleh punya perasaan takut.


Tangan kananku menenteng tas kain yang berisi mukena dan sajadah kecil. Terus terang aku kurang begitu suka mengenakan mukena yang disediakan rumah sakit.


jadi lebih baik aku bawa mukena sendiri saja…


Aku menuju ke arah gerbang rumah sakit  untuk menuju ke luar…


Kulihat di bagian ruangan administrasi ada beberapa orang yang sedang berbicara dengan petugas yang jaga di ruangan administrasi.


Salah satu dari orang itu sedang menangis…. dan aku pernah tau dengan orang yang sedang menangis itu.


“Eh itu kan ibu-ibu yang jaga di tempat tidur sebelah”


Kenapa dia menangis….


Waduh… jangan-jangan kata mas Agus tadi  benar, jangan-jangan orang yang dia jaga saat ini sudah meninggal.


Waduuuh… gawat ini.


“Sialan… aku jadi merinding dewe iki rek…”


Ku Usahakan untuk tidak melihat orang-orang yang ada di ruang administrasi..


Kupercepat jalanku untuk menuju ke arah luar..


“Selamat malam pak” kusapa petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk rumah sakit


“Selamat malam bu.. ibu mau ke mana?”


“Saya mau beli makan malam dulu…. di warung depan rumah sakit  itu pak”


“Baik bu… hati-hati apabila menyeberang jalan” jawab Satpam itu ramah


Dari halaman rumah sakit aku bisa lihat deretan warung yang menjajakan makan malam bagi para orang-orang yang kelaparan.


Ah untungnya warung depan rumah sakit itu masih buka…


Tapi sebentar… dari sini aku bisa lihat ada beberapa laki-laki yang sedang makan disana.


Tapi aku tidak bisa menebak, apakah itu orang-orang yang sebelumnya selalu mengintai aku dan mas Agus atau bukan.


Apa yang harus aku lakukan, apakah aku cari tempat makan lainya…tapi aku harus tau dulu siapa mereka…setelah itu  aku tetap kesana saja…


Untung halaman rumah sakit ini penerangannya kurang, yang terlihat terang hanya di bagian luar rumah sakit saja, karena ada lampu penerangan jalan.


Kucari tempat yang agak gelap di sekitar parkiran yang kalau malam gini sangat sepi, yang ada hanya beberapa motor orang yang menginap disini.


“Sialan… itu kan Wandi!”


Untung aku belum keluar.. untung aku selalu teliti untuk memperhatikan keadaan di sekitar rumah sakit.


Untung mulai sejak disini rasa parno ku perlahan lahan mulai muncul, sehingga aku selalu memperhatikan hal-hal yang tidak semestinya.


Kini aku ada di sekitar pohon yang ada di parkiran rumah sakit…


Untungnya warung depan rumah sakit itu lampunya cukup terang, sehingga aku bisa lihat siapa yang ada disana.


“Dasar Wandi laki-laki buaya!”


“Ngakunya belum punya istri… ternyata sudah beranak pinak!”


“Siapa itu yang bersama Wandi…Hmmm apakah itu Mamad?”


Disana hanya ada tiga orang laki-laki yang entah sedang makan malam atau sedang ngopi..

__ADS_1


Memang sih warung itu letaknya strategis apabila digunakan untuk mengintai orang-orang yang keluar dari rumah sakit, karena letaknya ada di seberang pintu gerbang rumah sakit.


Lebih baik kuurungkan dulu  untuk cari makan, daripada aku yang akan dimakan oleh mereka.


Yang penting aku sudah tahu bahwa yang ada disana itu berbeda orang dengan yang tadi pagi, dan tentu saja ini berbahaya bagiku dan bagi mas Agus.


Aku berjalan lagi menuju ke pintu masuk rumah sakit.


“Lho tidak jadi beli makan bu?” sapa satpam yang tadi


“Nggak jadi pak… di warung langganan saya ada tiga orang laki-laki yang agak gimana gitu, saya jadinya takut untuk ke sana pak”


“Atau saya belikan saja bu… eh nanti saya antar ke kamar ibu” kata satpam itu lagi dengan nada yang ramah


“Ah jangan pak, malahan nanti merepotkan sampean pak”


“Nggak papa bu, kadang saya juga dititipin beli makan oleh penjaga pasien juga kok bu, khususnya penjaga pasien yang pasiennya tidak bisa ditinggal atau harus selalu ditunggui”


“Lho kalau bapak tidak keberatan boleh pak.. saya tunggu di kamar nomor tiga pak”


Aku sengaja tidak berikan nomor kamar mas Agus… karena setelah ini aku akan ada di kamar nomor tiga sambil menunggu adzan isya.


