RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
199 MELOLOSKAN DIRI


__ADS_3

Keadaan aku dan mas AGus saat ini memang bahaya, akibat dari kelakuan pak Pangat.. Memang tujuan kami kesini adalah untuk membunuh Inggrid yang membahayakan keadaan kami.


Tetapi ternyata semua ini tidak sesuai rencana dan tidak sesuai dengan apa yang kami perkirakan sebelumnya.


Aku gak tau apakah memang ada kerjasama antara pak Pangat dengan yang bernama Fong atau memang pak Pangat diperalat oleh Fong yang menginginkan kekuasaan lebih…


Dan sekarang di  depan pintu rumah atau gubuk pak Cheng ada suara langkah kaki.


“Mas.. mbak.. Ini saya Cheng dan Jiang….”


“Buka saja slot pintunya..” kata suara yang aku kenal sebagai suara dari pak Cheng


Ternyata memang benar mereka berdua yang datang, setelah menutup pintu dan memasang slot kunci… kami berdiam sejenak di dalam rumah, karena pak Cheng menyuruh kami diam dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya.


Aku tidak tau apakah ada orang yang mengikuti pak Cheng dan Jiang atau apa, karena mereka berdua masih diam dan berusaha mendengarkan suara-suara yang ganjil.


Hingga beberapa menit kami masih dalam keadaan diam, dan sedikit memiringkan kepala untuk berusaha mendengarkan apa yang ada di luar sana.


“Diam dulu… sebentar lagi penjaga akan lewat sini, dan mungkin akan menggedor rumah ini” bisik pak Cheng


Tidak ada yang menyahut atas pernyataan pak Cheng… aku dan mas Agus jua hanya diam saja, karena tadi kan sudah ada yang  menggedor rumah ini, tetapi akhirnya mereka pergi ke rumah Jiang.


Tetapi ternyata perkiraan pak Cheng tidak meleset… di depan tiba-tiba ada suara beberapa orang yang sedang bicara… ada beberapa orang yang sedang bicara untuk mendobrak rumah ini.


Sepertinya mereka ini adalah orang-orang yang tadi kesini, dan kemudian ke rumah Jiang untuk mencari pak Cheng, dan sekarang mungkin karena tidak menemukan apapun di rumah Jiang, mereka datang lagi ke sini.


Tentu saja hal ini sangat berbahaya, karena aku dan mas Agus bisa saja tertangkap apabila mereka benar-benar mendobrak pintu rumah ini.


Pak Cheng melihat ke aku dan Mas Agus..


“Pelan-pelan kalian ke belakang.. Disana ada pintu yang menuju ke barang-barang bekas yang saya kumpulkan.. Kalian sembunyi disana ..cepat!” bisik pak Cheng.


Aku dan mas Agus berdiri dan berjalan menuju gubuk kecil pak Cheng… ternyata memang ada pintu belakang yang menuju ke bagian belakang.. Ketika kubuka pintu itu.. Udara bau dan busuk dari sampah yang mungkin masih tersisa tercium jelas..


Sebenarnya di dalam rumahpun juga  tercium bau sampah, tetapi tidak setajam yang ada di belakang rumah ini.


Aku dan mas Agus ada di bagian belakang rumah yang merupakan tumpukan kertas dan kardus.. Ada juga tumpukan plastik dari  air mineral yang sudah teronggok tinggi.


Ternyata dugaanku benar.. Ketika kami sudah ada di belakang.. Dari arah ruang depan rumah terdengar suara dobrakan yang keras disertai dengan bentakan..


“MANA ORANG YANG KAMU SEMBUNYIKAN CHENG!” teriak seseorang yang pastinya adalah penjaga keamanan wilayah


Ternyata aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, karena rumah atau gubuk ini bukan permanen yang terbuat dari semen dan bata, tetapi terbuat dari bahan kayu dan triplek.


Pintu rumah ini sudah mereka dobrak dan rusak… dan semua ini gara-gara kami dan pak Pangat yang berusaha merusak tatanan di wilayah ini.


