RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
244. WATUADEM MATI


__ADS_3

Suasana yang gelap mengakibatkan kami tidak bisa, eh tidak akan melakukan pencarian untuk sementara ini, tidak untuk sementara ini sebenarnya, tapi kami memang tidak mau mengambil resiko.


 Kalau didengar dari bunyi kecipak air, aku bisa perkirakan dia tidak bisa berenang..


“TOLOOONGG… SAYA TIDAK BISA BERENANG!” tiba-tiba orang yang ada di dalam air itu berteriak


Suara minta tolong dan suara kecipak air terus berlangsung, dari suara air yang berisik, dia sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.


Hanya saja karena dia ada di bagian yang dalam, dan kemungkinan ada di bagian yang arusnya agak kencang, ya mbuhlah..wis biarin aja.


Tidak ada suara petugas keamanan yang berjaga di depan, tidak ada polisi yang datang ke sini…


Aku terus  menerus mendengar permohonan untuk ditolong…. Permohonan maaf agar hati kami terketuk, dan kami kemudian menolong dia yang kemungkinan besar sekarang sudah menelan banyak air sungai.


Tapi…..tapi suara itu kenapa sekarang berubah mirip menjadi suara pak Solikin…


Suara Watuadem yang berat itu ketika meminta tolong berubah menjadi suara cempreng, mirip suara pak Solikin yang sering aku dengar selama ini.


“Mas… itu bukanya suara dari pak Solikin?” tanya mbak Tina


“Sik mbak.. Aku bingung… ini gimana cara menolongnya”


“Pak Diran…. Gimana ini?” tanya mbak Tina


Pak Diran hanya diam saja, dan melihat ke sungai yang gelap…. Kayaknya pak Diran sedang berusaha melihat  ke arah orang yang sedang teriak minta tolong itu.


Aku pun sekarang sudah tidak bisa melihat orang yang tadi menceburkan diri ke air itu, pasti orang itu sudah tenggelam atau sudah terbawa arus.


Dipikirnya mungkin sungai itu dangkal, sehingga dia bisa menyeberang ke seberang sungai…. Kalau dia itu pak Solikin harusnya dia tau bagaimana keadaan sungai itu, dia kan sering mancing disini juga.


Berarti orang yang tenggelam itu bukan pak Solikin…. Karena dia nekat menceburkan diri di bagian yang dalam.

__ADS_1


Tidak ada yang menolong.. Baik itu pak Diran, pak Jay, Jiang  maupun pak Hendrik… karena mungkin mereka tau bagian sungai itu dalam dan berbahaya, karena di depan sana ada tikungan yang kayaknya ada pusaran airnya.


“Arus bawah sungai yang bagian dalam itu lumayan kencang lagi pula keadaan gelap gulita… saya tidak bisa menolong orang itu” kata pak Diran


“Biarkan saja pak Diran, mbak Tina dan pak Agus….anggap saja kita tidak tau apa-apa, biarkan dia tenggelam dan anggaplah tidak ada saksi mata” kata pak Jay


“Pak Jay… bapak yakin dengan orang itu… apakah dia itu Watuadem?” tanya mbak Tina


“Iya saya yakin sekali mbak, saya kan sudah lama kenal dengan dia… memangnya ada apa mbak?”


“Suara terakhir dia ketika dia minta tolong pak… berubah menjadi suara pak Solikin” kata mbak Tina


“Iya mbak… nanti kita lihat foto yang akan dikirim oleh Burhan…” jawab pak Jay dengan tenang


“Sudah tidak terdengar lagi gerakan dan kecipak air sungai dan suara minta tolong…. Kemungkinan besar orang itu sudah mati” kata pak Hendrik


Suara kecipak dan minta tolong itu sudah tidak terdengar lagi, keadaan disini menjadi sunyi sepi lagi. Keadaan mencekam tadi sudah berubah menjadi sepi lagi.


