
“Itu yang tadi dikatakan mbak Kun yang ada di atas pohon beringin itu Yank”
“Terus gimana reaksi pak Diran mas?”
“Dia bingung dia hanya bilang, tolong diskusikan dengan leluhur-leluhur dulu saja, apakah memang benar yang dikatakan oleh Kuntilanak itu”
“Hufff…iya mas…. Besok malam Tina mau ke tengah hutan dulu Tina akan coba bicara dengan mbah Sutinah”
“Mas, kalau seumpama apa yang dikatakan kuntilanak itu benar… apa mas Agus siap untuk kehilangan satu anak kita?”
“Yank, gak ada orang tua yang mau kehilangan anak. Tentu saja aku gak akan rela yank, tapi apabila hal itu harus terjadi, maka aku gak bisa bertindak apa-apa yank”
Aku kaget juga dengan yang dikatakan kuntilanak yang tinggal di pohon beringin belakang proyek, setelah aku dan pak Diran mendapat jawaban seperti itu, aku langsung pulang dan menemui istriku.
Awalnya aku gak percaya dengan omongan kunti itu, tetapi setelah dia bilang untuk segera menemui leluhur tanah ini dan segera cari solusinya, maka aku sedikit percaya dan segera aku ceritakan kepada istriku.
Tadi sebenarnya Kunti itu sempat bilang, bahwa anakku sebenarnya hanya satu, dah hanya itu saja yang dia katakan… anaku sebenarnya hanya satu!.... Tapi untuk hal ini aku tidak cerita ke istriku, aku gak mau apabila istriku kepikiran.
Tidak ada alasan kenapa anakku jadi kembar atau bagaimana, tetapi yang jelas setelah istriku operasi, yang muncul adalah bayi kembar laki laki dan perempuan.
Kunti itu juga bilang, semakin besar kedua anak kembarku, maka kekuatan yang belum atau tidak terarah itu semakin kuat, dan yang bikin aku kaget, salah satu dari anakku mempunyai kekuatan negatif.
Kekuatan negatif itu apabila bertemu dengan kekuatan positif dari anakku yang satunya akan menimbulkan efek negatif yang mengerikan juga, dan kunti itu juga bilang agar aku menemukan cara untuk menyatukan kekuatan energi anak kembarku.
Dan yang mengerikan energi itu akan terpancar ketika kedua anakku sedang tidur, energi yang tidak terarah itu akan terpancar ketika kedua anakku sedang bermimpi.
Penyatuan kedua mimpi anakku ini yang mengakibatkan munculnya sebuah energi kuat yang menyebabkan ghaib di sekitar sini menjadi liar.
Tina istriku ada di dalam kamar, dia sedang memandang kedua anak kembarku Agusta dan Agustin, mereka berdua sedang tidur nyenyak, aku takut apabila dia sedang bermimpi
Kuhabiskan malam ini sambil merenung di teras rumah, besok pagi para pekerja akan berdatangan, mereka akan mulai bekerja lagi.
*****
Pagi yang cerah seperti biasanya…
Aku sedang ada di teras bersama Agusta dan Agustin, sedangkan istriku sedang menyiapkan sarapan untuk aku dan untuk anak kembar kami.
Dua buah kereta bayi yang berisi Agusta dan Agustin yang berisi kedua bayi itu bersamaku di teras, kedua anakku tidak dalam keadaan tidur, mereka berdua sedang bermain dengan semacam mainan untuk bayi yang aku gatung di atas kereta doring bayi.
Pagi ini para pekerja berbondong bondon berdatangan, ada yang jalan kaki, ada yang naik sepeda, dan ada yang naik motor.
__ADS_1
“Mas, sarapan dulu, biar aku gantikan jaga Gusta dan Gustin” kata istriku yang keluar dari dalam rumah selesai dia masak
“Nanti setelah mas Agus sarapan, sebelum mas berangkat ke proyek, tolong bantuin Tina nyuapin Gusta dan Gustin ya mas”
“Iya yank, aku sarapan dulu ya” aku masuk ke dalam rumah, sementara itu istriku di teras sedang mengudang kedua anakku
Pagi ini aku masih memikirkan apa yang dikatakan mbak Kuntilanak itu, kalau misalnya keadaan terjelek, kedua anaku harus dipisahkan, lalu siapa yang akan membawa anakku, dan akan dibawa kemana.
Aku tentu saja gak akan rela apabila mereka dipisahkan begitu saja, tidak ada orang tua yang mau memisahkan anaknya begitu saja.
*****
Siang ini aku ada di proyek aku bertemu dengan pengawas proyek dan pihak keamanan, aku harus pastikan para pekerja mematuhi aturan agar tidak menuju ke tempat-tempat yang berbahaya disini.
Dan secara kebetulan pak Diran sebagai kepala keamanan ada disini juga, dia sedang mengumpulkan petugas keamanan untuk diberikan briefing.
“Selamat siang pak Kuncoro” sapaku kepada salah satu pengawas lapangan yang sedang bertugas
“Selamat siang juga pak Agus, bagaimana pak, apa ada sesuatu yang mau pak Agus sampaikan kepada saya?” tanya tak Kuncoro
“Iya pak Kun, saya hanya minta agar tidak ada pekerja yang mendekati sungai untuk sementara waktu dulu, karena sungai itu cukup dalam bagi yang tidak bisa berenang pak”
“Ya sudah pak Kun, saya mau berkeliling dulu saja” kulihat pak Diran masih bicara di hadapan empat orang anggotanya
Aku gak tau sampai kapan proyek ini akan berjalan, tapi menurut planning awal. Proyek ini memakan waktu hingga dua tahun yang artinya ketika proyek ini selesai anakku sudah berumur sekitar dua tahun juga.
