RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
187. DI DALAM BENTENG


__ADS_3

“Kadang pemimpin mereka kalau pagi juga jalan-jalan, sekalian berjemur sinar matahari pagi mbah…”


“Oh gitu mbak… eh kami berdua ingin ke sana….kepingin bisa ketemu orang yang baik hati itu mbak”


“Bisa saja mbah Uti, mungkin lebih baik kelau ke sana itu pagi seperti ini, karena disana masih belum terlalu panas”


“Berarti kita naik taksi mbak?... tapi sayangnya kami tidak pegang uang sama sekali mbak”


“Tenang aja mbah Uti… pembantu rumah tangga di rumah ini selalu dipegangin uang lebih, istilahna uang untuk keperluan yang penting-penting” kata pembantu rumah tangga yang kelihatannya baik baik saja ini.


“Yo wis mbak… coba saya pikirnya dulu saja, kami sarapan dulu lya mbak”


Pembantu rumah tangga yang tadi bicara padaku kembali ke dapur, sekarang aku dan mas Agus bisa diskusi untuk pergi ke sana tanpa bersama dengan pak Pangat.


“Apa gak sebaiknya tunggu pak Pangat saja?”


“Tina kok kurang percaya dengan pak Pangat ya mas… rasanya Tina kepingin ke sana aja sekarang mas, sekalian jalan-jalan”


“Kalau nunggu pak Pangat jelas kelamaan mas, lagipula kalau bersama pak Pangat, kita tidak bisa bebas mas… ada baiknya kita kesana sekarang saja mas, mumpung masih pagi”


“Atau gini aja mbak Tina… kita jangan buat susah pembantu disini takutnya mereka nanti kena marah pak Pangat karena membiarkan kita pergi ke sana bersama dia”


“Lebih baik kita pinjam uang dari mereka dan kita pergi ke sana berdua saja mbak”


“Iya mas, saya setuju aja mas…. Bentar TIna akan panggil mereka mas”


“Berarti kita nekat ya ini mas nanti kalau pak Pangat datang kita bilang apa?”


“Bilang aja kelamaan kalau harus nunggu pak Pangat datang, kita butuh informasi secepat mungkin, dan kita berhutang uang ke pembantu rumah tangga disini”


Kupanggil pembantu rumah tangga yang dipanggil mba Tun, yang tadi sempat menawariku untuk mengajak ke pemukiman china yang tempatnya mirip benteng itu.


Setelah kuajak bicara dan aku yakinkan bahwa aku dan mas Agus akan aman saja ketika kami perjalanan ke san, akhirnya pembantu rumah tangga itu mengijinkan kami pergi.


Tadi aku juga sempat meminjam uang kepada mereka berdua…. Hehehe uang yang sama dengan yang beredar di alam kami, bedanya hanya uang disini keadaan fisiknya sudah kurang bagus.


Pembantu rumah tangga yang biasa dipanggil mbak Tun  itu juga membantu kami menelponkan taksi… sehingga kami tidak kesulitan mendapatkan kendaraan untuk menuju ke sana.


“Mbah Uti….nanti ketika mau pulang, di dekat sana ada pangkalan taksi juga, atau mbah Uti minta tolong kepada penjaga yang berjaga di depan gang masuk perkampungan itu”


“Iya mbak Tun.. nanti kami akan cari sendiri, tenang saja mbak Tun, pokoknya jangan khawatirkan kami, nanti kalau pak Pangat datang, bilang aja kami berdua ke perkampungan china”


Taksi sudah datang… kami berjalan perlahan lahan dengan dibantu oleh driver taksi dan mbak Tun untuk masuk ke dalam taksi.


Pada awalnya driver taksi itu ragu untuk membawa kami ke tempat tujuan , mungkin dia melihat kondisi aku dan mas Agus yang harus di tuntun untuk masuk ke dalam mobil.


Tapi setelah aku jelaskan bahwa kami akan baik-baik saja, akhirnya driver taksi itu mau mengerti juga.


Mobil taksi yang kami tumpangi ini taks ala tahun 80 an yang tanpa pendingin udara hehehe, mungkin pada saat ini disini tidak ada polusi udara, dan keadaan alam disini yang tidak terlalu panas.


