RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
163.ORANG YANG MENGEJAR KAMI


__ADS_3

Letak pintu lubang ini posisinya agak tersembunyi, karena terlindungi oleh entah apa namanya, pokoknya kalau di agama kami itu namanya batu nisan, tidak tau kalau orang tionghoa nyebutnya apa.


Mungkin untuk etnis tionghoa menyebutnya dengan nama bongpay..


Jadi letak lubang itu ada di sebelah bongpay milik Inggrid yang ukuranya luas dan dibagian kepala lebih tinggi daripada lainya. Dan letak lubang tertutup oleh bagian yang tinggi itu.


Inggrid hanya sebentar saja masuk ke dalam lubang itu, setelah Inggrid keluar, dia bilang ternyata benar lubang itu dibuat untuk menuju ke tempat ruangan dimana peti mati Inggrid dan tulang belulangnya berada..


“Nggak usah kesana … lubang itu hanya jalur untuk menuju ke peti mati Inggrid” kata Inggrid setelah keluar dari sana


“Tapi kan aneh Nggrid, buat apa dibuatkan jalur yang menuju ke arah peti mati dan kerangkamu, harusnya kan   nggak ada itu jalur untuk masuk ke dalam sana, jalur untuk masuk ke dalam kuburanmu”


“Nah itu Tina, Inggrid juga gak paham kenapa kok ada jalur yang  menuju ke bawah itu”


“Pasti ada alasan kenapa dibuatkan jalur yang menuju ke tempat mayatmu berada, apakah ada sebuah rahasia yang ada di dalamnya Nggrid, atau kita tanya sama pak Pangat saja, dia kan tau seluk beluk tentang ghaib”


“Jangan Tina.. gak usah tanya pak Pangat dulu, lebih baik bantu Inggrid menyelesaikan masalah Inggrid, lagi pula untuk masalah Paijo dan teman-temanya yang jahat itu kan sudah ditangani oleh pak Burhan” kata Inggrid


“Iya betul Nggrid, tapi kan kita juga harus pulang ke rumah pak Pangat, untuk sementara kami kan harus tinggal disana  sampai Paijo dan dokter Joko tertangkap” kata mas Agus


“Tapi kalian kapan bisa ada waktu untuk bantu Inggrid?”


“Kita akan terus bantu Inggrid,  entah besok pagi atau malam hari atau nanti malam, pokoknya kita akan bantu Inggrid untuk menemukan dimana keluargamu berada”


“Tapi yang jelas sore ini kita balik lagi ke rumah pak Pangat, takutnya sekarang ini pak Burhan sedang mencari kita, sedangkan disini kan sinyal HT tidak bisa diterima sama sekali.


“Ya sudah.. Ayo kita kembali saja, saat ini sudah sore, sebentar lagi gelap, bahaya kalau kita ada disini dalam keadaan gelap gelapan, bisa-bisa ada setan heheheh”


“Ih mas Agus ini, memangnya setan apa yang akan mengganggu kita mas?”


“Heheheh setan yang nganu mbak!”


“Tapi bentar, saya mau lihat gembok tutup lubang yang ada di makam kamu ini dulu Inggrid… saya mau lihat gemboknya dulu Nggrid”


“Mau kamu apakan gembok itu mas?”


“Tenang saja mbak TIna.. saya cuma mau pastikan bahwa makam ini aman  dan tidak bisa dibuka orang dengan seenaknya, saya akan test kekuatan gembok ini dulu”


Mas Agus menarik dengan kuat gembok tua yang sudah sangat berkarat itu… dan ternyata gembok itu terlepas disertai dengan suara yang keras!


“Tuhkan mas… gara-gara mas Agus… gembok itu rusak!”


“Heheheh ternyata gembok ini rusak  karena karat dan besinya sudah lapuk mbak Tina… kita harus beli gembok baru agar makam Inggrid aman hehehe”


“Nggrid, akan kami belikan gembok baru buat makam kamu… untung saya cek keadaan gembok ini sehingga kita tau kekuatan gembok tua ini Nggrid hehehehe”


Aku tidak tau apa maksud mas Agus dengan merusak gembok makam  Inggrid yang ada tulisan kertas merahnya itu, tapi perasaanku mas Agus kayaknya kepingin masuk ke dalam lubang itu.


