
Pagi hari seperti sebelum sebelumnya, setelah kami mengantarkan sarapan, dan setelah piring kotor kami serahkan ke pihak catering aku berjaga bagian belakang hotel.
Pak Diran sudah digantikan oleh pak Yogi, mbak TIna ada di ruang utama untuk memproses email dan tamu yang akan checkout. Sedangkan Jiang standby di sekitar ruang utama, berjaga-jaga apabila ada tamu yang memerlukan sesuatu.
Di bagian pinggir sungai ini aku ditemani oleh pak Hendrik yang sedang mengawasi kedua anaknya yang sedang bermain pasir pinggir sungai, sedangkan istri pak Hendrik duduk di kursi tenda.
“Gimana mbak Tina pak, apakah kamar nomor sepuluh sudah bisa saya tempati?”
“Kalau iya, pagi ini saya akan check out untuk antar anak dan istri saya pulang dulu”
“Tadi sih belum ada email balasan pak, tapi nanti akan saya cek ke dalam pak, saya harus awasi tamu yang sedang bermain air di sungai pak”
“Iya pak Agus, bagian sungai itu sangat dalam.. Jadi memang harus ada orang disini yang berjaga jaga juga” kata pak Hendrik
Pukul sepuluh pagi, beberapa tamu sudah kembali ke kamarnya, mereka bersiap untuk keluar atau check out, termasuk juga keluarga pak Hendrik.
Aku menuju ke mbak Tina untuk menanyakan kamar sepuluh yang akan digunakan pak Hendrik seorang diri disini.
“Mbak Tina, kamar untuk pak Hendrik apa sudah ada?”
“Waduh lupa mas…. Tunggu bentar, Tina cek email dulu mas, eh itu ada tamu yang akan cek out, tolong dibantu untuk administrasinya mas”
Administrasi disini cuma sebatas pengambilan deposit kamar dan mengembalikan ktp tamu yang dititipkan disini, sedangkan pembayaran sudah mereka lakukan dengan cara transfer ke perusahaan pak Robert sebelum mereka menginap disini.
Selain mengecek kamar sepuluh untuk pak Hendrik, mbak Tina juga sedang mengeprint daftar tamu yang sudah fix akan menginap disini untuk siang ini.
“Mas… kamar sepuluh sudah di acc untuk pak Hendrik. Segera kabari mas, oh iya tolong Jiang suruh siap-siap untuk membersihkan kamar nomor lima yang barusan tadi tamunya sudah checkout”
Kegiatan rutin yang harus aku lakukan disini ini menyebabkan aku sangat kurang tidur, seharusnya salah satu orang piket hingga beberapa jam sebelum digantikan oleh yang lainya.
Tetapi dengan adanya gangguan yang selalu menyerang pada malam hari menyebabkan kami semua tidak ada yang sempat istirahat, dan akibatnya kami sangat kurang tidur, dan tentu saja hal ini menyebabkan kesehatan kami menurun.
Kalau begini caranya aku dan mbak Tina akan ancur ancuran….
Kurasa serangan si Fong dan pak pangat adalah mematikan atau melemahkan aku dan mbak Tina secara perlahan lahan, hingga kami berdua tidak sanggup menjaga tempat ini.
Iya kayaknya tujuan Fong seperti itu, dia atau pak Pangat tidak masuk ke sini, melainkan demit kecil yang selalu mengganggu tamu yang ada disini yang akan mengganggu kami.
Aku sedang ada di pintu masuk antara bagian belakang hotel dengan ruangan utama.. Menunggu tamu yang akan menuju ke sini untuk check out.
Eh tapi aku kan harus hubungi pak Hendrik dulu apabila kamar sepuluh bisa dia pakai untuk hari ini.
Aku menuju ke bagian belakang untuk menemui pak Hendrik… tama belakang pagi ini ramai dengan keluarga yang sedang menikmati pagi hari.
