RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
237. TAS WATUADEM


__ADS_3

Dari awal aku sudah curiga dengan tas yang dibawa Watuadem, karena tas ransel itu kelihatannya berat. Pooknya agak berbeda dengan travel bag yang biasanya.


Kalau hanya untuk bawa baju tas itu tidak akan terlihat berat seperti itu, tapi pada awalnya aku gak memikirkan tas itu, karena aku tidak memikirkan isi tas itu sama sekali.


Tetapi ketika pak Hendrik berkata ada sesuatu di dalam kamar itu, aku jadi curiga dengan tas yang dibawa oleh Watuadem.


Pak Hendrik sedang menuju ke halaman belakang untuk mengalihkan Watuadem agar pak Diran bisa masuk ke sini dan mendeteksi apa yang ada di dalam tas Watuadem.


“Mas… Tina agak takut dengan Watuadem”


“Tenang mbak, saya akan ada disini bersama mbak Tina, biarkan Watuadem ditempel pak Diran atau pak Hendrik supaya dia tidak bisa melakukan apapun disini.


Pintu kaca pembatas ruangan utama dengan bagian belakang terbuka, pak Diran muncul dari luar dan berjalan agak cepat menuju kemari.


“Jiang, tolong awasi  pintu belakang, kalau Watuadem kesini tolong kasih tanda saya”


“Pak Agus kamu saya tugasi untuk masuk ke dalam kamar dan mengambil benda yang nanti akan saya deteksi dulu”


“Bu Tina… harap tenang saja di balik meja itu”


“Nanti saya minta tolong ke bu Tina untuk menutup pintu kamar dan membukakan pintu ruang utama ini ketika pak Agus akan keluar membawa barang yang ada di dalam kamar”


“Apabila Watu masuk dan mencari saya dan pak Agus, bilang saya kami berdua sedang patroli keluar hotel”


Pak Diran kemudian duduk bersila di depan pintu kamar yang ditempati Watuadem, kemudian tangan pak Diran sendakep (bersedekap), kemudian sejenak pak Diran memejamkan matanya.


Sepertinya dia sedang mendeteksi apa yang ada di dalam kamar ini, ada sekitar satu menit dia bersedekap dan menutup matanya, beberapa saat kemudian dia membuka mata..


“Pak Agus… masuk ke dalam, di dalam tas Watuadem ada dua  buah kelapa tua yang sudah tidak ada airnya lagi”


“Kelapa itu berisi ratusan setan, ambil kelapa itu sekarang dan langsung ikuti perintah saya”


“Tapi ingat, jangan sentuh buah kelapanya, tapi sentuh tunasnya saja, angkat kelapa itu melalui tunasnya… sekarang ambil”


“Cepat ambil sebelum pemiliknya kesini” kata pak Diran


Waduh aku dapat tugas yang berat, tugas yang mengerikan untuk mengambil kelapa tanpa harus menyentuh buah kelapanya, tapi harus menyentuh tunasnya saja.


Kubuka pintu kamar sebelah kamar mbak Tina….


Gelap dan agak gimana gitu, padahal aku biasanya masuk ke kamar itu tidak ngerasa apa-apa, tapi kali ini rasanya lain, seperti ada sesuatu yang sedang memandang atau melihat aku dengan penuh kebencian.


Untungnya ketika pintu ini kubuka sinar yang dari ruang tamu masuk ke dalam kamar, sehingga aku bisa dengan leluasa mencari apa yang dimaksud pak Diran.


Travel bag berbentuk tabung itu ada di ujung kamar….segera kuhampiri  travel bag milik Watuadem…


Ketika kutoleh kebelakang, ternyata pak Diran masih duduk bersila sambil bersedekap dan menutup matanya.


Untung pak Hendrik bisa menemani dan mengajak bicara Watuadem yang ada di  halaman belakang hotel.


Kuhampiri tas tangan yang masih tertutup rapat resletingnya..


Pelan-pelan kubuka resleting tas itu, dan ternyata apa yang dikatakan pak Diran benar… di dalam tas itu berisi dua buah kelapa yang sudah tumbuh tunas, yang artinya kelapa itu sudah tua.


