RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
52. CERITA MIRIP DENGAN MIMPIKU


__ADS_3

Burhan kemudian diam sejenak, dia menundukan kepala sambil memejamkan matanya.


Ndak tau dia sedang mengingat sesuatu atau sedang sedang merasakan ketakutan lagi untuk mengingat apa yang terjadi semalam.


Yang pasti dari cerita yang baru sebagian itu aku datang bersama beberapa orang yang berpakaian hitam.


“Saya buka pintu pagar dengan perasaan senang karena pak Agus sudah datang"


"Bahkan diantar oleh beberapa orang berpakaian hitam dan ber udeng juga”


“Tapi ada yang aneh, wajah pak Agus pucat”


“Kemudian waktu pak Agus sudah ada di dalam rumah, pak Agus menyuruh saya untuk tidur, karena dia ada urusan dengan orang yang berpakaian hitam-hitam itu”


“Karena pak Agus menyuruh saya tidur ya saya manut saja, saya masuk kamar dan kemudian berusaha untuk tidur meskipun rasa kantuk saya sudah hilang sama sekali“


“Karena saya tidak bisa tidur, timbul rasa penasaran saya, karena pak Agus dan mereka yang ada ruang tamu itu tidak ada suaranya sama sekali”


“Yang saya dengar hanya suara orang-orang yang sedang berbicara dengan serempak dalam bahasa jawa yang tidak saya kenal sama sekali”


“Tidak lama kemudian dari sela-sela pintu muncul asap yang sangat banyak, asap yang ternyata berasal dari kemenyan itu banyak sekali masuk melalui sela-sela pintu”


“Saya bingung pak…. saya bingung kenapa pak Agus dan teman-temanya sedang menyalakan kemenyan yang sangat banyak”


“Saya berpikir bahwa pak Agus sedang melakukan sebuah ritual yang melanggar agama, dan  harus menegur pak Agus agar menghentikan kegiatan itu”


“Ketika pintu kamar saya buka, pemandangan yang sangat mengerikan ada di depan saya pak”


Burhan terdiam lagi, tubuhnya bergetar hebat, dia ketakutan dan kemudian menangis….


“Ayo kuasai dirimu mas, yang tegar! kamukan laki-laki”


“Ayo ceritakan lagi apa yang terjadi selanjutnya, agar kita bisa cari solusi untuk menghadapi kengerian ini”


“I..iya pak….. “


“Yang saya lihat adalah sosok pocong yang ada di tengah ruangan, sedangkan orang-orang yang berpakaian hitam itu sedang malagukan sesuatu yang saya tidak paham”


“Dan yang mengerikan itu ketika pintu kamar saya buka……”


“Semua orang yang ada disana melihat ke arah saya"


"Tetapi yang paling mengerikan adalah…., adalah wajah pocong itu!"


“Wajah pocong yang ketika itu sedang dipangku oleh orang duduk di dekat jendela rumah”


“Wajah pocong yang menoleh ke arah kamar pak Agus….”


“Wajah pocong yang sudah ada kapasnya itu..itu….…”


“Itu apa mas Burhan, ayo ceritakan kepada saya”

__ADS_1


Terus terang aku menjadi takut juga dengan apa yang diceritakan Burhan, karena cerita itu mirip sekali yang aku mimpikan waktu di rumah Tina.


“Wajah itu adalah wajah mas Aguuss……”


“D…dan ma…mata pocong itu melotot melihat saya maas!”


Sampai disini Burhan pingsan, untung kupegang tubuhnya hingga ndak nggeblak ke belakang.


Apakah yang dialami Burhan itu hanya mimpi yang mirip dengan yang kualami di rumah Tina?


Waduh.. sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku disini, aku harus cari orang yang paham dengan keadaan seperti ini.


Kurebahkan dengan benar dulu tubuh Burhan, kemudian aku ke dapur untuk membuat air minum.


Untungnya air bak mandi sedang penuh jadi aku tidak susah payah mengambil air untuk direbus.


“Kamar mandi ini kotor sekali, nanti aku tanyakan sama Burhan siapa yang menggunakan kamar mandi ini”


Setelah selesai menyalakan kompor dan menaruh ceret di atasnya aku kembali lagi ke kamar Burhan, siapa tau dia sudah siuman.


“Wah mas Burhan sudah bangun juga akhirnya” ketika kulihat Burhan sudah duduk di tempat tidurnya lagi


“M… maaf pak Agus, saya tidak kuat untuk mengingat apa yang terjadi dengan saya pak”


“Ndak papa mas, saya tadi juga barusan merebus air untuk kita minum nanti”


“Bagaimana kelanjutan ceritanya mas. Ehm apa sudah siap untuk cerita kepada saya lagi mas?”


“Wajah pocong itu menoleh ke arah saya dan melihat saya”


“Saya ketakutan saya tutup pintu kamar saya, dan saya kunci….”


