
Untung tidak ada yang bereaksi dengan teriakanku, karena teriakanku bertepatan dengan suara pukulan.
Bertepatan dengan suara pukulan orang itu ke arah Wito dan Yetno, hingga Wito dan Yetno jatuh dan tidak bergerak sama sekali, nggak tau mereka mati atau apa nggak.
Setelah memukul Wito dan Yetno dengan sadis, aku bilang sadis…karena dengan satu pukulan saja bisa membuat dua orang itu jatuh dan tidak bergerak sama sekali, kini orang itu berjalan dan berdiri di belakang Paijo.
Aku masih penasaran dengan orang yang sedang berdiri di belakang Paijo, seberapa besar tubuh orang itu hingga punya tenaga yang sangat kuat untuk memukul Yetno dan Wito.
Saat ini orang itu masih memegang balok kayu besar, dan siap untuk menunggu perintah dari Paijo.
Hmm aku curiga apakah orang itu anak buah Paijo yang tadi mengejar pak Hari waktu ada di pinggir sungai?
Benar-benar sadis kalau dilihat dari cara memukulnya tadi…. untung kamera milik pak hari ini masih bisa merekam kejadian pemukulan tadi.
“Solikin… anak buahmu sudah kami lumpuhkan, sekarang kamu harus kami tahan atas kepemilikan dan sebagai bandar besar obat-obatan terlarang hehehe”
“Eh salah.. maaf salah Solikin… kamu bukan sebagai pemilik lagi, tapi kamu sudah sebagai calon korban..ya calon tumbal lebih tepatnya” kata Paijo
“Bro.. ada persediaan borgol?” tanya Solikin pada orang yang ada di belakangnya”
“Ada Bro.. biar saya borgolnya dia, kamu tetap todongkan senjatamu ke Solikin Bro”
Orang itu berjalan pelan ke depan untuk menghampiri Solikin….
Balok kayu yang ukurannya besar itu dia taruh di tanah dekat dengan kaki Paijo yang masih menodongkan pistolnya.
Pelan-pelan aku bisa lihat orang yang dengan sadis memukul Wito dan Yetno… ternyata orang itu adalah..
“Ya ampun…. dia pak Hari!”
Bagaimana mungkin!....
Bagaimana mungkin dia itu pak Hari… bukanya dia sudah ditembak oleh anak buah Paijo!
Kenapa dia ada disini!, kenapa dia sekarang bersama Paijo!.. aku bingung!
Pak hari yang tubuhnya kerempeng dengan kacamata tebal yang lebih tepat sebagai kutu buku.. tetapi dia dengan sadisnya bisa memukul wito dan Yetno hingga dua orang itu tidak bergerak sama sekali.
Aku masih belum percaya kalau yang aku lihat ini adalah pak Hari…teman atau sahabat dari dokter Joko.
Hari memborgol tangan Solikin…. Solikin hanya bisa pasrah ketika tau bahwa anak buahnya sudah dilumpuhkan Hari.
Aku nggak tau apa lagi yang harus kuperbuat, apakah sebentar lagi ada Burhan juga yang ikut dalam kelompok mereka ini?
Mengingat karena di dalam kamera milik Hari, ada juga foro Burhan selain foto Paijo.
“Bro.. yang di sungai sudah kamu bereskan?” tanya Paijo
“Sudah Bro.. ayo lanjut ke rencana kedua…. bebaskan supir dan kenek itu Bro, suruh mereka menaikan Drum dengan benar, atau akan saya robek perutnya dan saya makan usus mereka” kata pak Hari dengan suara yang terdengar sadis”
“Hahahah oke Bro.. kita lanjut ke rencana kedua bro hahahah” jawab Paijo
Apakah anak buah Paijo itu yang dibereskan Hari…? anak buah Paijo yang waktu tadi itu sedang mencari keberadaan Hari yang tiba-tiba hilang itu?
Berarti tujuan Paijo dengan menyuruh satu anak buahnya tetap ada di pinggir sungai itu agar bisa dibereskan oleh Hari.
Kalau melihat cara kerja mereka seperti ini, berarti rencana ini sudah mereka rencanakan jauh hari untuk merampas barang dagangan Solikin.