Perlahan-lahan kuangkat kelapa itu dengan cara memegang tunasnya..


“Jangkrek.. Abote…!”


Kelapa yang ukuranya tidak besar karena tua dan menyusut itu ternyata berat sekali. Rasanya kayak angkat barbel yang ukuran  sepuluh kg.


Aku menoleh ke arah pak Diran yang masih diam sendakep dengan wajah yang mulai berkeringat… ternyata dia sedang berusaha melakukan sesuatu dengan dua buah kelapa ini.


Kuagkat sekali lagi dua buah kelapa yang bentuknya sudah tua…


Uuuuggghh lebih ringan daripada tadi. Akhirnya dua buah kelapa itu berhasil aku angkat….tapi sebelum kubwa keluar kelapa itu kutaruh di lantai untuk menutup resleting tas lagi….

__ADS_1


Perlahan lahan aku berjalan keluar pintu kamar…. Hingga aku sudah ada di sofa ruang tamu.


Mbak Tina kemudian menutup pintu kamar Watuadem.


Aku menoleh ka pak Diran yang sedang berdiri dari posisi duduk bersila tanpa merubah posisi sendakepnya…


Pak Diran berjalan menuju keluar hotel melalui pintu depan,  setelah mbak Tina membukakan pintu depan….


Aku segera keluar ruang utama diikuti oleh pak Diran yang masih dalam posisi sendakep atau bersedekap.


“Kita menuju ke samping pos penjagaan dulu pak” kata pak Diran


Dua buah kelapa tua yang sudah keriput dan berwarna coklat ini tiba-tiba bergerak gerak ketika aku semakin dekat dengan pos penjagaan dimana pak Diran biasanya berjaga sebelum berkeliling ke hotel.


Semakin dekat semakin keras goyanganya, sepertinya kelapa ini menolak apabila dibawa mendekati pos pak Diran


“Tahan pak Agus.. tahan terus terus jangan sampai jatuh… ratusan setan alas itu berusaha keluar dari dalam kelapa”


“Tahan terus hingga pak Agus ada di sebelah pos penjagaan saya…..” kata pak Diran dengan suara pelan namun berat, mungkin pak sedang mengerahkan tenaganya untuk menahan apa yang ada di dalam kelapa ini.


Aku berusaha menyeimbangkan cara jalanku hingga aku sudah ada di sebelah pos penjagaan pak Diran..


Dua buah kelapa ini terus bergerak dan semakin bergerak liar manakala aku sudah sampai di sebelah pos penjagaan.


“Taruh dua buah kelapa itu di atas tungku arang yang sudah saya siapkan” kata pak Diran tanpa merubah posisi sendakepnya


Di sebelah pos itu ada sebuah tungku arang yang biasanya digunakan bakul bakso ketika bakul bakso belum menggunakan kompor minyak tanah.


Dan arang dalam tungku itu ternyata dalam keadaan nyala membara… mungkin memang sudah disediakan pak Diran sebelumnya.


Kedua kelapa ini semakin bergerak liar ketika aku akan menaruh di atas tungku yang arangnya masih menyala…


Kekuatan ghaib kelapa ini semakin menjadi jadi, dan berat kelapa ini bertambah, kulihat pak Diran juga semakin payah dan berkeringat.


“Cepat taruh dua buah kelapa itu di atas sana pak Agus… kekuatan saya semakin berkurang untuk menahan beban dari isi kelapa itu” kata pak Diran


Kelapa itu seakan akan terkunci di atas tungku yang arangnya semakin menyala, dan sekarang dua buah kelapa itu diam, tidak bergerak sama sekali, dan mulai terbakar perlahan-lahan.


Kalau secara nalar, untuk membakar kelapa yang terdiri dari lapisan sabut kelapa itu tidak akan mudah terbakar, tetapi berbeda dengan yang ini, tanpa diberi minyak tanah, kedua kelapa itu terbakar dengan sendirinya.


Setelah kedua kelapa itu terbakar, pak Diran melepas posisi sendakepnya… pak Diran nampak lemah dan sangat berkeringat.


