RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
66.WADUH KOK GINI


__ADS_3

Aku tidak pedulikan pak Solikin yang tiba-tiba ada di depanku, aku tidak peduli apakah dia nyata atau hanya ghaib saja!


Aku yakin yang tadi ada di ruang tamu itu hanya suruhan atau pekerjaan orang yang tidak suka denganku. Dan pasti setelah aku kencing orang itu akan hilang dari ruang tamu!


Pokoknya aku harus buang air kecil dulu ke kamar mandi!


Kutinggalkan pak Solikin yang sedang duduk di ruang tamu, dan sedang tersenyum seolah olah sedang menakutiku dengan senyum sintingnya  itu.


Kubuka pintu kamar mandi  yang selalu tertutup….


Kamar mandi yang temaram dan lebih tepatnya gelap ini seolah merupakan tempat yang paling enak, karena akhirnya aku bisa melepaskan urin yang sudah menumpuk di kandung kemih!


ketika akan kuambil air yang ada di bak mandi…..


“Lho kok kosong!...”


Kenapa air di bak mandi ini tinggal beberapa cm dari dasar bak mandi?


Apa tadi malam Burhan sempat mandi disini sehingga air di bak mandi ini kosong, atau ada kebocoran di bak mandi ini?


Besok pagi saja aku suruh burhan untuk melihat apabila ada kebocoran di dasar bak kamar mandi, biar ditambal dengan semen saja besok.


Aku buru-buru ke ruang tamu lagi untuk menemui pak Solikin yang tadi ada di ruang tamu….


Tapi ternyata ruang tamu ini kosong tidak ada siapapun. Sunyi sepi saja keadaan di ruang tamu, kecuali lampu petromak yang masih menyala terang.


“Betul kan apa yang sudah kuperkirakan. Itu bukan pak Solikin sebenarnya!”


Seketika bulu kuduk ku berdiri….


Siapa lagi yang mendadak ada di ruang tamu dan tiba-tiba mendadak hilang seketika kalau bukan mahluk halus!


Aku tidak peduli lagi dengan yang namanya hantu dan sejenisnya, aku segara masuk kamar dan berusaha agar tidak peduli lagi dengan yang ada disini.


Aku duduk di tepi tempat tidur karena  rasa kantuk yang sudah hilang sama sekali.


Sebenarnya apa tujuan dengan adanya ghaib yang menyerupai pak Solikin itu, terus terang tadi aku sempat mengira dia benar-benar pak Solikin.


Aku sempat mengira dia juga punya kunci pintu rumah ini sebelumnya, tapi setelah tadi dia ternyata tiba-tiba hilang tak berbekas, aku jadi yakin kalau dia benar-benar bukan pak Solikin.


Lebih baik kubangunkan Burhan saja…. lama-lama aku jadi takut juga dengan keadaan ini.


“Mas Burhan….”


“Mas…. Mas Burhan….”


Tidak ada jawaban dari dalam  kamar Burhan, pun tidak ada suara orang ngorok di dalam nya….


Sunyi senyap tidak ada apapun di dalam kamar Burhan ketika kuberanikan diri untuk menempelkan telingaku di daun pintu kamar Burhan.


“Kamar ini kosong!.....”


“Kemana Burhan….?”

__ADS_1


“Apakah dia sekarang sedang ada di luar rumah?”


“Apakah dia sedang bersama dengan pak Solikin diluar rumah?”


“Tapi apa secepat itu mereka berdua pergi?”


Rasa takut mulai menjalari tubuh….


Aku mulai merasa bahwa aku sendirian lagi di rumah yang tiba-tiba terasa mengerikan .


Tapi tidak papa meskipun sendirian, asalan lampu petromak dan lampu kamar tetap nyala.


Aku kembali  ke kamarku….


Kurebahkan badanku dan aku mulai memaksa diriku agar ngantuk dan tidur. Aku berusaha memejamkan mataku sebisa mungkin.


“Jangkreeeeek….. gak bisa tidur sama sekali, asyuuu!”


Malah sekarang yang ada adalah tekanan dari perut menuju ke area pembuangan besar yang sangat amat terasa.


Tekanan di perut yang perlahan lahan mulai mengancam ku….


Semakan kutahan, semakin berkeringat tubuhku dan semakin kencang tekanan itu.


“Jangkrek saiki malah mules c*k!”


Aku mencari tas kresek tempat tadi aku bawa botol air mineral ukuran besar, tetapi sama sekali tidak kutemukan.


Aku mencari alternatif  lain dengan cara mengantongi sebuah batu…


Batu kali berwarna abu-abu kehitaman itu sudah masuk ke kantong celana pendekku….


