
“Jadi sekarang apa yang bisa kita lakukan mas?”
“Saya cuma nunggu hingga kunyuk sadar dulu saja, karena hal ini sudah masuk ke pidana”
“Dok… apa tidak lebih baik dilaporkan ke pak Paijo saja?”
“Itu sedang saya pikirkan pak Agus… nanti setelah saya memeriksa pasien, baru setelah itu saya hubungi pak Paijo”
“Oh iya pak…tadi di ruang tunggu UGD ada teman dia yang bernama Yetno… apakah tidak kita tahan saja orang itu pak. agar pak Paijo bisa mendapat keterangan mengenai korban penusukan itu?”
“Nanti kita pikirkan pak… pikiran saya saat ini tentang luka pada korban penusukan saja pak.. saya belum bisa berpikir yan lainya sebelum saya melihat dan memeriksa korban
Aku dan mas Agus berjalan cepat mengikuti jalan dokter Joko yang cepat menuju ke area UGD…
Memang sih dokter Joko mempunya tanggung jawab untuk pasien korban penusukan itu, tetapi paling tidak da laporan ke pak Paijo terkait dengan aktivitas kejahatan yang barusan terjadi.
“Mas… ada baiknya kita tunggu hingga Kunyuk siuman dulu, soal Yetno biarkan saja dulu, TIna kok merasa bahwa Yetno tidak mengetahui penusukan itu”
“Bisa saja Yetno menemukan Kunyuk terkapar di suatu tempat, jadi percuma juga kita tanya ke Yetno, malah penyamaran kita nanti terbongkar”
“Iya mbak… saya juga tidak bisa mempercayai baik Yetno maupun Kunyuk untuk saat ini, karena semua bisa saja menjadi jahat dan bisa juga menjadi baik.
Kami sudah sampai di area UGD, ketika kulirik di ruang tunggu, ternyata Yetno sudah tidak ada disana.
Dokter Joko pun buru-buru masuk ke ruang UGD.
“Kalian tunggu saja disitu..” teriak dokter Joko sambil jalan masuk ke dalam ruang perawatan.
Mas Agus yang memakai kerudung menoleh kesana kemari, dia mencari orang yang pernah dia kenal di ruangan ini.
Mungkin dia merasa ada seseorang yang dia kenal sebelumnya disini.
“Gimana mas, ada yang aneh disini kah?”
“Saya sedang cari Yetno mbak… aneh kenapa dia ninggalin Kunyuk yang keadaanya seperti itu”
“Yetno mungkin takut apabila ditanya tanya dan disuruh tanda tangan siapa yang bertanggung jawab atau keluarga pasien itu mas”
“Iya mbak.. bisa juga Yetno takut kalau disuruh tanda tangan”
“Lalu Kunyuk gimana mas, siapa yang akan membayar biaya-biaya rumah sakitnya?”
“Waduh… jangan sampai berpikir tentang kita yang harus tanggung jawab mbak hehehehe”
“Sudahlah mbak, kita tunggu saja disini sesuai dengan yang tadi dikatakan dokte Joko bahwa kita disuruh menunggu disini dulu”
Aku dan mas Agus duduk di kursi ruang tunggu UGD, sebenarnya keadaan disini cukup bahaya juga, mengingat aku dan mas Agus ada di ruang terbuka.
Bisa saja Wandi yang masih mencari mas Agus dan aku datang kesini juga.
Tapi sejauh ini keadaan disini aman, hanya ada keluarga dari pasien yang ada di UGD saja yang sedang duduk di sekitar aku dan mas Agus.
“Mbak Tina… sudah saatnya pak Paijo harus campur tangan masalah ini, karena sudah ada korban penusukan”
“Lha..,dari tadi kan kita juga berusaha mengingatkan dokter Joko tentang itu mas, tapi kayaknya dokter Joko sedang fokus pada pasien Kunyuk saja kan”
“Iya juga mbak, seandainya saya punya nomor telepon pak Paijo….”
“Eh mas… tapi bukanya pak Paijo taruh orang disini mas?”