“Mbah-mbah ini pada mau ke perkampungan China?” tanya driver taksi yang mungkin sudah berumur 40 tahunan


“Iya mas.. Kami kepingin jalan-jalan ke sana” jawab mas Agus


“Maaf mbah… apa nggak ada yang ngantar disana, takutnya terjadi apa-apa dengan mbah-mbah ini nantinya”


“Tenang saja mas.. Kami berdua sehat dan akan aman-aman saja, lagi pula saya dan istri saya ini kepingin jalan-jalan berdua aja, mengingat masa muda kami berdua mas hehehe”


“Iya mbah…benar kata mbah ini,  kadang orang yang sudah sepuh disepelekan oleh yang muda-muda, tapi bagi kami yang muda ini bukan bermaksud menyepelekan, tapi kami bermaksud melindungi mbah-mbah agar tidak terjadi sesuatu hehehe”


“Iya mas… tapi mereka itu berlebihan, padahal keadaan kami baik baik saja… oh iya, nanti turunkan kami di depan gang pintu masuk saja mas” kata mas Agus


Taksi sudah semakin dekat dengan bangunan yang berupa benteng, karena di sebelah kiri kami sudah ada sungai yang lebar, mungkin beberapa km lagi kami akan sampai di bangunan yang mirip benteng itu.


Tidak lama kemudian taksi ini melambat karena di seberang sungai sudah nampak banguna yang menyerupai benteng…hingga akhirnya taksi itu berhenti di depan sebuah jembatan yang menghubungkan antara jalan besar dengan pintu masuk yang dijaga dua orang itu.


“Mbah.. saya turunkan di depan jembatan ini saja ya, eh untuk jalan ke sana tidak masalah kan mbah?”

__ADS_1


“Iya mas… gak masalah… tenang saja mas, jangan khawatirkan kami berdua”


Taksi sudah meninggalkan kami, sekarang aku dan mas Agus ada di ujung jembatan. Kami harus berjalan kaki menyeberang jembatan untuk sampai di depan pintu masuk ke perkampungan china itu..


“Mas.. kita jalan biasa atau tetap tertatih tatih?”


“Hehehe kita ini kakek dan Nenek, ya harus jalan tertatih tatih dong dan ingat kita harus memanggil dengan sebutan kakek dan nenek ya”


“Iyaaa keeeeek”


Mas Agus menggandengku, aku dan mas Agus jalan dengan perlahan-lahan menyeberang jembatan,


Cara jalan kami yang tunak tunuk ini mungkin sempat dilihat oleh salah satu penjaga pintu masuk perkampungan china, sehingga salah satu dari mereka menghampiri kami yang masih ada di tengah jembatan.


“Kakek nenek ini mau ke mana?” tanyanya dengan ramah


“Kami mau nostalgia ke dalam sana naaaak” jawab mas Agus dengan suara terbata bata


“Iya naaak, mumpung kami masih sehat, kami kepingin nostalgia ke sana, semoga ingatan kami berdua masih tajam tentang apa yang ada di dalam sana”


“Kakek nenek ini apa tidak ada yang mendampingi?” tanyanya lagi


“Hehehehe..uhuk..uhuk… sengaja kami tidak ingin didampingi nak, kami ingin nostalgia berdua saja, dan kami baik-baik saja nak” jawab mas Agus sambil terbatuk batuk


“Oh luar biasa kek… mari saya bantu kek nek….”


“Tidak usah nak… kamu kembali bekerja saja, biarkan kami berdua menikmati apa yang dulu pernah kami nikmati disini uhuk uhuk uhuk” kata mas Agus


“Baiklah kalau begitu kek… eh saya akan beritahu pengurus yang di dalam untuk membantu kakek dan nenek apabila memerlukan bantuan di dalam sana”


Penjaga keturunan tionghoa yang masih muda itu kemudian berjalan agak cepat menuju ke pos penjagaan, kemudian yang aku lihat, dia menghubungi seseorang dengan menggunakan pesawat telepon model angkat putar.


Aku menggandeng lengan mas Agus dengan erat, dan kami berusaha menyinkronkan  langkah kaki kami berdua agar tidak saling mendahului.


