
“Jelas tidak ada yang sembunyi disini mas, disini bau bangkai!.. ayo cari di tempat lain saja!”
“Sebentar pak, saya yakin mereka ada disini… tadi saya jelas sekali lihat lampu belakang dan cahaya lampu depan motor mereka pak”
Sialan… mereka berdua ini siapa ya, tapi dari suaranya aku pernah tau, hanya saja sayangnya mereka bicara sambil berbisik…
Coba kalau mereka tidak berbisik, mungkin aku tau suara siapa itu.
Kulihat Tina merundukan kepalanya diantara dua pahanya, dia sama sekali tidak berani bergerak, aku tau dia sangat ketakutan.
“Pak, saya akan lihat di belakang semak itu, siapa tau mereka berdua ada disana pak”
“Sudah… tidak usah mas, saya yakin tidak ada orang yang tahan dengan bau busuk ini!”
“Dan saya yakin mas, bau busuk ini bukan dari makhluk nyata, saya yakin bau ini dari makhluk tak kasat mata!”
“Sudahlah jangan mengganggu mahluk ghaib disini, saya yakin apa yang kamu lihat itu hanya ilusi saja, karena mata saya tidak melihat apapun disini”
“Lebih baik kita cepat pergi dari sini saja lah mas”
“Ya sudah lah pak, saya juga makin gak tahan sama bau busuk bangkai ini, semakin dekat dengan semak itu baunya semakin tajam.
“Eh apa mungkin disemak semak itu ada mayat ya pak?”
“Sudahlah mas, tidak usah berandai andai…kita harus cepat pergi dari sini!”
“Kita tidak usah mengurusi hal-hal yang aneh seperti ini…Ingat kita ini di dalam hutan, jadi hal-hal seperti ini pasti akan sering kita temui!”
Sayangnya mereka berdua tetap berbicara dengan cara berbisik, sehingga aku tidak jelas siapa mereka itu. Meskipun tadi jarak mereka dengan aku dan Tina hanya dibatasi oleh semak belukar saja.
Akhirnya tidak lama kemudian suara motor yang berisik itu berbunyi lagi, mereka meninggalkan kami berdua yang masih meringkuk di semak belukar.
“Mbak Tina, mereka sudah pergi….”
“Mbak Tina… ayo kita ikuti mereka sekarang”
“S..sebentar mas, kaki Tina kram ini mas”
“Dari tadi jongkok, tadi Tina tidak berani bergerak sama sekali, akibatnya kaki Tina kram… duh sakit sekali mas”
“Sebelah mana yang kram, sini tak pijatnya pelan-pelan sini…”
“Yang kram sekarang pindah di dahdah Tina mas, tolong pijitin dahdah Tina mas hihihi”
Tina menarik kakinya dan kemudian membusungkan dahdahnya yang berukuran gak karuan itu di depan wajahku.
“Ah sialan mbak Tina ini…ngerjain saya ya”
“Gak lah mas, memang tadi kaki Tina itu kram, tapi sekarang udah mendingan hehehe”
__ADS_1
“Ayo kita jalan lagi mas, tapi gimana… kita jalan kaki atau naik motor enaknya mas?”
“Sebenarnya lebih cepat naik motor mbak, hanya saja mesin motor mbak Tina akan terdengar mereka yang ada disana itu”
“Jarak dari sini ke rumah itu kira-kira masih jauh apa nggak mas?”
“Masih lumayan sih mbak, hanya saja kalau kita gerak cepat kemungkinan tidak akan lama kok, karena saya yakin motor mereka akan berjalan-pelan di depan sana…”
“Karena di depan saya jalannya makin rusak mbak”
“Ya sudah kita jalan kaki saja mas, tapi gimana dengan motor Tina mas?”
“Saya rasa motormu disana akan aman saja mbak, tidak akan ada yang tau bahwa disana ada motor”
Bau harum bunga tiba-tiba muncul lagi, sekarang aku semakin tidak takut dengan bau ini…
Aku yakin bau harum bunga ini berasal dari makhluk ghaib yang telah membantu kami berdua tadi.
“Mas bau harumnya muncul lagi..”
