
“Bu Tugiyem.. Apa yang terjadi dengan mbak Tina?”
“Sabar nak Agus…. Saya juga belum tau apa yang terjadi dengan mbak Tina…
Mbak Tina masih menggeliat kesakitan, dia sedang dalam penanganan bu Tugiyem…
Padahal tadi mbak Tina baik baik saja, aneh juga kalau tiba-tiba dia merintih kesakitan…
“Tolong bu Tugiyem.. Sakit sekali buuuuu……!” erang mbak Tina yang tergeletak di tengah taman
“Eh pak Agus. saya panggilkan dokter Joko ya” kata Jiang yang kemudian berjalan ke depan hotel
Lah kenapa gak kepikiran dari tadi, kan diluar ada dokter Joko, pasti dia bisa melakukan sesuatu kepada mbak Tina kan.
Aku takut kalau apa yang terjadi dengan mbak Tina ini ada hubunganya dengan sesuatu yang ada di sini, sesuatu yang dicari oleh Fong maupun Solikin dan Pangat!
Dari kejauhan kulihat dokter Joko bersama Jiang mengarah menuju ke sini….
“Apa yang terjadi dengan bu Tina mas Agus?” tanya dokter Joko
“Saya tidak tau pak, tiba-tiba saja dia kesakitan….”
Dokter Joko tidak berkata kata lagi, dia sibuk dengan memeriksa beberapa bagian tubuh dari mbah Tina, mulai memegang perut dan menanyakan sakit atau tidak bagian perut itu, dan dia berusaha melakukan pijat refleksi di bagian telapak kaki mbak Tina, tetapi sayangnya mbak Tina masih saja kesakitan.
Pak Diran, pak Hendrik, dan pak Dollah sedang mencari energi yang menyusup ke tubuh mbak Tina, energi yang menyebabkan mbak Tina merasa kesakitan.
“Tidak ada energi jahat disini pak Dollah” kata pak Diran
“Betul pak… kosong, tempat ini malah kosong dari energi apapun…. Tapi kita tetap mencari jangan sampai kita kelewatan pak” kata pak Dollah
__ADS_1
Mbak Tina semakin menggeliat dan berteriak kesakitan.. Aku nggak tega melihat apa yang diderita oleh mbak Tina…
Dokter Joko masih berusaha melakukan pijatan refleksi di daerah kaki dan telapak tangan, dan bagian dahi mbak Tina, tapi tidak ada perkembangan.
“TINA GAK TAHAN LAGIIIII AARRGHHHH KHEEEQ….KKHHHQQQQQQ UURRGHHHH” teriak mbak Tina kemudian tergolek tidak bersuara dan tidak bergerak
“Waduh dok.. Gimana ini dok”
“Sabar pak Agus… dia hanya pingsan saja”
Lha aku kan ya panik lihat mbak Tina yang kesakitan kemudian pingsan, aku berusaha membangunkan dengan menggoyang-goyangkan bahunya.
“Jangan begitu nak Agus…. Biarkan dan tunggu saja, dia pingsan karena tidak kuat menahan sakit” kata bu Tugiyem
“Iya bu.. Saya hanya panik saja bu”
“Diam kalian semua… perhatikan tanah yang ada di pinggir sungai itu” teriak pak Diran
“Apa yang harus kita lakukan pak Dollah” tanya pak Hendrik dengan suara ketakutan
Tanah yang ada di seberang sungai merekah…. Di tengah malam gini disinari sinar bulan aku bisa melihat tanah yang ada di pinggir sungai itu merekah.. Mirip dengan keadaan gempa bumi.
Rekahan tanah yang ada di pinggir sungai itu anehnya tidak membuat air sungai turun.. Air sungai tetap pada jalurnya dan tidak turun memenuhi rekahan tanah.
Semakin lama rehan tanah itu semakin memanjang dan semakin lebar…..
“Berdoa dan minta perlindungan kepada Tuhan..itu saja yang bisa kita lakukan, kita tidak tau siapa yang akan kita lawan setelah ini” kata pak Dollah dengan suara pelan.
Bau busuk bangkai mulai muncul dari rekahan tanah yang semakin lama semakin lebar, tetapi hingga kini aku belum tau siapa yang akan ciluk baaaaa muncul dari dalam tanah itu.
__ADS_1
Bau busuk dan suhu udara yang semakin meningkat mulai terasa di tengah taman belakang, tempat kami berdiri dan menyaksikan sesuatu yang mengerikan.
Belum ada yang muncul sama sekali… tidak ada yang bersuara, pun tidak ada suara dari tanah yang mulai membuka, seolah ingin memamerkan… ini lho nerakamu.. Kamu akan mati disini.
Kulirik mbak Tina yang masih pingsan….
Tapi…tapi ada yang aneh, sekarang posisi tubuh mbak Tina berubah, mbak Tina terbujur dengan kedua tangan ada di bagian dada, seperti orang yang sedang bersedekap untuk sholat.
Kaki mbak Tina lurus berhimpitan lurus antara kaki kanan dan kiri… pokoknya posisi mbak Tina sedang dalam keadaan pingsan dengan sikap sempurna.
Saat ini hanya aku saja yang memperhatikan mbak Tina, karena yang lainnya sedang bingung dengan tanah yang merekah itu.
“Iblis itu sebentar lagi akan nampak… kita harus siap dengan segala keadaan disini” kata pak Dolah dengan suara bergetar
“Kita tidak bisa lari, kita hanya bisa melawan saja” sambung bu Tugiyem.
Aku tidak menggubris apa yang pak Dollah dan bu Tugiyem katakan, aku sekarang tidak memperhatikan tanah yang merekah semakin lebar, yang aku perhatikan hanya mbak Tina saja.
Perlahan lahan ada perubahan di tubuh dan wajah mbak Tina.. meskipun dia masih dalam keadaan terbujur dan dengan tangan yang bersedekap, ada perubahan yang aku bisa lihat.
Wajah mbak Tina menjadi tirus, hidung dia pun berubah lebih mancung, tulang pipi dan dagunya juga berubah….berubah.. Berubah menjadi wajah yang lebih dewasa dan lebih cantik!
Aku semakin bingung… wajah siapa yang sekarang tergambar di wajah mbak Tina….
“LIhat itu.. Ada asap putih yang keluar dari rekahan tanah” bisik pak Dollah
Aku alihkan perhatianku yang awalnya terus menerus melihat mbak Tina…
Ternyata benar kata pak Dollah, dari rekahan tanah itu muncul asap, asap itu lebih mirip kabut, asap atau kabut itu keluar dari rekahan tanah dengan perlahan lahan.
__ADS_1
Kabut atau asap itu tidak bergerak sama sekali, hanya membumbung di atas rekahan tanah….
Semakin lama asap itu semakin banyak…dan mulai bergerak, tapi tidak bergerak ke arah sini, hanya bergulung gulung saja di pinggir sungai.