RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
70. CERITA YETNO 1


__ADS_3

“Kejadianya sudah cukup lama…. pada suatu ketika dia menawari saya untuk kerja disana”


“Mbah Karyo bilang kalau ada pegawai disana yang sakit keras dan akhirnya pulang ke desanya”


“Saya ya jelas mau saja, wong kerjanya mudah kok”


“Kemudian saya dikenalkan sama pimpinan disana yang bernama pak Wandi, pak Wandi orangnya tegas dan tidak pernah atau susah untuk bisa tertawa”


“Saya tau kalau pak Wandi tidak suka dengan kehadiran saya, bahkan pak Wandi sempat memarahi mbah Karyo karena membawa saya ke sana tanpa seizinya”


“Mbah Karyo pun tidak kalah sengit, dia bicara dengan adanya saya disana paling tidak ada yang akan mengawasi pekerjaan pak Wandi”


“Saya tidak tau ada masalah apa antara mbah Karyo dan pak Wandi”


“Untungnya disana mbah Karyo yang didukung oleh pak siapa namanya itu yang mengatur disana….saya lupa namanya”


“Pak Solikin ya mas Yetno…”


“Iya betul pak Agus,... namanya pak Solikin!”


“Pak Solikin sempat bicara, akan melaporkan ke bos besar tentang apa yang dilakukan pak Wandi seandainya  bos besar mereka datang kesana”


“Sik sebentar mas Yetno, saya potong dulu…. eh bos besar yang namanya pak Jayanto apa pernah ke sana?”


“Saya ndak  tau pak, tetapi kata mbah Karyo, biasanya atasan mereka datang tiap awal bulan saja pak”


“Boleh saya lanjutkan cerita saya pak?”


“Silahkan mas Yetno…”


“Nah ancaman pak Solikin ternyata manjur juga, saya akhirnya dipekerjakan disana”


“Pagi hari pada hari pertama saya kerja disana sudah kena marah dia, karena saya buang air besar di kloset,  karena klosetnya buntu akhirnya saya disuruh membersihkan dan  mengambil tai saya”


“Saya disuruh bersihkan kloset itu hingga benar-benar bersih”


“Setengah hari saya bersihkan tai saya sendiri pak, setengah hari saya muntah-muntah”


“Setelah bersih dia bicara kepada saya tentang apa saja yang boleh dilakukan disana, dan apa yang tidak boleh”


“Saya hanya boleh menimba air dari sumur dan penuhi bak mandi, saya tidak boleh kuras bak mandi”


“Saya tidak boleh keluar dari rumah pada malam hari apapun yang terjadi, alasanya disana banyak orang jahat”


“Saya tidak boleh buka pintu yang tembus ke belakang pada pagi hari, alasanya agar pekerja membersihkan bagian belakang dulu baru kemudian kita boleh buka pintu belakang”


“Tetapi tiap sore hingga pagi pak Wandi selalu keluar rumah dengan alasan menelpon bos besarnya”


“Nah pada hari pertama ketika saya membersihkan kloset, saya merasa ada orang yang berdiri di dekat saya. Tetapi ketika saya toleh, tidak ada siapapun di belakang saya”


“Selama setengah hari bersihkan kloset saya merasa ada orang yang sedang berdiri di belakang saya, tetapi ketika saya toleh, tidak ada siapapun!”


“Pada malam harinya waktu saya hendak kencing, saya merasa ada yang aneh, ketika saya mendongak, ternyata ada orang yang mati dan tergantung di kayu”


“Saya lihat dengan jelas ada perempuan yang gantung diri, perempuan turunan china  gantung diri di tepat atas saya”

__ADS_1


“Saya jelas ketakutan, dan saya lari masuk ke kamar….”


“Sayangnya waktu itu pak Wandi sedang tidak ada di sana, dia pergi selepas ashar”


Sampai pada cerita ini Yetno diam, dia menundukan wajahnya, aku tidak tau dia sedang mengingat sesuatu atau sedang ketakutan.


Aku merasa tidak enak dengan keadaan ini, karena memunculkan ingatan dia tentang hal yang mengerikan itu lagi.


Tapi sebenarnya aku tidak masalah seandainya dia tidak cerita secara detail.


“Yet…nek koe ora kuat, wis ora usah cerito maneh (Yet… kalau kamu tidak kuat, tidak usah cerita lagi)” kata kakak perempuanya yang  dipanggil Yu Gemi oleh Tina itu


“Ndak  papa ogh mbak, aku harus cerita mbak”


“Yo wis Yet, tapi nek koe edan maneh, aku emoh ngurusi koe ( ya sudah Yet, tapi kalau kamu gila lagi saya tidak mau urusi kamu)


“Kemudian saya masuk kamar, agar tidak takut saya berusaha untuk tidur”


“Tetapi tengah malam saya terbangun dengan keadaan kamar yang gelap gulita dan bau kemenyan yang luar biasa yang berasal dari ruang tamu”


“Pada saat itu saya makin ketakutan, apalagi di samping rumah tiba-tiba ada suara orang yang sepertinya sedang mencangkul”


“Suara itu benar-benar nyata pak…..”