Dan dengan merusaknya secara tidak sengaja itu mas Agus bisa masuk ke dalam lubang itu, tapi entah lah… mungkin pemikiran dan perkiraanku salah.


“Ayo kita balik.. Sudah semakin sore dan mulai gelap disini mbak”


“Yah dari tadi Tina kan juga udah ngajak mas Agus untuk balik, lha mas Agus malah sibuk dengan gembok makan Inggrid gitu”


*****


Aku, Mas Agus dan Inggrid berjalan menyusuri sungai menuju ke pohon beringin yang ada di belakang rumah penggergajian.


Ketika sampai di samping pohon beringin hari sudah semakin gelap, tetapi di ufuk barat masih ada cahaya matahari yang bersinar.


Untungnya motor pak Pangat masih ada di belakang sini, di sebelah sulur-sulur pohon. Dan untungnya para penghuni pohon beringin itu selalu lari ketika aku datang dan duduk di bawahnya heheheh.


“Ayo kita pulang saja sekarang mbak, keburu malam hari”


“Sik mas… diem dulu, kayaknya Tina barusan dengar sesuatu dari dalam rumah ini mas”

__ADS_1


“Kalian berdua diam saja disini, biar Inggrid yang akan periksa keadaan di dalam sana” kata Inggrid kemudian pergi meninggalkan aku dan mas Agus


Inggrid pergi meninggalkan aku dan mas Agus yang masih ada di sebelah pohon beringin di sore menjelang malam hari ini,  moga-moga di dalam sana tidak ada apa-apa yang menyebabkan kami harus berjuang pergi dari sini lagi.


Aku dan mas Agus berusaha mendengarkan apa saja yang ada di dalam rumah penggergajian itu, memang benar ada suara-suara seperti orang yang sedang bicara, tetapi suara itu sama sekali tidak jelas.


Ketika aku dan mas Agus masih berusaha mendengarkan apa yang ada di dalam rumah penggergajian, tiba-tiba Inggrid yang tadi punya tugas untuk melihat apa yang ada di dalam rumah muncul di hadapan kami berdua.


“Cepat sembunyi…ada empat orang yang baru keluar dari rumah penggergajian, dan sekarang mereka sedang menuju ke arah belakang sini”


 “Inggrid dengar salah satu dari mereka bicara bahwa mereka sedang mencari kalian!”


“Cepat pergi dari sini, tapi sembunyikan dulu motor itu di balik pohon beringin ini!” kata Inggrid  terburu buru


“Siapa yang sedang mencari kami Inggrid?”


“Tidak tau TIna, pokoknya ada empat orang… Inggrid tidak kenal dengan empat orang itu, karena mereka tidak pernah Inggrid temui selama ini… Mereka sekarang sedang berjalan menuju ke arah belang sini”


“Suruhan siapa lagi, dan kenapa sampai orang itu tau kau kita ada disini?” gumam mas Agus


“Sudah mas.. Gak ada waktu untuk berpikir..kita harus sembunyi, tapi kemana kita harus sembunyi mas… ini kan sudah menjelang malam, di sekitar sini tidak ada tempat untuk sembunyi!”


“Kita ke semak-semak di seberang sungai saja sekarang mbak!”


Ya memang satu-satunya tempat yang paling aman yaitu di semak-semak seberang sungai, karena disini tidak ada tempat untuk sembunyi sama sekali, karena disini hanya ada jalan setapak dan hutan yang ada di sebelah kiri.


Hutan itupun letaknya agak jauh dari sini, mungkin sekitar dua puluh meter dari sini baru nampak pohon-pohon hutan yang berjajar.


Jadi satu-satunya tempat yang paling aman adalah di semak belukar yang ada di seberang sungai.


Ketika aku dan mas Agus mulai lari, dari kejauhan terdengar langkah kaki orang yang mengejar kami berdua.. Mereka juga teriak menyuruh kami untuk berhenti!


