RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
131. KOMUNIKASI DENGAN KUNYUK


__ADS_3

Beberapa kali aku berusaha untuk membujuk Kunyuk agar mau mendekat dan mau menceritakan sesuatu kepadaku.


Tapi sayangnya dia tidak mau mendekat sama sekali, seolah dia melihat aku itu seperti melihat sesuatu yang ditakuti.


“Dicoba terus mbak Tina… dia sebenarnya ada kemauan untuk bicara dengan mbak Tina, hanya saja dia mungkin kurang percaya diri, karena dia sekarang hanyalah makhluk tak kasat mata”


“Jadi kadang ada saja arwah seperti ini….dia tidak percaya bahwa dirinya sudah meninggal, dan dia belum bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah meninggal”


“Tapi kenapa dia mau ikut dan dekat sama saya pak?”


“Kan tadi mbak Tina sudah tau bahwa mbak Tina seperti ini karena ulah seseorang yang memang menginginkan agar mbak Tina gila dengan semua arwah yang dekat dengan mbak Tina”


“Tapi untuk dua arwah tadi kan sudah saya kembalikan, tinggal yang kunyuk ini saja yang masih ada disini, karena bisa saja karena belum saya kembalikan…”


“Atau bisa saja karena dia memang ingin bertemu dengan mbak Tina karena suatu hal yang dia memang inginkan”


“Hanya saja mungkin sekarang dia masih ragu untuk bicara atau berkomunikasi dengan mbak Tina”


“Maka dari itu coba bujuk dia untuk mendekat dulu saja… bikin dia percaya bahwa mbak Tina tidak bermaksud jahat kepada dia”


“Tapi tadi sudah saya coba pak… Kunyuk masih saja diam tak bergerak sama sekali dari situ”


“Coba sekali lagi mbak.. ingat apa yang akan dikatakan kunyuk mungkin saja berguna bagi keselamatan mas Agus mbak”


Benar juga apa yang dikatakan pak Pangat ini, bisa saja perkataan Kunyuk bisa aku jadikan kunci tentang kasus aneh yang melibatkan banyak orang.


Aku harus bisa membuat Kunyuk mendekati aku dulu, kemudian baru aku ajak dia untuk bicara mengenai apa  yang terjadi dengan dirinya dahulu.


Yang pertama dilakukan adalah menarik simpati dia agar dia dekat denganku gulu.


“Jangan mbak, jangan berpikir seperti itu, dia bukan manusia seperti  kita, dia mahluk ghaib yang bisa saja berusaha mendapatkan keuntungan dari kita”


“Maksud saya keuntungan seperti dia akan memberikan informasi setelah mbak Tina memberikan apa yang dia minta”


“Saya sebenarnya gemes lihat demit seperti ini, biasanya saya pakai jalan kekerasan agar dia mau bicara dan memberi kita informasi”


“Iya pak Pangat, saya paham apa yang pak Pangat maksudkan… tapi bukanya tadi pak Pangat sendiri yang bilang kalau kita coba dekati dia dengan pelan-pelan?”


“Ya sudah coba dulu saja mbak… karena mas Agus sekarang pasti dalam keadaan bahaya dan butuh informasi segera”


Hebat pak Pangat ini..padahal aku hanya memikirkan apa yang aku akan lakukan kepada Kunyuk, tapi lagi-lagi dia bisa membaca pikiranku.


Aku coba sekali lagi saja bagaimana mengajak bicara Kunyuk, aku tau keadaan mas Agus saat ini sedang dalam keadaan berbahaya, tapi aku agak tenang karena pak Paijo dan anak buahnya sekarang ada di sana.


“Nyuk… mas Agus sekarang dalam keadaan bahaya… dia diculik oleh seseorang  yang kita belum tau siapa yang menculik itu”


“Paling tidak kamu kasih saya informasi siapa yang menculik mas Agus, agar mas Agus bisa diselamatkan”


“Bukanya kamu sebelumnya juga diselamatkan mas Agus Nyuk… jadi kalau mau balas Budi ya sekarang saja”


Kulihat Kunyuk yang sedang melayang di pojokan itu mulai bergerak, dia bergerak ke arah ku dengan cara melayang.