*****
“Jadi kamar sepuluh sudah bisa saya gunakan ya?” tanya pak Hendrik
“Nanti pak, setelah tamu yang ada disana check out, dan setelah saya bersihkan kamar itu, baru pak Hendrik bisa masuk ke kamar sepuluh”
“Ok mas Agus… nanti saya antar keluarga saya pulang dulu, eh nanti waktu check out akan saya lakukan pembayaran kamar sepuluh ke mbak TIna juga mas”
Urusan kamar pak Hendrik sudah selesai, sekarang menunggu mbak Tina untuk menyuruh membersihkan kamar bagi tamu yang akan keluar pagi hingga siang hari ini.
*****
Sore hari sekitar pukul tiga lewat empat puluh menit sore mobil pak Hendrik sudah masuk ke parkiran hotel.
Sore ini parkiran hotel sudah penuh dengan mobil tamu yang akan menginap disini untuk hari berikutnya. Termasuk pak Hendrik yang memperpanjang menginap di kamar sepuluh.
Seperti sebelum sebelumnya sore hari ini aku sudah disibukan dengan catering yang datang untuk makan malam tamu hotel
Sekitar jam enam sore pak Diran datang untuk menggantikan pak Yogi yang jaga pagi.
“Gimana pak Agus, apakah pak Hendrik sudah datang?”
“Sudah pak, dia sekarang ada di kamar nomor sepuluh”
__ADS_1
“Ya sudah pak Agus, paling tidak untuk malam ini ada yang membantu kita, jadi nanti mungkin pak Agus dan mbak Tina bisa istirahat tidur”
“Semoga bisa pak hehehe, sudah beberapa hari ini saya sangat kurang tidur pak, siang hari kadang saya bisa beberapa jam tidur ketika keadaan sedang sepi, gantian sama mbak Tina pak”
Malam hari seperti biasanya.. Setelah pihak catering pulang, aku bersama mbak Tina, Jiang, dan pak Diran ada di ruangan utama sebelum kami melakukan patroli ke bagian belakang hotel.
Setelah semua dirasa aman, aku dan pak Diran menuju ke belakang seperti biasa untuk patroli malam. Sedangkan Jiang dan mbak Tina ada di ruangan utama.
Kami berdua berjalan hingga ke belakang hotel dekat dengan sungai.
Untuk saat ini keadaan aman, pak Hendrik yang ada di kamar sepuluh pun tidak nampak batang hidungnya, mungkin dia sedang tidur nyenyak hehehe.
“lama -lama saya capek dan bosan dengan keadaan ini pak Diran”
“Itu memang tujuannya.. Tujuan agar pak Agus dan bu Tina lengah dan semakin lemah”
“Saya ada usul pak Agus… lebih baik pak Agus dan ibu Tina atau Jiang harus bergantian istirahat”
“Misalnya malam ini pukul sembilan seperti ini Jiang tidur dulu, nanti pukul satu malam pak Agus tidur, dan Jiang yang jaga, subuh hingga siang hari kalian sibuk, siang hari bisa gantian istirahat tiap satu atau dua jam”
“Tetapi bu Tina biarkan istirahat penuh, karena dia akan sibuk sepanjang hari mulai dari pagi hingga sore hari”
“Wah benar juga pak Diran.. Idenya masuk akal pak… saya akan beritahu Jiang pak”
Ketika aku akan menuju ke ruang utama untuk memberitahu Jiang tentang rencana pak Diran agar kami tidak kehabisan energi karena kurang istirahat, tiba-tiba pintu kamar nomor sepuluh terbuka.
Pak Hendrik keluar dari dalam kamar nomor sepuluh yang hanya ber penerangan lampu teplok.
Selamat malam pak Hendrik…” sapaku dengan ramah
“Malam mas Agus…. Pak Diran dimana mas?” jawab pak Hendrik
“Ada di pinggir sungai pak… ada yang bisa dibantu pak?”
