
Proses pengurusan untuk mengambil mayat ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sekarang sudah pukul empat sore. Kami masih duduk diruang tunggu kamar mayat, di depan kami ada sebuah kotak styrofoam besar yang biasanya digunakan untuk membawa minuman botol dingin ketika ada pasar malam di desaku.
Tapi kotak styrofoam yang ada di depanku ini bukan berisi minuman dingin, melainkan berisi jeroan hewan, organ dalam dan khelamin yang tadi dikirim oleh teman pak Jay.. dan baunya agak menyengat meskipun styrofoam itu sudah tertutup rapat.
Ambulance yang dikirim pak Joko sesuai dengan informasi jam keberangkatan kemungkinan besar sekarang sudah dekat dengan kamar mayat rumah sakit ini.
“Kok lama ya pak?” tanya mbak Tina
“Kemungkinan besar sedang disuntik formalin dulu mbak, sesuai dengan standart disini, karena mayat itu kata pak Zak sudah membusuk. Jadi butuh penanganan khusus” jawab pak Hendrik
Dokter Karim teman pak Jay sudah balik, karena dia kan pagi ini harus ada di rumah sakit tempat dia bekerja.. Jadi disini cuma tinggal ada aku, mbak Tina, pak Jay dan pak Hendrik yang mengurusi mayat.
“Tunggu sebentar, saya akan ke bagian admin dulu untuk menanyakan mayat yang akan kita bawa ke hotel” kata pak Jay kemudian berdiri dan berjalan menuju ke bagian administrasi kamar mayat
Tidak lama setelah pak Jay pergi, sebuah ambulans masuk ke halaman parkir gedung kamar mayat, aku hafal dengan ambulan itu, ambulan itu adalah ambulan rumah sakit tempat dokter Joko.
Kuhampiri sopir ambulan setelah memarkir kendaraanya dekat dengan pintu keluar kamar mayat.
“Pak.. sampeyan dari dokter Joko?”
“Injih pak.. Saya disuruh menemui pak Agus kata dokter Joko” jawab sopir ambulan yang sudah berumur itu
“Saya Agus pak. Eh kita tunggu dulu saja pak, karena jenazahnya belum siap, masih diurus pak”
“Kalau begitu saya tinggal beli ngopi sebentar di warung depan sana pak Agus… saya minta waktu lima menit saja, karena saya agak ngantuk” kata Supir itu
Sopir itu pergi keluar area gedung kamar mayat, dia ijin membeli kopi yang akan dikemas dalam plastik agar cepat, karena perkiraanku sebentar lagi mayat itu akan dikeluarkan dari kamar mayat.
__ADS_1
Ketika aku kembali ke ruang tunggu, pak Hendrik memanggilku..
“Pak Agus.. kamu dipanggil pak Jay, disuruh ke bagian administrasi untuk beberapa tanda tangan sebagai keluarga dari mayat mr X itu” kata pak Hendrik.
Aku berlari kecil ke ruang administrasi tempat tadi aku memberikan kesaksian bahwa mayat yang akan kami ambil ini adalah keluarga dari aku.
Pak Jay sudah menunggu di depan meja administrasi, seorang suster kemudian memberikan aku seperangkat alat sholat,... eh memberikan aku beberapa lembar dokumen yang harus aku tanda tangan.
Tidak ada pembicaraan yang berarti….. Setelah tanda tangan, suster itu kemudian memberikan aku selembar kertas untuk pelepasan mayat… kayak beli barang di supermarket saja.
“Pak Agus… kita ada masalah sedikit.. Kita ngobrol di ruang tunggu saja nanti” bisik pak Jay ketika suster bagian administrasi itu masuk ke ruangan yang ada di dalamnya.
Setelah selesai dengan urusan administrasi, aku dan pak Jay menuju ke ruang tunggu, ternyata sopir ambulan itu sudah ada di samping mobil ambulan sambil menyeruput kopi yang diwadahi gelas plastik
“Eh koh Hendrik, mas Agus, dan mbak Tina.. kita ada sedikit masalah yang saya tidak tau harus bagaimana” kata pak jay
“Dan saran dari suster itu, jangan dibuka kain kafannya, takutnya daging yang sudah busuk itu menempel di kain kafan akan terlepas karena proses pembusukan mayat itu sudah sedemikian parah”
“Memang tadi sempat disuntik formalin lagi, agar proses pembusukan berjalan lambat… tapi kata suster ya harus tetap jangan dibuka kain kafannya…. yang mau saya tanyakan, dimana dan siapa yang nanti akan melakukan pembedahan dan mengambil organ dalam dan khelamin dari mayat itu”
“Dan dimana akan dilakukan pembedahan itu, setelah itu mayat yang sudah kita ambil organ dalamnya, kita kemanain mayat itu?” tanya pak Jay dengan bingung
“Gini saja Koh… yang penting mayat itu keluar dulu dari rumah sakit, untuk masalah pembedahan dan yang lainnya kita pikir ketika kita ada di jalan, dan yang pasti mayat itu dari sini harus langsung ke hotel” kata pak Hendrik
“Eh mas Agus, seumpama tanya ke dokter Joko gimana?” tanya pak Jay
“Ya nggak papa sih pak Jay, tapi yang bicara pak Jay saja, jangan saya pak, agar lebih enak pak”
__ADS_1
“Ya sudah..nanti saja ketika perjalanan ke sana, saya akan telepon dokter Joko” kata pak Jay
Tidak lama kemudian ada yang memanggil namaku, ternyata pintu ruang kamar mayat terbuka, ada seseorang yang keluar dari kamar mayat
Sopir ambulan segera tanggap membuka pintu belakang ambulance, setelah itu dia membantu kami mengangkat peti mati sederhana yang terbuat dari kayu sengon atau albasia masuk ke dalam mobil ambulan.
Bau bahan kimia yang keluar dari peti ini sempat membuat aku mual..meskipun sudah terkafani dan tertutup rapat oleh peti mati, tapi bau bahan pengawet mayat ini masih juga tercium.
Setelah semua selesai dan pintu mobil ambulace ditutup…
“Yang ikut dengan saya siapa?” tanya sopir ambulance itu
“Saya saja pak”
“Sama saya juga pak” kata mbak Tina
“Maaf bu, kalau duduk di depan agak sempit lho ya… “ jelas sopir itu
“Mbak Tina bersama saya dan pak Hendrik saja mbak… mas Agus biar ada disana saja” kata pak Jay+
“Mas Agus bawa ponsel saya saja, agar nanti mudah kita komunikasi” kata pak Jay memberikan ponselnya
Jam lima lewat tiga puluh menit sore menjelang malam hari kami berangkat dari gedung kamar mayat.
Kota styrofoam ada di bagasi mobil pak Jay, sedangkan aku ada di ambulan bersama mayat yang akan kami belah untuk mengambil organ dalamnya.
Perjalanan menuju ke desa mungkin ditempuh dalam waktu lebih dari dua jam, berarti sampai disana sudah pukul delapan malam, lalu malam-malam gitu apa harus tetap dilakukan pembedahan mayat.
__ADS_1