Dua orang supir dan kenek dibebaskan Paijo, Pak Mahmud dan Idam duduk dan tidak bergerak sama sekali, mereka jelas takut dengan ancaman senjata api yang ada di tangan Hari.
Kemudian kedua orang itu dibantu oleh Paijo menaikan drum ke atas bak mobil dengan cara mengangkatnya.
Hari menggunakan senjata api milik Paijo menodong Solikin yang sedang ketakutan, dan menggoda Solikin dengan menempelkan senjata api itu diwajah Solikin.
Benar-benar sadis kelakuan Hari itu, dia menodongkan senjata ke wajah Solikin sambil tertawa tawa.
Setelah drum itu mereka naikan ke atas mobil.. Paijo kemudian kembali memborgol supir dan kenek mobil.
“Bro.. urusan kita belum selesai… dua orang teman Pangat sekarang entah ada dimana” kata Hari
“Lho bukannya sudah kamu bereskan Bro?” tanya Paijo
“Bereskan gimana.. dua anak buahmu mengacau.. mereka mengejar saya sampai ujung sungai..!”
“Padahal tadinya yang satu orang ada di dalam kamar akan saya bereskan setelah menaruh kotak yang ternyata hanya berisi tepung itu!”
__ADS_1
“Yang perempuan ada di dekat mesin penggergajian..dan siap akan saya bereskan juga ketika tau bahwa dos yang saya ambil itu kosong!”
“Tetapi sayangnya dua orang anggotamu tiba-tiba datang tanpa komando dari kamu, dan mereka mengejar saya!”
“Mereka tidak hanya mengejar, mereka juga menembak saya!”
“Terpaksa saya sembunyi dari mereka… untungnya tembakan mereka meleset, dan saya pura-pura mati sejenak”
“Untungnya ketika anak buah kamu melepaskan tembakan, ada suara orang yang jatuh ke sungai!”
“Setelah anggotamu melihat saya yang pura-pura tersungkur…, mereka kemudian pergi dan memeriksa pinggir sungai, dan itu kesempatan saya untuk sembunyi!”
“Sampai kemudian kamu datang dan mengajak satu anak buahmu menyingkir dari sana” kata Hari
“Sudahlah… saya minta maaf bro… jangan dibahas disini. ayo kita pergi dari sini Bro” kata Paijo
“Kita akan cari mereka berdua setelah kita amankan barang ini Bro… kita akan dapatkan dua orang itu secepatnya” kata Paijo
“Untuk tiga orang ini sesuai rencana ya Bro…?” tanya Hari yang kemudian mengeluarkan benda berbentuk bulat seperti bola yang kelihatannya berwarna hitam.
“Ya sesuai rencana kita untuk tidak ada saksi mata sama sekali!” jawab Paijo
“Ok…ayo kita lakukan dan kita pergi dari sini” kata Paijo yang kemudian mengambil kunci mobil dari kantung celananya
Aku gak tau benda apa yang ada di tangan Hari… tapi yang pasti benda itu akan digunakan untuk melakukan sesuatu kepada tiga orang ini.
Mobil sedang berusaha mereka nyalakan… pagi hari ini matahari sudah mulai nampak di ufuk Timur meskipun di sekitar rumah ini masih sedikit gelap keadaanya.
“Tina.. cepat mundur…!” teriak Inggrid
“Itu bom… cepat menjauh dari lokasi ini cepaaat!” teriak Inggrid yang tiba-tiba datang
Aku tidak banyak bicara, ketika mesin mobil itu sudah nyala…..aku segera berdiri dan lari ke arah dalam hutan secepat mungkin.
Mobil itu mulai jalan.. kemudian lamat-lamat aku dengar suara Paijo….”LEMPAR SEKARANG!”....
Ketika aku mulai berlari dari posisiku tadi sedang jongkok…., tiba-tiba beberapa meter dari tempatku berdiri ada seseorang yang berlari menyeruak menuju ke arah tiga orang yang terborgol.
Aku tidak tau siapa orang itu dan apa yang akan dilakukan orang itu, yang pasti tidak lama kemudian aku mendengar suara ledakan yang sangat keras!