“S…saya sangat ketakutan sampai-sampai saya tidak bisa menggerakan tubuh saya, tubuh saya kaku sekali, apalagi di ruang tamu bau asap kemenyan makin menusuk hidung saya”


“Malam pertama itu saya pingsan…paginya saya dibangunkan oleh teriakan pak Solikin di depan jendela kamar”


“Terus terang saya tidak berani bicara tentang yang saya lihat semalam, bahkan kepada mbah Karyo Pun saya tidak buka mulut”


“Bukan apa-apa pak Agus, hanya saja saya takut mereka mengejek saya”


“Selain itu adat disini itu apabila kita ditakuti hantu atau apapun khususnya yang ada di sekitar hutan itu, dilarang diceritakan kepada orang lain”


“Karena katanya berakibat sial bagi orang yang ada di sekitar kita pak”


“Bahkah yang lebih mengerikan apabila kita lihat pemakaman kuno di tengah hutan yang menuju ke rumah penggergajian”


“Katanya Lebih baik kita diam saja dan tidak cerita ke siapapun juga, karena bisa mengakibatkan kematian”


“Tetapi apakah itu sudah ada buktinya atau hanya cerita turun temurun mas Yet?”


“Belum ada yang mengalaminya sih pak Agus, dan memang itu cerita turun temurun dari nenek saya”


“Saya lanjutkan cerita saya dulu ya pak, karena sore ini saya mau ke terminal bus”


“Hari kedua saya tetap kerja seperti biasa, pak Wandi waktu itu datang jam 08.00 pagi”


“Setelah datang dia langsung ke bagian belakang pak, yah pokoknya pak Wandi itu orang yang teliti, dia mengecek semua mesin dan termasuk palet yang sudah dibikin”


“Yang agak lama ketika dia periksa  drum-drum yang berisi solar yang letaknya ada disebelah sumur di belakang kamar mandi pak”


“Dia sama sekali tidak menyapa saya. Saya dianggapnya tidak ada”


“Saya tidak diberi pekerjaan apapun, dia yang handel semua pekerjaan yang katanya mbah Karyo itu merupakan pekerjaan saya”

__ADS_1


“Tapi saya tidak masalah pak, karena mungkin saya bukan orang yang cocok bagi pak Wandi. Yang saya masalahkan itu gangguan dan pengusiran kepada saya yang mengerikan pak”


“Mas Yetno diusir gitu?”


“Iya pak Agus, saya diusir dengan cara yang tidak lazim. Nanti akan saya jelaskan pak”


“Jadi seharian itu saya tidak melakukan apa-apa. Siang hari saya sempat akan ngobrol dengan bu Tugiyem, tetapi selalu dihalang-halangi oleh pak Wandi”


“Sore hari setelah pekerja pulang, pak Wandi pergi seperti biasanya, mungkin dia punya pacar di kota karena sudah dua hari ini dia tiap sore pergi”


“Saya tetap jaga rumah dan tidak keluar rumah sama sekali”


“Malam hari setelah maghrib sambil merokok saya duduk-duduk di depan rumah, tiba-tiba saya melihat sosok hitam di pohon-pohon depan rumah”


“Saya yakin itu bukan manusia pak….”


Sampai cerita ini Yetno diam, dia menundukan wajah dan kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.


Yetno terdiam beberapa saat hingga kakak perempuannya memegang bahunya.


“Saya mengira bahwa kehadiran sosok hitam itu menurut saya menyuruh saya agar masuk ke dalam rumah”


“Akhirnya saya masuk ke dalam kamar”


“Pak Agus tau kan bahwa dinding kamar saya yang menghadap ke hutan itu berupa kayu papan yang disusun?”


“Pada awalnya tidak ada apapun, saya pun tertidur dengan nyenyak….”


“Tapi ndak tau jam berapa pokoknya tengah malam, tiba-tiba saya terbangun. karena ada suara ketukan ketukan di dinding luar kamar saya”


“Yang semakin membuat saya takut adalah lampu minyak di kamar saya mati, lampu petromak ruang tamu juga dalam keadaan mati”


“Keadaan kamar saya gelap gulita…”


“Waktu itu saya masih dalam keadaan terbaring diatas tempat tidur. Tetapi  mata saya masih dalam keadaan terbuka”


“Ketika saya menoleh ke arah pintu, tiba-tiba di dekat pintu ada bayangan hitam yang menyerupai tubuh manusia”


“Saya kaget dan reflek saya bangun, ketika saya bangun tiba-tiba ada sesuatu yang memukul saya, ada benda putih yang  tiba-tiba menabrak  dada saya  hingga saya terpental ke tempat tidur”


“Sewaktu saya terpental. mendadak benda putih yang mirip pocong itu hilang menembus plafon kamar saya”


“Saya masih kesakitan memegang dada saya”


“Ketika saya masih kesakitan dan bingung harus melakukan apa, kemudian secara samar saya mendengar suara perempuan yang sedang menangis pak”


“Suara perempuan yang sangat pelan dan lemah…”


“Suara perempuan sedang menangis terisak itu kemudian bicara dengan suara yang sangat pelan namun jelas terdengar sangat jelas”


“Kuburkan jasad saya secara layak”


“Suara yang sangat pelan itu berkata seperti itu pak Agus”


“Belum sempat saya tersadar dari rasa takut, kemudian tiba-tiba dari belakang rumah ada suara-suara seperti suara mesin diesel yang nyala”

__ADS_1


“Tapi suara mesin itu tidak keras…, suaranya pelan dan seperti berdengung gitu pak”


__ADS_2