“CHENG.. MANA ORANG YANG KAMU SEMBUNYIKAN ITU!”


“Saya tidak sembunyikan siapa-siapa, saya bersama Jiang barusan datang ke rumah, setelah mencari barang bekas di sampah sampah sana” jawab pak Cheng


“Orang yang kami tangkap itu mengatakan kalau kamu menyembunyikan dua orang teman dia yang yang membantu dia membunuh tuan puteri!”


“Tuan Puteri siapa Pak.. bukankah Puteri Inggrid ada di istananya?” jawab pak Cheng pura-pura tidak tau apa yang sedang dibicarakan penjaga atau bisa disebut pulisi wilayah itu.


“SUDAH JANGAN BANYAK TANYA CHENG.. KAMI HARUS MEMERIKSA GUBUKMU SEKARANG!”  bentak penjaga itu lagi


Setelah itu yang terdengar adalah beberapa orang yang masuk dan memeriksa gubuk pak Cheng… mereka pun berjalan ke arah belakang dimana aku dan mas Agus sedang sembunyi di antara tumpukan kardus bekas yang banyak terdapat di halaman belakang rumah…


Ternyata bagian belakang ini adalah paling ujung dari benteng.. Karena ternyata tumpukan kertas ini menyandar pada dinding benteng.


Di belakang ini ada tumbukan kardus yang sudah di ikat rapi dan ditumpuk, dan ada juga yang masih berserakan dan menggunung… yang masih berserakan ini yang bau ..karena mungkin masih bercampur dengan sampah dapur.


Tapi aku heran juga dengan sampah yang ada disini.. Baunya itu luar biasa busuk.. Berbeda dengan sampah yang ada di alam manusia, meskipun nggilani, tetapi baunya tidak terlalu busuk.3


Saat ini aku dan mas Agus merunduk di antara tumpukan kardus bekas yang masih berserakan dan sedikit menggunung juga.

__ADS_1


“PERIKSA HALAMAN INI CEPAT!” perintah orang yang dari tadi lebih sering bicara.


“Cepat…periksaaaa, saya tidak kuat dengan baunya!” kata orang yang tadi, orang yang kemungkinan besar adalah komandan dari yang lainya.


Ternyata mereka hanya memeriksa sekedarnya saja, karena setelah itu aku bisa mendengar langkah kaki mereka kembali ke  dalam gubuk pak Cheng.


“DIMANA KAMU SEMBUNYIKAN TEMAN ORANG YANG KAMI TAHAN CHENG!” bentak orang itu lagi


“Saya tidak tau apa yang kalian bicarakan.. Waktu itu memang saya ada disana untuk mengambil sampah tapi saya tidak tau kemana teman orang yang kalian tahan itu lari”


“Kalau kalian belum puas.. Periksa lagi seluruh sekitar gubuk saya lagi!”


“KAMU JIANG… MEREKA KATANYA SEMPAT DATANG KE RUMAHMU?”bentak  orang itu setelah mungkin bosan dengan pak Cheng


“Maaf pak.. Buktinya apa kalau mereka pernah datang ke rumah gubuk saya yang tempatnya terpencil dan sulit dicari oleh siapapun?” jawab Jiang


“ORANG YANG KAMI TANGKAP ITU BILANG KALAU DIA SEBELUMNYA KE RUMAHMU!”


“Silahkan dibuktikan dulu pak, kemudian tangkap saya apabila memang ada buktinya bahwa mereka pernah ke rumah saya yang pelosok dan sulit dicari alamatnya” tantang Jiang


Wah bener-bener kurang ajar itu Pak Pangat.. Dia mulai buka suara tentang siapa saja yang dia datangi, bisa-bisa rumah RIta juga nanti akan diperiksa oleh polisi daerah ini.


Aku bener-bener gak nyangka tabiat pak Pangat sebegitu buruknya… tapi apakah dia juga akan berbicara tentang rumah Fong…. Karena semua berawal dari Fong juga.


Akhirnya mereka pergi juga setelah mereka tidak berhasil menemukan aku dan mas Agus., tetapi tentu saja keadaan gubuk pak Cheng berantakan dengan pintu yang rusak.