“Ada mas… tolong panggilkan pak Diran, kita ke kamar sebentar mas”
*****
“Ada apa pak Hendrik?” tanya pak Diran setelah kami berdua ada di depan kamar nomor sepuluh
“Sepertinya ada yang ingin bicara dengan pak Diran dan mas Agus di dalam kamar saya, sepertinya itu adalah arwah dari orang yang meninggal beberapa hari lalu”
“Tadi awalnya saya sedang semedi di dalam kamar, saya berusaha berkomunikasi kepada siapapun yang ada di kamar ini pak, awalnya saya berharap yang datang adalah demit iseng, tetapi ternyata yang datang orang tua dengan wajah yang sedih”
“Ketika saya tanya bapak siapa dan sedang apa datang kesini. Dia hanya diam dan minta dipanggilkan orang hotel”
“Ya sudah ayo kita masuk ke dalam saja” ajak pak Diran
Kami bertiga masuk dengan pengucapan salam terlebih dahulu. Aku tau di dalam sana kosong, dan mungkin juga ada arwah pak Prabowo yang bukan muslim.
Tetapi bisa saja di dalam juga ada Jin muslim yang menjaga dan akan membalas salam kami.
Pintu dibuka oleh pak Hendrik… suasana temaram lampu teplok yang apinya dikecilkan semakin membuat mistis kamar nomor sepuluh.
Di tengah kamar, pak Hendrik menyuruh kami duduk..
“Dia ada di sekitar sini pak Hendrik, biarkan dia menampakan diri dulu” kata pak Diran dengan suara lirih
“Iya pak.. Biarkan dia menampakan dirinya saja” balas pak Hendrik
Bulu kudukku meremang ketika perlahan lahan aku di pojok kamar aku melihat bayangan tipis yang menyerupai manusia.. Hanya sosok bayangan saja yang sangat tidak jelas bentuknya.
Tapi aku bisa merasakan bahwa bayangan itu adalah sosok dari pak Owo penghuni kamar ini yang meninggal karena bunuh diri.
“Selamat malam pak Prabowo…. Apakah ada yang bisa kami bantu dengan kehadiran bapak disini?” tanya pak Diran yang ternyata juga melihat kehadiran bayangan putih samar itu
Tidak ada jawaban atas pertanyan pak Diran, bayangan itu tetap ada di pojokan ruangan, tetapi lambat laun bayangan itu bergerak menuju ke arah kami bertiga.. Pelan namun pasti bayangan samar yang mungkin adalah arwah itu bergerak mendekat.
__ADS_1
“Selamat malam pak Prabowo , jawab pertanyaan saya kalau kamu benar pak Prabowo, karena apabila bukan, maka kami berhak membakar kamu” kata pak Diran mulai dengan ancamannya
“Energimu lemah, dan saya bisa merasakan kesamaan energi pak Prabowo semasa hidup dengan energi yang ada disini.. Jadi kalau memang pak Prabowo ada keperluan dengan kami, maka jawablah pertanyaan saya tadi”
Bayangan putih samar itu terus mendekat.. Mendekat…mendekat.. Dan akhirnya
AAARRGGHHHHH…….
*****
Aku terbangun dengan kepala pusing…. Dadaku sesak dan keringat yang membasahi badanku. Aku ada di lantai sebuah kamar, dengan pak Diran dan pak Hendrik yang sedang ngobrol.
“Akhirnya pak Agus bangun juga.. Gimana badannya pak, apa sudah baikan?” kata pak Diran
“Apa yang terjadi dengan saya pak?”
“Pak Agus tadi kerasukan pak Prabowo.. Arwah dia meminjam raga pak Agus sebentar untuk berkomunikasi kepada kami, hanya saja karena pak Agus dalam keadaan yang tidak fit maka reaksinya pak Agus pingsan dalam waktu sepuluh menit” kata pak Diran
“Arwah pak Owo tadi sempat minta maaf apabila tidak izin dulu ketika akan masuk ke raga pak Agus, tapi nggak papa pak, yang penting apa yang disampaikan pak Prabowo itu berguna bagi kita” kata pak Diran lagi
“Sekarang ayo kita ke ruang utama, kita ngobrol dengan teman yang lainya juga, tentang apa yang tadi pak Owo katakan” ajak pak Diran
Tubuhku lemas sekali.. Bahkan untuk berdiri saja harus dibantu pak Hendrik dan pak Diran.
