
Tidak ada jalan keluar yang terbaik bagi keluarga kami selain pergi dari sini dan meninggalkan semuanya, dan hidup normal seperti keluarga pada umumnya.
Tina istriku akan menjual dua rumah miliknya yang ada di desa, dan kebetulan kata pak RT ada orang yang ingin membeli rumah itu.
Tapi aku belum berani memutuskan apa dan mana yang terbaik, apakah aku harus ijin pak Jay dan pak Hendrik, atau harus kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga kami.
Atau diam-diam kami pergi dari sini dan melupakan semua yang ada disini. Dan membiarkan semua yang akan terjadi disini.
Aku rasa yang terbaik adalah pergi secara diam-diam, dan tidak kembali ke sini dengan membawa kedua anaku..
Tapi ya gak mungkin sekarang, karena kan harus nunggu rumah Tina laku dulu.
Tina saat ini sedang bicara dengan pak RT melalui telepon, kayaknya yang aku dengar siang ini dia akan janjian dengan pak RT untuk bertemu dengan calon pembeli rumah.
“Mas.. pagi ini mas Agus di rumah jaga Gustin, Tina mau ke pak Rt, barusan Tina telepon beliau, katanya siang nanti dia akan mengundang yang akan beli rumah Tina mas”
“Ya Yank…. Aku jaga rumah dan Gustin saja, lagipula aku kan gak bisa jauh dari gustin atau jauh dari tempat ini.”
“Kayaknya mas Agus gak bisa jauh dari Gustin mas, bukan jauh dari rumah ini atau jauh dari tanah ini. Atau gini aja, kita coba aja mas”
“Coba gimana maksudnya yank?”
“Ya dicoba, kita pergi aja bertiga naik mobil menemui pak RT, kalau mas Agus aman-aman saja berarti mas Agus kan hanya bermasalah dengan Gustin aja mas, bukan bermasalah dengan rumah ini atau daerah ini”
“Ya sudah ayo coba aja sekarang, aku siapkan mobil dulu”
Aku yakin, aku ini dibuat oleh penjaga Gusta untuk tidak bisa jauh dari anaku Gustin, dia memang sengaja berbuat seperti itu agar aku ada selalu di sekitar Gustin.
Sebenarnya sakit kepala yang diberikan kepadaku ini ada gunanya juga, agar aku ada si sekitar anakku saja, tidak pergi terlalu jauh dari anakku, bukannya aku tidak bisa jauh dari hutan.
Mobil sudah aku keluarkan dari garasi, istriku sudah menggendong Gustin yang ternyata masih tertidur seperti sebelum sebelumnya.
Mobil aku jalankan perlahan lahan menuju ke arah luar hutan…
Dan ternyata benar, nyeri di kepalaku tidak seperti kemarin yang luar biasa sakit.
“Gimana mas?”
“IYa bener, ternyata sakit kepala itu tidak seperti kemarin, jadi kita bisa pergi kapan saja kita mau asal kita membawa anak kita bersama”
*****
Pagi ini aku hanya di depan rumah aku nggak ada keinginan untuk melihat proyek yang sedang aku pikirkan adalah bagaimana dan apa yang aku akan lakukan ketika aku dan keluargaku pergi dari sini.
Menjelang siang hari, kami sudah siap untuk me desa istriku, menemui orang yang tertarik untuk membeli rumah istriku Tina.
__ADS_1
Kata pak RT orang itu dari kota dan punya rencana untuk membuka toko swalayan serba ada di desa sana, dan kebetulan rumah istriku letaknya strategis apabila dipakai untuk berjualan.
“Ayo mas, semua sudah siap, termasuk susu dik Gustin”
“Iya……”
“Kok jawabnya cuma iya aja mas…. Mas Agus gak semangat gitu kayaknya?”
“Nggak papa yank, mungkin cuma perasaan aku saja yang akan meninggalkan tempat ini secara diam-diam tanpa memberi tau pak Jay dan pak Hendrik”
“Coba mas pikirkan dulu, seandainya….seandainya mas Agus lapor ke mereka berdua, apa mas Agus sudah siap dengan jawaban dari mereka berdua mas?”
“Karena jawaban mereka berdua pasti kita diharuskan melawan sesuatu itu, seperti sebelum sebelumnya kan. Mereka tau kalau TIna ini adalah tonggak disini”
“Iya yank, sudah aku pikirkan kok, dan kita tetap harus pergi dari sini bersama Gusta dan Gustin”
Perjalanan dari tengah hutan ke rumah pak RT yang letaknya tidak jauh dari rumah istriku berjalan dengan aman, kebetulan Gustin tidak tidur selama perjalanan ini, sehingga ocehan anak kecil itu cukup menghibur kami berdua.
Sangat disayangkan, tidak ada Gusta di keceriaan bepergian ini, pasti akan lebih ramai apabila ada anak laki-lakiku.
Kalau melihat keceriaan keluargaku, rasanya aku makin mantap untuk segera minggat dari sini, apalagi pak Diran dan dokter Joko setuju apabila aku bawa pergi kedua anakku.
Tiga puluh menit kurang, kami sudah sampai di depan rumah pak RT, ada sebuah mobil sedang warna hitam yang cukup mewah terparkir di depan rumah pak RT.