“Iya mbak Tina… tapi kita kan tidak tau siapa orangnya pak Paijo itu”
“Gini saja mas… mas Agus disini dulu.. sementara itu TIna mau ke ruangan satpam, Tina akan tanyakan ke komandan satpam tentang orang pak Paijo yang katanya dia taruh disini.”
“Gimana… mas Agus tidak papa kan kalau Tina tinggal sebentar?”
“Gak papa mbak..”
Aku pergi dari area UGD secepat aku bisa jalan, tidak lupa aku selalu waspada dengan orang yang masih lalu lalang di sekitar sini.
Aku berjalan diantara orang-orang yang selesai berobat di Poli dan menuju ke arah Farmasi,
Untungnya sejauh ini aku tidak melihat keberadaan Wandi dan Mamad yang tadi sempat mencari kami di kamar dua belas.
Tetapi andaikata mereka adapun mereka tidak akan melihat dan mengenali aku, karena penyamaranku yang lumayan dengan jaket parasut dan topi yang kegedean.
Untungnya ruangan satpam itu sudah terlihat.
“Permisi… selamat sore…” Sapaku pada beberapa orang yang ada di dalam
“Iya selamat sore bu.. mau beli makanan bu?” kata seorang satpam yang kemarin membelikan aku makanan
“Tidak pak… saya mau ketemu komandan satpam disini pak…”
__ADS_1
“Oh sebentar bu…. “
“Pak Majid… ibu ini ingin bertemu dengan sampean” kata Satpam itu berkata kepada orang yang sedang duduk di pojokan
“Iya bu… ada yang bisa kami bantu?” kata komandan satpam yang ternyata bernama pak Majid itu
“Begini pak… kemarin pak Dokter Joko dan AKP Paijo datang ke ruangan rawat Inap suami saya. kata pak Paijo dia akan menaruh orang dirumah sakit ini untuk melindungi kami”
Duuuh aku bingung harus ngomong apa ke komandan satpam ini…. seolah olah aku dan mas Agus itu orang penting yang harus dilindungi hehehe.
Tapi memang tidak ada alasan lain yang lebih tepat untuk menanyakan perihal anggota anak buah pak Paijo itu.
“Maaf nama suami ibu siapa?”
“Agus… nama suami saya Agus pak”
“Oh.. benar bu… memang pak Paijo kemarin kesini, dan dia bilang mau taruh orang di rumah sakit ini guna melindungi pak Agus dan mengamati orang yang mencurigakan masuk ke sini dan akan mencelakai pak Agus”
“Tetapi sayangnya hingga sekarang saya belum mengetahui siapa yang akan dikirim ke sini oleh pak Paijo, ehhm boleh saya tau bu.. apakah ada ancaman kepada suami ibu untuk saat ini?”
“Jelas ada pak, bahkan sudah ada korban dari teman suami saya yang sekarang tergeletak di ruang UGD dan sedang ditangani oleh dokter Joko”
“Oh begitu ya bu” wajah komandan satpam yang bernama Majid itu terlihat panik
“Eh silahkan masuk bu, mungkin bisa diceritakan kronologinya?”
“Pak… kalau saya ceritakan kronologinya sambil duduk ya kelamaan pak. begini saja, sekarang tolong bapak telepon kantor pak Paijo, kabari dia agar segera datang kesini”
“Sementar itu bapak ikut saya ke area UGD, disana ada suami saya yang sedang menyamar, karena tadi dia sempat dicari oleh orang yang tidak dikenal”
“Sambil jalan, bapak akan saya ceritakan kronologi kejadian yang menimpa kami berdua”
“Baik bu… sebentar saya hubungi pak Paijo dulu”
“Sampaikan ke pak Paijo bahwa keadaan sudah genting, dan segera datangkan bantuan ke sini”
Komandan satpam itu menghubungi kantor polisi dimana tempat pak Paijo bertugas.
Dia berbicara dengan suara pelan sehingga aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan
Yang aku dengar hanya kata siap siap saja.. kemudian dia menutup sambungan telepon dengan pak Paijo.
“Beliau yang akan datang kesini sekarang, dan untuk sementar ini saya akan mengawal ibu Agus hingga pak Paijo datang”
Aku dan pak Majid komandan satpam yang bertugas di rumah sakit ini berjalan cepat menuju ke arah UGD.