Kuberikan sejumlah uang yang cukup untuk membeli satu bungkus nasi campur, tidak lupa aku juga berikan petugas jaga itu untuk ongkos membelikan makanan.


“Nanti akan saya antar ke kamar nomor tiga ya bu”


“Iya pak, sekali lagi terima kasih atas bantuanya pak”


Aku menuju ke kamar tempat pak Solikin..


Sempat juga melewati ruang administrasi, disana masih ada  beberapa orang yang sedang menghadap meja petugas..


Tapi sekarang ibu yang tadi menangis sudah tidak ada disana…yang ada disana hanya orang yang terlihat lebih muda daripada ibu-ibu yang tadi menangis.


Aku berjalan terus menuju ke kamar pak Solikin…


Ketika aku ada di depan kamar pak Solikin, tiba-tiba adzan isya berkumandang.


“Waduh… udah Adzan..”


Lebih baik aku disini dulu saja sambil menunggu satpam yang belikan aku makanan.


Aku duduk di bangku depan kamar pak Solikin… tidak ada orang yang berjalan di sekitar sini,... maklum sudah jam segini.


Tidak lama kemudian pak Satpam tadi muncul sambil membawa satu tas kresek kecil makanan yang aku pesan.


“Heheh ini bu makananya…” katanya ramah


“Mereka kayaknya ada niat jahat bu, mereka menunggu perempuan yang sedang menunggu pasien disini dan yang saya dengar sekilas mereka akan menculiknya”


“Padahal tadi saya ada disana, dan jelas saya adalah sekuriti rumah sakit.. mereka bertiga kok ya berani berkata akan menculik perempuan yang keluar dari rumah sakit”


“Tadi tiga orang yang ada di warung itu sudah saya laporkan ke komandan saya, agar lebih diperhatikan apabila ada ibu-ibu yang sedang keluar untuk membeli makanan”


“Waduh.. kok bahaya gitu pak… untung tadi saya waspada pak, saya lihat dari jauh wajah mereka itu tidak bersahabat” aku berusaha memberikan penekanan pada nada bicaraku


“Benar bu, komandan kami sudah instruksikan untuk mengawasi setiap perempuan yang akan keluar  untuk membeli makanan


“Ya sudah bu, saya balik ke pos saya lagi … dan terima kasih atas informasinya bu”


Wah benar-benar sudah gelap mata itu Wandi dan kawan kawannya.


Hingga mereka berani berkata seperti itu waktu ada satpam rumah sakit.


Tiba-tiba pintu kamar pak Solikin terbuka… kemudian Santi anak pak Solikin keluar dari dalam kamar.


“Mbak Santi…”


“Lho ada mbak Tina disini.. dari mana mau ke mana mbak?”


“Tina tadi mau ke luar untuk beli makanan mbak…”


Kuceritakan kepada anak pak Solikin tentang apa yang barusan hampir menimpaku.


Santi mendengarkan apa yang barusan terjadi dengan ku hingga aku minta tolong petugas keamanan untuk membelikan makanan untuk ku.


Ada perubahan yang sangat kentara ketika aku sebutkan nama orang yang ada di luar itu, Santi keliatanya  kaget ketika kusebut nama Wandi, Mamad, dan Burhan.


“A..apa benar yang ada di luar itu tiga orang yang bapak saya selalu igaukan?”


“Bisa jadi mbak Santi, karena yang Tina lihat tadi hanya Wandi saja, sedangkan yang dua orang disana kurang jelas terlihat”


“Aduh…, bapak saya selama ada disini selalu mengigau dan menyebut nama tiga orang itu mbak, selain itu juga pernah dia sebut kata ampun juga”


“Apakah bapak saya juga punya masalah dengan orang yang ada di warung makan itu ya mbak?”


Ketika aku dan Santi asik ngobrol, tiba-tiba pintu kamar terbuka…


Bu Solikin muncul dari  dalam kamar dan menuju ke arah kami berdua yang duduk di depan kamar..


“Eh ada mbak Tina…. “

__ADS_1


“Santi… masuk dulu, bapak cari kamu itu” kata bu Solikin


“Bentar ya mbak, saya masuk dulu” kata Santi yang kemudian masuk ke dalam kamar, sementar itu istri pak Solikin menemani aku


Baru saja Santi masuk ke dalam , tiba-tiba dia keluar lagi


“Mbak Tina dipanggil bapak” kata Santi


Aku dan istri pak Solikin yang tadinya ada di luar pun masuk ke dalam kamar.


Pak Solikin duduk bersila di atas tempat tidur sambil tersenyum kepada ku yang sedang melangkah masuk ke dalam kamar.