Aku gak nyangka akan dirasuki oleh pak owo, tapi rasanya aku tidak merasakan apa-apa selain rasa kaget kayak tersengat listrik gitu..
Setelah itu aku nggak merasakan apa apa, aku tidak mengingat apa-apa, bahkan aku tidak tau berapa lama aku dalam keadaan kerasukan.
Hanya tiba-tiba aku terbangun dalam keadaan pingsan tadi itu.
*****
“Pak Agus, bu Tina, Jiang… saya hanya , tadi saya dan pak Hendrik sempat berkomunikasi dengan arwah pak Prabowo yang masuk ke raga pak Agus….”
“Saya yakin sekali yang tadi masuk ke dalam tubuh pak Agus itu adalah pak Owo, karena ada kesamaan energi yang saya rasakan ketika saya dan pak Agus bertemu dengan pak owo ketika di pinggir sungai”
“Pesan pak Owo adalah, singkirkan semua demit yang masuk ke sini… yang masuk melalui lubang yang dibuat oleh teman pak Jay yang bernama Watuadem”
“Demit yang masuk ke sini akan melubangi pagar ghaib yang ada disini”
“Yang paling penting adalah bu Tina sebagai keturuanan dari penjaga kawasan ini tidak boleh lemah atau sakit, karena apabila bu Tina sakit, maka demit masuk karena lubang kecil itu akan semakin ganas melubangi area ini”
“Dan satu lagi yang paling penting adalah di area hotel ini ada sebuah paku atau pasak… dan jangan sampai paku atau pasak itu tercabut dan dikuasai siapapun, karena akan mengakibatkan sesuatu yang sangat berbahaya”
“Tadi saya sempat tanya, tujuan pak Prabowo datang ke sini untuk apa.. Jauh-jauh dari kota S kesini tujuanya apa”
“Jawaban dari arwah itu sepele… penasaran dengan rahasia yang ada disini, rahasia yang tidak banyak orang yang tau, rahasia sebuah pasak yang membungkam sesuatu yang sangat jahat agar tidak keluar”
“Sebuah pasak kecil yang membungkam dan mengurung sesuatu yang sangat mengerikan…. Dan bagi siapapun yang menguasai pasak itu berarti berkuasa juga atas apa yang dikurung oleh pasak itu”
“Dan sesuai dengan apa yang guru saya katakan.. Dengan adanya bu Tina disini mengakibatkan apa yang menyamarkan pasak itu terbuka. Dan tentu saja akan mengundang siapa saja yang mencari kekuasaan neraka akan kesini dan mengambil pasak itu”
“Untungnya penduduk ghaib disini bekerja keras untuk melindungi daerah ini dari siapapun yang berusaha mengambil pasak itu”
“Jadi jelas kan apa rahasia dari hotel ini yang dirahasiakan leluhur mbak Tina kepada mbak Tina”
Setelah selesai pak Diran berkata.. Kami semua terdiam… tidak ada omongan dari mbak Tina sama sekali
Berarti awalnya tidak ada yang tau disini apa-apa … sampai keturunan terakhir yang masih perawan mbak Tina menginjakan kaki disini, maka apa yang ada disini terbuka semua. Dan itu adalah salahku… aku yang mengajak mbak Tina kesini kan.
Dan sekarang itu akan menjadi incaran siapa saja yang mencari kesaktian dan kekuasaan. Dan tentunya si Fong dan pak Pangat juga.
Lalu apa yang harus kami kerjakan agar tidak terjadi sesuatu disini?
“Pak Diran… apa yang harus Tina lakukan disini pak?” tanya mbak Tina dengan suara yang lemas
“Saya sendiri belum tau apa yang harus bu Tina lakukan, karena pak Owo buru-buru pergi akibat dari tubuh pak Agus yang makin lemah…”
__ADS_1
“Gini pak Diran. Menurut saya.. Pak Diran dan yang lainya tetap menjaga area hotel dari demit-demit yang berusaha melubangi pagar ghaib…. Saya kita hanya itu saja kok” sambung pak Hendrik