“Pak Agus…untuk sementara waktu kita disini dulu saja.. Saya butuh pemulihan tenaga dan menghilangkan keringat ini sebelum masuk ke dalam hotel”


“Sembari kita lihat dua buah kelapa tua yang penuh setan jahat yang sudah saya bakar termasuk ratusan setan yang ada di dalamnya juga” kata pak Diran


“Iya pak… saya juga disini sebentar, rasanya lemas sekali pak…. Kelapa tadi itu sangat kuat tenaganya pak”


“Iya pak Agus… mulai dari dalam kamar hingga disini, saya berusaha untuk menahan agar yang ada di dalam itu tidak keluar paksa dan masuk ke tubuh pak Agus”


“Tadi pak Agus saya larang untuk memegang buah kelapanya kan, karena dengan sekali memegang buah itu, maka ratusan demit itu seolah mendapatkan kunci untuk keluar dari dalam kelapa yang mengurungnya”


“Dan selama perjalanan menuju ke tungku api itu, mereka berusaha mendobrak kurungan yang ada di sekeliling buah kelapa”


“Pak Diran, sebenarnya fungsi dari buah kelapa ini apa, dan cara penggunaanya bagaimana?”


“Ini trik kuno untuk memindahkan demit dari suatu tempat ke tempat yang kita harapkan, dan cara pemindahan seperti ini sangat jitu, karen demit itu akan langsung tepat sasaran, daripada pemindahan secara ghaib seperti ilmu santet dan sejenisnya”


“Cara kerjanya… si Watu nanti akan menaruh kelapa ini di suatu tempat, kemudian dia melepas demit yang ada di dalamnya, setelah itu yah pak Agus akan tau kelanjutanya kan”


Ketika kami sedang melepas lelah dengan duduk-duduk di kursi panjang depan pos penjagaan, dan setelah dengan cepatnya kelapa itu hangus terbakar, pintu depan ruang utama terbuka…


Watuadem keluar dari ruang utama dan diikuti oleh pak Hendrik yang tidak jauh di belakangnya.


Watuadem dengan tergesa gesa mendatangi kami berdua yang sedang duduk santai di kursi depan pos.

__ADS_1


Wajah dia menunjukan  kebingungan.. Dia menatap kami berdua seakan akan kami ini sudah berbuat salah dengan dia.


Aku rasa dia tadi dari kamarnya dan mencari kelapa yang dia bawa, dan ternyata kelapanya tidak ada, sehingga dia menyusul aku dan pak Diran yang sedang melepas lelah.


“Ada apa pak Watuadem kok kesini?” tanya pak Diran dengan santainya sambil menghisap rokoknya


“Lho ada pak Hendrik juga, belum tidur pak Hendrik?” sapa pak Diran dengan ramah


“Iya pak Diran, saya kan selalu kesulitan untuk tidur malam pak, jadi yah saya temani saja pak Watuadem hehehe”


Watuadem tidak menjawab pertanyaan pak Diran, mata dia tertuju pada anglo atau tungku pembakar yang ada di belakang kami.


Dan untungnya dua buah kelapa itu terbakar dan hangus dengan cepat, berbeda jauh dengan kelapa pada umumnya yang sulit untuk dibakar


Mata Watuadem terus memandang tungku pembakar atau anglo yang ada di belakang kami.


“Pak Diran… tungku itu gunanya untuk apa?” tanya Watuadem


“Saya gunakan untuk merebus air untuk bikin kopi atau teh” kemudian pak Diran mengambil sebuat ceret atau poci yang terbuat dari tanah liat. Beda dengan poci yang biasanya terbuat dari logam


“Kalau merebus air menggunakan dispenser rasanya lain pak Watu.. jadi saya bawa saja anglo dan ceret ini hehehe”


“Memangnya ada apa to pak Watu, kok kayaknya bapak sedang bingung gitu?” tanya pak Diran


“Atau mau saya bikinkan kopi menggunakan air dari ceret ini… enak lho pak, rasanya khas gitu” tawar pak Diran kepada Watu yang masih diam membatu sambil melihat anglo atau tungku yang baranya masih nyala.