“Sini mbak Tina… ngobrol sama bapak” panggil pak Solikin ketika aku sudah ada di sebelah tempat tidur pak Solikin.


“Bagaimana kabar pak Solikin?”


“Hehehe kepala saya masih agak pusing… tapi secara keseluruhan saya sudah cukup sehat kok mbak Tina”


“Eh kata Santi… pak Agus juga sedang opname disini?”


“Benar pak, dia jadi korban tabrak lari waktu di desa saya menjelang subuh”


“Lhoooo jam segitu itu pak Agus ngapain ada di desanya mbak Tina”


“Ceritanya agak panjang pak…”


“Tidak papa mbak Tina.. coba cerita saja, mungkin saya bisa kasih pendapat atau jalan keluar untuk pak Agus”


Pelan-pelan aku cerita tentang apa yang terjadi dengan mas AGus… pak Solikin pun mendengarkan dengan serius apa yang sedang aku ceritakan.


Sesekali dia manggut manggut tapi tanpa menyela ceritaku sama sekali.


Untuk bagian ini aku hanya cerita dari mulai mas Agus ada di dalam rumah penggergajian hingga dia tak sadarkan diri karena tertabrak kendaraan.


“Itu yang terjadi dengan mas Agus pak” setelah aku selesai dengan ceritaku.


“Saya sudah memperkirakan akan terjadi hal seperti ini… ketika pak Agus mulai bekerja di rumah itu”


Pak Solikin menghela nafas, sorot matanya yang lelah memandang ke arah tembok kamar rumah sakit…. sorot mata yang sedang menerawang apa yang sedang terjadi  sebelumnya.


“Begini saja mbak Tina, tolong sampaikan kepada pak Agus…”


“Lebih baik tinggalkan rumah itu segera, dan jangan kembali lagi ke sana”


“Mbak Tina dan pak Agus tidak akan tau sesuatu yang sangat mengerikan dari bisnis kotor bos mereka itu”


Pak Solikin berbicara dengan mata yang terus memandang tembok kamar, seolah di tembok itu terlukis sesuatu yang sangat mengerikan.


“Sebenarnya apa yang terjadi di sana pak?”


“Rasa penasaran kalian yang tidak beralasan itu malah akan membawa bencana bagi kalian dan keluarga kalian mbak”


“Sebaliknya rasa penasaran yang mempunyai alasan kuat akan membawa keberhasilan bagi kalian”


“Sekarang mbak Tina dan pak Agus harus bisa memilah rasa penasaran itu dahulu… setelah rasa penasaran, maka kalian akan menemukan jawaban sementara”


“Jawaban sementara itu bisa kalian pikirkan baik buruknya bagi kalian  berdua”


“Dan disaat itu kalian masih punya kesempatan terakhir untuk mundur sebelum sesuatu menimpa kalian”


Waduh… pak Solikin ini malah main teka teki silang…


Aku makin penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sana hingga omongan pak Solikin seperti itu.


Tapi ada benarnya juga apa yang diomongkan pak Solikin.


“Baik pak .. saya paham dan akan saya bicarakan dengan mas Agus….”


“Eh bapak mau dengar cerita selanjutnya ketika  mas Agus sudah ada di rumah sakit ini tidak?”


“Ada cerita apa lagi memangnya mbak?” toleh pak Solikin kepadaku


Kuceritakan tentang waktu aku diikuti orang, kemudian tadi pagi di warung pecel, kemudian siang tadi di warung pecel, dan barusan malam ini ketika ada Wandi di warung pecel itu.


Tiba-tiba mata pak Solikin terbelalak ketika aku bercerita tentang Wandi dan dua orang yang ada di warung maka depan rumah sakit.


“Mbak Tina….kalian berdua dalam bahaya!”


“Saya yakin Wandi dan kedua orang itu akan mencelakai kalian berdua”


“Sebaiknya kalian urungkan niat kalian untuk pergi dari rumah sakit ini dulu!”


Pak Solikin berbicara dengan wajah pucat dan mulai berkeringat.


“Mbak Tina.. maaf, saya harus istirahat, kepala saya mendadak sakit” kata pak Solikin yang kemudian merebahkan diri.


“Ayo kita keluar ..ngobrol di luar saja mbak” ajak Santi


Aku dan Santi kembali duduk di kursi panjang depan kamar nomor tiga.


Suasana di luar kamar ini semakin sepi seiring dengan semakin malamnya keadaan rumah sakit.

__ADS_1


Aku diam… begitu juga Santi… kami tidak tau apa yang harus kami bicarakan lagi.


__ADS_2