
Pak Diran menyuruhku untuk mengetuk pintu rumah Solikin, karena katanya akan ada sesuatu yang menghampiri kita. Lha yang menghampiri kita ini dari dalam rumah atau dari luar rumah ini yang gak jelas.
Tapi aku turuti saja apa yang dikatakan pak Diran, dia lebih tau daripada aku yang hanya seperti ini saja.
Aku menuju ke depan pintu rumah Solikin, pintu rumah yang tertutup rapat dengan keadaan ruang dalam yang gelap, hanya ada cahaya kecil yang tadi terlihat dari jendela kamar rumah, hingga sekarang cahaya kecil yang kemungkinan cahaya dari lilin itu masih terlihat dari jendela kamar
Ketika aku sudah ada di depan pintu rumah dan akan mengetuk pintu rumah Solikin, tiba-tiba aku mendengar ada langkah kaki dari dalam yang berjalan menuju ke pintu rumah.
Aku ingin sembunyi…!
Tapi disini tidak ada tempat untuk sembunyi… dan terlambat sudah, pintu itu sekarang sudah mulai dibuka dari dalam.
Pintu rumah Solikin terbuka… wajah seorang perepuan yang aku tau sebagai istri dari Solikin muncul di hadapanku.
“P…permisi bu… p..pak Solikin ada bu?”
“Oh pak Agus…” raut wajah perempuan itu tidak nampak kaget, malah aku yang kaget dengan kemunculan istri Solikin yang tiba-tiba
“Ada apa pak Agus cari suami saya.. Bukanya suami saya ada di dalam penjara” kata istri Solikin dengan nada yang tenang, seolah dia tau bahwa aku datang dan akan menanyakan keberadaan suaminya
Pak Diran yang tadi ada di belakangku kemudian maju menghampiri aku dan istri Solikin yang ada di depan pintu rumah.
“Bu..ibu tidak usah berpura pura tidak tau dimana suami ibu berada… ayo antar kami ke kamar Solikin bu, rumah ini sudah tidak ada penjaganya, sudah kosong, penjaganya sudah saya bakar” kata pak Diran
“Antar kami ke dalam kamar Solikin bu, atau ibu akan mendapat masalah, kami sudah tau tentang Solikan dan Solikin bu. Asal ibu tau Solikin sudah mati dia tenggelam di sungai” kata pak Diran dengan suara datar
Wajah istri Solikin nampak tenang, dia seolah tidak kaget dengan berita tentang suaminya yang sudah meninggal karena tenggelam di sungai belakang hotel.
Seolah dia sudah mengetahui semua yang terjadi dengan Solikin.
“Tidak usah mencoba teriak untuk minta tolong warga bu, percuma… karena kami akan datang dengan polisi” kata pak Diran
“Maaf pak Agus dan bapak…. Saya sebenarnya sudah tau suami saya sudah tidak ada, dan saya lega dengan kematian suami saya”
“Dan saya memang sedang menunggu kalian atau siapa saja yang akan ke sini.. Saya sedang menunggu seseorang yang bisa menyelamatkan saya dan anak saya” kata istri Solikin.. Suara dia itu tenang dan aneh
__ADS_1
“Ha…? Maksudnya apa bu?” aku heran dengan apa yang dikatakan istri Solikin, tetapi tidak dengan pak Diran, wajah dia yang kaku tidak memperlihatkan kekagetan dan keheranan sama sekali
“Nanti saja ceritanya pak Agus.. sekarang kalian berdua masuk saja ke dalam, karena demit yang ada di dalam kamar mulai mengancam saya dan tentu saja anak saya yang ada di kota S sana…. iblis-iblis itu minta darah yang dijanjikan suami saya”
Heran?... jelas aku heran dan bingung, kenapa justru istri Solikin berpihak kepada kami dan menyuruh kami untuk masuk ke rumahnya, rumah yang dulu aku pernah datangi bersama mbak Tina ketika kami menghindar dari Burhan….
Heran… karena aku merasa ada yang nggak beres disini, bagaimana istri Solikin tau kalau suaminya sudah mati, maksudku dia seolah sudah tau kalau suaminya mati, dia tidak kaget sama sekali, bahkan dia mempersilahkan aku dan pak Diran untuk masuk ke dalam rumahnya
Atau jangan-jangan ini hanya jebakan saja….
Tapi pak Diran diam saja, apabila ini adalah jebakan harusnya pak Diran akan merasakan juga kan… tapi pak Diran sepertinya merasa baik baik saja dengan keadaan rumah ini.