Wajah dia pucat dan tidak ada ekspresinya sama sekali… Wajah yang sama dengan ketika aku bertemu dengan bapak-bapak dengan kaos biru bergambar baterai dan bapak-bapak dengan kaos kuning bergambar sandal skyway.


Kunyuk berhenti sebelahku, dia kemudian melirik ke arah pak Pangat dengan wajah yang masih tanpa ekspresi sama sekali.


Kemudian dia melihatku….


Sebenarnya tatapan wajah tanpa ekspresi itu terlihat sedih… gambaran wajah itu sedih meskipun sangat pucat dan tanpa ekspresi sama sekali.


terus terang aku merinding ketika dia mendekati aku, hanya saja karena disini ada pak Pangat, maka aku agak berani juga menghadapi Kunyuk.


Tubuh tembus pandang Kunyuk bergetar.. dia kelihatannya ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi tidak bisa..


Mungkin dia sedang berusaha mengumpulkan energinya untuk bisa berkomunikasi dengan aku dan pak Pangat.


“Sebentar mbak….”


“Arwah ini belum mampu berbicara secara verbal dengan kita mbak Tina, dia masih terlalu lemah, karena dia baru saja meninggal”


“Saya bisa saja membantu menyalurkan energi kepada dia agar dia bisa bicara dengan kita”


“Tapi cara itu akan membuat dirinya menjadi lemah, karena energi yang berasal dari kita sebagai manusia berbeda dengan yang mereka ghaib miliki”


“Lalu bagaimana caranya agar dia bisa berkomunikasi dengan kita pak?”


“Dia bisa berkomunikasi dengan kita, tetapi tentu saja caranya berbeda, dia harus bisa mengolah dirinya sehingga bisa berkomunikasi dengan cara seolah kita berbicara dengan hati atau mbatin istilahnya”


“Seolah olah mbak Tina bisa membaca pikiran dia… paham kan maksud saya mbak?”

__ADS_1


“Gampangnya dengan cara batin, kalian bisa berbicara dengan cara batin”


“Suruh dia memikirkan kata-kata dan kemudian nanti mbak Tina saya beri energi agar batin mbak Tina bisa membaca apa yang dia sedang pikirkan”


Sosok bayangan itu terus menerus bergetar, kayaknya dia berusaha agar bisa berkomunikasi dengan aku.


Tapi semakin lama getaran tubuh sosok Kunyuk itu semakin  lemah dan akhirnya berhenti.


Ketika berhenti.. sosok bayangan itu perlahan lahan memudar…. Kunyuk semakin memudar seperti asap atau kabut yang hilang secara perlahan lahan.


“Suruh dia berhenti untuk membuang buang energinya mbak.. karena apabila dia semakin lemah, maka dia perlahan-lahan akan hilang”


Aku segera menyuruh Kunyuk untuk berhenti berusaha berkomunikasi dengan kami.


Aku berbicara dengan keras kepada Kunyuk untuk stop….


Setelah beberapa kali aku bicara.. akhirnya dia berhenti bergetar…


Tapi sayangnya sosok bayangan dia sudah semakin memudar, tidak seperti tadi ketika dia belum berusaha untuk berkomunikasi dengan kami.


“Sekarang suruh dia untuk memikirkan sebuah kata atau kalimat…. tapi mbak Tina menyuruhnya dengan dua cara, yaitu dengan berkata dan dengan cara mbatin”


“Semoga dia bisa menangkap apa yang mbak Tina katakan”


“Akan saya coba pak”


Aku konsentrai kemudian kusuruh Kunyuk untuk memikirkan sebuah kata atau kalimat…


Setelah  dua kali kusuruh akhirnya dia paham juga….


Aku tau dia paham karena entah di kepalaku atau di dalam diriku aku mendengar sebuah kata…


“Kamu ngomong apa… apa bener kamu ngomong Mamad bukan Burhan?”


“Apa benar yang kamu sebutkan itu kata-kata Mamad  bukan Burhan?”


“Apa yang membunuh kamu itu Mamad,... bukan Burhan?”


Bayangan Kunyuk yang mulai memudar itu perlahan lahan mengangguk, yang berarti artinya pembunuhan Kunyuk itu dilakukan oleh Mamad, bukan Burhan.