“Mereka yang ada di luar saat itu tidak berusaha untuk masuk ke dalam kamar saya, tetapi asap kemenyan itu semakin banyak masuk ke sini pak”


“Saya duduk di pojokan kamar sambil terus melihat pintu kamar saya”


“Hingga yang saya takutkan terjadi…..entah bagaimana pintu kamar saya bisa terbuka dengan sendirinya”


“Pintu kamar saya terbuka, tetapi tidak ada  yang berusaha masuk ke dalam kamar saya….”


“Ruang tamu itu penuh dengan asap kemenyan, dan yang mengerikan adalah pocong itu pak”


“Pocong itu melayang… pocong itu melayang menuju ke arah belakang rumah, dan dia sempat menoleh ke arahku dengan mata yang melotot”


“Wajah pocong itu… wajah pocong itu adalah wajah pak Agus, itu yang bikin saya semakin takut pak”


“Setelah pocong itu melayang menuju ke arah belakang tiba-tiba pintu kamar saya tertutup dengan sendirinya, setelah itu saya tidak sada hingga pak Agus datang ini”


Aku gemetar setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Burhan, tetapi sebisa mungkin aku tidak cerita kepada dia bahwa aku juga mimpi hal yang sama.


Disini kelihatannya ada yang tidak suka dengan kehadiranku dan kehadiran Burhan, tetapi untuk saat ini aku belum bisa mengetahui apa  dan siapanya.

__ADS_1


“Mas Burhan, apa yang mas burhan alami itu mimpi buruk yang terasa nyata, semua itu hanya mimpi mas”


Burhan hanya diam saja ketika kubilang itu hanyalah mimpi, dia juga tidak menyangkal omonganku tentang itu adalah sebuah mimpi buruk


Aku juga tidak cerita kepada Burhan tentang pintu yang tidak terkunci dan lampu petromaks yang tadi kumatikan.


Apalagi tentang adanya pasir dan tanah liat yang ada di kamar mandi dan bagian dapur rumah, aku tidak akan cerita untuk saat ini


“Buktinya saya masih hidup, dan luka saya ini sudah bisa diatasi dan mulai mengering, jadi semua yang mas Burhan alami adalah mimpi”


“Iya pak, mungkin itu adalah mimpi buruk sepanjang hidup saya pak” kata Burhan


“Oh iya mas Burhan, kok hari ini tidak ada pekerja yang masuk ya, apa tadi ada yang kesini kasih kabar tentang mereka yang tidak masuk?”


“Waduuuh saya tidak tau pak Agus, saya kan tadi sedang pingsan hingga pak Agus datang kesini pak”


Burhan sudah mulai bisa membawa diri lagi, pokoknya jangan sampai aku cerita juga apa yang aku juga alami saja.


Aku harus bisa mengalahkan ketakutan Burhan, karena nanti sore aku kan harus ganti perban. Masa aku harus ajak Burhan ke rumah Tina.


Tapi yang pasti siang ini aku harus ke desa sebelah sungai, aku harus ke tempat solikin, karena dia adalah semacam mandor disini.


“Mas Burhan, ayo kita ke desa sebelah, kita cari info kenapa hari ini kok tidak ada yang kerja”


“Karena biasanya apabila tidak ada yang kerja itu ada musibah yang menimpa salah satu dari mereka”


“Nah lebih baik mas Burhan mandi dulu, agar segar dan bisa melupakan mimpi yang semalam itu”


“Iya pak, Saya mandi dulu saja”


Burhan sedang mandi dan dia mungkin tidak memperhatikan adanya bekas bekas tanah liat yang ada di kamar mandi.


Kalau pun dia tanya ya akan kujawab itu bekas kakiku saja…


Nah untuk saat ini yang ingin kulihat adalah bagian belakang rumah, aku penasaran dengan kuburan yang ada disana.


Kalau benar tanah liat itu berasal dari sana, berarti tanah kuburan itu harusnya masih basah.


Kubuka pintu belakang rumah, kemudian aku melangkah agak cepat ke arah palng belakang dimana disana ada kuburan seperti yang ada di dalam mimpiku.


Ketika aku sudah sampai sana, ternyata…


“Hmm aneh, tanah kuburan ini basah, dan ada bekas bau kemenyan nya disini”


Bulu kudukku meremang, jelas saja apa yang ada di belakang ini tidak masuk akal sama sekali.


Siapa dan apa yang dikubur disini, sedangkan aku saja masih sehat kok.


Aku harus cari orang yang paham dengan keadaan ini, tetapi aku tidak mau bertanya kepada pak Solikin.


Akupun tidak mau cerita  apa yang aku dan Burhan alami, pokoknya tidak ada lagi informasi untuk Solikin.

__ADS_1


__ADS_2