“tapi bau harum ini sekarang rasanya malah membuat Tina merasa tenang mas, Tina sudah tidak merasa takut seperti tadi lagi”
“Iya mbak Tina, bau harum bunga ini mungkin yang membantu kita berdua tadi mbak”
“Ya sudah, kalau begitu kita jalan sekarang saja mbak, kita jalan agak cepat saja”
“Oh iya to? ya wis, biar saja ambil dulu aja senternya mbak”
Kami berjalan agak cepat di jalan yang berbatu batu…
Suara knalpot motor terdengar lagi dari posisi kami berdua yang berjalan lebih cepat…
Di kejauhan aku bisa melihat cahaya merah lampu belakang motor yang bersuara bising itu.
Sorot lampu depan motor itu bergoyang ke kiri dan kanan dengan liar, karena kemungkinan besar yang mengendarainya sedang berusaha menghindari batu besar dan lubang yang banyak di depan sana.
“Tuh kan mbak, motor itu berjalan pelan sekali kan, karena disana banyak batu besar dan lubangnya, kan sayang kalau pakek motornya mbak Tina kalau kita naik motor ke sana”
“Iya mas, bener juga, untung motor Tina tidak kita bawa ke sana ya mas”
Jarak antara kami berdua dengan motor yang ada di depan mungkin hanya beberapa belas meter saja.
Karena motor itu sekarang berjalan perlahan lahan untuk menghindari batu batuan yang tajam.
Aku dan Tina semakin dekat dengan motor yang ada di depanku, tetapi hingga sampai detik ini aku belum bisa melihat siapa saja yang ada di atas sadel motor itu.
“Mas… Tina merasa salah satu orang yang ada di atas motor itu pak Wandi deh mas”
“Gimana kamu bisa mengira seperti itu mbak?”
__ADS_1
“Karena tadi ada yang dipanggil ‘pak’ dan juga ada yang dipanggil ‘mas’”
“Jadi yang membonceng itu masih muda dan yang dibonceng itu sudah tua mas”
“Wah tebakan yang gak masuk akal blas mbak hehehe”
Beberapa kali motor itu kesulitan dalam bermanuver di jalan yang jelek, beda dengan kemarin malam ketika aku mengalami kejadian yang sama.
Ataukah karena saat ini motor itu digunakan berboncengan….
Tapi mana aku tau yang kemarin itu berboncengan atau sendirian, aku kan tidak lihat motor itu sama sekali.
“Mas kita stop disini dulu saja, Tina rasa kita sudah terlalu dekat dengan motor yang sedang kesulitan menghindari batu dan lubang itu”
“Iya mbak, lagipula kayaknya kita sudah seberapa jauh lagi dengan rumah deh, coba lihat di sebelah sana itu ada cahaya lampu petromak dari jendela depan rumah”
“Mana mas…?”
“Coba lihat arah kiri mbak, Jalan di depan itu nanti berbelok ke kiri”
“Oh iya mas, tapi itu masih jauh lho,...eh gimana kalau kita potong jalan lewat hutan mas, kan lebih cepat sampai disana”
“Hehehe jangan mbak, disana itu banyak daun kering di atas tanah yang lembab, kita mana tau di bawah daun itu ada hewan melatanya”
Ketika aku dan Tina memutuskan untuk stop mengikuti motor yang ada di depan, mendadak bau wangi bunga itu muncul lagi.
Bahkan bau wangi bunga itu kadang berganti-ganti wanginya, kadang bau bunga kamboja, dan kadang bau wangi yang aneh sekali.
“Mas.. bau wangi bunga ini muncul lagi, tapi bau wanginya ini beda-beda ya mas?”
“Iya mbak Tina… ndak papalah selama tidak mengganggu kita, bahkan sesuatu itu kan tadi menolong kita juga mbak”
“Ayo kita jalan lagi mas, kayaknya motor itu sudah mulai normal lagi jalannya, di sebelah sana jalannya apa udah tidak rusak mas?”
“Iya mbak Tina, jalan disana itu tanah padat”
Kami berjalan agak cepat daripada sebelumnya, karena kulihat motor itu mulai berjalan lagi dengan normal ke rumah penggergajian yang tidak bisa dibilang dekat jaraknya.
Tetapi ada yang aneh…
Sebelum sampai di depan rumah, mungkin sekitar beberapa belas meter dari rumah penggergajian, motor itu berhenti.
Kemudian mesin motor itu dimatikan!
Setelah sekitar satu menit mesin motor itu mati, dalam keadaan gelap gulita kemudian salah satu dari mereka menyalakan senter.
“Mas… dua orang itu sekarang berjalan kaki, Sebenarnya apa maunya mereka itu…”
“Kalau mereka teman Burhan, kenapa kelakuannya sepertinya mencurigakan gitu mas?”
__ADS_1