Aku dan mas Agus mempercepat lari menuju ke jembatan bambu. Ketika kami sudah sampai di jembatan bambu, jarak kami dengan mereka sekitar dua puluh meteran.


“Ayo cepat mbak… kita lari ke semak belukar tempat motor pak Pangat berada!”  kata mas Agus yang mulai menyeberangi sungai


“Maksud saya kita masuk melalui semak belukar tempat motor, kemudian kita jalan pelan-pelan menuju ke tempat kuburan Inggrid, kita tunggu mereka disana saja, karena disana semak belukarnya lebih lebat, dan orang akan berpikir dua kali untuk masuk ke dalamnya”


“Nanti kalau mereka masuk ke semak berduri ini, kita keluar dari jalur yang dekat makam Inggrid, jalur yang sudah kita bikin tadi, Jangan sampai kita terjebak disini mbak”


Aku dan mas Agus mulai masuk ke semak belukar yang ada di dekat motor pak Pangat yang disembunyikan.


Mas Agus menuntunku untuk masuk lebih dalam ke arah semak yang berduri tajam, hingga kami berdua sekarang ada di tengah tengah hutan semak belukar.


“Sekarang kita jalan ke arah kuburan Inggrid mbak, nanti kita lihat dulu, orang-orang itu akan ke arah mana.


“Diam disini dulu aja mbak… kita tunggu hingga orang-orang itu sampai di jembatan dulu, saya yakin mereka tidak akan berani masuk ke semak belukar ini”


“Tapi jarak kita tidak jauh dari sisi sungai mas.. Bisa-bisa mereka akan menemukan kita disini”


“Nggak mbak.. Mereka pasti akan mencari cara bagaimana masuk ke dalam semak belukar ini, yang penting sekarang kita diam dan jangan bersuara sama sekali”


“Kalian tidak bisa sembunyi dari mereka” kata Inggrid yang barusan datang setelah mengamati empat orang yang sedang menuju ke arah sini


“Salah satu dari mereka membawa senjata api… jangan main-main dengan mereka!”  kata Inggrid sekali lagi.


“Sudah…sudah…pokoknya kita ke semak belukar yang ada di makam Inggrid saja, disana kita akan aman” kata mas Agus


Aku tidak paham apa yang mas Agus katakan, kita sekarang ada di tempat yang berbahaya, bahkan bisa saja mereka akan menemukan kita di dekat makam Inggrid


Hanya saja kalau mereka mengikuti apa yang mas Agus rencanakan, mereka nanti pasti akan menemukan kuburan tua si Inggrid. Dan kita berdua pasti akan mereka temukan di sana juga.


Ah mbuhlah… rencana mas Agus ini gak masuk akal sama sekali, dan kesannya kita akan menyerahkan diri kepada orang yang sedang mengejar kami.


Hari semakin sore dan semakin gelap… keempat orang yang mengejar kami sekarang sedang berpencar dan berusaha masuk ke dalam semak belukar.

__ADS_1


Mas Agus mengeluarkan senter kecilnya yang selalu ada di celananya… tapi sejenak kemudian senter itu dia simpan lagi di kantung celananya….


Mas Agus dan aku sedang bersiap-siap bergerak apabila salah satu dari orang itu mulai bergerak mendekati kami.


“Siap-siap mbak Tina… sebentar lagi salah satu dari orang itu akan mendekati kita. Tapi dia tidak bisa menembus semak belukar itu” bisik mas Agus


“Inggrid, tuntun kami ke makam kamu …cepat” kata mas Agus


“Ngapain mas?” tanya Inggrid


“Sudah jangan banyak bicara.. Pokoknya tuntun kami ke makam kamu”


Sik..sik.. Kayaknya mas Agus akan memancing mereka hingga ke makam Inggrid…. Tapi entahnya apa tujuanya..


Nyala dua lampu senter yang dibawa oleh orang yang mengejar kami  mulai menerangi sebagian semak belukar tempat aku dan mas Agus sembunyi.


