
“Nah itu pintu masuknya…. Coba kalian lihat…. Itu ada semacam gang dengan penjaga, saya tidak paham, kenapa pintu masuk ke sana sepertinya dijaga sedemikian rupa”
“Dan tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana” kata pak Pangat eh pak Bawono
“Iya pak benar juga… lalu bagaimana bisa kita masuk ke sana, apabila pintu masuk itu selalu dijaga pak”
“Nah itulah yang sedang saya pikirkan mas…..”
“Atau begini ya, kita sekarang ada di dalam tubuh orang yang berbeda, saya ada di dalam tubuh orang kaya, sedangkan kalian berdua ada di dalam tubuh orang tua renta yang sangat miskin, bisa dibilang seperti gelandangan, meskipun di desa sebelumnya kalian dihormati sebagai orang tua”
“Apakah tubuh kita ini ada fungsinya untuk masuk ke dalam sana?” kata pak Pangat
“Kalian bisa gunakan tubuh tua renta itu untuk masuk ke sana, tapi itu terserah kalian berdua bagaimana caranya, sedangkan saya, saya akan berusaha memakai kekayaan dan jabatan saya untuk bertemu dengan petinggi-petinggi disana”
Heran juga sebenarnya, kenapa di sini ada semacam koloni, yang mirip sebuah pemerintahan terpisah dengan tembok tinggi yang mengelilingi kawasan itu.
Dari tembok tinggi memutar yang seolah memisahkan kawasan itu dari wilayah luar, dan mereka seolah olah mengisolasi diri dari masyarakat yang ada di luar.
Tetapi untuk berdagang, kata pak Pangat mereka lakukan dengan masyrakat yang ada di luar, lha terus tembok yang menyerupai benteng itu fungsinya untuk apa kalau mereka juga masih berinteraksi dengan masyarakat yang ada diluar juga.
“Malam ini saya rasa cukup untuk hanya melihat daerah ini dan pintu gerbang atau pintu masuk yang lebih menyerupai gang itu”
“Lebih baik kita pulang saja, besok pagi kita akan ke sini lagi untuk melihat bagaimana keadaan disini ketika pagi hingga sore hari”
“Iya pak, kita lakukan observasi dulu, kita bukan penduduk disini, dan kita tidak tau bagaimana keadaan disini”
“Tetapi bagaimana dengan tubuh kita pak, kan kita tinggal tubuh kita yang ada di kamar mayat rumah sakit”
“Tenang saja mas, ada Joko yang akan mengurusnya, yang penting kita harus bisa masuk ke sana dan bertemu dengan Inggrid”
“Saya kira malam ini cukuplah, kita pulang saja…. Tapi besok pagi saya akan ke kantor dulu, baru siangnya kita akan kesini”
Malam hari ini kami hanya sebentar saja melihat keadaan tempat yang lebih tepat disebut benteng itu, ya memang benteng karena bentuknya mirip dengan benteng.
*****
Siang hari setelah pak Pangat pulang dari tempat dia bekerja.
Aku, mas Agus dan pak Pangat ada di dalam mobil yang menuju ke tempat yang aku sebut benteng. Kami akan lakukan observasi lebih mendalam lagi.
“Bagimana menurut kalian, apakah kita perlu masuk ke dalam sana sekarang atau bagaimana?”
“Hehehe coba kita perhatikan dulu pak, tiap orang yang mau masuk ke sana, keliatanya pasti akan ditanya perlunya apa. Tapi masak sih penduduk luar benteng itu tidak boleh masuk ke sana?” kata mas Agus
“Tapi kan selama kita disini, belum ada orang yang masuk ke sana mas… TIna lagi nunggu orang yang akan masuk ke sana mas”
“Eh gini saja, saya akan parkir mobil ini dulu, kemudian saya akan jalan ke sana, saya penasaran penjaga itu akan bertanya apa kepada saya nantinya”
“Bapak mau masuk ke sana, tujuanya apa kalau ditanya mereka pak hehehehe?”
