RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
75. DI RUMAH PAK SOLIKIN


__ADS_3

Kulihat jam tangan digital kw ku yang ada lampunya…


“Aah ternyata masih jam 19.15, kalau aku dorong motor ini ke rumah…. tidak ada sepuluh menit pasti akan sampai”


Kutuntun motor perlahan lahan, karena di sekitarku tidak ada cahaya sama sekali, gelap gulita tanpa ada sinar bulan.


Mungkin kalau dekat rumah yang pohonya tidak terlalu rimbun, sinar bulan masih bisa tembus, tetapi di tengah hutan ini  sinar bulan tidak bisa menembus sama sekali.


Motor tua yang sudah berjasa mengantarku ke rumah Tina ini mungkin benar-benar sudah capek, sudah lelah karena hampir tiap hari harus berjalan dari rumah penggergajian menuju ke desa.


Lima menit sudah aku menuntun motor tua yang beberapa kali kucoba menstater tapi tetap saja tidak mau nyala.


Aku jalan terus mengikuti jalan makadam, jarak pandangku hanya bisa melihat dua meter di depan, itu pun hanya berupa bayangan saja.


“Hmm kok bau bunga ya… aduuuuhh…”


“Bau bunga ini seperti yang kualami beberapa waktu lalu….”


“Ya Allah.. jangan tunjukan ke hambamu ini hal-hal yang mengerikan ya Allah…”


Aku terus berjalan hingga aku bertemu dengan semak belukar, tempat aku sembunyi dari orang-orang yang berpakaian hitam yang jalan menuju ke kuburan ghaib.


Tapi untungnya hingga aku melewati semak itu tidak ada penampakan apapun, yang ada hanya bau wangi yang masih saja mengikuti hidungku.


Hingga beberapa meter kedepan bau wangi itu terus mengikutiku, rasanya seperti aku dikawal oleh pasukan bunga. Tapi ini pasukan bunga kamboja.


Terus dan terus aku jalan hingga, kulihat ada sesuatu di depan sebelah kiriku….


“Aduuuuh siapa lagi itu Jangkreeek….!”


“Kenapa selalu lihat benda-benda tidak masuk akal disini sih”


Perlahan..lahan aku semakin dekat dengan sesuatu yang nampak sedang duduk atau sedang jongkok itu.


Ketika sudah semakin dekat….


“C*k tibake cuma semak belukar\, untung tadi ndak  tak lempar motorku c*k!”


Duh ngeri juga ya kalau perasaan takut kita mempengaruhi pikiran, semak-semak aja bisa terlihat kayak sesuatu yang sedang jongkok.


Tapi bau wangi ini tidak pernah pergi dari indera penciuman… bau wangi bunga kamboja yang kadang berubah menjadi bunga melati ini terus menerus meneror hidungku.


Ah untung di kejauhan aku bisa lihat cahaya lampu petromaks yang berasal dari ruang tamu rumah penggergajian.


“Aku harus sembunyikan motor ini sekarang saja…..”


Terus terang aku bingung akan sembunyikan motor ini dimana karena disini hanya ada semak belukar saja.


Sedangkan hutan yang  rimbun sudah ada di belakangku…


Tapi untungnya di sebelah kiri ini ada semak yang cukup rindang, jadi aku bisa taruh motor di sana saja.


“Nah… mbah, tunggu disini dulu saja ya, saya mau ke rumah pak Solikin dulu mbah”


“Disini aman kok mbah hehehe, paling juga mbah nanti ditemani sama mbak kunti hihihihi”


Kubiarkan motor tua yang kupanggil mbah ini ada disini sementara aku akan menuju ke rumah  pak Solikin.


Tapi sebelum ke rumah pak Solikin, aku penasaran dengan rumah penggergajian….

__ADS_1


Kini aku jalan perlahan lahan mendekati pagar depan rumah..


“Halaman rumah tidak ada Burhan, mungkin dia ada di dalam rumah, karena lampu petromak nyala terang”


“Lebih baik aku menuju ke desa sebelah saja sekarang, agar bisa balik lebih cepat…”


Kususuri jalan setapak pinggir sungai dengan tanpa ada rasa takut sama sekali, ndak tau kenapa aku kok sama sekali tidak merasa ketakutan.


Malam ini hawanya lebih dingin dari pada biasanya, yah lumayan juga rasanya sejuk kayak di pegunungan.


Aku jalan agak cepat hingga aku sudah ada di depan jembatan kayu yang menghubungkan desa dengan rumah penggergajian.


Ku Seberangi sungai tanpa rasa takut sama sekali…. karena rasa ingin tahuku mengalahkan rasa takut.


Setelah beberapa belas menit berjalan kaki dengan sedikit berlari, akhirnya aku sampai juga di depan rumah pak Solikin


“Assalamualaikum.. kulonuwun….”


“Waalaikum salam….” teriak suara yang kukenal sebagai suara pak Solikin


Pintu rumah itu terbuka, sinar lampu petromak di dalam rumah membuat keadaan di luar semakin terang.


“Lho ada pak Agus….”


“Ada apa kok malam-malam kesini pak” tanya pak Solkin keheranan


“Ayo masuk.. masuk pak, ngobrol di dalam saja….”


