
Tidak ada yang masuk dari pintu yang terbuka itu…..
Aku yakin ini mimpi, tapi anehnya aku sama sekali tidak takut dengan mimpi ini, karena aku merasa bahwa mimpi ini akan membantu aku dan mas Agus.
Aku akan mencoba berinteraksi dengan mimpiku, dan semoga ada hal baik yang bisa digunakan untuk keamanan aku dan mas Agus disini.
Aku masih menunggu hingga ada orang yang masuk atau ada yang memanggilku dari luar, karena dengan terbukanya pintu kamar ada dua hal yang dicermati… ada orang yang masuk, dan ada yang keluar karena ada yang akan memanggil.
“Nduuuuk… ayo keluar dari kamar.. mbah mbah sudah nunggu kamu ini lho” kata suara seorang perempuan yang berasal dari luar kamar”
Aku yakin yang mereka panggil itu adalah aku, bukan orang lain yang ada di sekitar kamar ini, karena memang hanya aku yang ada di kamar ini.
Aku berdiri dari posisi duduk,kemudian kuberanikan diri untuk berjalan menuju ke pintu.
di luar pintu keadaannya sama dengan yang ada di dalam kamar, hanya remang-remang saja, karena kemungkinan besar masih menggunakan lampu minyak, bukan lampu petromak.
Pintu yang terbuat dari gedek itu kubuka lebih lebar, karena ukuran pintu ini tidak sebesar ukuran pintu pada umumnya.
ku tengok sejenak apa yang ada dibalik pintu ini… ternyata di balik pintu itu adalah ruang tamu yang sangat sederhana.
Sangat sederhana, karena lantai kamar dan lantai ruang tamu ini terbuat dari tanah, tidak ada perabotan yang mewah…semua serba minimalis.
Dikamar ini saja hanya ada amben yang sederhana dan satu buah meja dan satu buah kursi yang sangat sederhana.
kubuka pintu kamar lebih lebar…
Ternyata di ruang tamu yang agak gelap kerana hanya ada satu lampu minyak saja yang ada disana sudah berkumpul beberapa orang tua yang bisa dikatakan mbah mbah.
Aku tidak mengenal semua orang yang ada disini, kuhitung ada dua orang mbah Kakung dan dua orang mbah Putri yang sedang duduk dengan alas tikar di ruangan yang mungkin difungsikan sebagai ruang tamu.
Meja dan kursi ada di pojokan ruangan, aku tidak tau kenapa mereka kok malah memilih duduk lesehan di tikar dari pada di meja dan kursi yang ada disini
“Inggih mbah..apa mbah-mbah ini memanggil Tina?”
“Iya nduk… ayo sini sungkem dulu sana sama mbah mbahmu ini”
“Setelah itu duduk sama mbah mbah.. biar kamu kenal sama leluhurmu”
Ternyata mereka ini adalah leluhurku, yang berarti mereka ini tinggal di tengah hutan dekat dengan rumah penggergajian.
Apa yang menyebabkan mereka memanggilku?
“Ayo duduk di sini nduk…kami ini leluhurmu nduk, sebenarnya masih banyak leluhurmu, tetapi mbah mbah lainya masih belum bisa datang kesini” kata seorang mbah perempuan yang paling banyak senyumnya
“Iya mbah....maaf tadi Tina agak takut juga mbah... apa mbah mbah semua ini adalah leluhur Tina?
“Hihihi mosok koe ndak mau kenal sama leluhurmu nduk?”
“leluhurmu yang pernah tinggal di tengah hutan ini”
“Iya mbah… Tina jelas kepingin kenal dan kepingin tahu mbah….karena Tina taunya kan Tina ada di desa sana itu mbah”
“Mbah mbah yang hadir disini juga kepingin ketemu sama keturunanya juga nduk”
“Eh iya mbah..tapi kan masih banyak keturunan dari sini yang tinggal di desa sebelah sana itu mbah.. kenapa kok hanya Tina saja yang dipanggil kesini?”