“Gini mbak Tina, saya disini kan bukan orang biasa, bisa saja penjaga itu memberikan kelonggaraan atau kemudahan untuk masuk ke dalam”
“Tapi gak masuk akal lah pak, pasti di dalam sana itu isinya ratusan penduduk, masak sih penjaga itu hapal satu persatu penduduk disana itu…. Kalian tunggu saja disini, saya akan masuk ke dalam”
Pak pangat memindah posisi mobil ke tempat yang lebih enak untuk parkir, kemudian pak Pangat turun dari mobil dan berjalan santai ke arah semacam gang yang menuju ke bagian dalam.
Aku dan mas Agus bisa melihat dengan jelas pak Pangat sedang berbicara dengan dua orang yang ada di pos penjagaan pintu masuk.
Lama juga pak Pangat bicara dengan dua orang yang kalau aku perhatikan, mereka berdua itu keturunan tionghoa.
Selama pak Pangat bicara dengan dua orang itu, ada beberapa orang yang berjalan masuk dengan santainya ke dalam gang itu, dan kedua penjaga itu tidak menghentikan orang yang masuk ke dalam.
__ADS_1
“Mbak Tina…. Lihat itu, kok orang-orang itu bisa dengan santainya masuk ke dalam sana?”
“Iya mas, itu yang sedang Tina pikirkan mas, apakah penjaga itu tidak melihat orang yang masuk barusan, atau memang orang-orang bebas untuk bisa masuk ke sana?”
“Kita tunggu pak Pangat dulu saja mbak, dan ingat kita kesini tujuanya kan untuk melakukan tindak kejahatan kepada salah satu anak dari pemimpin mereka”
Pak Pangat selesai dengan penjaga pintu masuk itu, sekarang dia sedang berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Aku lihat salah satu penjaga itu memperhatikan mobil ini, dan apakah dia juga melihat keberadaan kami yang ada di dalam mobil ini.
*****
“Tenang saja mbak, kaca film mobil ini gelap, tadi saya perhatikan dari sana, bagian dalam mobil ini tidak kelihatan sama sekali” jawab pak Pangat setelah kutanya tentang apakah penjaga itu melihat kami berdua yang ada di dalam mobil
“Tidak sulit untuk masuk ke sana.. Siapa saja diperbolehkan masuk untuk berdagang atau melakukan kegiatan di dalam, hanya saja kalau malam hari kawasan itu harus steril dari masyarakat yang ada di luarnya”
“Kenapa seperti itu? Karena dahulu seringkali terjadi perkosaan atas wanita keturunan tionghoa disini, dan seringkali juga terjadi perampokan toko atau rumah penduduk tionghoa”
“Makanya oleh yang dituakan disini, dibangunlah semacam benteng yang gunanya untuk melindungi masyarakat keturunan tionghoa disini, tetapi kejadian itu terjadi sudah lama sekali”
“Sekarang masyarakat luar bisa masuk ke dalam untuk melakukan kegiatan di dalam sana, tetapi sore hari mereka harus sudah keluar dari sana”
“Tadi memangnya pak Pangat bertanya kepada penjaganya….. Apa mereka tidak curiga?, pak Pangat kan pejabat di kota ini, harusnya kan seorang pejabat sudah paham apa yang terjadi disini”
“Iya mbak… tetapi saya tadi tanya tidak semata-mata tanya kenapa ada ini dan itu, tetapi saya bertanya tentang sejarah”
“Tadi saya tanya ke mereka tentang siapa disini yang tau tentang sejarah benteng ini, karena saya menggunakan alasan anak saya mendapat tugas dari sekolah tentang sejarah-sejarah yang ada di negara ini”
“Mereka berdua dengan semangat menjelaskan sejarah berdirinya benteng ini hehehe”
“Ok pak… jadi intinya tiap orang bisa masuk ke sana kan?”