*****


“Saya dan Jiang sudah tau siapa itu Inggrid dan siapa itu Fong.. kami berdua sudah lama menyelidiki konspirasi keluarga istana itu..dan menurut saya dan Jiang, disini ada keterlibatan orang tua Inggrid juga yang malu dengan keadaan anaknya yang cacat itu” kata pak Cheng


“Kalian harus segera pergi dari sini, sebentar lagi keadaan disini akan tidak karu karuan” kata pak Cheng


“Tetapi tidak hanya mereka berdua pak Cheng.. Kita juga harus pergi dari sini secepatnya, karena pagi nanti kemungkinan besar akan ada beberapa pasukan khusus yang akan memeriksa seluruh penduduk sini secara diam diam”


“Itu orang-orang khusus yang tidak terlihat… mereka akan memasuki tiap rumah di sini. Dan jumlah pasukan khusus itu bisa mencapai ratusan menyebar ke seluruh rumah dan area daerah ini” jawab Jiang


“Pasukan khusus itu hampir sama dengan para penjaga pemburu pribumi yang dengan kejam akan memakan pribumi yang mereka temukan disini”  lanut Jiang


“Bagaimana caranya kita bisa pergi dari sini Jiang?” tanya pak Cheng


“Tidak pergi dari sini, tetapi untuk sementara waktu kita pindah alam, karena pasukan khusus itu akan terus mencari hingga keluar area ini”


“Dan komandan pasukan khusus itu akan masuk ke pikiran teman kalian… apa yang dia pikirkan akan terbaca oleh komandanya… wajah kalian akan terpampang jelas, sehingga mudah  untuk mencari kalian”


“Pokoknya selama teman kalian ini hidup, maka akan terbaca yang dia sedang pikirkan… kecuali teman kalian ini mati” jelas Jiang


“Saudara tua Cheng…. Yang pertama kita lakukan adalah pergi dari sini secepatnya… bagaimana menurut saudara tua Cheng?”


“Baiklah Jiang..kita akan menuju ke barat untuk mencari kitab suci.. Eh untuk mencari tempat yang aman” jawab pak Cheng


“Kita akan bersatu kembali seperti dulu saudara tua Cheng” kata Jiang


“Mari kita lakukan sekarang juga Jiang”


Mereka berdua mengajak kami ke arah belakang.. Tempat tadi aku dan mas Agus sembunyi dari incaran yang bisa dikatakan penegak hukum disini.


Pak Cheng menuju ke tumpukan kertas yang menggunung.. Tumpukan kertas itu berada di sisi bangunan yang menyerupai benteng ini.


Pak Cheng membongkar beberapa tumpukan kertas, dan tidak lama kemudian terlihat dinding dari benteng yang mungkin sudah berusia ratusan tahun.


Pak Cheng kemudian jongkok untuk membereskan tumpukan kertas yang berserakan.. Setelah bersih, ternyata ada semacam pintu atau tingkap di tanah  halaman belakang.


PIntu atau tingkap yang terbuat dari kayu seadanya ini tadinya tertutup oleh kertas kertas dan karton yang sangat banyak, sehingga tidak akan terlihat oleh siapapun juga


“Kita lewat pintu ini untuk menuju luar kawasan, nanti setelah dari luar biar Jiang yang akan menuntun kita semua” kata pak Cheng

__ADS_1


Pak Cheng atau yang dipanggil oleh Jiang saudara tua itu membuka tutup pintu.. Ternyata itu adalah lorong yang menuju ke arah bawah…


Ketika lorong itu sudah terbuka, pak Cheng meraba-raba dinding di bawah pintu atau tingkap, dia ternyata mengambil senter berukuran besar yang biasanya menggunakan empat buah baterai besar.


Setelah senter itu nyala… dia arahkan ke lubang gelap yang mengarah ke bawah..


“Di dinding lorong ini ada anak tangga dari besi yang saya tanam di dindingnya, hati hati melangkah, karena tubuh kalian berdua ini sudah tua renta” kata pak Cheng kepada aku dan mas Agus.