“Iya mas, tolong jagain si Gustin ya, eh kalau bisa nyalakan aja mesinya mas, supaya ac mobil juga nyala, kasihan si Gustin kalau kepanasan di dalam mobil”
Tidak ada tigapuluh menit istriku sudah keluar dari rumah pak RT, pak RT dan seorang tionghoa mengantar istriku hingga di depan pagar rumah pak Rt.
“Sudah deal mas. Uang muka pembayaran sebesar dua puluh persen akan ditransfer ke rekening Tina besok pagi, untuk proses jual beli dan notarisnya mungkin dua tiga hari ini akan dilakukan”
“Sekarang kita harus memikirkan apa yang akan kita lakukan setelah semua selesai mas, kita akan ke luar pulau mana dan sekalian apa yang akan kita lakukan disana”
“Pokoknya kita harus menyeberang laut agar bisa terhindar dari pencarian ghaib dari penduduk ghaib yang ada di hutan itu mas”
“Ke luar pulau mana rencanamu yank?”
“Belum tau mas, mungkin ke pulau B saja yang terdekat, nanti disana kita bikin usaha jual makanan saja mas”
“Terus itu rumahmu lakunya berapa, soalnya harga rumah disini kemudian kita pergi keluar pulau dan beli rumah disana kan jelas berbeda jauh. Perbandingan harga rumah disini dan disana kan jauh yank”
“Tenang aja yank, tidak hanya satu rumah Tina saja yang laku, rumah kosong yang di depan juga akan dibeli, Tina rasa cukup kok untuk beli rumah kecil dan buka usaha disana”
“Ya sudah kalau begitu, eh apa sekarang kita sekalian ke rumah sakit saja, kita temui dokter Joko mas?”
“Kalau mau ke sana gak boleh bawa Gustin yank. Pak Diran yang bilang gitu, jangan bawa Gustin yang spesial ke rumah sakit”
__ADS_1
“Atau gini aja, aku kan bawa telepon satelite, aku telepon dulu doke Joko dan ketemu dimana gitu, kita harus diskusikan tentang rencana kita kepada dokter Joko dan pak Diran”
“Biar bagaimanapun pak Diran dan pak Joko adalah dua orang yang membantu kita yank, meskipun kita akan minggat tetep kita pamit dan diskusi dengan mereka, kalau pak Jay dan pak Hendrik hehehe gak usah lah”
Mobil aku jalankan menuju ke kota, kemudian mampir ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal. Untungnya dokter Joko tidak sibuk, dia setuju untuk datang ke rumah makan itu.
Kupilih meja yang ada di pojok, agar kami lebih leluasa untuk ngobrol. Sengaja kami tidak menelpon pak Diran, karena dia mungkin sedang tugas di proyek, nanti sore akan aku telpon pak Diran agar datang ke rumahku setelah dia selesai kerja.
*****
“Apakah keputusanmu ini final pak Agus dan bu Tina?” tanya dokter Joko
“Sudah final dok, karena setelah kami timbang-timbang untung ruginya dan keselamatan nyawa keluarga saya termasuk saya, maka saya putuskan untuk meninggalkan semua ini dan pergi jauh
“Rencana kalian kemana?”
“Mungkin ke pulau B pak, istri saya sudah menjual dua rumah miliknya yang ada di desa”
“Biaya hidup disana tinggi, kalian harus punya persiapan yang besar apabila mau tinggal disana”
“Yah itu pak, dengan hasil menjual dua rumah, kami akan membeli rumah kecil di kampung saja, nanti kami akan usaha makanan disana”
“Hahahah setelah semua yang kita lakukan bersama, pada akhirnya kita akan berpisah juga…..” kata dokter Joko dengan raut wajah sedih
“Eh untuk pak Jay dan pak Hendrik… gimana?” tanyanya lagi
“Kami tidak akan memberitahukan rencana kami, mereka pasti sangat keberatan dengan rencana kami ini pak”
“Yah… kalau menurut saya, kalian harus bicara dengan mereka berdua, bagaimanapun dan apapun yang akan terjadi kalian tetap akan pergi dari sini kan, tetapi paling tidak pamitlah kepada mereka berdua”
“Jay dan Hendrik sudah menganggap kalian saudara sendiri, hingga mereka mau mempercayai penuh kepada kalian berdua. Oh iya… apakah mereka berdua tau permasalahan yang sekarang sedang terjadi?”
“Tidak tau pak, kalau mereka tau, pasti kami tidak diperbolehkan pergi” jawab Tina istriku
“Mau diperbolehkan atau tidak kan kalian tetap akan pergi dari sana kan, jadi menurut saya lebih baik bicarakan saja dengan mereka berdua. Undang mereka datang ke sini, jangan bicara di sekitar hutan sana, lebih baik seperti ini di rumah makan ini saja” kata dokter Joko lagi
“GImana menurutmu yank?” aku butuh saran dari istriku juga
“Apa yang dikatakan dokter Joko ini ada benarnya mas, mau dilarang atau tidak pun kita tetap akan pergi dari sana kan. Jadi lebih baik pamit dan bicarakan baik-baik kepada mereka mas”
*****
Pembicaraan dengan dokter Joko merubah pola pikir kami yang akan pergi diam-diam dari rumah itu, kami memang harus bicara dengan pak Jay dan pak Hendrik.
Nanti sampai rumah aku akan telepon bos bos itu, aku akan undang juga pak Diran yang tau persis tentang keadaan keluarga kami”
__ADS_1