*****
Aku terbangun di sebuah tandu yang diletakan tidak jauh dari rumah penggergajian.
Mataku masih agak kabur untuk melihat apa yang sedang terjadi, tetapi saat ini matahari sudah ada di atas kepala, dan suasana disini sudah terang.
Ugghhhh dimana aku.. kenapa banyak orang disini….Kenapa banyak polisi disini… ada beberapa mobil ambulance dan mobil polisi juga.
Samar-samar aku lihat mas Agus sedang bicara dengan orang yang aku tau dia bernama Burhan.
Aku terlalu lemah untuk berdiri dan memanggil mas Agus, hingga mas Agus kemudian melihatku…
“Burhan… itu Tina sudah sadar!” teriak mas Agus
Mas Agus dan Burhan menghampiri aku yang masih tergolek lemas di sebuah tandu. Aku berusaha untuk duduk, tetapi kepalaku rasanya sakit sekali, punggungku pun rasanya panas.
“Mbak Tina… alhamdulillah mbak Tina sudah sadar!” kata mas Agus
“Jangan dekat-dekat Tina dulu mas.. baumu busuk”
“Tenang mbak.. Saya sudah ganti baju dan sudah mandi. Ini ada pak Burhan… dia yang menyelamatkan kamu supir, kenek dan solikin”
“Untung dia tepat waktu melempar ke arah hutan belakang rumah granat yang dijatuhkan Hari.. ,kalau tidak mbak Tina dan tiga orang itu pasti sudah pindah alam heheheh”
“Jadi yang dijatuhkan Hari itu sebuah granat tangan mas?”
“Iya mbak, dan untungnya pak Burhan ada di dekatmu, sehingga dia melempar granat itu ke hutan bagian belakang rumah sebelum meledak”
“Mbak Tina, supir, kenek dan Solikin selamat… sedangkan Wito dan Yetno sampai sekarang masih belum sadar karena hantaman benda tumpul di bagian leher”
“Anggota polisi yang ada di ujung dekat desa itu mati dengan leher putus, setelah dicekik dan dipelintir lehernya. sedang kan anggota polisi anak buah Paijo yang lainnya selamat, meskipun tubuhnya ada luka tusukan”
“Burhan ternyata dari kepolisian pusat yang menyaru sebagai pekerja disini, dia sudah bertahun-tahun menyelidiki kasus ini mbak”
“Tina… kamera yang kamu pegang untuk merekam kejadian itu sudah ada sama saya, sudah saya lihat, dan bisa dijadikan barang bukti untuk mengejar Paijo dan Hari” kata Burhan
__ADS_1
“Lho mereka berdua lolos pak Burhan?”
“Iya mereka lolos, dan memang saya sengaja, tapi tidak akan lama, karena anak buah saya sedang menguntit mereka berdua”
“Pusat meminta saya tidak hanya menangkap mereka berdua, tetapi pembelinya juga harus kita tangkap. makanya dia kami biarkan lolos tapi dengan pengawasan dari kami juga” kata Burhan
“Yang penting di samping rumah masih ada barang bukti yang sama dengan yang mbak Tina rekam di kamera ini”
“Kamera ini sebenarnya bukan milik Hari, kamera poket ini inventaris kepolisian. saya dan Hari sebenarnya dari kantor yang sama, tetapi beda divisi, sehingga Hari tidak mengetahui saya”
“Saya dari Satnarkoba dan Hari dari Satreskrim.. jadi kita beda divisi”
“Eh untuk saat ini ada baiknya pak Agus dan mbak Tina ikut saya ke kota S untuk sedikit dimintai keterangan”
“Pak Burhan, kalau tidak hari ini bagaimana pak.. saya khawatir dengan pak Pangat dan dokter Joko”
“Memangnya kenapa dengan mereka?” tanya Burhan
Mas Agus menceritakan kepada Burhan peran dari pak pangat dan dokter Joko yang sempat menyelamatkan aku dan mas Agus.
Dan tentu saja keselamatan mereka berdua akan terancam dengan lolosnya Hari dan Solikin.