Terus terang aku merasa sedikit aman dengan adanya pak Majid ini, meskipun aku masih ketakutan juga, karena yang kami hadapi ini bukan penjahat kemarin sore.
Baik Wandi, Mamad, Burhan itu sudah merupakan penjahat kawakan, mereka sudah berani melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.
Aku sebenarnya ingin pergi dari sini secepatnya, mengingat orang-orang jahat sudah mulai berani masuk ke rumah sakit.
Rumah sakit ini sudah tidak aman bagi kami, belum lagi tentang pak Solikin yang agak aneh, karena aku merasa ada yang tidak wajar dengan kelakukan pak Solikin.
Sesampainya aku di ruang tunggu UGD ternyata mas Agus tidak ada disana…!
Aku belum beraksi dulu, agar tidak nampak panik.. aku coba untuk berpikir dengan jernih, mungkin mas Agus sedang bersama dengan dokter Joko.
“Pak Majid… tunggu disini dulu pak… saya mau cari suami saya dulu”
“Tadi dia saya suruh tunggu disini dengan menggunakan jilbab dan sweater warna merah muda agar tidak diketahui oleh orang yang mencari kami”
“Iya bu…atau saya bantu cari juga bu…
“Pakai Jilbab warna kuning dan sweater warna pink ya pak” ulangku kepada komandan satpam
Aduh… apa yang terjadi dengan mas Agus… kenapa dia pergi begitu saja tanpa memberi tanda sama sekali.
Dan apa yang menyebabkan dia pergi dari sini… atau aku tanya ke orang yang sedang menjaga keluarganya di ruang tunggu ini saja.
Kebetulan disini ada beberapa orang yang sedang menunggu keluarganya yang sedang ada di ruang UGD, mereka pasti melihat kemana mas Agus pergi.
“Permisi pak… apa bapak lihat orang yang tadi duduk disini dengan memakai jilbab berwarna kuning dan sweater pink?
“Tadi pergi mengikuti dokter yang barusan keluar dari dalam ruang UGD mbak….”
“Tadi apa bapak tidak dengar apakah mereka bicara tentang kemana atau apa gitu pak?”
“Tidak dengar mbak, saya hanya dengar pak Dokter itu berkata.. ayo ikut saya agar kamu selamat”
“Oh iya satu lagi mbak… tadi saya dengar dokter itu bicara kalau yang orang yang ada di dalam itu meninggal”
“Baiklah pak… terima kasih pak…”
__ADS_1
Aku menghampiri pak Satpam yang masih berdiri di ruang tunggu dengan posisi agak jauh dari aku yang sedang menanyai laki-laki yang ternyata melihat ke mana mas Agus pergi.
Tapi aku kurang puas dengan jawaban laki-laki itu, dia tidak tau kemana mas Agus diajak pergi.
Setelah kuucapkan terima kasih, aku menjauh dari laki-laki yang sudah berumur itu… aku bingung harus ke mana untuk mencari mas Agus, karena keadaan dirumah sakit ini tidak menentu.
Tiba-tiba ada seorang pemuda mendekati aku…
“Ibu ini yang tadi bersama laki-laki nggak waras yang memakai jilbab dan sweater pink ya?” kata pemuda itu dengan sedikit tersenyum
“Iya mas… dia saudara saya yang agak terganggu jiwanya” aku berusaha mengikuti alur pemuda ini dulu
“Apa mas tau kemana saudara saya itu pergi?”
“Dari tadi waktu kesini bersama ibu, saya sudah curiga, karena aneh juga masak ada perempuan berjilbab tapi berkumis dan ada sedikit brewoknya… mana tidak ada buah dahdah nya lagi bu”
“Terus terang karena ada yang aneh, makanya saya perhatikan terus saudara itu itu…”
“Waktu tadi ibu pergi…ada dua orang yang datang kesini.. kemudian saudara ibu ketakutan… dia kemudian menunduk agar wajahnya tidak kelihatan”
“Kemudian setelah dua orang itu pergi… dia nekat masuk ke ruang UGD. saya tidak tau apa yang dia lakukan di dalam sana… “
“Tapi tidak lama kemudian dia keluar dari sana bersama dengan seorang dokter, saudara ibu mengikuti dokter itu”
“Apa mereka bicara mau pergi ke mana mas?”