“Karena hanya kamu yang saat ini keadaanya sedang terancam nduk.. terancam oleh ilmu hitam yang sudah menandai kamu dan temanmu itu nduk”
“Mangkene kamu mbah bawa kesini sekalian silaturahmi dengan leluhur-leluhur mu nduk”
“Maaf mbah… sebenarnya TIna ini sedang terancam oleh siapa dan apa yang sedang mengancam Tina mbah?”
Sedari tadi hanya mbah putri yang murah senyum itu saja yang berbicara dengan aku , sedangkan mbah yang lainya hanya diam dan memandang aku dengan tajam.
Aku tidak tau kalau ternyata saat ini aku sedang terancam oleh sebuah ilmu hitam… apakah ini kerjaan dari pak Solikin?
“Ngene nduk…kamu ini masih ada darah langsung dari kami semua yang ada disini, yang kamu lihat ini adalah mbah mbah dari pohon silsilah keluarga..saya ini yang paling muda, saya mbah dari mbah ibu mu nduk”
“Koe iki keturunan paling muda dari garis keturunan keluarga, maka dari itu kami sebagai leluhurmu wajib melindungi garis keturunannya agar tidak selesai di koe nduk”
“Yang harus nak Tina ingat, semua garis keturunan dari mbahmu mempunyai kelebihan yang ada hubunganya dengan hal ghaib nduk”
“Koe ojo kaget kalau sekarang sudah bisa melihat dan merasakan demit, setan, jin atau sing aneh-aneh di sekitarmu… ngono kui karena wis wayahe kelebihanmu kui dimunculkan”
“Mbah-mbahmu kabeh iki ngerti apa saja yang mbok lakukan selama ini, dan syukurlah koe sekarang sudah semakin khusuk beribadah…”
“Mbah-mbahmu iki bangga dengan perubahanmu kui nduk. perubahanmu yang disebabkan oleh kancamu yang punya hawa positif”
__ADS_1
“Mbah-mbahmu setuju nek koe bisa melanjutkan keturunan keluarga kita bersama bocah lanang kae”
“Eh namanya Agus mbah…”
“Iyo.. mbah-mbahmu wis ngerti.. jangan dikira mbah-mbahmu ini ndak tau opo wae sing kamu lakukan nduk”
“Hehehe iya mbah maaf kan Tina mbah”
“Ora usah minta maaf ke mbah-mbahmu.. minta maaflah ke gusti Allah sang maha pemurah dan pemaaf”
“Jadi pada intinya mbah-mbahmu ini akan membantu apa yang akan kamu lakukan bersama dengan Agus kui. karena lawan mu itu pake ilmu hitam kuno.
“Ilmu hitam kuno yang dipakai lawan mu kui asale dari ilmu hitam asli musuh dari mbah-mbah mu iki”
“Tapi koe ojo khawatir..sering sering dolan ke tengah hutan nduk.. disana masih ada desa ghaib.. desa mbah mbahmu ini.
“Ketika kamu mencium bau bunga melati berarti saat itu ada mbahmu di sebelahmu, dan ucapkan salam nduk”
“Jangan lupa ajak juga Agus itu ke tengah hutan nduk”
“Sekarang koe balik ke tempat tidurmu, karena koe sekarang sedang dibutuhkan di rumah itu”
Selesai kuberikan salam dan mencium tangan mereka satu persatu, aku pamit dan menuju ke tempat tidur di kamar yang ada di rumah mbah leluhurku itu.
Kupejamkan mataku sejenak .. hingga kemudian tiba-tiba aku tertidur dengan sendirinya.
Tidak lama kemudian tubuh seperti ada yang berusaha membangunkan dengan cara menggoyang goyangkan.
“Mbak Tina.. banguuuun cepaaat” bisik suara mas Agus.
“I..iya mas.. ada apa mas” jawabku sambil berbisik juga
“Dari tadi apa mbak Tina ndak dengar ada suara-suara pintu yang diketuk perlahan lahan”
“Pintu yang mana mas?”