“Sekarang bagaimana dengan Inggrid, apakah bapak tanya juga tentang Inggrid yang katanya anak dari pimpinan disini”
“Ya.. tadi penjaga itu juga menyebutkan siapa saja yang berjasa atas terbentuknya koloni ini, dan itu adalah keluarga Ong, keluarganya Inggrid”
“Dan sudah turun temurun keluarga itu memimpin wilayah ini anak-anak… jadi kita harus berpikir lagi untuk bisa melakukan sesuatu disini”
“Kita pulang ke rumah saya saja dulu, kita harus pikirkan bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Inggrid, paling tidak kita harus bertatap muka dengan dia dan bicara baik baik dengannya”
“Karena kita ini akan melakukan tindak kejahatan disana, kita ini istilahnya penjahat karena tujuan kita kan untuk melenyapkan Inggrid, bukan untuk berdarmawisata”
Sora hari… matahari tetap tidak terlalu panas disini.
Kami bertiga sedang duduk di ruang tamu rumah dinas pak pangat atau pak Bawono, tidak ada siapapun disini, bahkan tidak ada pulan pembantu rumah tangganya.
Cukup aneh juga untuk seorang pejabat seperti pak Bawono ini.
Yang ada cuma supir saja, dan sore ini dia sedang duduk-duduk di teras rumah.
Supir yang tadi pak Pangat suruh jaga di rumah ketika kami bertiga menuju ke tempat yang bisa aku katakan sebagai benteng itu
“Besok pagi saya akan ke kantor, saya sebenarnya tidak tau saya ini sebagai apa dan jabatan saya ini apa, hanya saja saja agar keadaan aman, saya lebih baik besok pagi ke tempat saya kerja”
“Di kantor saya hanya duduk sendirian di ruangan yang cukup besar, hanya sekretaris saya yang kadang masuk untuk meminta tanda tangan kepada saya…hehehe”
“Siangnya saya akan pulang, kalian bisa tunggu saya dulu untuk menuju ke sana, dan ingat, kalian berdua ini orang tua yang tidak bisa apa-apa”
“Besok pagi dua orang pembantu rumah tangga yang kemarin kesini dan tugasnya bersih-bersih dan memasak disini datang lagi, mereka berdua itu orang yang sukanya ingin tau urusan orang, jadi ada baiknya kalian jangan sampai keceplosan ya”
“Saya sudah bilang ke mereka berdua, bahwa kalian berdua adalah adik dari keluarga mbah saya yang masih hidup hehehe”
__ADS_1
Hari ini tidak ada kemajuan, aku dan mas Agus belum bisa masuk ke dalam sana, hanya pak Pangat saja yang berhasil bicara dengan dua orang penjaga gang masuk ke tempat yang aku sebut benteng itu.
Sebenarnya aku punya ide untuk masuk ke sana dan bertanya kepada penduduk di sana tentang Inggrid, kebetulan aku dan mas Agus keadaanya kan sudah kakek dan nenek, jadi aku rasa gampang saja aku dan mas Agus masuk ke sana dn membaur disana.
Tapi sayangnya hari ini hanya pak Pangat yang ke sana, sedangkan aku dan mas Agus hanya menunggu di dalam mobil saja. Tapi besok siang aku dan mas Agus harus bisa masuk dan membaur dengan penduduk yang ada disana.
*****
Pagi ini pak Pangat sudah berangkat ke tempat dia kerja, di rumah besar ini hanya ada aku, mas Agus dan dua pembantu rumah tangga yang sedang sibuk dengan pekerjaanya.
Aku dan mas Agus sedang bersantai di ruang tamu ketika salah satu dari pembantu itu menyapa kami.
“Mbah… ngersake ngunjuk nopo ( mbah mau minum apa)?”