“Pak Diran, pak Hendrik, JIang, pak Agus, dan bu Tina… malam ini kita menyaksikan seseorang yang dipanggil dengan nama watuadem tenggelam disungai ini,  saya harap kejadian ini tidak ke mana-mana dan tidak terproses. Stop sampai disini saja” kata pak Jay


“Ya sudah, satu masalah untuk saat ini selesai, sekarang kita lanjutkan untuk masalah berikutnya, yaitu demit haus darah yang ditebar Watuadem di hotel ini” kata pak Diran


“Saya akan ke pohon beringin itu dulu, karena saya punya rencana untuk menjebak demit yang ada disini, kemudian bersama dengan pak Hendrik akan kita bakar demit itu”


“Tapi sebelumnya saya mohon ijin untuk mengorbankan satu kamar yang mungkin akan menjadi abu pak Jay” kata pak Diran


“Maksudnya apa pak?” tanya pak Jay


“Saya butuh satu kamar untuk mengumpulkan demit yang sekarang berserakan disini, demit jahat yang tidak bisa keluar dari sini, karena pagar ghaib yang dibuat oleh leluhur bu Tina… mereka akan saya kumpulkan dan kemudian akan saya bakar bersama sama dengan salah satu bangunan yang ada disini” jawab pak Diran


“Kalau memang diperlukan seperti itu ya sudah pak Diran, gunakan saja kamar yang paling ujung, bisa kamar sepuluh atau sembilan saja” kata pak Jay

__ADS_1


“Ok pak Jay, ayo kita ke sana….”


Pohon beringin hanya beberapa belas meter dari posisi kami….


Yah semoga ini adalah cara untuk membuat tempat ini menjadi aman, selain dengan kematian Watuadem, Watuadem yang kayaknya ada hubungan dan atau bisa saja dia itu Solikin.


Sebuah pohon beringin yang tua sudah ada di depan kami, ketika kutengadahkan kepala, ternyata mbak Kunti yang selalu melotot itu ada disana, kayaknya dia sedang menunggu kedatangan kami.


“Disini yang bisa mendengar saya bercakap dengan mbak Kunti ini mungkin hanya pak Hendrik dan Jiang saja pak Jay. Pak Agus dan bu Tina tidak bisa mendengar saya bercakap cakap dengan Kunti ini”


 “Jadi nanti pak Hendrik atau Jiang yang akan menjelaskan apa yang saya bicarakan dengan mbak Kunti ini”


“Tapi saya belum bisa melihat keberadaan Kunti itu pak Diran” kata pak Jay


“Oh Iya Koh… saya sampai lupa transfer energi…. Siap ya Koh Jay” kata pak Hendrik kemudian memegang pundak pak Jay.


“Sekarang Koh.. cobaen liak ndek atas pohon itu Koh, tapi bok teriak teriak lho ya Koh, anggep ae itu sebangsane kita,, cuma hidupe ndek atas pohon, wes gitu ae…. Ayo sekarang liaken yang ndek atas pohon itu Koh”


Pak Jay perlahan lahan menengadahkan kepalanya, sementara itu pak hendrik sedang memegang bahu pak Jay.


“Astaga…..!” itu kata yang keluar dari mulut pak Jay ketika untuk pertama kalinya dia melihat penghuni yang ada di atas pohon beringin


“Banyak sekali yang sedang bergelantungan di atas pohon itu” lanjut pak Jay


“Itu penghuni lama disini pak Jay, mereka tidak jahat dan tidak mengganggu, asalkan tidak ada yang iseng kepada mereka. Mereka itu hanya butuh tempat untuk tinggal saja pak Jay” kata pak Diran


“Mereka sudah ada disini puluhan tahun, mulai dari pohon beringin ini membesar dan tumbuh sulur-sulurnya”


“Kunti yang itu, yang paling bawah itu yang selalu memberikan informasi kepada saya tentang pak Cheng dan apa yang terjadi disini”


“Ya sudah… sekarang saya akan coba berinteraksi dengan mbak Kun itu, saya akan bakar kemenyan di bawah ini, saya akan bekerja sama dengan mereka untuk melakukan sesuatu kepada demit yang disebar oleh Watuadem disini”

__ADS_1


__ADS_2