“Mbak Tina..jalan dengan tenang dan pelan jangan berusaha mendahului atau tergesa gesa, kita ini orang tua yang tidak bisa berjalan dengan cepat” bisik mas Agus


“Nandi di dalam kita cari tempat untuk duduk mbak, ketika kita duduk, kita bisa sandarkan punggung kita agar tidak sakit”


Ada sekitar tiga menit kami seberangi jembatan yang memang lebih panjang dari pada sungai yang ada di belakang rumah penggergajian.


Mas Agus memang sengaja memperlambat langkah kaki dan menggoyang goyangkan tangannya mirip tremor gitu, agar lebih menjiwai sebagai orang yang sudah sangat tua.


Ketika kami ada di sampai di pos penjagaan dua penjaga itu dengan penuh senyum mempersilahkan kami masuk ke dalam.


Mereka berdua menuntun kami hingga kami ada dalam bangunan yang bisa dikatakan mirip benteng itu.


Setelah kami ada di dalam, kedua penjaga itu kembali ke posnya lagi.


“Mas… tempat ini luar biasa”


“Iya mbak… kita kayak sedang ada di sebuah perkampungan  dengan suasana yang berbeda dengan yang ada di luar sana”


“Iya mas…lalu apa yang harus kita lakukan sekarang mas?”


“Saya nggak tau mbak hehehe, saya masih berusaha berpikir ini”


“Mas, disana di depan kita ada taman, disana ada beberapa kursi kayu yang ada di bawah pohon itu mas, kita bisa duduk disana dulu saja mas”


Aku dan mas Agus duduk di kursi kayu sambil memperhatikan apa yang ada di depan kami dengan takjub, ketika aku masuk, yang pertama kali terlihat adalah taman yang letaknya ada di tengah.


Sebuah taman yang kayaknya digunakan sebagai penyambut selamat datang bagi tiap orang yang datang dan masuk ke area ini.


Taman yang tidak terlalu besar dan berbentuk oval dengan sebuah pohon beringin besar di tengahnya, dan ada beberapa pohon lainya dipinggir taman ini.


Beberapa bangku dari kayu diletakan di bawah tiap pohon yang ada disana, dan sebagian bangku itu diduduki oleh orang yang sepertinya bukan penduduk asli sini.


Di sisi luar taman yang berbentuk oval ini, dikelilingi oleh jalan setapak yang indah, jalan yang terbuat dari batu kali yang disusun dan kemudian dihalusakan sehingga terkesan mulus jalan ini.

__ADS_1


Jalan setapak yang lebarnya hanya sekitar tiga  hingga empat meter itu sebenarnya cukup luas juga untuk dilewati manusia dan kendaraan.


Tapi sepertinya disini tidak ada yang namanya kendaraan yang  berseliweran… karena  yang ada hanya orang-orang yang sedang jalan kaki dengan santai sambil melihat lihat toko yang berjajar.


Dan sepertinya mereka yang sedang jalan kaki itu bukan penduduk disini karena wajah mereka tidak menunjukan wajah Tionghoa.


Di sisi jalan ada toko dan kedai yang menjual mulai dari bahan makanan, sembako hingga makanan  ringan dan makanan berat.


Di jalan yang mengelilingi taman ini adalah akhir dari beberapa ruas jalan yang arahnya lebih ke dalam. Aku belum bisa memprediksi arah jalan itu kemana.


Karena yang sekarang aku dan mas Agus sedang amat adalah sekitar taman, dan toko-toko yang letaknya ada di pinggir jalan yang mengelilingi taman.


“Mbak .. kayaknya kita harus jalan-jalan ke ruas jalan yang ke sana-sana itu”


“Iya mas, tapi kita kan tidak tau jalan itu mengarah ke mana”


“Kita tunggu saja disini dulu mbak… siapa tau akan ada orang yang akan menawarkan bantuan, sehingga kita tidak akan tersesat disini. Saya yakin di ruas jalan yang masuk itu pasti banyak sekali ruas jalan yang menyebar di sekitar sana”


“Iya mas… ada baiknya kita tetap ada disini dulu untuk sementara waktu”


“Eh… mas Agus ada rencana apa disini mas?”