“Tidak mbak… tapi karena saya penasaran… saya ikuti saja mereka pergi kemana… saya merasa ada yang tidak beres dengan orang yang tidak waras itu dan dengan dokter yang dia ikuti”
“Mereka sempat bicara, tapi saya tidak dengar apa yang mereka bicarakan bu karena posisi saya agak jauh dari mereka berdua”
“Kemana mereka berdua pergi mas?”
“Saya ikuti mereka sampai parkiran mobil yang ada di parkiran belakang ini bu… parkiran khusus dokter UGD.. setelah itu mereka pergi…”
“Ya sudah mas… terima kasih…”
Aku menghampiri satpam yang berdiri tidak jauh dari tempatku bicara dengan pemuda yang ternyata tau kemana mas Agus sedang pergi.
Kalau memang niatnya untuk mencari tempat aman, kenapa aku ditinggal, kenapa tidak menunggu hingga aku datang?
Jangan-jangan mereka berdua menuju ke tempat pak Paijo…
“Pak Majid… suami saya pergi bersama dokter Joko… tadi sampean dengar kan apa yang saya bicarakan dengan pemuda yang disana itu?”
“Iya saya dengar bu… tapi bukanya pak Paijo sedang dalam perjalanan ke sini?”
“Sebentar pak… saya mau masuk ke dalam UGD itu… saya akan tanya tentang orang yang tadi terkena luka tusukan itu”
Aku penasaran dengan kondisi Kunyuk, karena waktu tadi aku pertama kesini keadaanya masih hidup, tapi tadi kata bapak-bapak yang mendengar perkataan dokter Joko, Kunyuk sudah meninggal.
Aku harus tau bagaimana keadaan dia sebenarnya, karena saksi mata satu-satunya adalah kunyuk.
Aku nekat saja masuk ke dalam ruang UGD yang seharusnya tidak boleh dimasuki sembarang orang..
Tapi tidak ada kunyuk disana.. tempat tidur yang tadinya ada sedikit bercak darah tidak ada juga… yang ada hanya orang-orang yang menderita sakit tertentu yang harus dirujuk ke UGD.
“Tidak ada Kunyuk?!... kok aneh”
Kebetulan ada beberapa perawat yang sedang sibuk dengan pekerjaanya, mereka sedang mondar mandir melakukan perawatan kepada pasien yang ada disini.
“Eh maaf pak.. saya mau tanya tentang korban penusukan yang tadi ada disini, Korban penusukan yang tadi ditangani oleh dokter Joko itu pak”
“Oh yang tadi itu sudah dikirim ke kamar jenazah untuk dilakukan prosedur berikutnya, ibu ini sanak saudaranya?
“Lho sudah meninggal?, bukanya satu jam lalu dia masih hidup pak?”
“Bukan pak, saya bukan saudaranya, saya hanya penasaran dengan orang yang jadi korban penusukan itu”
“Yah semua itu bisa terjadi bu, mungkin penusukan itu melukai organ dalamnya… memang tadi dokter Joko yang menanganinya, tapi setelah meninggal ya kami kirim ke kamar jenazah”
“Ya sudah pak.. terimakasih atas informasinya…”
Kunyuk sudah mati, satu-satunya saksi mata itu sudah mati… tapi kan masih ada Yetno, bukanya Yetno yang mengantar Kunyuk ke sini.
Tapi kemana perginya mas Agus… jelas tidak mungkin dia meninggalkan aku, dia bukan tipe orang yang seperti itu, dia pasti akan menunggu aku apapun yang terjadi.
Aku bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres ketika aku sedang ada di ruangan satpam tadi.
Bukan tipe mas Agus yang pergi dengan diam-diam tanpa meninggalkan pesan sama sekali!.
“Eh bu… bagaimana, apa kita jadi telepon pak Paijo?”
“I..iya pak… maaf saya sedang dalam keadaan bingung, karena suami saya pergi tanpa pamit kepada saya”
__ADS_1
“Ya sudah bu, kita lebih baik ke ruangan kami dulu saja untuk menghubungi pak Paijo, semoga dia masih ada di kantornya”