Istri Solikin mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya… kemudian dia menutup pintu depan.
Gelap.. Tidak ada sinar sama sekali, yang ada hanya cahaya kecil yang kemungkinan besar adalah lilin yang ada di kamar yang tadi dia buka kelambunya.
Istri Solikin tidak masuk ke dalam kamar itu. Dia hanya ada di ambang pintu kamar yang hanya dipisahkan oleh kelambu yang sudah dia buka.
“L..Li..lin it..itu….” kata istri Solikin dengan tergagap dan dengan nafas yang tersengal sengal
“Lilin..lilin it..itu pak” ulang isri Solikin lebih mantap
“Lilin itu pak hihihihi…hihihihi” kata istri Solikin sambil tertawa lagi
“Badjingan..keluar kamu dari tubuh perempuan ini.. Atau saya binasakan kamu!” kata pak Diran kemudian memukul dahi istri pak Solikin hingga istri Solikin tersentak
“Hahahahaha…. Tidaaaak… kamu tidak akan bisa!” kata suara perempuan itu yang sekarang sudah berubah menjadi suara yang mirip mirip dengan suara Solikin.
“Hmm kamu Watuadem… ngapain kamu ada di dalam tubuh istrimu yang sama sekali tidak bersalah ini… keluar kamu dari sana dan masuklah ke alam mu..jangan bikin masalah disini” kata pak Diran dengan suara pelan
“Watuadem atau Solikin.. Terserah siapa namanya.. Tapi saya sudah bisa memegang intimu ketika tadi kamu lengah, dan sekarang kamu akan saya bakar”
“Hihihih bakar saya….dan perempuan ini akan mati!” guman istri Solikin yang sedang ada dalam pengaruh arwah Solikin
“Silahkan Solikin… karena sejatinya istrimu itu sudah mati, tidak ada nyawa lagi di tubuh istrimu… sekarang juga pergi baik-baik atau kamu akan saya kirim ke neraka!”
__ADS_1
Ketika pak Diran selesai berkata, tiba-tiba di dalam gelapnya ruangan rumah, perempuan yang sudah dalam keadaan dikuasai sepenuhnya oleh Solikin itu menerjang pak Diran.
BRAAAKK!
Pak Diran terjatuh karena diserang dengan tiba-tiba…
Kemudiaan tangan perempuan itu mencekik leher pak Diran… tenaga perempuan yang sudah dikuasai penuh oleh arwah Solikin itu terus berusaha mencekik leher pak Diran.
“Matikan lilin itu pak Aguuuss aarffghh!.... Cepaaaat!” teriak pak Diran yang berusaha melepas cekikan tangan istri Solikin
“Cepaaat paaak aarhhhggg huuukkkhhhh”
Lilin yang letaknya ada tengah kamar itu masih menyala dengan api yang tenang….
Pak Diran sedang bergulat di ruang tamu rumah Solikin… sedangkan aku.. Aku kebingungan antara mematikan lilin dan membantu pak Diran.
Tapi setelah pak Diran menyuruhku untuk segera mematikan lilin.. Aku terjang saja lilin yang ada di dalam kamar itu. Tetapi aku terpental ketika akan mencapai lilin yang ada di tengah ruangan.
Kuulangi lagi dengan sedikit lompat untuk menendang lilin….
“Aduurghhh pak Diran!… saya tidak bisa mamatikan lilin ini!”
“AARRGHHH AAAGHHH CARI CARA PAK AGUS!… SAYA SUDAH TIDAK BISA MENAHAN SETAN INI LAGI!”
Aku awali dengan berdoa..beberapa surat pendek yang aku sangat hafal aku lantunkan… termasuk ayat kursi yang entah bagaimana aku tiba-tiba bisa melantunkan dengan baik.
Kemudian aku terjang lagi lilin itu….
Bersamaan dengan lilin yang aku tendang.. Pak Diran bisa memukul dan menendang perempuan yang sudah kerasukan suaminya.
Perempuan itu terjengkang……mengerang
Entah erangan itu karena kesakitan atau karena dia akan mengerahkan kekuatannya….
Tapi lilin itu tidak mati… meskipun sudah aku tendang lilin itu masih nyala meskipun posisi lilin itu sudah terjatuh dari tempatnya
__ADS_1
Perempuan itu terjengkang hanya tiga meter di depan pak Diran, kemudian perempuan itu merubah posisinya, sekarang dia merayap… dia bergerak sangat pelan.
“Siap-siap pak Agus.. kalau saya katakan sekarang, maka injak lilin itu!” kata pak Diran dengan berbisik