Ketika aku akan berjalan menuju ke belakang, tiba-tiba pak Diran memanggilku.
“Pak Agus… “ sapa pak Diran sambil setengah berlari menuju ke arahku
“Iya pak Diran….”
“Pak Agus, kebetulan semalam, eh tengah malam ketika kita pulang dari sini, saya tidak langsung pulang, saya ke tempat guru saya dulu”
“Saya ceritakan apa yang dikatakan Kunti itu, dan tentang anak kembar pak Agus juga”
“Trs bagaimana menurut guru pak Diran?”
“Beliau hanya bilang, segara pisahkan hingga dewasa, hingga anak pak Agus sudah akil baligh dan bisa mengontrol hidupnya”
“Mengontrol hidupnya itu apa maksudnya pak Diran?”
__ADS_1
“Ayo kita bicara sambil jalan saja pak Agus…. Tapi mohon maaf sebelumnya pak Agus, mungkin ada pernyataan dari guru saya yang tidak berkenan”
“Maaf pak Agus… eh sebenarnya anak pak Agus itu hanya satu, tidak kembar seperti ini… eh maaf ya pak. Sekali lagi maafkan pernyataan guru saya”
“Sedangkan anak yang satunya itu muncul dengan ghaib….”
“Dan kemunculan anak ghaib itu tugasnya adalah menjaga anak pak Agus yang sebenarnya….”
“Sampai disini saya sama sekali tidak paham dengan yang dikatakan guru saya pak… saya sama sekali tidak paham dengan kata-kata menjaga itu”
“Saya hanya diam saja ketika guru saya menerangkan kepada saya apa yang menjadi penerawangan dia…”
“Tapi setelah itu dia berkata lagi… eh anak pak Agus dan penjaga anak pak Agus ini memiliki energi yang berbeda, dan apabila energi itu disatukan maka akan mengakibatkan hal buruk akan terjadi” kata pak Diran dengan suara pelan sambil berjalan bersama aku
“Nah karena sekarang kebetulan pak Agus tinggal di sekitaran proyek, maka energi berbahaya yang muncul dari kedua anak pak Agus ini akan membahayakan seluruh pekerja yang ada disini”
“Sampai saat ini dalam hati saya ingin bertanya kepada guru saya pak, bagaimana kalau kedua anak pak Agus dan istri pak Agus pergi dari hutan dan menuju ke daerah yang jauh dari sini”
“Tapi sebelum saya utarakan pertanyaan saya kepada guru saya, Tiba-tiba guru saya langsung bisa menebak pikiran saya”
“Beliau bilang… tidak mungkin apabila istri pak Agus meninggalkan tanah ini, karena istri pak Agus berhubungan erat dengan tanah disini, seluruh area ini akan bahaya apabila istri pak Agus meninggalkan daerah ini”
Sampai disini pak Diran diam, kayaknya dia sedang berpikir atau mengingat ingat sesuatu. Aku tidak berusaha untuk memotong apa yang sedang dia pikirkan.
Aku kaget dengan apa yang pak Diran baru saja katakan tentang anakku.
Tapi sekarang sudah dua orang yang bicara tentang anakku, yang pertama adalah Kunti dan kemudian guru dari pak Diran sendiri.
“Eh maaf pak Agus, saya sedang mengingat ingat apa lagi yang diceritakan guru saya tentang anak pak Agus” kata pak Diran setelah dia diam sejenak sambil berpikir
“Begini pak Agus…solusi sementara yang dikatakan guru saya agar tidak ada lagi korban disini, adalah memisahkan kedua anak pak Agus. dipisahkan hingga anak pak Agus akil baligh..sampai mereka bisa memahami hidup mereka, baru kedua anak pak Agus bisa dipertemukan lagi”
“Pak Diran… saya bisa memahami apa yang dikatakan guru pak Diran, yang saya akan tanyakan… pertama, anak saya yang mana yang merupakan anak kami yang sebenarnya?”
“Tentu saja kalau memang harus dipisahkan, saya tentu saja akan memilih yang merupakan anak kami sebenarnya, bukan anak ghaib yang kata guru pak Diran tiba-tiba muncul itu”
“Kedua, kenapa sampai ada perwujudan penjaga anak saya yang sebenarnya, kenapa ada penjaga yang sama-sama lahir dari rahim istri saya. Kenapa penjaga itu tidak berupa sesuatu yang ghaib dan bukan berwujud anak kembar saja?”
“Disini saya tidak tau pak, karena guru saya tidak menjelaskan tentang hal ini, munkin leluhur bu Tina yang bisa menjelaskan tentang hal ini” jawab pak Diran
“Nanti malam istri saya akan menemui leluhur leluhur yang ada di tengah hutan, dia akan memasikan dulu tentang omognan mbak Kunti yang sudah saya ceritakan kepada istri saya. Dan nanti sepulang dari sini, saya juga akan menceritakan tentang apa yang dibicarakan oleh guru dari pak Diran ini”
__ADS_1