“Saya ada rencana untuk mencari dimana tempat tinggal Inggrid dan orang tuanya, yang kemungkinan besar mereka itu adalah pemimpin disini mbak”


“Gini mbak.. Saya ada rencana tinggal disini hingga besok pagi karena malam-malam saya harus melihat kegiatan yang ada disini”


“Kan gak mungkin bisa tinggal disini mas… apa mas Agus punya rencana?”


“Ada mbak…. Saya ada rencana agar kita tidak pergi dari sini, dengan cara jatuh sakit dan tidak sadarkan diri, atau menjadi linglung .. kita ini orang tua yang bisa saja linglung mbak”


“Oh iya juga mas.. Ide mas masuk akal juga”


“Nanti mbak Tina akan tau apa rencana saya.. Pokoknya diusahakan agar kita bisa tinggal disiani


Ketika aku dan mas Agus sedang duduk dan menikmati keindahan taman yang tidak seberapa besar ini, tiba-tiba ada seorang gadis yang belum bisa dikatakan berumur,  dan tidak bisa dikatakan anak kecil.


Dia datang ke arah kami dari salah satu dari ruas jalan yang ruas jalannya itu berakhir di taman oval ini.


Dia tersenyum di depan ku dan depan mas Agus… kemudian dia memperkenalkan dirinya.


“Selamat pagi menjelang siang kakek nenek, perkenalkan nama saya Rita, saya tadi dapat telepon dari pos depan kalau ada sepasang kakek nenek yang sedang bernostalgia disini”


“Iya nak… ini kami uhuk uhuk…nama saya mbah Sastro dan ini istri tercinta saya yang menemani saya dari menikah hingga sekarang saya ada disini bersama nak Rita… uhuk uhuk..” kata mas Agus


“Kok cuma berdua saja kek nek, apa tidak ada yang mengantar dan mengawasi kakek dan nenek?”


“Nggak nak RIta, kami sengaja datang berdua agar lebih menikmati apa yang dulu kami lakukan berdua”


“Aduuh bahagianya ya bisa sampai sejauh ini kakek nenek masih bisa bersama… eh oh iya… tujuan kakek nenek disini apa kalau Rita boleh tau?”


“Kami cuma mau jalan-jalan dan bernostalgia nak RIta… karena dulu waktu kami pacaran, kami kadang ke sini dan berjalan jalan berdua disini”


“Kalau boleh tau perkiraan tahun berapa nenek dan kakek pacaran disini, karena setahu Rita puluhan tahun lalu  daerah ini terlarang oleh pribumi yang akan masuk ke sini” jawab gadis tionghoa yang bernama RIta itu


“Saya sudah lupa nak Rita… pokoknya kami pernah jalan-jalan ke sini dan menyusuri jalan yang ke sana itu” kata mas Agus agak ngotot… biasanya orang kalau sudah sepuh itu kan selalu ngotot dan maunya menang sendiri


“Oh kalau jalan yang itu menuju ke istana… memang disana lebih indah dari pada di sini, tapi tidak boleh sembarang orang yang boleh ke sana kek”


“Boleh kok.. Dulu saya dan istri saya suka ke sana kalau kami pacaran.. Dan tidak ada yang melarang kesana kok. Memangnya kenapa kok tidak boleh ada yang ke sana nak Rita?” kata mas Agus yang masih saja ngotot persis haji Murod


“Memang tidak ada yang boleh kesana kek… takutnya orang yang kesana malah akan melakukan kejahatan”


“Eh.. kami berdua ini sudah tua, masak iya sih kami akan melakukan kejahatan disana, wong untuk jalan saja saya dan istri saya sudah kesulitan kok hihihihi”


“Waduh itu sudah aturan disini kek….tidak ada yang boleh masuk ke istana, tetapi kalau mau melihat lihat dari kejauhan sih tidak masalah kok kek… ayo kita ke sana kalau kakek dan nenek kepingin bernostalgia, tapi dari jauh saja ya hehehe”


“Gak masalah nak Rita, yang penting saya bisa bernostalgia bersama istri saya sebelum kami terpisah”

__ADS_1


__ADS_2