Pak solikin melihat ke kanan kiri dulu sebelum mempersilahkan aku masuk…


Dia mungkin curiga apabila aku datang bersama Burhan.


“Maafkan saya pak, saya kesini karena di otak saya banyak hal yang ingin saya tanyakan”


“Hmm silahkan pak Agus, apabila ada persoalan yang saya tau, pasti akan saya jawab pertanyaan bapak”


“Begini pak,... beberapa hari lalu sekitar tengah malam.. pak Solikin apa datang ke rumah penggergajian?”


“Hehehe..buat apa saya ke sana malam-malam pak Agus, apa gunanya saya tengah malam gitu ada di rumah penggergajian?”


“Lebih baik saya mancing saja, daripada malam-malam datang ke rumah itu hehehe”


“Dan memang kemarin malam atau lewat tengah malam saya bersama teman saya memancing di sekitar sana”


“Tempat saya biasa mancing itu di melewati rumah penggergajian”


“Kalau pak Agus tidak percaya bisa tanya teman saya Ahmad yang waktu itu sempat ketakutan waktu ada di dekat jhamban sebelah pohon beringin”


“Kata pak Ahmad dia sempat dengar genderuwo buang hajat dengan suara kentut yang sangat keras dan nggilani”


“Saya bilang kepada dia .. paling itu pak Agus atau Burhan yang sedang setor malam-malam”


“Saya sudah belasan tahun mancing di pinggir kali dalam hutan, tetapi tidak pernah ada yang aneh aneh seperti itu pak Agus hehehe”


Hmm berarti memang pak Solikin bersama kawan dia yang lewat depan jhamban malam-malam itu….


Jangkrek!... gara-gara mereka aku ndak  sempat cawik c*k….


Gara-gara mereka syilitku sampek garing dewe asyuuu tenan kok c*k.

__ADS_1


Aku jelas tidak akan cerita kalau malam itu aku ada di jhamban…. isin c*k!


“Ceritanya gini pak…. “


“Malam itu waktu saya mau ke kamar mandi , tiba-tiba di ruang tamu ada pak Solikin, dan bapak sempat menyapa saya juga pak”


“Terus terang saya kaget, tapi karena kandung kemih saya rasanya sudah akan pecah karena menahan beban air seni, maka saya utamakan ke kamar mandi dulu pak”


“Setelah dari kamar mandi, saya balik ke ruang tamu, pak Solikin sudah tidak ada”


“Hahaha…. masak saya jadi hantu pak Agus….”


“Hal seperti itu tentu saja itu tentu saja ulah orang yang ingin mengerjai pak Agus”


“Dan orang itu berusaha memfitnah saya, seolah saya adalah orang yang membikin susah dan akan mencelakai pak Agus disana”


“Agar seolah olah saya yang memusuhi pak Agus, dan setelah itu pak Agus membenci saya”


“Memangnya ada orang yang tidak suka dengan saya pak Solikin?”


“Hahaha orang itu bukan tidak suka dengan pak Agus, tetapi mereka tidak suka dengan saya”


“Sedangkan pak Agus ini hanya akan dijadikan korban atau kambing hitam mereka hehehe”


“Maksudnya bagaimana pak Solikin?”


“Pak Agus ini seharusnya tidak ada disini…..!”


“Pak Agus ada disini karena Purwandi tidak menginginkan ada orang yang tidak dia kenal yang kerja disini”


“Tetapi karena dengan adanya pak Agus disini maka membuat kerja mereka menjadi terhambat”


“Purwandi harusnya tetap disini, hanya saja karena dia ada masalah dengan keluarganya, sehingga dengan terpaksa dia keluar dari pekerjaan ini hehehe”


“Cerita ini akan menjadi rumit pak….”


“Tetapi maaf pak, saya tidak bisa cerita kepada pak Agus, karena saya baru kenal dengan pak Agus beberapa hari ini saja”


“Dan saya belum bisa mempercayai pak Agus, jadi mohon maaf pak”


Aduuuh apa lagi ini, cerita tentang apa lagi ini, ada apa sebenarnya dengan aku yang ada di rumah itu.


Lalu apa yang dikerjakan pak Wandi sebelumnya di rumah itu.


Dan yang dimaksud dengan mereka itu apakah Burhan, pak Wandi dan Mamad?


“Waduh pak Solikin… saya semakin tidak paham dengan yang bapak katakan”


“Begini saja pak Agus, ada baiknya pak Agus tanya kepada bos besar… apa tidak salah dia mengirim Burhan ke sini?”


“Lhoo barusan sore ini saya telpon bos besar pak….”


“Dia malah bilang saya disuruh baik baik dengan Burhan, karena Burhan itu adalah Grader kayu yang handal”


“Bos bilang juga apabila Burhan dulunya kerja di pabrik kayu di daerah pdn, kemudian diajak kerja di penggergajian ini dengan gaji yang besar”


“Bos besar membangga-banggakan Burhan pak”


Wajah pak Solikin mendadak bingung setelah aku cerita apa yang dikatakan bos besar tadi sore.

__ADS_1


Pak Solikin diam beberapa saat, dia kelihatannya sedang berpikir…


__ADS_2