Itu yang bisa kupahami dari omongan Kunyuk… bukan omongan sih yang sebenarnya, tetapi lebih ke suara batin yang ada di dalam tubuhku.


“Apakah yang Kunyuk katakan itu adalah yang membunuh Kunyuk pak?”


“Lalu apa yang dilakukan Burhan ketika dia ada di warung pada saat itu pak, ketika Burhan bilang mau melakukan sesuatu di hutan?”


“Begini mbak Tina… Yang diincar Burhan adalah Solikin, yang diincar Mamad dan Wandi adalah Mas Agus, Kunyuk dan Yetno, dan mungkin juga pak Wito saat ini ada di pihak mas Agus…”


“Sekarang mbak Tina coba berlogika saja….siapa lawan siapa”


“Yang saya bingung itu… dimana tempat Kunyuk ditusuk itu, karena waktu itu kan tidak berselang lama dengan Mamad dan Wandi yang ada di dalam rumah sakit pak?”


“Kalau memang Mamad yang menusuk Kunyuk, harusnya kan dia tidak ada di dalam rumah sakit”


“Bisa saja penusukan itu kan sebelum Mamad dan Wandi masuk ke dalam rumah sakit untuk mencari mas Agus dan sampean mbak…”


“Bisa saja terjadi malam harinya atau pagi harinya kan mbak”


“Pokoknya yang mbak Tina tau tiba-tiba di UGD ada Yetno yang sedang mengantar Kunyuk yang dalam luka parah akibat penusukan itu”


“Dan saya kira alurnya sekarang sudah mulai jelas mbak, sekarang harusnya Paijo sudah melakukan sesuatu di sana”


“Kita apa tidak menyusul ke sana pak?”


“Saya tidak bisa mbak, karena malam ini sudah banyak pasien yang berasal dari luar kota yang sudah bikin janji untuk pengobatan”


“Kalau mbak Tina mau ke sana silahkan… saya ada motor lagi yang bisa digunakan mbak Tina untuk menuju ke sana”


“Dan harap diingat…mbak Tina adalah keturunan langsung dari penduduk asli hutan itu, seharusnya mbak Tina saat ini yang sudah mulai terbuka indera keenamnya bisa kerja sama dengan mereka yang ghaib untuk menyelamatkan mas Agus”


“Seharusnya mbak Tina tidak usah takut kalau ada disana, karena  pasti ada yang akan melindungi mbak Tina disana”


“Dan Kunyuk keliatanya juga ingin ikut dengan mbak Tina sekarang ini”


“Ya sudah pak, kalau memang pak Pangat yakin kalau disana memang ada dan banyak yang akan melindungi saya”


“Sebentar… saya akan keluarkan motor milik anak saya yang tidak dipakai lagi, karena sejak anak saya kerja di kota, motor ini hanya tersimpan di garasi dan hanya saya panasin aja mbak”


Pak Pangat masuk ke dalam rumah… dia sedang menyiapkan motor milik anaknya yang akan aku pakai untuk masuk ke dalam hutan malam-malam begini.

__ADS_1


Aku tau memang aku keturunan dari penduduk yang dulu ada di tengah hutan itu, tapi aku tidak yakin juga apabila ada yang melindungi aku disana.


Tapi semua ini tidak akan terbukti apabila tidak aku coba…


Ya sudah aku akan kesana bersama si arwah Kunyuk ini.


*****


Pukul 19.00 aku mulai menjalan motor milik anak pak Pangat menuju ke hutan ke rumah penggergajian.


Arwah Kunyuk ada bersama aku, kemungkinan besar sedang melayang atau duduk di jok motor belakang hehehe.


Yang pasti perjalanan nekatku ini sangat beresiko, karena aku hanya sendirian mengendarai motor dan masuk ke dalam hutan yang sangat gelap.


Ketika aku sudah tiba di pintu masuk ke dalam hutan… di depanku keadaanya sepi… tidak ada anak buah Pak Paijo dan tidak ada pula yang bernama Paijo itu.


Kuhentikan motor ini karena aku mulai ragu untuk masuk ke dalam hutan yang gelap….


“Bukanya aku keturunan dari penduduk hutan ini”


Seharusnya aku tidak perlu takut, karena aku sekarang ada di dalam rumahku sendiri.