“Ya pintu depan..pintu belakang juga mbak… saya takut kalau suara itu berasal dari pocong yang dulu menyerang saya itu”
“Iya mas.. ayo kita lihat ke sana saja mas..eh tapi kenapa kamar ini gelap sekali mas….dan kenapa pintu kamar terbuka?”
“Ndak tau mbak.. tadi saya juga tertidur seperti mbak Tina juga.. waktu saya tebangun ternyata keadaan sudah gelap sepert ini, dan lampu petromak yang semalam sudah saya penuhi dengan minyak tanah, sekarang sinarnya makin redup saja mbak”
“Ndak tau mbak… pintu kamar itu sudah terbuka ketika saya bangun”
“Sekarang jam berapa mas?”
“jam 23.15 mbak”
Baru juga tadi dipanggil mbah leluhur, sekarang sudah dapat serangan aneh-aneh, apa mungkin yang dikatakan mbah ku tentang lawanku ini adalah Solikin?
Bukanya dia itu yang menguasai ilmu ilmu klenik.
Apa yang harus aku lakukan saat ini, mendatangi asal suara atau tetap di dalam kamar yang pintunya terbuka itu?
Kalau kata mas Agus, suara-suara ini kemungkinan besar berasal dari suara pocong, tapi harusnya aku dan mas Agus dilindungi oleh leluhurku, kini apa yang harus aku lakukan?”
“Eh ayo kita lihat siapa yang sedang mengetuk pintu itu mas”
“Kamu apa sudah gila mbak… pocong itu akan melukai kita mbak”
“Gini mas Agus.. kita tidak tau apa yang dilakukan oleh pocong itu, bukanya disini juga ada Inggrid mas, Tina yakin kita akan dilindungi oleh Inggrid”
“Tapi kalau yang datang itu orang yang berniat jahat.. jelas beda lagi, kita yang harus bisa melawan mereka mas”
Terus terang aku merasa agak tenang setelah tadi bertemu dengan leluhur leluhurku.
Mereka jelas akan membantu kami, tetapi apabila yang datang ini orang-orang macam Wandi, Mamad, Yetno, Wito atau Burhan, jelas berbeda dan kami yang harus melakukan perlawanan kepada mereka.
“Tenang dulu mas, Tina yakin yang datang itu bukan mahluk halus, salah satu dari mereka yang mencari kita”
“Nggak bisa gitu mbak… kalau yang datang itu orang, bagaimana bisa lampu minyak kamar ini mati kemudian bagaimana pintu itu bisa terbuka, kemudian bagaimana lampu petromak itu bisa redup”
“Saya yakin yang datang ini kiriman seseorang lagi mbak”
ketika aku sedang berusaha mendengar suara-suara aneh yang bisa saja berasal dari luar. tiba-tiba aku merasa di ruang tamu ada seseorang yang sedang duduk.
Tapi aku tidak beritahu mas Agus.. aku hanya bisa merasakan sesuatu itu sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
“Mas.. banyak berdoa saja mas… perasaan Tina ndak enak mas… lebih baik pintu kamar itu kita tutup saja mas”
“Oh iya… mas Agus kalau tidak salah punya senter kecil kan mas, dimana senter itu?”
“Ada di dalam tas saya. saya carikan dulu mbak”
“Ya wis mas.. Tina mau tutup pintu kamar itu dulu….”
kuberanikan diri turun dari tempat tidur sementara mas Agus sedang mencari senternya yang ditaruh di dalam tasnya.
Aku berjalan pelan menuju ke pintu kamar yang sedikit terbuka.
Pelan-pelan rasa takut mulai menjalari tubuhku ketika aku mulai jalan untuk menutup pintu kamar.
Pintu kamar sudah ada di depanku, tapi kenapa perasaanku berkata bahwa aku harus melihat apa yang ada di ruang tamu rumah ini”
Aku harus tau apa yang menyebabkan aku dan mas Agus ketakutan seperti ini.