Pak Cheng masuk duluan ke dalam lubang yang dia buat..tapi ternyata lubang itu tidak dalam …mungkin hanya beberapa meter kemudian dia sudah ada di dasar lubang, dan menyuruh kami bergantian masuk ke dalam lubang.


Terakhir yang masuk adalah Jiang.. Jiang menutup pintu lorong yang menuju ke bawah… dan sekarang kami ada di terowongan yang entah menuju ke mana.


Lebar terowongan mungkin hanya enam puluh cm saja, yah lumayan sempit,sedangkan tingginya sekitar dua meteran, sehingga kami tidak perlu terbungkuk bungkuk apabila jalan disini.


Dengan keadaan diam tanpa bicara apapun, pak Cheng berjalan di depan kami… setelah itu mas AGus, aku, dan yang terakhir adalah Jiang.


Terowongan ini tidak panjang… mungkin ada sekitar sepuluh meter saja kemudian di depan buntu..


“Diatas kita ini adalah pintu yang tembus keluar tembok kawasan..”


“Kalian tunggu di bawah dulu saja, saya akan naik ke atas.. Apabila ada sesuatu di atas, Jiang akan tau apa yang akan dilakukan”


Pak  Cheng naik ke atas, dia kemudian membuka slot kunci pintu atas, dan kemudian secara perlahan lahan mendorong pintu itu keatas.


Sebelum dia keluar dari lorong.. Dia melihat lihat keadaan di atasnya dulu.. Dia melongokan kepalanya keluar dari lorong…


Tidak lama kemudian dia memutuskan untuk keluar dari lorong…


Pak Cheng berjalan  keluar, untuk memastikan bahwa keadaan diluar sana aman.


Setelah beberapa saat, kemudian pak Cheng menyuruh kami untuk keluar dari terowongan.


*****


“Nah kita sudah ada di luar tembok… sekarang kita harus pergi, dan mulai  sekarang Jiang yang akan menuntun kita” kata pak Cheng


Kami ada di sebuah lahan kosong yang ditumbuhi rumput dan ilalang..


Tidak jauh di belakangku adalah tembok besar dan tinggi, tempat dimana Pak Pangat masih ditahan. Kami berempat harus melarikan diri dari sini secepatnya sebelum pagi hari.


Di sebela kiri adalah sungai yang besar,...


“Ayo kita susuri sungai ini, saya ada teman yang bisa membawa kita pergi dari alam ini”


Dalam gelapnya malam, tanpa sinar senternya pak Cheng, kami berempat menyusuri sungai….


Ternyata setelah berjalan beberapa puluh meter, di depan kami ada sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu dan bambu


Aku mengira, nanti pasti akan melewati jembatan ini dan menuju ke area perkampungan di seberangnya…


Memang letak benteng ini agak sedikit di luar kota, sehingga perlu beberapa waktu untuk menuju ke arah kota, tapi kita kan tidak punya kendaraan untuk  menuju ke kota, kecuali mobil pak Pangat yang terparkir di pinggir jalan depan benteng.


Dan ternyata benar, kami menyeberang jembatan kayu dengan air sungai yang berwarna hitam karena malam hari.


“Eh maaf pak.. Kita akan ke mana untuk saat ini?”


“Kita ke sana mbak, ke desa yang ada di seberang sungai itu…”


Aku kaget… bukanya disana adalah tempat tinggalnya mbah Sastro sebagai pemilik tubuh ini, dan disana juga ada Sutinah anak dari mbah Sastro yang merupakan leluhurku..


Tapi pasti tidak mungkin akan ke rumah leluhurku, pasti ada orang lain disana yang dikenal oleh Jiang ini… hanya saja kemungkinan besar disana adalah tempat orang yang linuih saja sehingga Jiang menuju ke sana.


“Maaf JIang.. Kita akan ke mana ini?”


“Ke desa itu mbak.. Kita akan menemui seseorang yang merupakan orang yang akan membantu kita untuk menuju ke alam manusia” kata Jiang dengan tersenyum penuh arti

__ADS_1


__ADS_2