Paling tidak aku seharusnya yakin bahwa arwah leluhurku akan membantuku ketika aku ada di hutan itu.


Tapi paling tidak lampu motor ini harus kumatikan.


“Matikan lampu motornya… saya yang akan ada di depanmu”


Tiba-tiba ada suara yang masuk ke tubuhku, bukan suara tetapi sepertinya aku membatin bahwa aku harus mematikan lampu motor ketika aku masuk ke sana.


“Yang bicara itu apakah itu kamu Nyuk?” aku berusaha membatin agar bisa berkomunikasi dengan Kunyuk


“Iya..ini saya”


Setelah lampu motor kumatikan.. aku jalankan motor ini lagi menuju ke arah masuk ke jalan makadam di tengah hutan yang menuju ke rumah penggergajian.


Baru saja motor kuarahkan masuk..seketika bulu kudukku meremang… mungkin artinya sekarang aku sedang ada di antara leluhur ghaibku… itu hanya kemungkinan saja.


Di depan motor.. aku bisa melihat bayangan kunyuk yang memudar akibat tadi dia memaksakan diri untuk mengerahkan energinya ketika akan berbicara denganku..


Motor kujalankan pelan-pelan hingga akhirnya aku sekarang ada di sepertiga dari jalan yang menuju ke rumah penggergajian.


Tiba-tiba Kunyuk berhenti dan menyuruhku untuk mematikan mesin motor…


Untungnya Kunyuk sudah mulai lancar berkomunikasi denganku, bahkan dia sekarang menyuruhku untuk berjalan kaki dan menaruh motor di tempat yang aman.


“Kenapa kamu suruh aku untuk jalan kaki saja Nyuk?”


“Di depan sana ada beberapa orang yang mbak TIna kenal,.. tapi mereka yang ada disana itu bersekongkol”


“Siapa mereka itu Nyuk?”


“Nanti mbak Tina akan tau sendiri, dan jangan kaget atau heran karena yang kan mbak Tina lihat itu tidak sesuai dengan perkiraan mbak Tina”


Ada untungnya juga bicara dengan cara hanya membatin saja, karena kita tidak perlu berbisik-bisik, sehingga kita tidak perlu mengeluarkan suara sama sekali.


“Mbak Tina tenang saja…. banyak ghaib disini yang ternyata kenal dan merupakan leluhur mbak Tina… mereka tadi sempat bertanya kepada saya kenapa mbak Tina ada disini sendirian”


“Saya jelaskan saja bahwa pacar eh suami mbak Tina sedang dalam bahaya dan sedang ditahan oleh orang-orang yang tadi masuk ke hutan ini”


“Jadi mbak Tina tidak usah khawatir apabila ada disini”


“Tapi kenapa saya tidak bisa melihat mereka Nyuk?”


“Ilmu mereka sudah sedemikian tingginya sehingga mereka bisa tidak menampakan diri pada sebagian orang”


“Pokoknya mbak Tina jalan saja ke sana dan jangan membuat suara yang mencurigakan”


Setelah motor aku sembunyikan di tempat yang aman… aku berjalan pelan-pelan mengikuti Kunyuk yang sudah ada di depanku beberapa meter.


Ada sekitar lima menit aku jalan di kegelapan malam.. untungnya malam ini sinar bulan cukup bisa menerangi keadaan di sekitar sini, sehingga aku masih bisa melihat keadaan disini beberapa meter ke depan saja.


“Sekarang perhatikan di depan sana mbak.. ada siapa saja yang sedang duduk duduk di atas jok sepeda motor itu”


“Saya tidak melihat siapapun Nyuk…apa mungkin masih kurang dekat?”


“Mendekatlah lagi mbak… pelan-pelan saja..”


Semakin aku berjalan kedepan.. pelan-pelan aku bisa melihat siluet motor yang sedang terparkir dengan beberapa orang yang ada di atasnya

__ADS_1


Perlahan lahan tapi pasti aku lihat ada dua motor yang ada di tengah jalan ini.. dan di atas dua motor itu ada dua orang yang sedang duduk di atas jok motor.


Dan dua orang  yang sedang duduk di atas motor itu berpotongan rambut cepak!


__ADS_2