Ketika aku raih gagang pintu itu…
“Uuugh panas sekali” kukipas kipaskan telapak tanganku
“Ada apa mbak Tina?”
“Gagang pintu itu mas.. tiba-tiba panas sekali”
“Jangan dipegang mas..lebih baik gunakan sesuatu untuk mendorong pintu itu agar tertutup”
“Iya mbak.. dipojokan itu ada sapu kamar”
Dengan menggunakan senter kecilnya mas Agus mengambil sapu yang ada di pojokan kamar.
Kemudian dengan pelan mas Agus mendorong pintu itu agar tertutup.
Karena pintu kamar tertutup mengakibatkan lampu petromak yang cahayanya sudah redup itu tidak bisa masuk ke kamar, akibatnya kamar ini menjadi gelap sekali.
“Kembali ke tempat tidur saja mbak Tina.. eh giman tangan mbak Tina?”
“Telapak tangan Tina sudah ndak papa mas, tadi gagang pintu itu rasanya panas sekali seperti memegang wajan yang baru dipakai menggoreng mas”
“Ya sudah mbak.. yang bisa kita lakukan adalah hanya menunggu dan melawan mbak… kita ada di kamar, tapi kita bisa keluar lewat jendela kamar apabila keadaan mendesak”
“Iya mas..lebih baik kita tunggu apa yang terjadi selanjutnya mas”
Dalam kamar ini suasananya sepi sekali. tidak ada suara apapun selain suara tarikan dan hembusan nafas.
Ketika kami sedang dalam keadaan diam, tiba-tiba aku mencium bau kemenyan!
Ada yang sedang membakar kemenyan di sekitar sini, dan menurut perkiraanku ada orang di ruang tamu yang sedang membakar kemenyan!
“Mbak…!”
“Iya mas.. Tina juga mencium bau ini” bisikku kepada mas Agus
“Bau ini semakin lama semakin kuat mbak”
“Mas.. bagaimana kalau kita keluar dari kamar ini dan menuju ke tengah hutan?”
“Apa mbak Tina ini nggak tau apa yang ada di tengah hutan itu kalau malam hari jam segini ini?”
“Iya mas.. Tina tau, dan disana itu adalah tempat leluhur Tina, Tina kan pernah bilang kalau asal Tina itu dari desa yang hilang yang ada di hutan itu mas”
“Nggak mbak…saya tidak setuju kalau kita keluar dalam keadan seperti ini… takutnya di luar di depan rumah sudah menunggu orang-orang yang akan mencelakai kita mbak”
“Aneh ya mas.. bagaimana orang-orang itu tau bahwa yang ada disini itu adalah kita?”
“Bukankah kita sudah menyamar, dan bahkan ada motor berplat nomor polisi yang terparkir di halaman rumah”
“Ada mata-mata mbak.. ada orang yang tau apa yang sedang kita lakukan mbak. Dari awal waktu dirumah sakit saya sudah mulai curiga ada orang yang tau apa saja yang kita kerjakan”
“Nanti saja kita bahas itu mas.. yang penting apakah asap itu akan berpengaruh terhadap kita mas?”
“Saya pernah ada di posisi ini mbak.. tapi saya pingsan setelah ada asap kemenyan itu”
Bau kemenyan itu semakin tajam… kemudian dari celah pintu dan lantai mulai muncul asap putih yang mulai masuk ke dalam kamar.
Aku tidak tau apa efek dari menghirup asap kemenyan itu, tapi yang pasti diruang tamu itu sedang ada seseorang yang membakar kemenyan.
__ADS_1
Yang aneh… bagaimana orang itu bisa masuk ke dalam rumah, padahal semua pintu sudah tergembok.. dengan gembok baru. bahkan pintu rahasia yang ada di kamar Burhan pun sudah kami tutup dengan lemari yang ada di dalam kamar itu.
Harusnya mas Agus tadi menurut aku saja untuk lari ke tengah hutan…. memang resiko tapi disana nanti pasti ada yang membantu kita, dari pada disini kita ada di kamar dengan kepungan asap kemenyan.