“Mereka berdua pasti akan dalam bahaya pak… mereka berdua juga berjasa dalam membantu kami pak”
“Nanti akan saya kirim anggota untuk menjemput mereka berdua, untuk sementara ini mereka berdua rencananya akan saya taruh di rumah perlindungan untuk sementara waktu”
“Karena yang sedang kami buru itu adalah anggota juga, yang pastinya juga dibekali dengan keahlian yang sama dengan kami, maka dari itu kami harus berhati hati sebelum melangkah” kata pak Burhan
“Oh iya pak.. bagaimana dengan Wandi dan Mamad? bukanya mereka tadi ada di sekitar hutan itu juga?”
“Iya… mereka tadi ada disana.. tetapi tidak lama, karena anggota sudah menangkap mereka terlebih dahulu agar tidak mengacaukan rencana kami untuk menahan dua oknum polisi, serta sindikat narkoba yang diketuai oleh Solikin”
“Solikin dan dua orang itu akan kami interogasi untuk pengembangan kasus siapa bos mereka berdua”
“Oh iya satu lagi pak Burhan… kami bisa seperti ini bukan karena keberanian kami sendiri, tetapi kami dibantu oleh teman ghaib kami yang tinggal disini?” kata mas Agus
“Eh maksudmu nganu ya….perempuan yang gantung diri di kamar mandi?” tanya pak Burhan agak gelagapan
“Hehehe iya.. tapi dia gak jahat.. namanya Inggrid” sambung mas Agus
“Jadi kami dibantu mati-matian termasuk menyabotase hingga drum itu jatuh dan pecah….itu ulah dari Hantu yang bernama Inggrid” kata mas Agus lagi
“Tapi ada tapinya pak, dia minta bantuan Tina dan mas Agus untuk mengungkap apa yang terjadi dengan dirinya tiga puluh tahun silam”
“Waduh kalau soal itu bukan bidang saya” jawab Burhan
“Eh tapi nanti akan saya kenalkan dengan rekan saya yang biasanya suka mengungkap kasus-kasus lama yang belum bisa diputus, dan menjadi kasus abadi di kesatuan kami”
“Atau gini saja.. kalian ikut saya ke kota S untuk kami mintai keterangan, sekaligus akan saya kenalkan dengan rekan saya yang semi detektif itu… “
“Syukur-syukur kalau dia tertarik dan mau mengungkap kasus yang akan kalian pecahkan itu”
“Gimana mbak Tina?” tanya mas Agus
“Iya mas.. tapi selama perjalanan Tina kepingin tidur mas, udah beberapa hari ini Tina kurang tidur”
“Ok kalian setuju ya pagi ini kita ke kota S dan akan ada sedikit pertanyaan untuk kalian.. eh untuk penginapan akan kami tanggung deh” kata pak Burhan
“Lho pak..kok pakek nginep segala?” tanya mas Agus
“Heheh karena untuk meminta keterangan dari kalian bisa satu hingga dua hari hehehe. tapi saya jamin tidak akan lama kok” jawab pak Burhan
“Untuk sementara rumah penggergajian in akan kami police line, agar tidak ada yang bisa masuk kesini selama proses penyelidikan”
“Lho pak, berarti kami tidak boleh ada disini untuk kasus Inggrid ini?”
“Nanti kita bicarakan lagi setelah proses pendataan di kantor kami, nanti akan saya usahakan kalian bisa ada disini untuk kepentingan kalian”
Inggrid yang dari tadi ada di samping kami tersenyum sumringah, dia mungkin sedang bahagia karena kasus dia yang puluhan tahun terjadi disini akan diangkat lagi untuk menemukan jawabannya.
Aku masih belum lega apabila Paijo dan Hari belum mereka temukan, karena sesuai dengan omongan mereka sebelum mereka meledakan granat. Mereka akan mencari aku dan mas Agus.
Karena kami adalah saksi yang membahayakan mereka berdua tentunya.
Selain itu pak Pangat beserta istrinya tentu saja akan mendapatkan masalah juga, dan tidak lupa dokter Joko juga..
__ADS_1
Aku akan Ingatkan pak Burhan untuk melindungi dokter Joko dan Pak Pangat yang merupakan sahabat Paijo…