“Nah mereka sedang membuntuti kita, tetapi mereka tidak bisa menemukan kita mbak… ayo Inggrid kita ke makam kamu saja, saya yakin mereka pasti akan masuk ke semak belukar dari sini” bisik mas Agus


“Mas agus ini kok nekat sih mas!”


“Sstttt heheh tenang saja mbak…kita bermain dengan ketepatan waktu saja mbak… pokoknya kita bisa keluar dari sini dengan cepat melalui jalur semak yang kita bikin tadi” bisik mas Agus


Sebenarnya aku paham apa yang mas Agus maksudkan, hanya saja dalam keadaan seperti ini, dimana salah satu dari pengejar itu  membawa senjata api,  tentu saja berbahaya bagi kami.


Apalagi pengejar kami ini bergerak tanpa berbicara sama sekali, sehingga aku tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan dan tentu saja aku tidak tau rencana mereka.


Dengan bantuan Inggrid, kami sudah sampai di sekitar makam… sekarang yang bisa dilakukan hanya menunggu.


“Kalian disini dulu… Inggrid mau liat yang mengejar  kalian berdua” kata Inggrid kemudian pergi dari hadapan kami


Mas Agus tidak bicara sepatah katapun, aku juga tidak bicara apapun, yang bisa aku lakukan hanya berusaha mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di sana.


Tapi sepertinya tidak ada yang bersuara sama sekali.. Tidak ada suara orang yang berbicara, yang ada hanya suara langkah kaki yang semakin mendekati kami berdua.


Orang yang mengejar kami ini keliatanya orang yang cukup profesional, mereka bekerja tanpa bicara sama sekali.


“Kalian tidak bisa kemana-mana!” kata Inggrid yang tiba-tiba datang


“Dua orang di semak belukar, dan dua orang lagi ada di jalan setapak pinggir sungai!” kata Inggrid dengan nada suara yang mengkhawatirkan.


“Sebentar.. Biarkan saya berpikir dulu” bisik mas Agus ketika Inggrid selesai bicara.


“Kita tidak ada jalan keluar lagi selain menantang bahaya…!” bisik mas Agus


“Inggrid!... coba katakan sekali lagi kepada kami… kutukan apa yang akan saya dan mbak Tina terima apabila kami berdua masuk ke lubang tersembunyi yang ada di sebelah makam kamu itu!” bisik mas Agus


“Ehh.. entahlah mas.. Karena tidak disebutkan apa yang akan terjadi dengan orang yang masuk ke sana selain dari keluarga sendiri” jawab Inggrid


“Ingat Nggrid, kami ini yang bisa membantu kamu menyingkap misteri keluargamu, dan kamu tau bahwa kami harus hidup dan tidak tertangkap oleh siapapun agar kami bisa selesaikan apa yang kamu mau!” bisik mas Agus


“Pikirkan lagi Nggrid.. Kami akan mati apabila kami tertangkap oleh orang-orang yang sedang mengejar kami itu, dan pikirkan lagi tentang keluargamu!”


“Keempat orang itu semakin dekat Nggrid dan mereka akan melakukan sesuatu kepada kami berdua kecuali kami masuk ke lorong yang ada disana itu”


Mas Agus memaksa Inggrid agar kami bisa masuk ke sana tanpa ada kutukan yang akan terjadi ketika kami masuk ke dalam lorong itu.


Tapi kenapa mas Agus memaksa untuk masuk ke dalam sana, kenapa kia tidak lari menuju ke semak belukar yang ada di belakang makam?


Lebih aman mana kita lari ke belakang makam atau masuk ke dalam lubang makam Inggrid?


“Mas… di belakang makam Inggrid ini apa?”


“Belakang makam itu sudah sungai mbak.. Dan kata Inggrid  waktu saya kecebur di ******, belakang makam iu bagian sungai yang cukup dalam” jawab mas Agus sambil berbisik


“Tidak ada jalan lain selain masuk ke sana mbak”

__ADS_1


“Yang sekarang saya bingung… keempat orang itu siapa, dan bagaimana bisa mereka tau bahwa kita sedang ada di rumah penggergajian mbak”


__ADS_2