“Tidak usah mbak… saya bisa ambil air putih yang yang ada di teko itu saja” tunjukku ke sebuah teko di atas meja makan
“Ya sudah mbah uti, nanti kalau masakannya sudah siap, panjenengan akan saya beritahu”
“Iya mbak, terima kasih banyak”
Pokoknya jangan banyak bicara dengan mereka berdua, mereka tanya ya aku jawab saja, mereka gak tanya ya aku diem, tapi kalau seandainya mereka ini penduduk asli sini, seharusnya mereka tau tentang area yang mirip benteng itu.
Nanti aku akan tanya ketika dia memberitahu tentang masakannya yang sudah siap. Biasa kalau di alam manusia orang macam seperti ini pasti tau segalanya tentang apapun hehehe, tapi gak tau lagi kalau di alam seperti ini.
Aku juga sudah beritahu mas Agus tentang rencanaku ini, dan dia setuju kalau aku mencari informasi dari pembantu rumah tangga ini.
Sebenarnya aku dan mas Agus masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada pak Pangat, aku dan mas Agus masih bertanya tanya, kenapa kok kami ini jadi nenek dan kakek, sementara dia menjadi orang yang berkuasa.
Tapi entahlah… yang penting kami akan cari informasi dari dua pembantu rumah tangga ini dulu.
“Mbaaah uti mbah kung… sarapannya sudah siap” kata pembantu yang tadi sambil berdiri di sebelah kami berdua yang sedang duduk di sofa ruang tamu
Sebenarnya sarapan ini sudah terlambat, jam segini baru mereka bikinkan kami sarapan, tetapi mau gimana lagi, karena tadi pagi mereka harus bikinin sarapan untuk pak Pangat dulu, sementar itu sarapan untuk mbah uti dan mbah kung mereka buatkan setelah itu
“Iya mbak…eh mbak, saya ini kan bukan berasal dari kota ini, semalam ketika saya dan mbah kung diajak jalan-jalan sama nak Bawono, saya lihat ada semacam benteng besar …tapi letaknya agak jauh dari sini… itu benteng apa sih mbak?”
“Oooh mungkin yang dimaksud mbah Uti itu benteng china ya…. Apa letaknya dekat dengan sungai yang besar itu?” kata PRT itu dengan semangat
“He’eh nduk, dekat sungai… itu bangunan apa sih nduk, kok kelihatanya aneh gitu ya?”
“Itu perkampungan china mbah, di dalam benteng itu ada perkampungan yang penduduknya china semua… dan itu sudah ada sejak jaman dulu”
“Oh gitu.. Lha apa memang khusus orang china saja nduk?”
“Iya mbah…yang tinggal disana hanya keturunan china saja, tapi kalau mbah Uti dan mbah Kung kepingin jalan-jalan ke sana tidak papa, dibolehkan kok, asalkan malam hari harus sudah keluar dari sana”
“Penduduk china disana baik baik semua.. Apalagi pemimpinnya, mereka suka bersedekah dengan penduduk pribumi…mereka sering memberikan bahan makanan dan wewangian yang enak bagi penduduk pribumi yang membutuhkan”
“Kalok mbah Uti dan mbah Kung mau ke sana monggo nanti akan saya antar, kita naik taksi saja mbah”
“Jangan mbak… saya nunggu Bawono datang dulu saja, katanya siang ini dia akan pulang kok mbak” jawab mbah kung alias mas Agus
Nah kan… jawaban pembantu itu berbeda lagi dengan kenyataan apa yang harus kami lakukan disana.
Pemimpin mereka baik dan suka beramal, lalu bagaimana dengan Inggrid dan kedua orang tuanya, apakah mereka ini yang dimaksud oleh PRT ini?
Memang kami harus ke sana untuk mengetahui keadaan disana.
“Mbak… pemimpin tempat itu sudah tua atau masih muda?”
“Jelas sudah tua mbah…mereka seumur panjenengan ini, kadang kalau sore hari mereka jalan-jalan di sekitar sana, menyapa penduduk yang ada disana… mereka baik baik” jawab pembantu ini
__ADS_1