“Tidak usah pak… saya akan balik ke kamar saja, saya agak ngantuk pak” kata Watuadem


“Pak.. bapak Watuadem ini disini tugasnya kan untuk membantu pak Diran, bukan untuk berlibur disini pak… jadi bapak ya seharusnya jaga malam juga, saya sebagai room boy yang harusnya tidur pak” aku sudah mulai emosi ketika dia ingin istirahat tidur


“Malam ini aman pak Agus, santai saja pak, tidak akan terjadi apa-apa disini” jawab Watuadem kemudian berbalik arah dan meninggalkan kami bertiga di pos penjagaan pak Diran


“Gimana kalau besok pagi saya telepon pak Jay, akan saya katakan bahwa pak Watu malah istirahat dan tidak melakukan apapun… dan kebetulan pembicaraan ini disaksikan tamu langganan disini yang bernama pak Hendrik”


Watuadem berhenti melangkah… kemudian dia menoleh ke arah kami bertiga dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Aku tau dia tidak akan berani ketika kuacam akan aku laporkan ke pak Jay.


“Saya akan jaga di belakang saja…” jawabnya singkat


“Kalau begitu nanti pak Diran juga akan ke belakang setelah pak Diran patroli di sekitar sini” kataku lagi


Watu tidak menjawab dan tidak menoleh ke arah kami sama sekali, dia tau kalau posisi dia tidak bisa melawan kami berdua dan disaksikan pak Hendrik juga.


“Mas… dia kelihatannya marah” bisik pak Hendrik setelah Watu jauh dari posisi kami bertiga


“Biar saja pak… dua buah kelapa tua yang ada di dalam tasnya sudah kita bakar di atas tungku itu pak” kata pak Diran


Kemudian pak Diran menceritakan bagaimana kami berdua membawa dua buah kelapa tua yang sangat berat dari kamar Watu hingga di samping pos penjagaan untuk dimusnahkan.


Pak Hendrik mendengarkan cerita pak Diran dengan serius.


“Kalian berdua waktunya sangat pas untuk mengambil dan membakar kelapa itu, karena dari tadi waktu saya dan Watu ada di belakang, dia nampak gelisah” kata pak Hendrik


“Sesekali dia melihat ke belakang, ke ruang tamu, tetapi kan keadaan ruang tamu dibatasi oleh pintu kaca buram, sehingga di posisi saya dan Watu yang ada di tengah taman tidak bisa melihat aktifitas yang ada di dalam ruang tamu itu”


“Ditambah lagi si Jay hihihihi, Jay itu menaruh kursi kayu dan duduk di depan pintu kaca, saya paham Jay sedang berusaha menghalangi Watu apabila Watu nekat masuk ke dalam”


“Ketika Watuadem minta masuk ke dalam, tentu saja saya halangi… saya berusaha ajak dia ke bagian belakang dekat sungai, saya bilang saja bahwa saya melihat penampakan genderuwo di bagian belakang sana”


“Sebentar…. Pada awal kenalan dengan dia, saya katakan bahwa saya adalah tamu yang sudah tiga malam nginap disini. Itu untuk menekankan bahwa saya adalah customer langganan yang sudah cocok dengan situasi hotel ini”


“Dan tentu saja Watu senang mendengar apa yang saya katakan itu, dia juga cerita bahwa dia dekat dengan pemilik hotel ini, kemudian dia memperkenalkan diri sebagai tenaga bantuan untuk mengamankan wilayah ini”


“Disini saya mulai atur strategi  bagaimana caranya agar si Watuadem itu tidak masuk ke ruang tamu hotel ketika pak Diran dan mas Agus sedang melakukan sesuatu disana.


“Saya bilang saja kalau di belakang sana saya kadang melihat ada genderuwo hehehe, dan dia tidak bisa menolak permintaan saya untuk mengecek bagian belakang hotel, meskipun saya tau dia saat itu sedang gelisah”

__ADS_1


“Sebagai tenaga tambahan keamanan tentu saja dia tidak bisa menolak ajakan customer loyal macam saya untuk mengecek bagian belakang hotel kan hehehe”


__ADS_2