Satu menit… hingga lima menit aku masih bisa bertahan dengan keadaan perut yang mules, tetapi menit setelahnya sudah tidak ada daya lagi untuk menahan.


Tidak ada tas kresek, tidak ada air  di kamar mandi, kloset tidak bisa digunakan maka…..


“Sekarang juga aku harus ke jhamban…!”.


Tidak ada rasa takut, tidak ada merinding-merinding, tidak ada pikiran tentang hantu.


Aku mengambil senter kecil dan kunci rumah yang banyak itu….


Setelah mengunci pintu rumah dan selanjutnya pintu pagar,  tanpa rasa takut aku berlari kecil menuju ke arah pinggir sungai di bawah pohon beringin besar!


Sinar  lampu senter bergoyang goyang mengikuti arah jalanku, hingga aku sampai juga di jhamban pinggir sungai.


Aku duduk di kotak ajaib yang banyak berjasa bagi orang-orang yang ada di rumah penggergajian.


lampu senter dimatikan untuk menghemat baterai, untungnya sekarang bulan sedang bersinar terang tanpa ada awan sama sekali.


Aku memusatkan pikiran agar bisa konsentrasi penuh…..


…tap…tap….tap…. kresek…kresek…kresek…

__ADS_1


Janc***k suara langkah kaki, suara langkah kaki yang menginjak daun kering yang berserakan di bawah  pohon beringin.


Siapa itu yang berjalan malam malam gini……


Kalau tak dengarkan, suara langkah kaki itu keliatnya berasal dari desa sebelah sungai menuju ke rumah penggergajian!...


Jantungku berdebar keras, dan aku berusaha untuk menahan tekanan yang ada di perut agar jangan keluar dulu, aku tidak mau orang yang sedang berjalan itu mendengar suara aneh yang kukeluarkan!


Atau bahkan mencium bau aduhai yang rencananya akan kukeluarkan ini….


Tapi tiba-tiba langkah kaki itu  berhenti di depan jhamban pinggir kali ini….


Ada seseorang yang sedang berdiri di depan jhamban tempat aku sedang jongkok dan menahan dengan sekuat tenaga tekanan dari dalam perut yang terus menerus menekan dengan sadisnya.


Keringat dingin mulai membasahi kepala hingga wajahku… rasa mules yang sangat menekan perut ini semakin menjadi jadi!.


Aku berusaha menahan sekuat tenaga agar yang akan keluar dari perutku ini bisa di delay barang beberapa menit hingga suara langkah kaki itu makin menjauh.


Hingga detik demi detik tidak terdengar suara langkah kaki, yang ada hanya detak jantung dan tetesan keringatku di air kali.


Tapi untungnya tidak lama kemudian orang yang ada di sekitar jhamban ini  mulai berjalan lagi….


Orang yang tadi berdiri di depan kotak ajaib ini melangkah menuju ke arah rumah penggergajian, aku bisa mendengar langkah demi langkah yang semakin menjauh.


Kini saatnyaaaaa….. kini saatnya ku keluarkan perlahan-lahan dengan penuh ketenangan dan tanpa suara apa yang dari tadi menekan bagian perut…..


Perlahan lahan aku mengendurkan otot-otot dhuburku, kemudian secara perlahan lahan kupersilahkan apa yang ada di dalam perutku ini untuk keluar dengan tenan dan berenang di gelapnya malam.


EEEEEGGHHHH…..BRRRRRHHHTTTTTSSSSHHH…PPPRRRSSSTTT


Juagnkreeeeeeek.. suarane asyuuuuu!


Aku bingung, suara yang keluar sangat keras, aku harus segera pergi dari sini atau orang itu akan kembali mencariku.


Benar juga… suara langkah kaki itu tiba-tiba  berhenti…


Tapi suara langkah kaki yang menjauh itu hanya berhenti begitu saja….


Tidak ada suara langkah kaki mendekat atau suara langkah kaki menjauh…


Hanya berhenti begitu saja….


“S..SIAPA ITU!.....” teriak suara yang kemungkinan orang yang tadi ada di depanku


Suara itu tidak aku kenal sama sekali, suara itu asing di telingaku, bahkan logatnya pun kelihatannya bukan dari daerah sini.


Siapa ya dia… dan apa yang sedang dilakukan di sekitar sini…..


Aku tetap jongkok di kayu yang dibuat menyilang di atas beberapa kayu yang menopang.. aku jelas akan mati kutu apabila orang itu mendatangi jhamban ini.


Aku hanya bisa diam tanpa berani bergerak sama sekali…


Tapi tidak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki setengah berlari dari arah desa sebelah sungai menuju ke rumah penggergajian.

__ADS_1


“Maaf Mas, tadi ada yang ketinggalan di rumah….. kita tetap sesuai rencana semula ya”


__ADS_2